Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Memperoleh Kemerdekaan Secara Bertahap

Edisi C3I: e-Konsel 213 - Kemerdekaan dalam Kristus

Seorang teman memberikan sebuah spanduk bergambar salib dan setumpuk rantai yang sudah putus. Dua sosok berdiri tidak jauh dari tumpukan rantai itu, muka mereka menengadah ke atas sehingga yang mereka tatap bukanlah rantai itu, tetapi salib -- sumber kemerdekaan. Lengan mereka terentang ke atas, tanda penuh sukacita. Keadaan kedua sosok yang penuh kemenangan dan sukacita itu sangat berbeda dengan keadaan orang-orang Kristen yang sering berkonsultasi dengan saya. Hal ini pun berbeda juga dengan perjalanan kerohanian saya pada umumnya. Rupanya, banyak dari kita yang lebih merasa frustrasi di dalam Yesus daripada merasa merdeka di dalam Dia. Mengapa begitu? Mengapa saya merasa frustrasi dan sering gagal? Bukankah kematian Yesus di kayu salib itu memberi kemerdekaan kepada saya?

Kemerdekaan yang sering dicetuskan dewasa ini adalah kemerdekaan total. Pandangan ini tidaklah alkitabiah. Alkitab tidak menyatakan bahwa kemerdekaan total akan mewarnai kehidupan seseorang begitu ia percaya kepada Yesus. Sebaliknya, Alkitab mendorong kita untuk mengalami kemerdekaan dalam tiga tahap.

1. Kemerdekaan yang diperoleh secara langsung. (Roma 6:23)

Para teolog menyebutnya "pembenaran" oleh iman kepada Yesus Kristus. Kemerdekaan ini adalah hadiah yang sebenarnya tidak pantas kita terima. Kemerdekaan ini membuat kita bersukacita karena kita sudah dibebaskan dari hukuman kekal.

2. Kemerdekaan yang berjalan terus-menerus.

Para teolog menyebutnya "pengudusan". Kemerdekaan ini adalah suatu proses yang Tuhan kerjakan untuk terus memerdekakan kita sehingga kita semakin serupa dengan-Nya. Proses ini terus berlangsung seumur hidup kita dan sering kali menyakitkan.

3. Kemerdekaan terbesar.

Kemerdekaan ini akan kita nikmati di alam kekekalan. Kemerdekaan yang kita alami di dunia ini hanyalah "cicipan" dari kemerdekaan yang paling besar itu, yaitu kemerdekaan surgawi.

Mengapa kita tidak segirang sosok yang ada di spanduk itu? Mungkin karena kita kurang mengerti tentang apa yang dimaksud dengan pengudusan, kemerdekaan yang terus-menerus yang mengubah emosi, temperamen, sikap, pandangan, prasangka, dan standar kita. Ketika kita mengetahui apa yang Tuhan kehendaki untuk kita ubah dan mengerti cara-cara Tuhan mengubahkan kita menjadi seperti Dia, itulah yang dimaksud dengan kemerdekaan.

Kematian Yesus di kayu salib menghasilkan empat macam kebebasan bagi kita, yakni bebas dari tekanan yang diakibatkan oleh dosa, bebas dari kehidupan masa lalu yang penuh dosa, bebas dari kebinasaan, dan bebas dari belenggu dosa.

Bebas dari Tekanan yang Diakibatkan oleh Dosa

Perasaan bersalah dapat sewaktu-waktu timbul dan menghantui pikiran Saudara. Perasaan itu akan mengingatkan Saudara akan kegagalan Saudara, merusak hati Saudara dengan ketakutan, menimbulkan keresahan, membuat Saudara terus ketakutan kalau-kalau keburukan masa lalu Saudara ketahuan. Orang yang bersalah tidak akan merasakan damai dengan dirinya sendiri, orang lain, apalagi Tuhan (Kejadian 3:6-10). Ketika seseorang mengakui Yesus mati baginya di kayu salib, ia sudah diperdamaikan dengan Allah (Roma 5:1, 10). Kemerdekaan dari tekanan yang diakibatkan oleh dosa hanya dapat kita alami karena Yesus sudah menghapus kehidupan lama kita yang penuh dosa.

Bebas dari Kehidupan Masa Lalu yang Penuh Dosa

Tuhan tidak lagi mengingat-ingat dosa dan kesalahan-kesalahan kita. Betulkah itu? Dapatkah kita betul-betul diampuni dan terbebas dari bayang-bayang perbuatan dosa masa lalu?

