Memperlengkapi Remaja
Kunci untuk memperlengkapi para anak muda dengan kecakapan memelihara iman mereka untuk melewati tahap-tahap kehidupan yang tersulit adalah dengan mengajarkan tentang mengasihi dan menghormati orang lain. Kita justru harus memperkuat mereka dengan kekuatan karakter, dan bukan membatasi dan mempersempit pengetahuan dan pengalaman yang bisa mereka capai.
Kita harus mendidik mereka untuk menghormati perbedaan di antara manusia, bagaimana mereka hidup dan membuat pilihan-pilihan. Dengan melegalkan pilihan kekristenan, di dunia yang lebih luas yang akan mereka tinggali. Kita tidak perlu takut atau bersembunyi dari pendapat atau cara pandang dunia. Hanya dengan kasih dan hormat terhadap orang lain dan cara pandang mereka kita akan mampu menciptakan kesempatan untuk menjalin relasi. Menghormati kepercayaan orang lain adalah menghormati hak kita sendiri untuk memercayai apa yang tak terlihat.
Kita harus memperlengkapi anak muda dengan kekuatan karakter untuk menjadi orang yang berbeda. Bagaimana caranya membawa kekuatan ini ke dalam hidup mereka? Dengan membantu mereka memiliki pengertian penuh akan pilihan iman. Mereka harus mengerti bahwa pilihan ini adalah masalah pribadi dan mereka bertanggung jawab dengan hal itu. Kita harus memberitahu mereka bahwa iman adalah perihal memercayai dan bukan mengetahui. Dengan kepercayaan yang benar di dalam Allah mereka akan merasakan kedamaian dan kekuatan.
Kita harus mengajar mereka bahwa keyakinan mereka akan diuji. Akan ada saatnya mereka melipat tangan dan berlutut untuk berdoa, dan merasa benar-benar sendiri. Mereka tidak tahu apakah Allah tetap mau mendengarkan. Mereka akan ditantang untuk tetap bertahan dalam iman.
Kita harus mengajarkan bahwa keyakinan mereka akan berubah saat mereka semakin tua. Seperti kita yang belajar tentang diri kita sendiri, Allah dan iman kita, segala sesuatu berubah. Satu-satunya cara agar iman mereka bertahan saat mereka bertambah besar dan berubah adalah dengan memiliki dasar kasih dalam perbuatan nyata. Apabila kita mengajarkan sesuatu tanpa dasar kasih, dijamin iman anak-anak kita akan hancur.
Kecerdasan, pengabdian diri, semangat besar, dan kreativitas tidak bisa menguatkan jiwa anak-anak kita. Kita harus menolong mereka untuk memperoleh pemahaman iman, kasih, dan hormat. Saat dedikasi tidak disertai kasih dan pengertian kita akan menemukan bencana. Kita banyak menemukan hal-hal semacam ini dalam keluarga Kristen. Bahkan, kita menemukan masalah yang sama saat kita melihat kembali ke kehidupan rasul Paulus. Paulus dahulunya adalah seorang pemburu dan pembunuh orang-orang Kristen hingga Allah membuat matanya buta untuk sementara. Apakah kita harus membenci Saulus dan mengasihi Paulus? Bagaimana kita bisa mengajarkan sebaliknya?
Seperti Abraham, kita harus bersedia mengurbankan anak-anak kita untuk iman kita. Hanya dengan menyatakan iman dalam perbuatan, kita bisa menunjukkan iman yang benar kepada anak-anak kita. Jika kita menyimpan ketakutan dan kebencian pada dunia dan orang lain,