Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Natur Seks

Pengetahuan tentang natur seks sangat berguna. Pertama, seks mencakup banyak hal lebih dari sekadar tindakan. Seks meliputi keinginan hati yang mendalam untuk berhubungan dengan orang lain. Pada intinya, seks bukanlah sesuatu yang bersifat nafsu atau tindakan merangsang; seks berkembang dari keinginan yang diinspirasikan oleh Allah dalam diri kita masing-masing untuk merobohkan tembok kesendirian dan menyatu dengan orang lain. Persetubuhan adalah satu-satunya ungkapan penyatuan yang sangat jelas.

Seks menyangkut rasa rindu dan hasrat. Tubuh merindukan sentuhan orang lain, dan jiwa menginginkan seorang teman untuk menepis kesepian yang dirasakan. Kerinduan semacam ini bukanlah sebuah pengakuan akan kegagalan kita. Menurut Alkitab, Allah menganggap Adam -- sebelum kejatuhan -- tidak baik seorang diri (Kejadian 2:18). Sang Pencipta membentuk seorang pelengkap bagi Adam untuk melengkapi kebutuhan emosi dan fisiknya yang unik, demikian juga bagi Hawa.

Meskipun Adam dan Hawa memiliki akses yang bebas kepada Allah, namun Allah menyadari bahwa mereka memerlukan sesuatu yang lain. Jadi, Allah memberikan kepada manusia suatu hadiah yaitu manusia yang lain. Dia menganugerahi mereka kesadaran akan keterbatasan diri dan kerinduan akan sesuatu yang lebih besar dalam penyatuan dengan orang lain.

Bagaimana hal ini diterapkan kepada Jim dan Karen? Keduanya memiliki kerinduan yang kuat untuk berhubungan satu dengan yang lain. Tidak seperti hasrat mendalam dalam diri Adam terhadap Hawa, Jim dan Karen mendambakan seseorang yang berjenis kelamin sama. Mereka dapat digambarkan sebagai orang-orang yang memiliki kecenderungan homoseksual karena ketertarikan seksual mereka ditujukan kepada orang yang berjenis kelamin sama, bukannya dengan orang yang berbeda jenis kelamin. Perangai homoseksual memang tidak bisa dijadikan kriteria pasti apakah kecenderungan itu ada atau tidak. Tentu saja, seseorang bisa memiliki ketertarikan tersebut; namun tidak bertindak berdasarkan perasaannya. Seseorang yang mengalami perasaan ini dari masa remaja hingga dewasa -- perasaan yang tetap kuat dan mungkin sangat intensif -- sedang menghadapi kecenderungan homoseksual.

Akan tetapi, saya ragu untuk menyebut Jim, Karen, atau siapa pun sebagai seorang homoseksual. Menyatakan bahwa mereka adalah homoseksual mengimplikasikan definisi kemanusiaan seseorang yang lebih mendasar. Menurut saya, kata-kata, "Saya Jim dan saya seorang homoseksual" merupakan status yang lebih mengikat daripada kata-kata "Saya Jim dan saya bergumul dengan kecenderungan homoseksual". Kalimat yang kedua menunjukkan kenyataan bahwa Jim tidak sama dengan homoseksualnya. Perasaan kaum gay adalah bagian dari kepribadiannya, tetapi bukan petunjuk spesifik yang mengacu pada poin utama. Menyatakan seseorang sebagai homoseksual sepertinya memberikan kekuatan besar pada perasaan-perasaan itu untuk mengidentifikasikannya.