Diri dan gaya hidup kita yang lama, masa lalu yang penuh dosa, perasan bersalah, semuanya itu sudah disalibkan bersama Yesus Kristus di kayu salib. Itu semua tidak lagi mencengkeram kita. Kuasa dosa telah dipatahkan saat kita beriman pada pengurbanan-Nya. Oleh karena itu mereka yang ada di dalam Kristus berani menengadahkan tangannya ke atas dengan penuh kegembiraan. Beban perasaan bersalah dari cara hidup masa lalu sudah dipindahkan kepada Yesus. Kebenaran ini adalah sebuah fakta yang dapat kita pegang, yang dapat membuat kita bersukacita.

Bebas dari Kebinasaan

Allah sudah memperingatkan Adam bahwa ketidakpatuhan akan berakibat kematian (Roma 6:23). Sebagai orang percaya, kita bersukacita atas pengurbanan Yesus yang melepaskan kita dari kebinasaan. Kebinasan yang seharusnya kita tanggung sebagai akibat dari keberadaan kita yang berdosa. Akan tetapi, karena Yesus sudah mati di kayu salib bagi kita, maka kita pun terlepas dari cengkeraman dosa dan kebinasaan yang diakibatkan oleh dosa. Kita sendiri tidak bisa membebaskan diri sendiri. Untuk itu, Allah mengutus Yesus untuk menanggung dosa-dosa kita. Ia menggantikan kita.

Ketika Yesus terpaku dan tersiksa di kayu salib, Ia berkata, "Sudah selesai." Ungkapan itu sudah umum pada zaman itu dan sering ditulis pada rekening atau bon. Artinya: "Lunas!" Saat kita dengan iman menyerahkan diri kepada Allah, Dia menimpakan dosa-dosa kita pada Yesus. Kita sudah mati bersama Yesus. Sekarang kita tidak bercela dan bercacat di hadapan Allah. Harga untuk menebus kita sudah dilunasi. Kita terlepas dari kebinasaan.

Allah sangat mengetahui keadaan kita. Ia tidak hanya mendamaikan kita dengan diri-Nya tapi juga mengenakan kebenaran Yesus pada diri kita. Kini, Dia memandang kita sebagai anak-anak yang sudah disucikan dan dikuduskan. Kemerdekaan itu kita peroleh secara langsung dan tidak dapat ditarik kembali. Penebusan telah dilaksanakan. Allah tidak akan mengulang perbuatan itu lagi.

Bebas dari Belenggu Dosa

Setiap orang yang hidup di dunia ini adalah orang berdosa. Dosa sudah menjadi faktor yang berpengaruh kuat dalam kehidupan kita. Manusia cenderung melawan Tuhan, bukan mematuhi perintah-Nya. Dalam Roma 6:17 Paulus mengatakan bahwa kita ini hamba dosa. Dulu dosa menjadi tuan kita dan dosa itulah yang memerintah kita untuk melakukan segala perbuatan jahat. Akan tetapi, sekarang kita sudah bebas! Kita sudah dimerdekakan oleh Yesus, jadi Yesuslah yang kini menjadi tuan kita. Kita tidak lagi melayani dosa, tapi melayani Tuhan Yesus.

Pada saat Saudara percaya dan menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi, kuasa manusia lama sudah dipatahkan. Walaupun demikian, hal ini tidak berarti Saudara tidak lagi dapat tergoda oleh dosa. Hal ini berarti rantai yang menawan Saudara, yakni kuasa yang pernah mendesak Saudara untuk berbuat dosa tidak lagi mencengkeram Saudara (Galatia 5:1). Saat tergantung di kayu salib Yesus berseru, "Ya Allahku, ya Allahku, mengapakah Engkau meninggalkan Aku?" (Markus 15:34 BIS). Itulah yang dialami-Nya untuk membebaskan kita dari cengkeraman dosa, dari kehidupan masa lalu kita yang penuh dosa, dari kebinasaan, dan dari keadaan diperbudak oleh dosa.

Mengetahui hal ini, apakah Saudara semakin mengerti apa artinya "Benar-Benar Merdeka?"

Diambil dan diringkas dari:

Sumber
Halaman: 
11 -- 22
Judul Buku: 
Bebas dari Ikatan Dosa -- Proses Menjadi Orang yang Sesuai Kehendak Tuhan
Pengarang: 
Joyce Huggett
Penerbit: 
Lembaga Literatur Baptis, Bandung dan Yayasan ANDI
Kota: 
Yogyakarta
Tahun: 
2000

Komentar