Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Keluar dari Jerat "Workaholic"

KELUAR DARI JERAT "WORKAHOLIC"

Bagi sebagian pria, pekerjaan mungkin merupakan atribut utama dalam hidupnya sehingga mereka rela meluangkan waktu dan energinya begitu rupa. Ada juga yang senang sekali bekerja asalkan mendapatkan uang, status tertentu, atau sebenarnya hanya karena kewajiban semata, dan lain sebagainya. Apa pun alasannya, kita tidak boleh menjadikan pekerjaan sebagai hal yang terutama dan mengabaikan aspek lainnya dalam hidup. Rajin bekerja adalah baik, tapi bekerja tanpa tahu waktu adalah gaya hidup yang tidak sehat. Lebih gawatnya lagi kalau tanpa disadari bekerja telah menjadi "berhala" bagi kita. Simak penuturan dua pria berikut ini seputar bekerja.

Apa kata mereka tentang pria yang "workaholic"?

  1. Tan Yosef Handoko, 35 thn., wirausaha bidang tekstil

Orang yang "workaholic" adalah orang yang gila bekerja melebihi batas-batas normal. Orang seperti ini tidak memandang siang atau malam, pokoknya yang ada dalam pikirannya hanya bekerja saja. Kecenderungan ini pasti kurang bagus karena dengan begitu ada hal lain yang dikorbankan dan telantar, baik dirinya sendiri maupun orang lain.

Kalau ada yang berpandangan kecenderungan "workaholic" itu lebih banyak dialami para pria daripada wanita mungkin karena secara fisik pria lebih kuat. Kedua, pria umumnya mempunyai ego dan ingin membuktikan diri bahwa kami bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga dan teman-temannya. Pria "workaholic" biasanya tidak merasa dituntut, tapi ada kalanya dia seperti itu karena membutuhkan pengakuan.

Pengalaman pribadi

Saya dulu lebih cenderung digerakkan oleh uang. Dalam pikiran saya yang ada hanyalah uang, uang, dan uang. Saya begitu karena saya bukan berasal dari keluarga yang berada sehingga berpandangan bahwa saya harus berhasil supaya bisa menyenangkan orang tua, baru menyenangkan diri sendiri. Saya terdorong untuk membuktikan bahwa dari keluarga saya pun ada yang bisa mapan. Memang ada sisi positifnya, misalnya dalam pekerjaan yang baru, saya tidak perlu waktu lama untuk bisa mengambil peluang yang baik supaya jadi uang. Tetapi saya bukan hanya mengerjakan yang halal saja karena saya juga suka judi bola. Pokoknya, selama menghasilkan uang, saya akan lakukan walau tidak halal. Lebih lanjut, kalau saya bekerja sampai malam dan saya letih, saya minta dipijat. Di situ, saya jatuh dalam dosa main perempuan, apalagi kalau di luar kota. Efek lainnya adalah saya tidak dekat dengan anak-anak karena saya berpikir tugas saya adalah mencari uang.

Titik balik perubahan

Suatu waktu, ada banyak aral melintang dalam bisnis saya. Di saat seperti itu, kakak mengajak saya mengikuti kamp Pria Sejati. Awalnya saya menolak karena merasa sudah cukup sejati dengan mempunyai dua anak, istri, dan uang. Saya juga merasa takut pada Tuhan. Tetapi setelah istri saya mengatakan bahwa tidak ada salahnya untuk ikut, saya ikut juga dan saya hanya anggap itu sebagai "main". Rupanya, di sanalah saya terjamah melalui apa yang disampaikan para pembicara. Salah satunya adalah bahwa semua yang ada pada kita adalah titipan Tuhan. Artinya, Dia bisa ambil kapan saja. Saya juga dibukakan, bahwa saya tidak pernah menyenangkan anak-anak. Bagaimana sekolah mereka pun saya tidak tahu. Dari situ saya berkomitmen untuk mulai mengantar anak-anak ke sekolah, berhenti main perempuan, dan judi. Melepas judi adalah yang paling sulit, tetapi dengan adanya dukungan dari teman-teman komunitas dan saya meninggalkan pergaulan yang lama, saya bisa melepaskannya.