Mengapa semua perasaan tersebut seharusnya tidak menetapkan dia sebagai seorang homoseksual? Karena perasaan tersebut telah memotivasi sebagian besar hidupnya. Pada kasus Karen, dia menguras semua energinya untuk menekan perasaan tersebut. Saat dia tidak menekannya lagi, kekuatan perasaan tersebut akan menariknya ke dalam suatu hubungan yang mengguncangkan dasar disiplin Kristen yang diterimanya saat berusia 10 tahun. Lagi pula, seksualitas merupakan bagian dasar, dan kemungkinan memberi hidup, dari manusia. Apakah ada pengurangan nilai kemanusiaan hanya karena objek keinginan kita adalah orang yang berjenis kelamin sama?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus menggali kekuatan perasaan lebih dalam. Hasrat seksual yang kuat saja tidak dapat menentukan kebenaran tentang seksualitas dan kemanusiaan seseorang secara umum. Sebagai contoh, seorang suami yang begitu birahi terhadap istri tetangganya seharusnya tidak membiarkan kekuatan perasaannya itu membenarkan/mensahkan tindakan perzinahan. Ia mungkin mengakui perasaannya itu, asalkan tidak menganggapnya sebagai penyebab utama atas hasrat yang menggerakkan hatinya.

Kedua, otoritas tertinggi untuk memberitahukan dan mengontrol keinginan hati seharusnya hanya menjadi milik Allah saja. Seberapa pentingkah hal ini sudah dijelaskan dalam firman Allah! Kebingungan dan ketidakberanian yang dihadapi oleh orang-orang yang telah bergumul dengan kecenderungan homoseksual selama bertahun-tahun semakin bertambah. Banyak doa yang dipanjatkan untuk membebaskan mereka, tetapi semuanya sia-sia. Yang mereka tahu adalah bahwa hasrat mereka terhadap perasaan cinta sesama jenis semakin besar dan memotivasi mereka untuk bertindak sedemikian rupa di mana beberapa bulan atau tahun sebelumnya tindakan itu tidak dapat mereka terima/lakukan. Kekuatan perasaan yang ada harus dihadapi. Dan setelah menghadapinya, setiap orang yang bergumul dengan homoseksual harus menyerahkan hasrat yang menyimpang itu kepada Sang Pencipta, untuk memberi-Nya tempat yang benar sebagai Tuhan dan Penebusnya.

Hal ini memberikan kesempatan kepada-Nya untuk menyatakan hati-Nya. Allah ingin orang-orang homoseksual yang bergumul ini masuk ke dalam kepenuhan kasih-Nya. Dengan kasih-Nya, Dia ingin kita mengasihi orang lain sedemikian rupa sehingga dapat menunjukkan siapa kita sebenarnya; Dia juga ingin memampukan kita untuk mengasihi orang lain dengan cara itu.

Kitab Kejadian yang mencatat tentang penciptaan menunjukkan bahwa sejak awal kita benar-benar percaya pada kasih karunia Bapa untuk mengenal siapa diri kita dan bagaimana kita harus mengasihi. Setelah menciptakan alam dan seluruh isinya, Allah memberikan panggilan yang unik kepada manusia ciptaan-Nya. Hanya kita (manusia) saja yang dianugerahi keserupaan dengan diri-Nya (Kejadian 1:27). Sebagai pembawa gambar ilahi, kita memiliki hubungan rohani dengan sang Pencipta. Kita bukanlah binatang yang dikendalikan oleh insting atau keinginan kita sendiri. Kita perlu mengenal sang Pencipta yang menurut gambar-Nya kita ditentukan, sebab tanpa hubungan ini kita tidak mampu benar-benar hidup sesuai aspek yang diinspirasikan kepada kita. Seperti seorang anak yatim yang membawa keserupaan dari ayahnya, kita mungkin tidak dapat menyatu dengan aspek-aspek warisan karena terpisah dari sumbernya. Kitab Kejadian menjelaskan: kita harus mengenal Allah untuk mengenal diri kita.

Allah memberitahukan bahwa untuk mengetahui kemanusiawian kita yang sebenarnya, kita harus dikenal oleh lawan jenis. Bagian mendasar dari keserupaan kita dengan gambar ilahi adalah cerminan heteroseksualnya. Allah menciptakan manusia sesuai gambar-Nya sebagai "laki-laki dan perempuan" (Kejadian 1:26-27). Dalam Kejadian 2, ketika Allah menetapkan untuk menciptakan seorang penolong bagi Adam, tidak ada seekor binatang pun yang cocok untuk itu. Satu-satunya teman yang sepadan dengan Adam adalah seseorang yang cukup mirip dengannya, untuk memenuhi area kemanusiawiannya, tetapi cukup unik untuk menariknya keluar dari kesendiriannya dan mengisi tempat kosong dari jiwa maskulinnya. Dari tulang rusuk Adam, Allah membentuk Hawa (lihat Kejadian 2:21-23). Allah memberikan kerinduan kepada masing-masing untuk mendapatkan kembali bagian dari dirinya yang hilang, yang hanya akan ditemukan pada pasangannya.

