Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Konselor Secara Umum

Edisi C3I: e-Konsel 342 - Pengetahuan bagi Konselor Awam

Konselor tidak melulu seseorang yang memiliki ijazah perguruan tinggi. Kaum awam pun bisa dipersiapkan untuk menjadi seorang konselor. Apa saja yang harus diketahui dan dimiliki untuk menjadi seorang konselor? Berikut ini jawabannya.

  1. Memiliki Pengetahuan Konseling

  2. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang kita ketahui, pahami, dan mengerti. Sementara itu, pengetahuan konseling adalah apa yang diketahui, dipahami, dan dimengerti berkaitan dengan teori-teori konseling. Seorang konselor yang akan terlibat dalam pelayanan konseling pastoral harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan konseling. Paling tidak, ia pernah ikut pelatihan konseling atau belajar secara mandiri. Ia secara autodidak menambah, mencari, dan mempelajari ilmu konseling dari berbagai sumber.

    Pengetahuan konseling menjadi dasar bagi pelayanan konseling. Tanpa itu, sukar untuk memberi pelayanan yang sebenarnya. Percakapan pun cenderung menjadi percakapan yang sarat nasihat. Mahasiswa teologi sendiri, ketika praktik konseling, masih sangat banyak yang langsung memberi nasihat kepada konseli.

  3. Pengetahuannya Aplikatif

  4. Aplikatif artinya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang konselor yang telah memiliki pengetahuan konseling seharusnya mampu menerapkan dan menggunakan ilmunya dalam praktik konseling. Jangan sampai berilmu, tetapi kurang mampu menerapkan.

    Kenyataannya, banyak orang berilmu, tetapi tidak pandai menerapkan ilmunya dalam praktik. Laksana orang belajar teori berenang. Ia sudah menguasai teori renang, tetapi ketika pergi ke kolam renang, ia tidak mampu berenang. Tidak demikian seorang konselor. Ilmu konselingnya harus mampu diaplikasikan dalam praktik konselingnya. Jadi, ia berilmu dan aplikatif.

  5. Memiliki Kepekaan

  6. Peka artinya mudah merasa atau menerima sesuatu yang dilihat atau didengar ketika berbicara dengan orang lain. Ia mampu menangkap pesan lewat kata-kata yang didengar atau gerak-gerik tubuh dan mimik konseli. Konselor perlu memiliki kepekaan. Dengan kepekaan, konselor mudah merasakan kondisi konseli. Jika konseli memiliki kebutuhan, konselor dapat merasakan hal itu dalam batinnya. Kepekaan memungkinkan konselor memberikan respons dan reaksi yang tepat terhadap kondisi tertentu.

  7. Memiliki Keyakinan

  8. Keyakinan adalah kepercayaan yang sungguh-sungguh kuat dan teguh terhadap hal yang dipercayai. Dalam hal ini, konselor memiliki keyakinan yang kuat dan teguh kepada Tuhan. Ia yakin Tuhan berkuasa atas hidup manusia. Karena itu, konseli yang bermasalah diyakini dapat berubah. Masalah yang membelenggunya dapat ditolong melalui proses konseling. Keyakinan ini meneguhkan konselor untuk tidak mudah putus asa dalam menolong konseli yang terlilit masalah cukup berat.

  9. Memiliki Kematangan

  10. Matang artinya sudah sampai pada taraf perkembangan yang terbaik. Di sini, konselor telah memiliki kemampuan berpikir, kestabilan emosi, jiwa, dan kepribadian yang berada pada taraf yang baik atau matang. Konselor sebagai penolong harus lebih kuat dan tegar. Meskipun harus tetap diingat bahwa hubungan antara konselor dan konseli adalah hubungan kesejajaran dan kemitraan.

    Kematangan diri konselor memampukannya menghadapi masalah rumit. Ia tidak mudah goyah dan terpengaruh oleh hal-hal yang kurang baik. Ia memiliki prinsip yang kokoh dalam menjalankan pelayanan konselingnya. Oleh karena itu, kematangan diri penting dimiliki oleh konselor.

  11. Menghargai Konseli Sebagai Makhluk Unik

  12. Setiap manusia itu unik. Tidak ada yang persis sama. Setiap orang pasti mempunyai ciri khusus yang membedakannya dari orang lain. Hal ini tercermin dari respons tiap-tiap orang ketika menghadapi masalah. Dalam proses konseling, konselor perlu menghargai keunikan konseli. Ia harus mampu melihat hal-hal yang berbeda dalam diri setiap orang. Konselor tidak boleh menyamaratakan semua konseli karena keunikan konseli justru memperkaya khazanah pemahaman konselor tentang uniknya ciptaan Tuhan.

  13. Memiliki Rasa Tanggung Jawab Menolong

  14. Seorang yang berperan sebagai konselor harus peka dalam menolong konseli. Selain memiliki kepekaan, ia perlu menambahkan niat untuk tidak pernah membiarkan konseli bergulat sendirian dalam pergumulannya. Rasa terpanggil untuk cepat tanggap dalam menolong perlu tumbuh dalam sanubarinya. Ketika mendengar kabar atau melihat konseli mengalami sesuatu yang membutuhkan pertolongan, konselor tanggap merespons dengan mengambil langkah-langkah tertentu. Tidak pernah terbesit rasa malas, acuh tak acuh, kurang peduli, bosan, dan jenuh yang membelenggu dirinya. Jika hal itu terjadi, ia segera mengatasinya.

  15. Tidak Mengambil Alih Masalah Konseli

  16. Budaya kita salah satunya adalah budaya memberi nasihat. Orang tua kerap memberi nasihat kepada anak. Anak-anak dikondisikan sebagai pendengar yang baik. Orang tua berperan sebagai orang yang banyak makan asam garam, alias sudah berpengalaman. Karena itu, mereka adalah penasihat-penasihat bagi anak-anaknya. Kerap kali juga, mereka menjadi penasihat bagi orang lain. Oleh sebab itu, nasihat sering kali terjadi dalam lingkungan hidup sehari-hari.

    Budaya ini juga terjadi dalam proses konseling. Konseli kerap begitu mudah meminta nasihat kepada konselor. Lalu, konselor yang kurang peka langsung menjawab dengan memberi nasihat. Kadang, tanpa diminta konseli pun, konselor langsung memberikan serentetan nasihat. Kalau demikian, percakapan konseling berubah menjadi percakapan nasihat. Tanggung jawab dan masalah konseli dialihkan ke pundak konselor yang akhirnya berperan sebagai pemberi solusi.

    Seharusnya, konselor tidak mengambil alih masalah dan memberi solusi. Konselor tidak mengubah percakapan menjadi kesempatan untuk memberikan nasihat-nasihat. Akan tetapi, percakapannya tetap mendorong konseli menemukan solusi berdasarkan bimbingan konselor. Kalau konseli minta nasihat, konselor dapat mengajak konseli untuk berpikir. Misalnya, konseli bertanya, "Pak, apa nasihat Bapak untuk saya dalam hal ini?" Konselor bisa menjawab, "Ibu, coba kita pikir sejenak, masalah utama di sini apa? Nah, untuk itu, sikap apa yang diperlukan?" Jadi, konselor mengajak konseli untuk mencari solusinya bersama-sama.

Diambil dan disunting dari:

Judul buku : Dasar-Dasar Konseling Pastoral
Judul bab : Ciri-Ciri Konselor Efektif
Penulis : Tulus Tu'u, S.Th, M.Pd
Penerbit : ANDI, Yogyakarta 2007
Halaman : 42 -- 46

Komentar