Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Kasus Marta

Edisi C3I: edisi 342 - Pengetahuan bagi Konselor Awam

Marta baru saja mengatasi persoalan yang sangat sulit. Ia segera menawarkan dirinya untuk bekerja di tempat konseling (counseling center). Ia mengatakan bahwa ia bersedia mengerjakan setiap tugas yang diberikan. Ia ingin mewakili organisasi di depan kelompok-kelompok wanita. Pembimbingnya berkata, "Marta, kami menghargai permintaanmu. Akan tetapi, engkau baru saja menghadapi persoalan yang serius. Engkau belum siap." Ia sangat kecewa. Ia gusar. Kegusarannya terhadap penolakan sementara itu hanya membuktikan dengan jelas bahwa ia belum siap. Pembimbing menerangkan hal ini kepadanya dan memakainya sebagai kesempatan untuk pelayanan "nouthetis" (menasihati) berikutnya. Mereka mengemukakan bahwa dengan reaksi Marta itu memperjelas bahwa ia harus banyak belajar mengendalikan dirinya.

Pengalaman itu mengejutkan Marta. Kemudian, ia mengerti dan mengetahui betapa 1 Korintus 10:12 tepat baginya. Pelajaran itu sendiri memberikan perubahan yang sangat besar. Ia banyak ditolong oleh pengalaman itu sehingga ia mungkin dapat dipakai juga untuk pelayanan yang beraneka ragam. Namun, hal itu tidak diberitahukan kepadanya karena Marta memerlukan waktu untuk meneguhkan kemajuannya dengan menerapkan asas-asas nouthetis ini.

Oleh sebab pembimbing nouthetis mengetahui bahwa persoalan-persoalan seseorang tidaklah unik dan tidak melebihi kekuatan orang itu untuk memecahkannya dalam Kristus, dan karena mereka mempunyai perjanjian Allah bahwa persoalan-persoalan itu tidak akan terus-menerus berlaku, maka mereka mendekati pembimbingan dengan harapan dan keyakinan. Sikap pembimbing mudah memengaruhi sikap orang yang sedang dibimbing. Perkataan Paulus yang menguatkan, sangat menolong baik secara langsung maupun tidak langsung. Klien sering mengomentari sikap pembimbingnya. Pada akhir masa bimbingan, sering kali mereka berkata, "Dahulu saya tidak mengerti mengapa engkau mempunyai pengharapan yang demikian besar, tetapi sikap itu sangat menolong selama saya menghadapi kesulitan."

Sering pula berdasarkan perjanjian Paulus, sang pembimbing membangun harapan dengan cara memberitahukan bahwa ia mengerti persoalan mereka. Karena tidak ada persoalan yang unik, maka mereka mengikuti pola-pola yang telah diketahui oleh pembimbing. Apalagi jika seorang pembimbing mengetahui bahwa hatinya sendiri cenderung mengalah sama seperti setiap kegagalan yang dilihat pada orang yang ia bimbing. Terkadang, pembimbing dapat memberi tahu bahwa pembimbing pun telah mengerti dengan menceritakan suatu peristiwa atau contoh yang dapat menguji apakah kesimpulan mereka terhadap masalahnya tepat atau tidak, dengan mendengar respons orang itu. Hampir setiap kali, bila nadanya tepat, maka klien akan langsung memberi tanggapan secara terbuka, sebab sekarang mereka tahu bahwa orang lain juga pernah menghadapi persoalan yang sama dan bahwa pembimbing sungguh mengerti, pengertian mana yang memberinya pengharapan. Itulah yang dimaksudkan dalam 1 Korintus 10:13.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli buku : Competent to Counsel
Judul buku terjemahan : Anda pun Boleh Membimbing
Judul bab : Persoalan-Persoalan yang Dihadapi
Penulis : Dr. Jay E. Adams
Penerjemah : Tidak dicantumkan
Penerbit : Gandum Mas, Malang 1986
Halaman : 74 -- 75

Komentar