Adam tahu sifat maskulinnya dengan mengamati sifat feminim Hawa yang berbeda dan sebaliknya. Keunikan masing-masing disadari dalam perbedaan orang lain. Ketidakmiripan dan kemiripan yang dinamis menarik mereka ke dalam petualangan pencarian jati diri. Pikiran, tubuh, jiwa, dan roh yang seorang menyatu dengan yang lain, menyentuh dasar inti dan mencarinya, serta perbedaan yang menyertai kebebasan masing-masing.

Karl Barth memberikan pandangan tambahan terhadap pertanyaan mengapa Allah menciptakan dua jenis kelamin yang saling melengkapi ini, "Jika Hawa sama seperti Adam, pengulangan, multiplikasi jumlah, maka kesendirian Adam tidak akan hilang karena ciptaan semacam itu tidak akan memberikan perbandingan sebagai makhluk yang berbeda, ia hanya akan mengenali dirinya sendiri di dalam ciptaan itu.

Menjadi "satu daging" (Kejadian 2:24) merupakan simbol kebersamaan yang kuat. Dalam hubungan persetubuhan, laki-laki dan perempuan menyatukan tubuh, jiwa, dan roh. Karena dipersatukan, mereka pun saling melengkapi dan juga menciptakan kehidupan yang baru. Membawa keserupaan dengan gambar Pencipta berarti bahwa manusia juga memiliki daya cipta. Dengan demikian, menjadi satu daging adalah lebih dari sekadar simbol gambaran heteroseksual. Menjadi satu daging menyatakan dengan lebih jelas tentang suatu berkat utama yang diberikan kepada si gambar ilahi tersebut -- kemampuan untuk menciptakan kehidupan sedemikian rupa sehingga mencerminkan kehendak sang Pencipta. Hal ini sejalan dengan perintah Allah kepada manusia dalam Kejadian 1:28, "beranakcuculah dan bertambah banyak."

Terakhir, persatuan laki-laki dan perempuan menciptakan keintiman yang damai dan hidup. Adam dan Hawa diciptakan untuk Allah dan untuk menjadi pelengkap yang mulia bagi sesama, "keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu." (Kejadian 2:25) Cinta mereka satu sama lain tidak diragukan. Dalam keadaan mereka yang tidak berdosa, keseluruhan pribadi mereka memberikan kebebasan yang hampir tak terbatas untuk mengeksplorasi dan menemukan kondisi yang saling melengkapi. Jika godaan percabulan tidak dibuahi, sang Pencipta berkuasa atas ciptaan. Manusia bersukacita dalam Tuhan atas panggilannya sebagai pembawa keserupaan Allah, termasuk keberadaannya sebagai pelengkap bagi orang lain. Allah bersukacita atas manusia dan refleksi gambar-Nya dalam penyatuan laki-laki dan perempuan.

Oleh karena itu, penciptaan dalam kitab Kejadian menyatakan beberapa tema pokok. Pertama, Allah menganugerahi kita dengan gambar-Nya. Kita tidak mengusahakannya, itu adalah anugerah Allah. Kedua, penciptaan laki-laki dan perempuan menyatakan gambar Allah. Dua jenis kelamin yang saling melengkapi ini mencerminkan kesempurnaan manusia, yang tidak dapat direfleksikan dalam hubungan sesama jenis. Di dalam saling melengkapi, hasrat seksual dapat diberkati. (t/Setya)

Diterjemahkan dari:

Judul asli buku : Pursuing Sexual Wholeness
Judul bab : A Biblical Understanding of Sexuality
Judul asli artikel : The Nature of Sexuality
Penulis : Andrew Comiskey
Penerbit : Monarch Publications Ltd., Eastbourne 1989
Halaman : 37 -- 41

Komentar