  • Paulus Ruddy Saswono, 44 thn., kontraktor

  • Seorang "workaholic" adalah orang yang bekerja terus-menerus tanpa ada waktu sisa. Waktunya didominasi untuk bekerja, bahkan mungkin bukan lagi 24 jam, melainkan kalau bisa 36 jam sehari. Alasan pria cenderung seperti itu karena berpikir bahwa kami berkewajiban untuk menghidupi keluarga. Jadi, harus mencari uang.

    Sebenarnya dalam firman Tuhan, kita seharusnya bekerja untuk Tuhan dan bukan untuk manusia sehingga kita akan melakukan yang terbaik. Tetapi kita juga perlu menyadari bahwa harus ada keseimbangan dalam hidup. Kalau kita bekerja dengan alasan demi kebahagiaan keluarga, itu berarti ada waktu juga yang harus diberikan. Mengapa? Karena kasih identik dengan waktu, bukan hanya uang. Tuhan pun tidak mau kita bekerja terus dan keluarga ditinggalkan.

    Pengalaman Pribadi

    Kalau bekerja saya memulainya dari pagi sampai sore di kantor. Setelah mandi dan makan, saya masuk ruang kerja lagi di rumah dan terus bekerja sampai dini hari. Pagi-paginya saya bangun dan segera ke kantor lagi. Begitulah seterusnya aktivitas saya. Bahkan hari Minggu setelah pulang gereja saya biasanya bekerja. Saya sendiri melakukannya dalam ketidaktahuan bahwa itu salah karena saya berpikir kalau saya bekerja, hasilnya pun untuk keluarga saya. Akibatnya, saya tidak merasa bersalah dan saya pribadi menikmati kehidupan seperti itu. Di sisi lain, saya juga merasa dihargai sekali bila dalam pekerjaan. Dalam arti, apa pun yang saya katakan pasti akan dilakukan. Tetapi istri saya mulai mengeluh dan protes akan hal ini. Dia mengatakan bahwa saya sudah tidak mempunyai waktu lagi dan juga tidak mengurus anak kami yang masih kecil. Padahal peran seorang ayah sangat penting bagi pembentukan karakter anak.

    Titik balik perubahan

    Saya mulai terbuka ketika istri saya mengeluh. Di situ saya pikir, benar juga bahwa pekerjaan memang tidak ada akhirnya. Jadi, saya mulai "kompromi" untuk tidak bekerja pada hari Minggu dan memilih bersama keluarga. Di hari-hari lainnya saya juga berbagi waktu dengan keluarga besar, misalnya bila ada adik atau kakak yang berulang tahun, saya tinggalkan pekerjaan untuk berkumpul. Semakin lama, saya semakin dibukakan dan memang untuk mengubahnya membutuhkan waktu yang lama. Di awal perubahan, rasanya saya bingung sekali kalau liburan karena tidak tahu harus mengerjakan apa dan otak saya pun masih ke pekerjaan. Tetapi saya terus berkomitmen untuk membagi waktu, bahkan terkadang saya mematikan HP di hari Minggu agar tidak terganggu. Setelah mengikuti kamp, saya lebih mengerti lagi bahwa saya juga harus jadi imam. Karenanya, saya juga mulai mengantar anak ke sekolah dan mendoakannya.

    Bahan diambil dari sumber:

    Majalah : GetLife!
    Edisi : Tahun III/Edisi no.27
    Penerbit: GetmeDia (Yayasan Pelita Indonesia), Bandung.
    Halaman : 63 -- 64

    Sumber
    Halaman: 
    63 -- 64
    Judul Artikel: 
    GetLife!, Tahun III/Edisi no.27
    Penerbit: 
    GetmeDia (Yayasan Pelita Indonesia), Bandung.

    Published in e-Konsel, 20 March 2007, Volume 2007, No. 132


    Komentar