Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Di antara Amsal dan Pengkhotbah

Manusia senantiasa berubah. Secara fisik sel-sel tubuh kita terus menerus mengalami suatu proses yang disebut regenerasi yakni tumbuh kembali untuk menggantikan yang sudah mati. Jadi, rambut yang kita sisir dan kulit yang kita lihat pada Natal tahun ini bukanlah rambut dan kulit yang kita sentuh pada Natal tahun lalu. Namun proses regenerasi ini tetap mempertahankan kekhasan diri kita sehingga yang tumbuh tidaklah tampak berbeda dengan yang sudah mati.

Secara emosional dan mental kita pun mengalami proses regenerasi. Mematangnya atau menuanya tubuh dan terutama, bertambahnya pengalaman hidup, mematikan unsurunsur tertentu dalam pola pikir dan reaksi kita tetapi sekaligus menumbuhkan pola pandang yang baru. Itulah sebabnya banyak perbedaan antara pola pikir seorang remaja yang berusia 15 tahun dengan seorang dewasa yang sudah mencapai usia 75 tahun. Di antara Solomo yang di Kitab Amsal dan Solomo yang di Kitab Pengkhotbah terbentang suatu proses regenerasi spiritual yang membuatnya melihat hidup secara lebih hakiki atau eksistensial.

Perubahan atau regenerasi emosional merupakan suatu proses alamiah alias tak bisa dihindarkan. Segala sesuatu yang alamiah -- asalkan tidak berkandungan dosa -sebaiknya tidak kita lawan. Menurut saya, tindakan yang paling masuk akal adalah menyambutnya - bak menantikan ombak -- dan berenang bersamanya.

Kita lebih mudah menerima fakta bahwa anak kecil bertumbuh dan sekaligus mengalami perubahan dibanding dengan kenyataan bahwa sesungguhnya orang dewasa pun mengalami proses pertumbuhan dengan segala perubahan yang mengiringinya. Secara garis besar masa dewasa dapat dibagi dalam tiga periode: dewasa awal (20-40), dewasa tengah (40-60), dan dewasa akhir (60-kematian). Sebenarnya masing-masing fase masih dapat digolongkan secara lebih terinci, namun hal ini tidak dapat saya paparkan berhubung keterbatasan ruang. Masing-masing fase ini juga bermuatan sejumlah tugas dan karakteristik yang dapat ditilik dari pelbagai sudut. Kali ini saya akan mencoba menelaahnya dari perspektif spiritual-eksistensial yang akan saya rangkumkan dalam bentuk pertanyaan: Untuk apakah saya hidup?

Dewasa awal adalah periode energi dan pemakaiannya; Jadi, hidup serta tujuannya akan bergerak sesuai dengan energi yang tersedia. Secara umum, pertanyaan "Untuk apakah saya hidup?" dijawab dengan satu kata yakni, bekerja. Penekanan tujuan hidup yang bermakna adalah pada produktivitas. Secara spiritual, konsep bahwa saya hidup untuk Tuhan cenderung diidentikkan dengan konsep bekerja lebih banyak. Makna hidup kita sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya sumbangsih kegiatan yang kita lakukan untuk Tuhan. Satu kata yang dapat menyimpulkan jawaban pertanyaan, "Untuk apakah saya hidup?" ialah kuantitas, yaitu berapa besar energi yang dipakai untuk kegiatan melayani Tuhan.

Pada masa dewasa tengah, kunci katanya adalah kualitas. Ada pepatah dalam bahasa Inggris yang berbunyi, "Work smarter, not harder!" saya kira nasehat ini mencerminkan karakteristik kurun tengah dewasa karena sumbangsih pemikiran atau mentallah yang berperan besar, bukan sumbangsih energi. Apabila "bekerja lebih banyak" melukiskan fase dewasa awal, maka penekanan pada masa dewasa tengah ialah hidup lebih baik. Jadi, jawaban pertanyaan, "Untuk apakah saya hidup?" adalah "menikmati hidup." Dengan kata lain, pada masa ini kita berupaya menaikkan kualitas kehidupan sehingga dapat kita nikmati. Pada fase ini kita seolaholah disadarkan bahwa bekerja lebih banyak tidaklah menjamin atau menyediakan mutu kehidupan yang lebih baik. Produktivitas pun digantikan dengan efektivitas.

Secara rohani, pada fase tengah ini orientasi pada kegiatan pelayanan mulai surut dan lebih memperhatikan kehidupan rohani itu sendiri. Fokus kita beralih dari lahiriah-eksternal ke rohani-internal. Jawaban spiritual pertanyaan "Untuk apakah saya hidup?" menjadi "Hidup bagi Tuhan," dalam pengertian kehidupan pribadi yang rohani dan yang tak harus dibuktikan dalam wujud aktivitas kasat mata. Pada fase ini, tujuan hidup yang bermakna bertumpu bukan pada kata benda "pelayanan" yang berorientasi pada produk, melainkan pada kata kerja "melayani" yang lebih mengacu pada ciri hidup kesehari-harian.

Mulai dengan "bekerja lebih banyak," kemudian "hidup lebih baik," pada fase dewasa akhir ini kita "bersikap lebih hati-hati." Adakalanya kita yang lebih muda menemui kesukaran bekerja sama dengan mereka yang berada pada kelompok usia ini karena kita tak dapat menerima kehati-hatian mereka. Kehati-hatian ini muncul dari kekeliruan yang diperbuat maupun yang disaksikan dalam pengalaman hidup.

Tujuan hidup menjadi jauh lebih sederhana dan hakiki sehingga pada fase akhir ini kita cenderung tidak lagi menghiraukan pernak-pernik hidup. Hidup menjadi realistik dan cenderung sinis, namun kita pun lebih berani menyatakan sikap. Kita telah "bekerja" dan menikmati "hidup," sekarang kita mulai merasa lebih nyaman mengutarakan diri kita tanpa terlalu menghiraukan harapan dan tuntutan orang lain. Kebebasan mengekspresikan sikap membawa kelegaan bagi kita yang sebelumnya terbelenggu oleh penerimaan orang lain.

Hal-hal yang penting dan menarik makin menyusut, hingga tinggal beberapa helai prinsip dan beberapa butir hal yang masih menggugah hati. Sebelumnya "efektif" menggantikan "produktif"; sekarang tibalah saatnya "efektif" digantikan dengan "esensial." Diawali dengan "pelayanan," kemudian disisipi dengan "melayani" dan akhirnya dengan "ia"-pribadi, yakni ia, yang suatu ketika pernah terobsesi dengan produk pelayanan, kemudian menyadari makna dari hidup yang melayani, namun sekarang menyatukan semuanya dalam satu keharmonisan diri yang matang dan rohani.

Di antara Amsal dan Pengkhotbah terdengar beberapa nada suara: Dari pekikan "Tuhan memberkati!" ke seruan "Tuhan memimpin!" dan akhirnya ke bisikan "Tuhan menyertai!" Di tengah-tengah kancah perubahan yang sudah merupakan takdir manusiawi, kita yang dikuasai Tuhan tetap yang paling berbahagia. Meski terdengar tiga nada, namun ketiganya mempunyai ink yang konstan: Tuhan dan karya-Nya.

Sumber
Halaman: 
2 - 3
Judul Artikel: 
Parakaleo, Juli September 1997, Vol. IV, No. 3
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRII
Kota: 
Jakarta
Editor: 
Dr. Paul Gunadi, Dr. Yakub B.Susabda, Dr. Esther Susabda
Tahun: 
1997

Komentar