Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Hidup Bersukacita

Edisi C3I: e-Konsel 185 - Hidup dalam Sukacita

T : Alkitab kerap kali mengingatkan kita untuk hidup bersukacita. Tapi pada kenyataan kehidupan sehari-hari sukar sekali mewujudkan sukacita di dalam diri kita?

J : Betul sekali, kita tahu bahwa hidup yang sehat adalah hidup yang bersukacita. Tapi masalahnya adalah kita harus benar-benar berjuang keras untuk menjadi sukacita karena sering kali kita harus menjumpai situasi hidup yang tidak membawa sukacita, yang menurunkan kadar sukacita dalam hidup kita. Sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa Tuhan juga menyuruh kita untuk bersukacita, tapi waktu kita mencoba untuk hidup sesuai firman Tuhan, kita tidak selalu berhasil. Itu sebabnya kita perlu mengambil waktu dan melihat apa yang firman Tuhan katakan, Filipi 4:4-7, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam K ristus Yesus." Paulus meminta kita untuk bersukacita. Pertanyaannya, bagaimanakah kita dapat hidup bersukacita. Bagaimanakah kita tetap mempertahankan sukacita di tengah-tengah situasi kehidupan yang tidak membawa sukacita? Yang ingin ditekankan adalah bahwa sukacita kristiani bukanlah bersumber dari situasi yang kita hadapi, melainkan dari Kristus sendiri.

T : Berarti yang diajarkan oleh firman Tuhan itu bahwa sukacita bukan sekadar emosi atau menyangkut seluruh kehidupan kita?

J : Tepat sekali, sudah tentu sukacita memang berkaitan dengan emosi. Alkitab tekankan kepada kita bahwa sumber sukacita bukanlah emosi itu sendiri. Sebetulnya emosi hanyalah kendaraan yang kita gunakan untuk menggetarkan diri kita dan untuk menyalurkan sukacita itu keluar sehingga dapat kita rasakan. Sering kali yang kita katakan sumber sukacita adalah situasi yang menggembirakan. Justru Alkitab tekankan, sukacita itu bukan bersumber pada situasi, situasi bisa berubah-ubah. Sumber sukacita adalah Kristus sendiri. Bagaimanakah Kristus menyalurkan sukacita kepada kita kendati situasi yang kita hadapi tidaklah menggembirakan? Sukacita dari Kristus adalah sukacita hidup bersama Kristus, yang berarti kita tidak sendirian. Kristus mendampingi dan akan memberi kekuatan kepada kita untuk menghadapi segala tantangan hidup.

T : Berarti sumbernya bukan emosi, tetapi pribadi yaitu, Tuhan Yesus sendiri yang harus kita terima sebagai pribadi yang selalu beserta dengan kita. Jadi, alasan ini harus kokoh?

J : Betul sekali, misalnya saat kita itu harus melewati perjalanan yang panjang dan bersama seseorang selama berhari-hari. Faktor yang paling menentukan untuk membuat kita gembira atau tidak adalah dengan siapakah kita melakukan perjalanan ini. Kalau kita bersama dengan seseorang yang nyaman, yang membuat kita bahagia, mendorong, menguatkan kita, maka perjalanan yang panjang itu menjadi sebuah perjalanan yang membawa sukacita. Tapi kebalikannya, kalau kita melewati perjalanan yang singkat, tapi bersama seseorang yang menyusahkan, memarahi, mengkritik, menghakimi kita; maka perjalanan itu benar-benar tidak membuahkan sukacita, justru menambah kesusahan hati kita. Kita terapkan contoh itu ke dalam kehidupan kita dengan Kristus. Situasi kadang-kadang memang akan berubah, tapi Alkitab tekankan kita harus mengingat dengan siapakah kita akan melewati situasi tersebut. Kalau kita tahu kita bersama Kristus Tuhan Juru Selamat kita, yang mengasihi kita, Dia ya ng perkasa, yang bisa menolong, menghibur hati kita; seyogianyalah itu cukup untuk membuat kita bersukacita.

T : Sering kali, dengan kawan seperjalanan kita, dalam hal ini Tuhan Yesus Kristus, kita merasa bosan, ingin mencari yang lain. Seperti pergi dengan istri kita, pada awalnya menyenangkan, lama-lama kita merasa jenuh, kita ingin jalan sendiri dan akibatnya kita kehilangan sukacita itu.

J : Kalau mata kita lepas dari memandang Kristus, kita akan bisa bosan atau jenuh. Tapi kalau kita tidak melepaskan pandangan dari Kristus, terus membaca firman-Nya, datang kepada-Nya dalam persekutuan, kita tidak akan bosan. Paulus menyuruh kita untuk bersukacita, membawa kekhawatiran kita dalam doa. Artinya kita mesti terus-menerus bercakap-cakap mengeluarkan isi hati kita kepada Tuhan. Mengapa? Sebab sesungguhnyalah kita bisa mengetahui bahwa kekhawatiran merupakan pembunuh sukacita dan kekhawatiran itu berhulu dari ketidakpastian. Memang kehidupan sarat dengan ketidakpastian, namun justru di sinilah seorang Kristen dapat hidup bersukacita. Ia tahu bahwa dalam hidup hanya satu yang pasti, yaitu Kristus dan firman-Nya. Jadi jangan sampai kita berhenti atau luput melihat Kristus dan memelihara persekutuan dengan-Nya.

T : Itu berarti kita juga dituntut untuk mau hidup di dalam sukacita itu sendiri, kalau kita menolak untuk hidup di dalam sukacita itu, kita tidak akan mengalami sukacita itu?

