Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Psikologi dan Kekristenan

Disiplin psikologi tidak hanya menganut suatu keragaman subjek dan minat, tetapi juga menyediakan pengetahuan praktis bagi kehidupan sehari-hari.

Namun, fakta bahwa baik psikologi maupun Alkitab menyediakan informasi untuk kehidupan sehari-hari dan informasi tentang bagaimana umat manusia dapat diharapkan untuk berpikir dan berperilaku dalam bermacam-macam lingkungan, terkadang menimbulkan ketegangan.

Dalam batas tertentu, psikologi sangat terbuka. Para psikolog sendiri berdebat tentang bagaimana mempelajari ilmu mereka, bagaimana memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan di mana ilmu mereka itu ditempatkan di dalam disiplin ilmu. Untuk itu, sudah selayaknya bagi orang Kristen yang terlatih dalam disiplin ilmu ini memberikan sudut pandang kekristenan dalam bidang psikologi. Tentu saja, banyak penulis telah mencoba mempopulerkan informasi yang dihasilkan oleh riset psikologi, dan orang-orang Kristen "menerima " atau "menolak" penemuan-penemuan tertentu atas dasar informasi yang tidak memadai. Konflik antara teologi dan ilmu pengetahuan telah ada selama berabad-abad. Banyak orang Kristen cenderung mengambil sudut pandang yang berseberangan dengan apa saja yang telah dipaparkan oleh ilmu pengetahuan. Sudut pandang orang Kristen pada pokok-pokok masalah tertentu sudah sangat kacau dan kadang-kadang muncul dari teologi yang tidak relevan.

Sebagai akibat dari ketegangan-ketegangan semacam ini, masyarakat Kristen sering kali curiga atau bahkan kejam terhadap psikologi dan ilmu ilmu sosial. Kekejaman seperti ini kadang-kadang dibenarkan karena tuntutan-tuntutan dan penafsiran-penafsiran yang dilakukan oleh para ilmuwan ilmu sosial terlalu berani. Bahkan, terkadang gereja membangun benteng pertahanan hak-hak asasi manusia bagi dirinya sendiri di tengah-tengah lautan depersonalisasi (sikap merendahkan martabat pribadi) yang ditumbuhsuburkan oleh pengurangan metode ilmiah.

Cara Menghubungkan Psikologi dan Teologi

Carter dan Narramore (1979), lewat adaptasi analisis sejarah yang dikembangkan oleh Niebuhr (1951), menyarankan bahwa ada empat cara positif untuk menghubungkan psikologi dan teologi.

Posisi pertama, kekristenan melawan posisi psikologi. Pada tahun-tahun kemudian, sejumlah tokoh Kristen telah menulis polemik menentang psikologi, dengan menuduhnya kalau bukan sebagai suatu persekongkolan zaman baru Iblis, mungkin sebagai pesaing kekristenan. Jay Adams, seorang konselor Kristen terkenal, melakukan serangan-serangan yang mirip terhadap psikologi konvensional pada awal tahun 1970-an. Dia mengomentari karya Dobson, "Dare to Discipline" (1970), dengan mengatakan bahwa "garis besar tingkah lakunya" ditulis dalam istilah-istilah kekristenan, tetapi sesungguhnya memperkenalkan sistem tak bertuhan dalam istilah-istilah Kristen .... Pendekatan Dobson dingin dan tak bertuhan. Pendekatannya berpusat pada manipulasi" (1973, 82).

Mereka yang memihak posisi kekristenan melawan psikologi tidak melihat nilai psikologi sehingga mengurangi semua masalah hanya dalam arena rohani (kadang-kadang menambahkan kemungkinan adanya masalah fisik). Benner (1988, 44) menyatakan bahwa pengurangan rohani semacam ini membuat semua psikoterapi bertentangan dengan tujuan Allah. Seperti pendekatan "penghibur" Ayub, posisi ini berasal dari masalah dosa pribadi.

