Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Dua Tips Tentang Anak Sekolah Dasar

Edisi C3I: e-Konsel 212 - Mengenal dan Membimbing Anak Usia Sekolah Dasar

Mempersiapkan Anak Masuk Sekolah Dasar

Di halaman sekolah sudah tampak banyak murid yang usianya bervariasi dan postur tubuhnya berbeda-beda besarnya. Sebagian sudah memiliki kelompok sendiri dan berbincang-bincang dengan teman-temannya tentang liburan sekolah mereka. Tampak juga anak-anak yang terlihat diam saja dan memerhatikan sekelilingnya. Mereka adalah murid-murid baru kelas 1 SD yang baru pertama kali datang ke sekolah tersebut. Sebagian dari mereka mengamati anak-anak yang lain dan terlihat ingin berkenalan. Sebagian lainnya tampak malu-malu dan menempel pada orang tuanya sebelum bel sekolah berbunyi. Yang lainnya sudah menangis meraung-raung dan ingin pulang bersama orang tuanya atau tidak mengizinkan orang tuanya meninggalkan mereka. Anak anda adalah salah satu dari mereka yang menangis. Orang tua yang lain memarahi anaknya dan meminta agar mereka belajar berani dan mandiri dalam menghadapi hari pertama tersebut. Yang lain mencoba menenangkan dan meminta anaknya agar berhenti menangis. Yang lain lagi berjanji untuk tidak meninggalkan anaknya khusus untuk hari pertama tersebut. Sikap mana yang Anda pilih?

Anak-anak umumnya memiliki ketakutan tersendiri ketika mereka memasuki sekolah dasar. Ketakutan atau kecemasan ini merupakan reaksi terhadap perubahan yang mereka harus alami. Perubahan ini antara lain dalam bertambahnya jumlah dan kerumitan pelajaran yang harus mereka pahami, banyaknya pelajaran ini mengharuskan anak menghabiskan jam-jam, yang ketika mereka masih di TK hanya diisi dengan bermain dan beraktivitas, dan selain itu mereka juga dituntut untuk belajar serius dan memperoleh nilai yang baik. Tentunya ada semacam ketidaksiapan bagi anak dalam menghadapi perubahan besar ini.

Pengalaman menyeramkan ini mungkin tidak disadari oleh orang tua karena menganggap bahwa masuk SD adalah proses biasa yang dialami setiap orang. Walaupun demikian, masa transisi ini sesungguhnya merupakan momen penting ketika peran orang tua dampaknya besar sekali. Anak perlu mengetahui, merasa aman, dan nyaman terhadap suasana baru, teman baru, guru baru, dan pelajaran-pelajaran baru. Kata "baru" di sini mungkin lebih jelas maknanya jika kita gunakan kata "asing". Sesuatu yang asing, yang tidak kita pahami, yang tidak kita kenal, adalah sesuatu yang membuat kita merasa tidak nyaman dan takut. Bagi orang dewasa saja diperlukan keberanian dan masa penyesuaian untuk menghadapi hal yang baru, baik di tempat kerja, maupun dalam hidup. Sama halnya ketika kita memulai hari pertama kuliah, hari pertama kerja, hari pertama datang ke rumah pacar, atau pengalaman wawancara kerja pertama; perasaan bingung, takut, cemas, grogi, semangat, dan yang lainnya bercampur baur menjadi satu. Belum lagi perasaan takut, malu, dan rasa bersalah jika kita melakukan kesalahan dalam situasi tersebut.

Perasaan-perasaan demikianlah yang juga dirasakan anak, namun berkali-kali lipat lebih besar, karena ia merasa begitu kecil di dunia ini. Anak membutuhkan rasa aman, rasa dimengerti, dan dukungan agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi hal tersebut. Oleh karena itu sebagai orang tua kita tidak boleh mengecilkan pengalaman tersebut dengan mengatakan "begitu saja kok tidak berani", "tidak usah takut", "nanti kamu kan dapat teman baru dan guru baru", atau "pasti nanti senang di sekolah".

