Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Kasih Agape

Edisi C3I: e-Konsel 357 - Berkomitmen untuk Hidup dalam Kasih Tuhan

Diringkas oleh: S. Setyawati

Manusia sering kali merasa diri lebih benar atau lebih baik daripada orang lain. Itulah sebabnya, manusia lebih mudah menghakimi orang lain dan berusaha mengambil selumbar di mata orang lain. Padahal, di dalam matanya sendiri, ada balok yang besar. Lukas 6:42 mengingatkan agar kita tidak menjadi orang munafik dan suka menghakimi.

Apakah yang dimaksud "balok" dalam Lukas 6:42? Balok tidak berbicara mengenai dosa yang ada pada seseorang sebelum dia menghakimi orang lain. Orang yang mencoba menolong orang lain yang dosanya kecil (selumbar) tidak selalu memiliki dosa yang lebih besar (balok). Balok dalam perikop ini berbicara tentang sikap menghakimi.

Dosa karena menghakimi (balok) selalu "lebih besar" daripada dosa orang yang dihakimi (selumbar). Sebab, penghakiman dan penghukuman adalah hak mutlak Allah. Hanya Allah yang mampu menghakimi dan menghukum manusia dengan adil. Manusia tidak akan pernah sanggup bertindak seperti Allah. Ketika kita menghakimi orang lain, kita justru berbuat dosa karena kita mencoba mengambil alih hak Allah. Dosa menghakimi itu seumpama balok yang menutupi mata kita sehingga kita tidak dapat melihat dan mengambil selumbar di mata orang yang kita hakimi. Sikap menghakimi membuat kita menjadi buta (Lukas 6:39). Selain itu, sikap menghakimi tidak menyembuhkan, tetapi menghancurkan.

Bagaimana dengan kita? Untuk dapat menolong orang lain (konseli), kita harus berada dalam komunitas yang tidak saling menghakimi atau menghukum.

Komunitas Agape

Untuk menolong seorang pria yang sering melakukan kekerasan terhadap keluarganya, kita tidak boleh mengutuki kelakuan pria itu. Sebaliknya, kita harus melayani dengan hati yang penuh empati dan menolongnya untuk mengalami pemulihan dengan tidak menghakiminya. Kita perlu mengingat bahwa kita juga orang yang penuh dosa dan kelemahan. Cara pendampingan yang harus kita lakukan adalah dengan membangun hubungan dengannya dan mendengarkan dia. Dengan demikian, pria itu akan menemukan "selumbar" di matanya dan mengalami pemulihan secara total.

Seseorang tidak akan mengalami perubahan hidup dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya jika ia masih menyimpan perasaan tertuduh, muak, malu, dan terhukum. Perasaan-perasaan itu justru akan memperkuat ikatan kebiasaan-kebiasaan buruk yang selama ini telah mengikatnya. Karena itu, sikap menghakimi dan menghukum tidak akan pernah membuat seseorang yang terikat dosa dapat menemukan "selumbar" di matanya. Sikap seperti itu hanya akan membuat ikatan dosa semakin kuat mengikatnya. Jadi, agar terjadi pemulihan dan perubahan hidup, orang tersebut memerlukan komunitas yang saling mengasihi. Sebuah komunitas yang, meskipun belum sempurna, terus-menerus mempraktikkan sikap yang penuh empati terhadap orang-orang yang terikat dosa.

Ketika seseorang menceritakan kisah hidupnya dengan terbuka, benar-benar didengar dan dimengerti dengan penuh empati, otak kedua orang itu (yang bercerita dan yang mendengarkan) akan mengalami perubahan yang sejati. Otak kanan mereka mulai terhubung dengan otak kiri sehingga kedua bagian otak itu mulai terintegrasi. Alhasil, ada kesembuhan.

Dosa menyebabkan otak manusia mengalami disintegrasi atau perpecahan sehingga otak kiri dan otak kanan tidak dapat bekerja sama untuk menghasilkan keputusan moral yang baik, dan cenderung melakukan apa yang ia benci dan yang tidak ingin ia lakukan (Roma 7:15). Agar kita dapat melakukan tindakan-tindakan kasih, kita perlu sentuhan kasih Allah. Kita dapat menemukannya dalam komunitas tubuh Kristus, yang adalah satu-satunya sarana penyalur kasih Bapa kepada manusia. Inilah yang disebut komunitas Agape -- komunitas yang di dalamnya kita dapat melihat "hubungan kasih dari tiga Pribadi Allah Tritunggal" (Yohanes 17:24). Dalam komunitas Agape, "semak-semak duri" dapat disingkap dan dibersihkan. Komunitas Agape tidak datang dengan sikap penghakiman dan penghukuman, tetapi dengan belas kasihan. Inilah yang dapat membuat "selumbar-selumbar" di mata seseorang dapat dikeluarkan. Komunitas Agape tidak hanya mendengarkan hal-hal yang ingin mereka dengar, tetapi mendengar dalam posisi orang yang mereka dengar, bahkan mendengar dengan hati Bapa. Dengan demikian, rasa empati mereka dapat dirasakan oleh orang-orang yang mereka dengar.

Jika kita, tubuh Kristus, mempraktikkan kasih yang penuh empati, kita dapat menasihati konseli dengan berkata, "Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi." Hal ini dapat dilakukan konseli setelah ia mendengar Tuhan berkata kepadanya, "Akupun tidak menghukum engkau" (Yohanes 8:10-11).

Ketika setiap orang mau berbagi cerita dengan penuh kasih, Kristus mulai bergerak di antara anggota-anggota tubuh-Nya untuk mengadakan pemulihan (2 Korintus 6:16). Bahkan, hal ini dapat terjadi atas banyak orang seperti yang dialami gereja mula-mula. Mari kita meneladani Paulus untuk menanggalkan pikiran-pikiran manusia lama dan mengenakan pikiran-pikiran manusia baru kita (Kolose 3:7-11), mengenakan kasih Agape karena kita satu tubuh (Kolose 3:12-15), serta saling mengajar dan menasihati dengan firman Tuhan (Kolose 3:16-17).

Sebagai konselor Kristen, hendaklah kasih Kristus selalu melekat dalam hidup dan pelayanan kita. Imanuel.

Diringkas dari:

Judul buku : Transformasi Hati
Penulis : Ir. Eddy Leo, M.Th
Penerbit : Metanoia Publishing, Jakarta 2013
Halaman : 21 -- 27

Komentar