Posisi kedua, psikologi melawan posisi kekristenan. Di sini, psikologi dianggap memiliki jawaban-jawaban; sementara kekristenan dipandang sebagai sesuatu yang tidak penting atau bahkan merusak kehidupan yang sehat. Posisi ini dicontohkan oleh Freud, yang menekankan bahwa kekristenan bersifat patologis. Watson, dan sampai tahap tertentu Fromm, juga masuk dalam kategori ini (Benner 1988, 47-48). Seperti posisi kekristenan melawan psikologi, posisi ini juga bersifat pengurangan. Kedua posisi ini sama-sama terlalu menyederhanakan masalah dengan mengurangi segala sesuatu pada satu sudut pandang.

Sebagai sebuah contoh kontemporer tentang posisi psikologi melawan kekristenan, pertimbangkan paparan singkat prapublikasi yang menggambarkan "Neuropsychological Bases of God Beliefs" (Parsinger, 1987) berikut ini.

Para Psikolog Memanfaatkan Agama

Beberapa psikolog menggunakan suatu psikologi untuk melawan kedudukan kekristenan. Mereka meminta jemaat supaya berhenti menggunakan agama sebagai suatu alat bantu, dan mulai mengembangkan kekuatan batin. Mereka mungkin menganjurkan supaya para klien berhenti membaca Alkitab dan mulai membaca literatur tentang pertolongan mandiri (self-help). Bahkan, mereka mungkin menyarankan supaya jemaat berhenti menghadiri kebaktian gereja (namun, tentunya, tetap menghadiri termin-termin konseling!).

Mungkin hal ini karena pengalaman-pengalaman yang tak begitu menguntungkan sehingga orang yang menyukai kekristenan menolak perspektif psikologi. Akan tetapi, menambah hal ekstrem yang lain mungkin tidak banyak membantu -- individu-individu yang bingung mungkin akan terus menghadapi masalah-masalah. Mungkin ada baiknya mengakui bahwa para psikolog pada umumnya toleran, jika tidak mendukung, terhadap kepercayaan-kepercayaan religius seorang klien. Baik seorang konselor Kristen maupun non-Kristen simpatik boleh dipertimbangkan.

Sangat disesalkan bahwa sebagian konselor sangat menentang kekristenan. Hendaknya menjadi suatu prioritas utama bagi siapa saja yang terlibat dalam pelayanan Kristen untuk meneliti sikap-sikap tentang kekristenan yang dipertahankan oleh para psikolog lokal. Juga baik untuk mengenal kekhususan-kekhususan mereka. Para pendeta rumah sakit lokal sering menjadi sumber-sumber informasi yang berguna. Wawasan mungkin dihimpun dari para anggota perhimpunan pendeta lokal. Tentu, sangat penting untuk mengenal lebih dulu, jika ada, suatu perkumpulan kesehatan mental lokal.

Jika para konselor lokal tidak cukup, mungkin ada seorang psikolog Kristen yang relatif dekat untuk dijangkau. Jika tidak, adalah suatu gagasan yang baik untuk mengenal seseorang, lebih disukai beberapa orang, yang dapat dipercaya dan berkompeten dalam konseling. Akhirnya, bertanyalah kepada sekretaris di pusat kesehatan mental lokal. Meskipun mereka tidak diperkenankan membahas kasus-kasus individu-individu, mereka mungkin mampu memberikan orientasi umum tentang para konselor yang menugaskan mereka.

Dalam artikel di atas, penulis dengan sangat terampil mencampur neurofisiologi modern dengan psikologi perilaku kritis untuk menawarkan suatu penjelasan objektif mengapa orang percaya kepada Allah .... Penulis memulai dengan komponen biologis dari penjelasan atas kepercayaan-kepercayaan Allah. Sejak awal, dia menegaskan bahwa pengalaman-pengalaman tentang Allah merupakan hasil otak manusia. Dia menjelaskan bahwa apabila bagian-bagian tertentu dari otak dirangsang, pengalaman-pengalaman tentang Allah, ditempa oleh sejarah pembelajaran seseorang, dibangkitkan. Dia menunjukkan bahwa pengalaman tentang Allah berkolerasi dengan ketidakstabilan elektrik sementara dalam cuping otak temporal.

