Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Mengerti (Berempati)

Edisi C3I: e-Konsel 394 - Mengembangkan Keterampilan Sosial

Dalam rangka menurunkan kolesterol, akhir-akhir ini, saya sering bersepeda dari rumah ke pusat konseling Pastorium, terus ke SAAT, dan akhirnya pulang ke rumah. Karena bersepeda inilah, saya lebih mengerti beberapa hal yang sebelumnya tidak saya pahami. Pertama, saya baru mengerti mengapa ada kalanya sepeda motor, sepeda, dan becak berjalan di jalur yang berlawanan arah. Terkadang, penyebabnya adalah menyeberang atau memotong jalan merupakan suatu tugas yang susah. Jadi, lebih mudah dan lebih aman bagi si pengendara sepeda atau becak untuk membelok jika ia tetap di jalur yang salah itu.

Gambar: Becak

Saya juga baru mengerti, meski jaraknya sama, tetapi ongkos naik becak tidak sama untuk semua orang. Perbedaannya terletak pada berat badan si penumpang. Hal ini saya ketahui sewaktu saya harus mengayuh sepeda yang dibebani bobot badan saya yang hampir satu kuintal ini. Lebih lanjut, saya pun sekarang sering dibuat kesal oleh kendaraan beroda empat yang melintas "seenaknya". Kekesalan yang sama saya rasakan terhadap kendaraan beroda dua ketika saya sedang mengendarai kendaraan beroda empat. Ternyata, menukar tempat atau menempatkan diri pada posisi orang lain menyingkapkan banyak pemahaman yang sebelumnya tertutup dari pandangan saya.

Salah satu keterampilan mendasar dalam konseling adalah kemampuan untuk berempati. Berempati berarti mengerti perasaan, pemikiran, atau isi hati seseorang dengan mendalam. Berempati bukan sekadar memahami perkataan seseorang; ini bisa dilakukan oleh hampir semua orang. Berempati ialah turut menghayati perasaan yang sedang dirasakan oleh orang itu dan melihat motivasi atau pemikiran yang membelakangi tindakannya. Dengan kata lain, sama dengan pemahaman yang saya peroleh dari bersepeda, berempati sebenarnya merupakan tindakan menempatkan diri pada posisi atau keadaan orang lain, setidak-tidaknya secara mental. Jadi, orang yang tidak sudi menempatkan dirinya pada keadaan orang lain adalah orang yang tidak dapat berempati.

Salah satu "bumbu" pernikahan, begitulah sering diucapkan oleh orang-orang tua dulu, ialah pertengkaran. Secara pribadi, saya tidak pernah menganggap, apalagi menikmati pertengkaran sebagai "bumbu". Pertengkaran, baik itu antara suami-istri maupun relasi lainnya, lebih merupakan duri yang menyakitkan. Pertengkaran yang tidak terselesaikan adalah resep yang jitu untuk menghancurkan hubungan antara dua insan. Jika saya boleh melukiskannya secara hiperbolik, satu pertengkaran berkapasitas menghapuskan sepuluh kebaikan atau kemanisan yang telah dikecap bersama. Itulah sebabnya, saya mengalami kesukaran membayangkan pertengkaran sebagai "bumbu" pernikahan.

Seluas apa pun dampaknya dan setajam apa pun tusukannya, pertengkaran adalah sesuatu yang harus kita lalui jika kita tetap ingin terlibat dalam hubungan dengan sesama. Ada banyak cara untuk menyelesaikan pertengkaran dan semua itu bergantung pada faktor penyebabnya yang juga beragam. Namun, semua penyelesaian yang sehat biasanya dialasi terlebih dahulu oleh pengertian atau dalam istilah psikologisnya, empati. Menurut hemat saya, pertikaian mulai mendekati titik penyelesaiannya tatkala kedua belah pihak berhasil berempati dan mengomunikasikan empati satu sama lain.

Gambar: Empati

Menerima empati atau dimengerti merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang berkaitan dengan kodrat kita sebagai makhluk sosial. Merasa dimengerti sudah cukup untuk membuat kita berhenti berteriak meminta pengertian dan cukup kuat untuk menyadarkan kita bahwa orang lain bukanlah diri kita. Jadi, berempati atau mengerti merupakan keterampilan atau mungkin lebih tepat lagi, keharusan, yang mesti kita miliki. Empati adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan orang lain sewaktu arus kemarahan melanda dan memisahkan kita. Tanpa empati, kita hanya bisa saling memandang dan tidak saling berpegangan tangan lagi.

Menumbuhkan empati bukan hal yang terlalu mudah. Ada yang mengaitkan empati dengan belas kasihan, artinya kita dapat berempati tatkala kita berbelas kasihan. Dengan pemahaman seperti itu, empati akan berhenti bekerja sewaktu belas kasihan lenyap dari permukaan hati. Empati bukanlah belas kasihan walau belas kasihan dapat memudahkan bertunasnya empati.

Empati juga sukar muncul karena pada umumnya kita menuntut orang untuk mengerti kita terlebih dahulu dan nanti. Jika kita masih mempunyai energi sisa, barulah kita mencoba mengerti orang lain. Empati sering kali tersendat karena kita ingin membenarkan diri dan enggan mengambil risiko untuk mungkin saja keliru. Bukankah dengan empati, kita membuka peluang timbulnya kesadaran dan akhirnya pengakuan bahwa yang kita duga atau tuduhkan sebelumnya itu keliru? Empati sukar bersemi; sama sukarnya dengan menyangkal atau mengosongkan diri.

Empati hanya bisa kita miliki jika kita berhasil memenuhi syarat tuntutannya, yaitu bersedia mengosongkan diri. Empati lebih mudah bertumbuh apabila kita pernah mengalami yang dialami orang lain, atau setidak-tidaknya kita memiliki kesadaran bahwa kita mempunyai potensi yang sama untuk "jatuh" seperti orang lain. Itu sebabnya, Allah yang menyelamatkan haruslah Allah yang menjadi manusia karena Ia "... bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa" (Ibrani 4:15).

Audio Mengerti (Berempati)

Diambil dari:
Nama situs : Christian Counseling Center Indonesia
Alamat situs : http://c3i.sabda.org/mengerti_berempati
Penulis artikel : Paul Gunadi, Ph.D
Tanggal akses : 10 Januari 2017

Komentar