Sebaliknya, agar anak merasa dimengerti, kita harus mendukung perasaannya dengan kalimat seperti "Kamu takut, ya? Tidak apa-apa kalau kamu merasa takut karena ini adalah hal yang baru bagi kamu" atau "Memang menyeramkan, ya, menghadapi sesuatu yang kita tidak tahu." Ketika ini dilakukan, anak akan merasa bahwa hal dan ketakutan yang dialaminya adalah sesuatu yang wajar dan dibolehkan. Hal ini akan membuatnya tenang dan berani menghadapi ketakutannya. Sebaliknya, jika kita tidak membolehkannya merasa takut, kecemasan, dan ketegangan anak akan jadi semakin tinggi karena merasa bersalah melakukan apa yang kita larang.

Hal paling efektif yang dapat dilakukan untuk menolong anak mengatasi ketakutannya adalah bahwa kita sebagai orang tua menjadi tempat yang aman baginya untuk menceritakan seluruh pengalaman dan ketakutannya. Dengan memiliki rasa aman untuk menceritakan segala sesuatu yang dirasakannya, anak akan melihat bahwa apa pun yang ia akan hadapi dan rasakan bisa dengan berani dihadapinya karena kita -- orang tuanya -- ada di belakangnya untuk mendukung dan menguatkannya. Dengan demikian, apa pun yang dialaminya -- ketakutan, kegagalan, kekecewaan, kesedihan, dan yang lainnya -- dapat dihadapinya dengan lebih percaya diri dan mandiri.

Bagaimana mempersiapkan anak Anda ke sekolah yang baru?

1. Mari kita mundur sejenak. Sebelum anak Anda menjalani hari pertama di sekolah yang baru, Anda bisa mempersiapkannya dengan mengajaknya mengunjungi sekolah tersebut. Dalam perjalanan, Anda bisa menjelaskan tempat-tempat yang dilalui sehingga ia mengenali bagaimana cara mencapai sekolahnya. Setelah sampai, Anda bisa memperkenalkannya pada guru yang nantinya akan mengajarnya. Anda juga bisa mengenalkannya pada lingkungan sekolah dengan memberitahukan letak-letak ruangan di sekolah tersebut dan menunjukkan ruang kelasnya.

2. Orang tua juga sebaiknya membahas apa yang dirasakan anak tentang pengalaman baru yang akan dilaluinya tersebut. Dengan mengenali perasaannya sendiri, anak akan merasa lebih siap dengan apa yang akan dialaminya.

3. Anda dapat menenangkan perasaannya dengan memberikan perhatian penuh dan mendengarkan apa yang ia ungkapkan.

4. Setelah Anda memahami perasaan anak, Anda bisa mengonfirmasi perasaan-perasaan apa yang ia rasakan.

5. Kemudian, Anda dapat membesarkan hatinya bahwa semua yang dirasakannya adalah wajar. Lalu Anda bisa memberanikan anak Anda untuk menghadapinya dengan mengatakan bahwa Anda menyayanginya dan mendukungnya. Anda bisa ungkapkan bahwa Anda akan ada di sisinya ketika ia membutuhkan Anda, sekalipun bukan dengan cara duduk di sebelahnya di dalam kelas.

6. Anda bisa juga mengajaknya berdoa kepada Tuhan agar ia memiliki keberanian.

Seberapa cepatnya anak beradaptasi dengan lingkungan baru tergantung masing-masing anak. Jika anak Anda termasuk cepat beradaptasi dan tidak mengalami masalah serius, bersyukurlah. Jika anak Anda mengalami kesulitan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk beradaptasi, bersyukurlah. Dengan terus berada di sisinya dan mendukungnya, Anda memiliki kesempatan untuk mengenal anak Anda lebih jauh dan menjalin ikatan lebih erat dengannya. Anda juga memiliki kesempatan untuk mengajarkan anak Anda untuk berdoa dan beriman lebih dalam kepada Tuhan yang mengasihinya dan memahami perasaannya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Penulis Artikel :SA

Status Bahan :Situs, diakses tanggal 15 Juli 2010

Website :http://www.my-lifespring.com/ (Lifespring)

TIPS 2
Membangun Kepercayaan Diri yang Sehat Anak Usia SD

BUMBU-BUMBU

1. Kasih Tanpa Syarat

Kasih seharusnya tidak bergantung pada kesempurnaan sikap atau penampilan seseorang. Setiap anak perlu dikasihi apa adanya, sebagai ciptaan Tuhan yang unik dan istimewa. Jika kita berpusat pada kualitas permukaan saja, kita akan lalai melihat karakter-karakter yang menjadikan setiap anak unik. Kasih tanpa syarat bukan berarti menyetujui tindakan-tindakan buruk seorang anak. Kasih tanpa syarat mengenali perbedaan yang jauh antara melakukan hal yang tidak diinginkan dan menjadi orang yang tidak diinginkan.