Sudut pandang ketiga bisa digambarkan sebagai pandangan kekristenan dan psikologi, yang meneguhkan dua disiplin sebagai dua ilmu yang terpisah, tetapi sejajar untuk menemukan kebenaran. Benner (1988, 41) menekankan sifat dualistis pemisahan ini yang berlawanan dengan keseluruhan alkitabiah. Alkitab mengajarkan bahwa kelompok orang tidak terbagi-bagi, sebaliknya berfungsi secara keseluruhan. Benner mengemukakan Minirth dan Tournier sebagai contoh orang-orang yang memegang pandangan ini.

Pendekatan terakhir adalah psikologi berintegrasi dengan pandangan kekristenan. Di sini, seseorang dilihat secara mendasar sebagai suatu kesatuan. Sementara kita bisa bicara sampai tingkat-tingkat analisis, yang berarti bahwa orang dapat dijelaskan dari beberapa perspektif sekaligus (MacKay 1979, 30) -- manusia secara fundamental merupakan kesatuan (Benner, 1988, 41). Beberapa orang Kristen telah mengadopsi teologi yang mengenal satu Tuhan yang berhubungan dengan posisi ini, yang menyangkal kemungkinan tentang wujud diri terlepas dari tubuh setelah kematian (Myers dan Jeeves, 1987, 24-30), meskipun kesimpulan ini tidak harus sama dengan holisme Kristen.

Carter dan Narramore memilih pendekatan keempat. Penulis injili terkemuka yang lain telah mengembangkan perspektif tersebut lebih jauh (Farnsworth, 1985: Collins, 1981; Kirwan, 1984). Meskipun demikian, ada bahaya jika mengadopsi model ini tanpa berpikir kritis. Integrasi dapat dengan mudah menjadi sinkretisme, campuran antara kafir dan kekristenan untuk menghasilkan Kristen yang di bawah standar dan mengkompromikan iman.

Daripada menerima salah satu model yang ada secara mutlak, jauh lebih baik mengadopsi pendekatan ekletis (ecletic), yaitu mengambil bagian yang terbaik dari keempat model itu. Crabb (1977, 47-52) berbicara tentang "menjarah orang Mesir", yang merujuk pada kisah orang Israel dalam Perjanjian Lama yang mengambil emas dan benda-benda berharga lainnya dari Mesir, dan meninggalkan bawang dan bawang prei di belakang mereka. Mungkin sebagai orang Kristen kita harus memakai konsep-konsep psikologi yang bermanfaat dan cocok dengan Alkitab, serta meninggalkan konsep-konsep yang bertentangan dengan iman kita.

Sementara masing-masing model memiliki kelemahan, namun model itu juga memiliki kelebihan. Yang pertama menekankan pentingnya Alkitab dan Allah. Model kedua menekankan pentingnya keterbukaan terhadap investigasi psikologi untuk tidak menggunakan alasan yang tampak rasional (rationalizing) terhadap perilaku Kristen (misalnya, orang-orang datang ke gereja karena kepercayaan mereka, hasrat untuk terlepas dari rasa bersalah, atau kebutuhan validasi sosio ekonomi?). Suatu refleksi psikologi terhadap isi Alkitab mungkin dapat mengungkapkan pandangan-pandangan yang tidak akan ditemukan jika kita melakukan hal yang sebaliknya (seperti penekanan perilaku dalam Kitab Amsal).

Model pemisahan juga bernilai. Perbedaan-perbedaan dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan pendekatan-pendekatan untuk menjawab akan membuat mereka kreatif apabila integritas kekristenan dan psikologi dipertahankan. Akhirnya, ada nilai yang jelas dalam pendekatan holistik model integrasi. Seseorang merupakan suatu kesatuan, bukan dikotomi (paling tidak dalam kehidupan ini). Pendekatan ini cenderung mendorong penyuburan silang terhadap gagasan-gagasan baik dari psikologi maupun kekristenan, yang meningkatkan kreativitas dan produktivitas intelektual.

Sumber-sumber Data

Ketika kita mencermati hubungan antara psikologi dan kekristenan, sangatlah menolong untuk mempertimbangkan sebuah diagram ekletisisme Kristen di bawah ini.

