Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Mengenal Kasih Berdasarkan 1 Korintus 13:1-13

Salah satu sifat utama Allah adalah kasih. Allah pun ingin kita sebagai anak-anak-Nya juga memiliki kasih seperti yang diajarkan-Nya melalui Rasul Paulus. Ada banyak syarat yang harus dipenuhi supaya kita bisa memiliki kasih yang benar. Mari kita simak ringkasan perbincangan Pdt. Paul Gunadi berikut ini, yang menjabarkan apakah kasih itu. Selamat menyimak. MENGENAL KASIH BERDASARKAN 1 KORINTUS 13:1-13

T: Mengapa Rasul Paulus, ketika menulis surat kepada jemaat di Korintus, ini justru menuliskan tentang kasih?

J: Alasan yang paling penting adalah Rasul Paulus sedang memberikan teguran kepada jemaat di Korintus. Mereka adalah jemaat yang menerima karunia besar dari Tuhan, karunia-karunia Roh Kudus, dan gereja yang dinamis sekali.

Tapi, Korintus adalah jemaat yang paling bermasalah, baik itu masalah doktrinal, kurangnya moralitas, hubungan seksual di antara anggota keluarga, dan sebagainya. Di tengah-tengah situasi yang kacau itu, Rasul Paulus memberikan pengajarannya tentang penggunaan karunia dan pentingnya karunia Roh Kudus sehingga tidak mereka salah gunakan. Setelah dia memberikan pengajarannya, barulah dia menekankan bahwa yang terpenting dari semuanya adalah kasih. Dia mengawali 1 Korintus 13 itu dengan pengantar, "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing ..., tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku." Di sinilah maksud pengajarannya yang begitu agung tentang kasih.

-----

T: Kasih adalah sesuatu yang praktis, bukan teoritis. Bagaimana itu bisa dikelompokkan supaya lebih sederhana untuk kita pahami?

J: Kasih dapat kita kelompokkan dalam dua kategori. Yang pertama adalah kasih itu memunyai aspek mengekang diri, maka kita mendengar kata-kata seperti itu dari firman Tuhan bahwa kasih itu sabar, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan atau tidak kasar, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran, tidak menyimpan kesalahan orang lain, dan sabar menanggung segala sesuatu. Semua kata-kata yang digunakan mengacu pada satu konsep yang serupa akarnya, yaitu mengekang diri. Jadi, kasih membuat manusia membatasi dirinya, kasih membatasi tindakan kita yang seharusnya agresif menjadi tidak agresif. Tidak cemburu artinya seolah-olah kita mau menuntut sesuatu yang seharusnya menjadi milik kita, kita mau menguasai sesuatu yang baik, yang indah, dan yang menyenangkan buat kita. Tapi kasih berhasil membatasi diri sehingga kita tidak menguasai orang. Jadi, kasih memunyai unsur mengekang diri.

-----

T: Kasih itu artinya mengekang diri kita. Bagaimana hal ini dikaitkan dengan proses penegakan kebenaran? Misalkan, jelas-jelas kita melihat orang yang kita kasihi jalannya tidak tepat, apa yang seharusnya kita lakukan?

J: Secara alamiah, marah itu bisa timbul dan kita ungkapkan, namun ada perbedaan antara reaksi marah dan reaksi memarah-marahi untuk menekan atau menindas seseorang, menghukum seseorang, dan menghancurkan seseorang. Jadi yang dimaksud oleh firman Tuhan bukannya manusia itu sama sekali tidak bisa marah, Tuhan pun pernah berkata bahwa tidak apa-apa untuk kita marah asal jangan membiarkan kemarahan itu tinggal di hati kita sampai matahari terbenam. Jadi, reaksi marah secara natural itu tidak apa-apa, yang Tuhan minta di sini adalah jangan sampai kemarahan itu menggebu-gebu menghancurkan orang, kasihlah yang mengekang kita untuk melakukan hal seperti itu. Misalkan dalam rumah tangga, kadang-kadang kita marah melihat istri atau suami kita melakukan ini lagi, mengulang lagi. Kita pasti marah, tapi kasih seharusnya menolong kita untuk mengekang diri, mau mengatakan yang kasar tapi tidak jadi. Makanya kasih tidak melakukan yang tidak sopan atau tidak kasar, jadi kasih mengekang manusia untuk bertindak.

-----

T: Mungkin itulah yang dikatakan Paulus bahwa kasih itu juga tidak bersukacita karena ketidakadilan, kasih itu akan menegur?

J: Tepat, jadi karena kita kasih, justru waktu melihat ketidakadilan, kita bereaksi. Sudah tentu reaksinya bukan reaksi tenang-tenang, tapi kita pasti marah sebab kita mau melihat kebenaranlah yang ditegakkan, keadilanlah yang akhirnya dijunjung.