Seorang ibu melihat anaknya sedang mengobrak-abrik laci meja. "Jessa! Keluar!" teriaknya. "Kamu anak nakal!" Sang ibu menyebutkan karakter diri Jessa, alih-alih menasihati apa yang dilakukannya. Kita dapat melakukan pendekatan yang lebih baik dengan berkata, "Jessa, laci itu harus selalu ditutup."

2. Apresiasi untuk Anak

Kita semua ingin melihat bahwa keluarga dan gereja kita mengapresiasi kita. Nah, anak-anak juga ingin tahu, "Guruku senang aku berada di sini." Saat kita menunjukkan apresiasi kepada seorang anak, kita mengatakan bahwa dia dikasihi oleh Allah dan jemaat-Nya.

3. Rasa Keberhasilan

Anak merasa puas saat dia mampu menyelesaikan sebuah tugas. Keberhasilan ini menyatakan bahwa dia adalah anak yang cekatan. Belajar sepeda, membaca buku, melepas kancing atau menyelesaikan teka-teki hanyalah segelintir kegiatan-kegiatan yang ingin anak pelajari.

JANGAN TAMBAHKAN BUMBU-BUMBU

1. Kritik

Ketika kita berfokus pada kelemahan-kelemahan anak, hal ini akan menghancurkan kepercayaan dirinya. Anak menyamakan kritik atas pekerjaannya dengan kritik terhadap diri sendiri sehingga dia membantah, merasa malu, atau merasa tertolak. Ungkapan-ungkapan seperti: "Kamu masih terlalu kecil"; "Salah lagi, salah lagi"; atau "Sini, biar aku kerjakan", menghasilkan dampak negatif bagi anak. Sebaliknya, katakanlah: "Kamu sudah mulai dengan baik" atau "Kalau butuh bantuan, panggil saya ya...."

2. Sifat Tidak Peka

Ketidakpekaan yang menyebabkan rasa malu dapat menimbulkan perasaan terluka. Sarkasme atau olok-olok, terutama di depan orang lain, memiliki efek yang merendahkan martabat anak-anak. Kita dapat melukai anak dengan berbicara tentangnya seolah-olah dia sedang tidak berada di sana. Selain itu, menghukum anak di depan umum dapat mempermalukannya. Disiplin seharusnya merupakan urusan pribadi, tidak hanya untuk menolong anak mendapatkan martabatnya tetapi menghindari orang lain membesar-besarkan masalahnya. Seorang guru menyadari bahwa dia telah bertindak tidak bijaksana saat dia menegur Anton di kelas sehingga anak-anak lainnya dapat mendengarkan. Selama beberapa minggu dia mendengar anak-anak berbicara kepada Anton dengan cara menegur seperti yang dia lakukan. Anton yang sangat membutuhkan pengakuan diri ditolak oleh yang lain. Guru itu pun melakukan hal yang perlu dilakukannya yaitu memuji dan menyemangati Anton atas sikapnya di depan umum.

3. Kurangnya Rasa Hormat

Rasa hormat terlihat dari apa yang kita katakan dan apa yang tidak kita katakan. "Terima kasih," "Tolong," dan khususnya "Maaf", merupakan ucapan yang jarang kita lontarkan kepada anak-anak. Harus disadari bahwa anak-anak perlu menerima rasa hormat seperti rasa hormat yang kita terima. Dia akan meniru teladan kita mengenai rasa menghormati atau rasa tidak menghormati.