Di sini, sumber utama pengetahuan adalah Allah saat Dia menunjukkan kebenaran. Dua sumber pewahyuan biasanya dikenal oleh para teolog, khususnya pewahyuan (Alkitab) dan pewahyuan umum (penciptaan Allah - alam/kemanusiaan). Bentuk-bentuk pewahyuan lain bisa terjadi ("Allah memberi tahu saya"), tetapi biasanya dianggap nomor dua dan ada di bawah dua pewahyuan utama. Dua sumber informasi ini merupakan sumber data informasi potensial untuk dipertimbangkan datang dari Alkitab dan dari alam/manusia. Sementara Alkitab memiliki keuntungan karena tanpa salah dan diwahyukan, data alam/manusia memiliki kerugian karena sudah jatuh dalam dosa dan tidak sempurna (Ackeman, 1988).

Masing-masing sumber ini memiliki suatu metode data analisis tertentu. Hermeneutika dipakai untuk mempelajari Alkitab, sementara metode ilmiah dipakai untuk mempelajari alam/manusia. Dengan demikian, kita harus mempelajari Alkitab dengan mempertimbangkan pokok-pokok masalah seperti konteks kultural, konteks historis, bahasa, bentuk-bentuk sastra, dan sebagainya.(1) Metodologi dalam metode ilmiah sangat berbeda.(2)

Karena sumber-sumber data dan metode-metode analisis berbeda, kita mendapatkan perbedaan dalam kesimpulan-kesimpulan yang dicapai oleh masing-masing disiplin ilmu. Sesungguhnya, kadang-kadang inilah kasusnya. Kesimpulan-kesimpulan ini, dalam bentuk teori-teori psikologi dan konstruksi-konstruksi teologi, seketika bersifat interpretatif, tentatif, dan menyimpulkan data terbaik dalam masing-masing wilayah.

Tingkat analisis akhir adalah perbandingan kesimpulan-kesimpulan dari dua wilayah untuk menemukan kesamaan, saling mengisi, interaktif, dan perbedaan-perbedaan di antara keduanya. Ada refleksi teologis dan alkitabiah atas psikologi dan refleksi psikologis atas teologi dan Alkitab. Prinsip yang menuntun ini merupakan produk-produk pewahyuan Allah dan keduanya menggambarkan kemanusiaan (meskipun tidak ada satu pun yang digambarkan secara menyeluruh). Konflik-konflik antara antara teologi dan psikologi merupakan kesalahan tafsiran alkitabiah, kesalahan dalam penggunaan metode ilmiah, atau keduanya. Karena keduanya diturunkan dari pewahyuan Allah, penemuan-penemuan yang akurat dari masing-masing metode tidak akan berkonflik. Semua kebenaran adalah kebenaran Allah. Karena itu, kita melakukan yang terbaik untuk mengadopsi suatu pendekatan eklektif, yang secara tentatif menerima prinsip-prinsip alkitabiah. Kesimpulan-kesimpulan teologis harus diuji dengan menggunakan unsur Alkitab dan wawasan psikologis yang valid (sahih). Ada ruang untuk menentukan penilaian pada suatu gagasan khusus sampai informasi yang lebih banyak tersedia. Beberapa wilayah perbandingan yang potensial dan kompatibilitasnya diuraikan sebagai berikut.

Sumber-sumber Ketegangan Antara Psikologi dan Kekristenan

Beberapa antipati yang dirasakan oleh orang-orang Kristen terhadap psikologi merupakan hasil dari kesukaran dalam mendefinisikan secara tepat di mana psikologi secara disiplin ilmu dimulai dan di mana harus berakhir. Banyak psikolog tidak nyaman menggambarkan perbedaan antara psikologi dan fisiologi, neurologi, sosiologi, atau filosofi. Karena psikologi cenderung mencakup pokok bahasan yang luas, sangatlah sukar untuk memfokuskan diri pada titik kontak khusus antara pengetahuan psikologi dengan kepercayaan serta praktik Kristen. Saat orang Kristen mencoba mengintegrasikan model-model menyimpang dari psikologi kontemporer dan mengidentifikasikan asumsi-asumsi umum yang mendasarinya, keduanya kadang-kadang mengambil implikasi dan asumsi-asumsi tentang alam dan kemanusiaan yang tidak konsisten dengan Alkitab.