Tapi, sekali lagi sebagai contoh yang konkret karena melihat ketidakbenaran terjadi, bukan berarti kita memunyai hak untuk membalas, misalnya kita akhirnya bertindak sendiri, menghabisi orang karena kita menganggap dia tidak lagi benar. Kasih mengekang itu semua, kasih pada intinya memunyai kerelaan untuk melepaskan hak, itu yang Tuhan minta. Dalam rumah tangga, istilah hak adalah hal yang penting, apalagi zaman sekarang, di mana hubungan suami-istri lebih merupakan hubungan setara, egalitarian, benar-benar hak itu menjadi hal yang penting bagi kita. Makna kasih yang Tuhan ajarkan, yaitu kasih yang melepaskan hak, tidak menggenggam hak keras-keras. Inilah hal-hal yang menghancurkan pernikahan dewasa ini, sebab unsur kasih yang Tuhan minta sudah terhilang, tidak ada lagi pengekangan diri, tidak ada lagi kerelaan untuk melepaskan hak.

-----

T: Umumnya kita cenderung baru mampu melepaskan hak itu ketika memang sudah tidak ada pilihan, memang sudah berusaha tidak bisa mendapatkannya?

J: Tidak terlalu salah, sebab sering kali situasi seperti itulah yang diperlukan untuk benar-benar menelanjangi kita sehingga kita tidak berdaya. Dan dari situ mulailah kita mengembangkan kesabaran dalam hidup kita. Bukankah kita mungkin pernah mendengarkan kesaksian seseorang yang kaya raya, berkuasa luar biasa, kemudian musibah menghampirinya. Semua hilang, habis, dan dia bersaksi, misalnya dulu sombong dan sebagainya, sekarang tidak. Yang mengubah dia, pemicunya adalah hilangnya semua kekuasaan itu. Dalam keadaan tidak berdaya, akhirnya dia harus berserah kepada Tuhan dan belajar lebih bersabar.

-----

T: Kelompok kasih kelompok yang lain itu apa?

J: Kebalikan dari mengekang diri, yaitu memberikan diri. Ayat-ayat yang bisa kita kaitkan dengan aspek memberikan diri adalah firman Tuhan berkata bahwa kasih itu murah hati, kasih itu menutupi segala sesuatu atau terjemahan yang lainnya adalah kasih itu melindungi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, jadi penuh pengharapan.

Satu hal mengekang diri, hal yang lain memberikan diri kepada orang lain. Saya kira semua orang dapat memberikan dirinya, tapi pertanyaannya adalah kepada siapa dan untuk siapa. Jadi, murah hati adalah benar-benar kita harus keluar dari diri kita, melampaui diri kita yang sempit ini sehingga kita melebarkan, memperluas diri kita, dan akhirnya bisa memberikan diri kepada orang lain meskipun rasanya tidak ada keinginan.

-----

T: Kalau kasih seperti ini, apakah itu sudah sampai ke tingkat kasih agape?

J: Tepat sekali, kasih yang memberikan diri, bahkan kasih yang mengekang diri adalah kasih agape, kasih yang memang tidak lagi bertumpu pada apa yang orang lain lakukan kepada kita. Dalam konteks pernikahan, makin banyak pernikahan Kristen yang berakhir dengan perceraian. Yang mulai terhilang dari pernikahan Kristen dewasa ini adalah unsur kasih agape, yaitu unsur yang berkata bahwa aku senang bersamamu, apa pun kondisimu sekarang ini, apa pun yang engkau lakukan walaupun tidak bisa memberiku kepuasan, tapi aku bisa terima.

-----

T: Kalau kita menampilkan kasih, bisa atau tidak orang terkesan kita itu kuat?

J: Bisa, jadi orang yang pertama-tama sabar dan tabah menanggung penderitaan tidak akan dikatakan dia lemah, tapi akan dikatakan orang yang kuat. Contoh kasus, suami yang tidak setia kepada istrinya, menyalahgunakan kepercayaan istrinya, menyia-nyiakan keluarganya tapi istrinya terus bertahan, membesarkan anak-anak juga mau menerima si suami. Dalam hati si suami, meskipun dia tidak kemukakan secara langsung pada si istri, ialah rasa kagum, bahwa istrinya begitu kuat. Dia tidak akan berkata istri saya begitu lemah, dia akan berkata istri saya begitu kuat sehingga meskipun saya sia-siakan, dia tetap berdiri dengan teguh. Nah, itu adalah lambang kekuatan. Jadi, justru sebetulnya meskipun tidak diakui, itulah kesan orang terhadap sesamanya yang berhasil tegar menghadapi penderitaan.

Sajian di atas kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. T093B yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan. Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat e-mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org> atau < TELAGA(at)sabda.org >. Atau kunjungi situs TELAGA di:

==> http://www.telaga.org/audio/mengenal_kasih_berdasarkan_1_korintus_13_1_13

Sumber
Judul Artikel: 
TELAGA - kaset No. T093B (e-Konsel Edisi 177)

Komentar