J : Betul, setiap saat kita diperhadapkan dengan dua pilihan, yaitu tetap memandang Kristus atau tidak lagi memandang Kristus. Kalau kita memilih tidak memandang Kristus, dengan cepat sekali kita akan merasa jenuh datang kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, berbakti kepada-Nya. Kita merasakan ini tidak ada gunanya, membuang waktu dan sebagainya. Tapi waktu kita tetap datang kepada-Nya, bergumul kepada-Nya dalam doa; maka kita tidak akan merasa jenuh, kita makin lekat dengan Dia. Sukacita itu perlu dipelihara. Bagaimana kita memelihara sukacita itu? Paulus menegaskan bahwa kita membawa segala kekhawatiran kita dalam doa dan pengucapan syukur. Kata ini merupakan kata yang luar biasa pentingnya, yaitu bersyukur. Paulus menekankan bahwa kita bisa memelihara sukacita dengan cara hidup bersyukur. Bersyukur berarti melihat apa yang telah Tuhan berikan atau lakukan. Masalahnya adalah kita hanya ingin melihat apa yang seharusnya Tuhan berikan atau lakukan. Kita gag al melihat apa yang Tuhan telah perbuat dalam hidup kita, kita hanya memfokuskan pada apa yang seharusnya Tuhan lakukan dalam hidup kita.

T : Sebenarnya, kalau kita hidup sendirian mungkin cepat bisa mensyukuri, tapi karena dengan banyak orang di sekeliling kita, maka kita menengok sana sini dan melihat sana lebih enak dan sebagainya?

J : Betul sekali, akhirnya kita tidak melihat apa yang Tuhan telah berikan kepada kita; kita melihat pada apa yang Tuhan telah berikan kepada orang lain. Kita bertanya-tanya mengapakah Tuhan tidak memberikan hal yang sama kepada kita. Tuhan tidak memberikan kepada semua orang hal yang sama karena kalau semua mendapatkan yang sama, kita tidak akan pernah belajar bermurah hati, berlapang dada; bersukacita dengan orang yang bersukacita, sebab semuanya sama. Justru Tuhan membiarkan ketidaksamaan ini agar kita semua bisa bertumbuh lebih mirip, lebih serupa dengan Kristus. Misalkan kita menjadi lebih murah hati, bersyukur akan apa yang Tuhan telah berikan kepada kita.

T : Bagaimana kita mengubah pandangan kita, supaya kita bisa mensyukuri segala sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita?

J : Hidup bersyukur berarti memfokuskan apa yang Tuhan telah berikan. Pertanyaannya, mengapa kita harus bersyukur, sebab kenyataannya memang Tuhan telah memberikan kita banyak berkat. Tuhan tidak meminta kita untuk hidup berbohong, artinya mensyukuri apa yang tidak pernah kita terima. Tuhan meminta kita riil, dan kalau kita melihat apa yang telah kita terima, kita harus bersyukur dan Tuhan senang pada orang yang bersyukur. Sebetulnya orang yang bersyukur adalah orang yang melihat bahwa Tuhan itu baik dan sesungguhnya Dia itu baik. Tuhan tidak senang dengan orang yang bersungut-sungut, sebab sesungguhnya orang yang bersungut-sungut tidak memunyai penilaian yang tepat akan Allah. Dia melihat Allah sebagai Allah yang jahat, tidak memberikan seperti yang diminta. Orang yang bersyukur berkata Tuhan baik, Dia pasti tahu apa yang paling baik untuknya.

T : Sebenarnya keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita merupakan alasan yang paling kuat untuk kita bersyukur. Katakan kita tidak diberikan yang lain pun, dengan keselamatan itu, kita sudah punya alasan yang kuat untuk bersyukur.

J : Itu poin yang bagus sekali, sebab keselamatan yang kita terima identik dengan surga yang nanti boleh kita tempati. Hidup ini tidak bisa dibandingkan dengan surga yang nanti akan menjadi rumah kita yang abadi. Jadi meskipun di dunia kita tidak memiliki banyak, tapi janji kepastian, jaminan bahwa nanti kita akan bersama Tuhan di surga benar-benar alasan yang paling kuat untuk bersyukur, berterima kasih kepada Tuhan karena Dia sudah menjanjikan surga.

T : Bagaimana kita mengekspresikan rasa syukur itu, apakah kalau kita berkali-kali mengucapkan "Puji Tuhan", "Tuhan baik", itu sudah merupakan ungkapan rasa syukur atau tanpa bicara seperti itu pun kita melihat hidupnya penuh syukur?

J : Salah satu cara terjelas untuk merefleksikan bahwa kita ini hidup bersyukur adalah memunyai wawasan hidup yang positif. Jadi orang yang bersyukur itu cenderung positif, tidak melihat hidup itu sepertinya gelap, suram. Dia menantikan hari esok, tahu bahwa ada berkat Tuhan untuk hari esok, bersedia membantu orang, memercayai orang karena dia tahu bahwa masih ada kesempatan untuk orang bisa berubah dengan dia menolongnya. Ini wujud nyata dari orang yang hidup bersyukur. Karena hatinya penuh sukacita,, maka dia melihat hidup itu dengan lebih cerah. Makin seseorang bersyukur, makin dia bersukacita. Makin dia bersukacita, makin positif dia melihat hidup ini. Dan yang kita tahu pasti adalah Tuhan pun akan bersukacita melihat anak-anak-Nya hidup bersyukur.

Sajian di atas kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. T167A yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan. Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat e-mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org> atau < TELAGA(at)sabda.org >. Atau kunjungi situs TELAGA di:

==> http://www.telaga.org/audio/hidup_bersukacita

Sumber
Judul Artikel: 
TELAGA - kaset No. T167A (e-Konsel Edisi 185)

Komentar