Terkadang, kita salah menganggap bahwa kita memunyai hak untuk menyela anak sesuka kita, memaksa mereka menghentikan apa pun yang mereka kerjakan ketika kita berbicara. Kita perlu bertanya kepada diri kita, "Apakah saya akan berkata seperti ini kepada orang dewasa? Apakah saya akan memperlakukan orang dewasa lainnya dengan cara ini?" Kita perlu memerhatikan teladan kita saat kita mengganggu aktivitas atau perbincangan anak dengan tidak sopan. Kita bisa saja menghambat pembelajaran anak untuk menghormati orang lain.

4. Kurangnya Dorongan

Anak-anak memerlukan dorongan melalui kata-kata, bahkan untuk melakukan tugas yang biasa sekali pun. Kita mungkin tidak mengira bahwa kita perlu memberi pujian atas hal-hal yang "wajib dilakukan anak". Akan tetapi, hampir semua anak memerlukan dorongan dan pengakuan untuk membantu mereka melakukan apa yang wajib mereka lakukan. "Usaha yang baik" dan "Aku senang kalau kamu menyimpan pensil-pensil itu" merupakan pernyataan-pernyataan sederhana yang dapat memotivasi anak. Bahkan, menyatakan tindakan anak dengan ungkapan: "Saya tahu..." akan menjadi dorongan bagi anak. "Saya tahu kamu menyimpan pensil-pensil itu."

5. Membanding-bandingkan

Pernyataan-pernyataan seperti "Kamu sama saja seperti adikmu!" atau "Kenapa kamu tidak bisa seperti Mega?" merupakan pernyataan yang merusak. Kita perlu mengingat bahwa Allah menciptakan kita secara unik -- tidak ada duanya. Setiap ciptaan-Nya unik. Setiap anak perlu diterima apa adanya dan dibantu meraih potensi unik mereka sendiri. Bagi sang Seniman Agung, semua karya merupakan karya besar. Renungkan kasih-Nya; jangan membandingkan anak-anak.

6. Sikap Melindungi yang Berlebihan

Burung-burung yang masih kecil akan mati di sarangnya jika induknya tidak mendorong burung-burung itu untuk terbang. Terkadang, orang tua dan guru ingin melindungi anak-anak dari pengalaman-pengalaman yang berbahaya dan tidak menyenangkan. Akan tetapi, jika kita memaksakan apa yang perlu dipelajari seorang anak atau membatasi eksplorasinya karena ketakutan kita akan kegagalan, maka kita merusak kemampuannya untuk berkembang. Berikanlah lingkungan yang aman agar anak-anak dapat belajar dan mengamati. Biarkanlah mereka berpetualang.

7. Menghukum, Bukan Mendisiplin

Kata-kata ini sangat berbeda. Hukuman merupakan balasan dari kesalahan, sedangkan disiplin merupakan proses yang mendidik, termasuk memberikan dorongan serta koreksi. Hukuman berpusat pada pembalasan setimpal, sementara disiplin membawa pesan tentang "Aku mengasihimu dan ingin membantumu melakukan hal yang benar". Hukuman menimbulkan rasa bersalah, ketakutan, kemarahan dan terkadang kebencian, namun disiplin menginspirasikan kasih sayang, perhatian dan hasrat untuk berkembang.

SEBUAH KISAH

Rian sering membuat masalah. Gurunya telah berusaha memberi nasihat, memisahkannya dari teman-temannya, dan menghilangkan semua hak istimewanya. Ibu Wong menyadari kebencian yang bertumbuh dalam diri Rian. Dia berbicara secara pribadi dengan Rian, "Rian, tampaknya sulit bagimu untuk melakukan apa yang diinginkan gurumu. Kamu pasti tidak senang, ya?" Untuk pertama kalinya seorang guru ingin mengerti Rian, tidak hanya mengendalikannya. "Aku ingin membantumu belajar melakukan hal-hal yang sulit bagimu. Kita dapat bekerja sama jika kamu mau." Rian tersenyum kepada Ibu Wong. Dan, proses disiplin pun telah dimulai. (t/Uly)

Diterjemahkan dan disunting seperlunya dari:

Sumber
Halaman: 
93 -- 94
Judul Artikel: 
A Chilsd`s Healthy Self-Esteem
Judul Buku: 
Sunday School Smart Pages
Pengarang: 
Editor: Wes dan Sheryl Haystead
Penerbit: 
Gospel Light
Kota: 
USA
Tahun: 
1992

Komentar