Sumber ketegangan lain adalah baik psikologi maupun teologi kadang-kadang memakai konsep yang, menurut sifatnya, tidak dapat secara langsung diamati, tetapi menolong mereka membuat pengamatan yang masuk akal. Pertimbangkan konsep depresi secara teoretis, yang secara akurat menggambarkan perasaan kesedihan, bangun dini hari, merasa tidak nyaman, kehilangan selera makan, dan beberapa perilaku lainnya. Sebagian orang menganggap depresi sebagai suatu entitas objektif, tetapi sebenarnya depresi paling baik dianggap sebagai suatu gejala dengan sejumlah kemungkinan masalah. Misalnya, ketika individu-individu mengalami stres yang tinggi, mereka bisa menunjukkan gejala-gejala depresi (seperti kesedihan, tidak bisa tidur, kehilangan selera makan, dsb.). Meskipun individu-individu semacam ini tertekan, mereka mungkin tidak sampai pada tingkat depresi. Depresi dalam kasus ini adalah konstruksi teoretis.

Konstruksi-konstruksi teoretis mengizinkan definisi operasional dan pembentukan model oleh para ilmuwan. Model sering kali mewakili kerangka mental model konstruksi individual. Teologi memberikan konstruksi teoretis lain untuk menolong kita membangun model tentang penciptaan yang dapat membimbing pengamatan kita lebih jauh tentang penciptaan. Masalahnya, tentu saja, bahwa konstruksi yang kita kembangkan dalam masing-masing disiplin ilmu inilah yang menyebabkan masalah, bukan kebenaran dibalik konstruksi-konstruksi tersebut.

Sumber ketegangan terakhir adalah banyak ilmuwan sosial tidak percaya kepada Allah. Mungkin lebih banyak ilmuwan dalam ilmu-ilmu alam seperti geologi, kimia, dan fisika percaya kepada Allah dibanding para ilmuwan dalam ilmu-ilmu sosial. Sejauh mana ilmuwan mengeluarkan konsep tentang Allah dari pikiran mereka akan secara langsung mempengaruhi jenis model yang mereka bangun untuk menangani data yang mereka amati. Misalnya, ketergantungan pada asumsi-asumsi sebab akibat yang kaku mendahului campur tangan ilahi dan mukjizat.

Evaluasi Psikologi

Seorang individu yang menerima praanggapan awal bahwa Allah dapat memahami kebenaran sampai tahap tertentu dari sudut pandang Allah sehingga menjadi lebih mudah menerima kebenaran yang ditemukan dalam penciptaannya. Di samping itu, orang Kristen seharusnya unggul dalam usaha-usaha ilmiah karena keunggulan itu merupakan bagian komitmen kepada Allah. Allah adalah sumber utama kebenaran. Karena kebenaran berada di dalam Allah, ciptaan-Nya hanya dapat mengungkapkan ringkasan dari-Nya. Pemahaman atau pengetahuan tentang penciptaan (yaitu, cara kita mengamati penciptaan) merupakan abstraksi tingkat kedua. Kita sebagai orang Kristen beruntung dengan pemahaman kita terhadap kebenaran dan Allah adalah Pencipta. Apabila kita mengamati penciptaan, kita juga mengamati kebenaran Allah.

Orang Kristen juga beruntung karena asumsi-asumsi pewahyuan khusus dari Allah dalam Alkitab. Dalam pewahyuan khusus, Allah menunjukkan diri-Nya sendiri, menyatakan pesan-Nya dalam Yesus Kristus, dan menawarkan keselamatan dan pengampunan kepada semua umat, khususnya orang Kristen yang percaya dalam ketidakadaan kesalahan (inerrancy). Alkitab tidak hanya memiliki pengamatan mereka sendiri dari kebenaran Allah melalui penciptaan, tetapi juga firman Allah untuk membimbing studi mereka tentang penciptaan.

Dengan demikian, psikolog Kristen memiliki beberapa keuntungan atas psikologi sekular. Tidak hanya pendekatan orang-orang Kristen yang mendekati dunia dari sudut pandang bahwa kebenaran ini ditunjukkan dalam penciptaan Allah, tetapi juga memiliki "pegangan", firman Allah, yang melaluinya kita bisa mengevaluasi apa yang mereka amati dalam penciptaan. Dengan pegangan itu, mereka dapat menyaring kebenaran dari kesalahan.

