Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Natal: Saat untuk Memberi atau Menerima?

Salah satu hal yang saya coba ajarkan kepada anak-anak saya adalah bagaimana menjadi "pemberi" bukan "penerima". Saya mengajarkan hal ini kepada mereka karena saya tahu betapa perlunya menumbuhkan sifat itu. Natal adalah saat yang luar biasa untuk menekankan perihal memberi. Selama bertahun-tahun, kami telah mencoba untuk melakukannya dengan cara praktis dengan membuat kue-kue Natal untuk orang lain, mengumpulkan mainan-mainan dan pakaian-pakaian lama dengan sukarela, dan membuat serta mengirimkan bingkisan bagi keluarga-keluarga yang kekurangan di komunitas kami. Ini benar-benar saat yang tepat untuk memberi. Namun, hari ini saya diingatkan kembali bahwa Natal barangkali hanya sedikit memberi tetapi justru lebih banyak menerima.

Secara umum, tampaknya menerima itu mudah dan memberi itu sulit. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku bila hal ini muncul dalam hubungan kita dengan Allah. Secara alamiah, kita ingin memberikan sesuatu kepada Allah untuk membuat-Nya berkesan dan membuat Dia merasa senang terhadap kita. Seolah-olah ada keinginan kecil di dalam kita untuk memiliki Allah di sisi kita dengan melakukan sesuatu bagi Dia. Jika kita memberikan waktu kita, uang kita, kado kita untuk Dia, maka Dia akan tersenyum pada kita. Demikian juga halny, pada saat Natal, Anda melihat orang-orang secara sukarela pergi ke tempat-tempat umum dan memasukkan uang di kotak amal yang disediakan oleh Bala Keselamatan (komunitas Kristen) dengan rasa senang karena perbuatan mereka itu, dan berpikir bahwa Allah juga merasa senang dengan perbuatan mereka. Jangan salah sangka! Ini semua memang baik, tetapi apakah ini yang benar-benar Allah inginkan dari kita Natal ini?

Dalam Mazmur 50:12-14, Allah berfirman,

"Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya. Daging lembu jantankah Aku makan, atau darah kambing jantankah Aku minum? Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi!"

Dalam konteks ayat ini, kita melihat bahwa Israel memberikan kepada Allah suatu kurban yang Dia minta menurut Perjanjian Lama. Sesungguhnya Allah tidak marah karena mereka mempersembahkan kurban itu kepada-Nya. Dia memang memerintahkannya demikian. Bagaimanapun juga, kurban persembahan tersebut menunjuk pada sebuah dan satu-satunya pengurbanan yang akan datang kemudian. Pengurbanan ini diberikan oleh Allah sendiri -- yaitu Putera-Nya, Yesus. Meskipun demikian, tampaknya Allah mencela umat-Nya karena hal lain. Apa itu?

Sejak awal mula peradaban, manusia telah jatuh ke dalam kebohongan yang mengatakan bahwa kepercayaan adalah jalan manusia untuk mencapai Allah dan bukan Allah yang datang kepada manusia. Seperti bangsa Israel, kita merasa bahwa Allah memerlukan hadiah-hadiah dan kurban-kurban kita. Namun, Allah tidak terkesan dengan apa yang kita berikan kepada-Nya. Dia tidak bergantung pada hal-hal ini, karena kepercayaan yang sejati bukanlah memberikan sesuatu kepada Allah. Pemberian kurban persembahan adalah respons kita kepada Allah dengan ucapan syukur atas anugerah yang telah Dia berikan bagi kita. Hal ini tentang menerima dari Allah, bukan memberi bagi Allah.

Pada Natal ini saya ingin mengajarkan kepada anak-anak saya untuk menjadi pemberi. Walaupun begitu, saya juga ingin mengajarkan kepada mereka untuk menjadi penerima. Saya ingin mereka menerima anugerah yang Allah berikan kepada mereka di dalam Injil. Saya ingin mereka menerima Raja yang bersedia turun ke dunia bagi mereka, sehingga mereka tidak perlu menggapai-Nya. Saya ingin mereka menerima Yesus lebih dari apa pun. Saya menginginkan hal ini bagi mereka dan bagi Anda, berdasarkan janji dalam Yohanes 1:12-13:

"Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah."

Ketika kita menerima sesuatu dari Allah, kita belajar apa arti memberi untuk Allah dan sesama. Singkatnya, kita memberi dengan menerima. Kita memberi dengan hati yang penuh ucapan syukur atas anugerah yang telah kita terima, dan hal itu akan membawa kemuliaan bagi Allah dan kebaikan bagi orang lain. (t/Setya)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Ministry to Children.com
Alamat URL : http://ministry-to-children.com/christmas-is-about/
Judul asli artikel : Christmas Devotional: A Time of Giving or Receiving?
Penulis : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 17 November 2011

Komentar