Semua orang, siapa pun mereka, yang dengan rajin mempelajari penciptaan akan mengetahui kebenaran. Paulus menyatakan, "Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak tampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih" (Roma 1: 19-20).

Dengan demikian, baik orang Kristen maupun non-Kristen yang mempelajari penciptaan akan mengamati kebenaran Allah. Orang Kristen menempatkan puncak iman mereka di dalam Allah, yang diungkap dalam Alkitab. Hal ini memberi mereka suatu pemahaman yang akurat dari kebenaran Allah dalam penciptaan. Para ilmuwan ilmiah yang juga mengamati kebenaran dalam penciptaan memang membuat penemuan-penemuan penting, seperti penisilin atau radiasi sinar X, bahkan tanpa bimbingan yang jelas. Penemuan-penemuan kebenaran Allah semacam ini, meskipun tidak ada dalam Alkitab, masih mewakili kasih karunia Allah terhadap umat manusia. Bahwa penemuan itu ditemukan oleh para ilmuwan non-Kristen tidak mengubah fakta bahwa penemuan-penemuan itu merupakan teladan kasih karunia, pengampunan, dan kebenaran Allah.

Tentu saja, sistem konseptual teoretis manusia tidak sempurna karena abstraksi mereka dan praduga yang tersirat di baliknya. Seorang ilmuwan bisa saja membuat penemuan yang sahih, tetapi dituntun oleh praduga pribadi untuk menafsirkan dan menerapkan penemuan itu dalam sikap yang tidak benar.

Seberapa kerasnya mereka mencoba, ilmu psikologi tentu saja tidak akan pernah menjelaskan tujuan dan makna keberadaan manusia. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini melebihi tingkat ilmu psikologi untuk dihubungkan dengan ladang teologi. Untuk mengharapkan ilmu psikologi mengungkapkan jawaban-jawaban atau bahkan para ilmuwan yang mempelajari psikologi dapat berkomentar secara akurat tentang pertanyaan-pertanyaan kesalahpahaman ini, tidak harus melalui ilmu pengetahuan, tetapi dapat juga melalui tingkatan-tingkatan penjelasan yang kita peroleh dari pertanyaan-pertanyaan dalam hidup. Akhirnya, pertanyaan-pertanyaan keberadaan manusia merupakan pertanyaan-pertanyaan teologis bagi orang Kristen, yang berdasarkan pada iman dan firman Allah. Idealnya, penjelasan ilmu pengetahuan dan pemahaman orang Kristen tentang Alkitab harus saling mengisi.

Orang Kristen tidak seharusnya mengangkat kebenaran ilmiah dalam tingkat yang sama dengan Alkitab. Kita memegang Alkitab sebagai firman Allah yang tanpa salah; sedangkan kebenaran yang tampak ilmiah sering kali terbukti tidak akurat. Dalam studi ilmu apa pun, tentu saja, orang Kristen harus secara teguh berakar pada firman Allah. Kita harus membangun suatu filter ilmu pengetahuan dari pewahyuan khusus yang akan mengizinkan kita menguji apakah model-model ilmiah dan konstruksi-konstruksi teoretis yang dipaparkan para ilmuwan itu memang benar-benar cocok dengan penciptaan Allah.

Catatan:

  • Beberapa buku yang bagus tentang hermeneutika ditulis dari perspektif injili/psikologi telah tersedia. Lihat Virkler 1981; Johnson 1983.
  • Patut dicatat bahwa psikologi memberi keuntungan dari analisis metode hermeneutika. Lihat Evans 1989, hlm. 138 -- 142.

Diringkas dari:

Judul asli buku : Introduction to Psychology and Counseling
Judul buku terjemahan : Pengantar Psikologi dan Konseling Kristen (1)
Judul bab : Pengantar Psikologi
Penulis : Paul D. Meier, M. D., dkk.
Penerjemah : Johny The
Penerbit : ANDI, Yogyakarta 2004
Halaman : 12 -- 21

Komentar