Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Sepuluh Alasan untuk Mendengarkan Pertanyaan Sebelum Anda Menjawab

Renungan Amsal 18:13

"Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya."

1) Adalah sombong untuk menjawab sebelum Anda mendengar. Kerendahan hati tidak menganggap bahwa ia tahu persis apa yang ditanyakan seseorang sampai si penanya selesai mengajukan pertanyaan. Berapa kali saya melompat ke kesimpulan yang salah dengan mulai merumuskan jawaban saya sebelum saya mendengar seluruh pertanyaannya! Sering kali kata terakhir dalam pertanyaan itulah yang mengubah semuanya dan membuat Anda menyadari bahwa mereka tidak menanyakan seperti yang Anda kira.

2). Adalah kasar untuk menjawab pertanyaan yang masih setengah-diajukan. "Kasar" adalah kata yang berguna untuk orang-orang Kristen. Ini berarti "tidak-santun, tidak sopan." Kata di Perjanjian Baru untuk itu adalah aschëmonei. Ini digunakan dalam 1 Korintus 13: 5 di mana versi modern menerjemahkannya, "Kasih lemah lembut," tapi Versi old King James menerjemahkan "Kasih tidak berperilaku yang tidak pantas." Ini berarti kasih tidak hanya mengikuti standar moral yang mutlak, tapi juga mempertimbangkan adat istiadat budaya dan kebiasaan dan tradisi. Apa itu sopan? Apa itu hormat? Apa itu sikap yang baik? Apa itu benar? Apa selera yang baik? Apa yang pantas? Kasih bukan acuh tak acuh terhadap ini. Kasih menggunakan mereka untuk mengungkapkan keinginan yang sederhana untuk kebaikan orang-orang. Salah satu kesantunan tersebut adalah mendengarkan sebuah pertanyaan dengan baik sebelum Anda menjawab.

3) Tidak menjawab pertanyaan sebelum Anda mendengar semuanya berarti menghormati orang yang mengajukan pertanyaan. Memperlakukan orang itu seolah-olah kata-kata mereka benar-benar penting. Adalah meremehkan orang lain dengan menganggap Anda dapat menyelesaikan pertanyaan mereka sebelum mereka menyelesaikannya.

4) Mendengarkan pertanyaan dengan seksama sering mengungkapkan bahwa pertanyaan memiliki beberapa lapisan dan benar-benar lebih dari satu pertanyaan. Beberapa pertanyaan itu diramu menjadi satu. Ketika Anda melihat ini, Anda dapat membagi pertanyaan ke dalam beberapa bagian dan menjawab mereka satu per satu. Anda tidak akan melihat hal yang tidak kentara seperti itu jika Anda terburu-buru dengan jawaban Anda dan tidak secara seksama mendengarkan.

5) Sebuah pertanyaan kadang-kadang mengungkapkan asumsi bahwa Anda tidak berbagi. Jika Anda mencoba untuk menjawab pertanyaan atas dasar asumsi Anda tanpa memahami asumsi si penanya, Anda mungkin akan membicarakan hal yang berbeda dengannya. Jika Anda mendengarkan dengan seksama dan membiarkan orang itu selesai, Anda dapat melihat apa yang ia asumsikan yang Anda tidak asumsikan. Kemudian Anda dapat menyelidiki asumsi ini sebelum Anda menjawab. Seringkali, ketika berhadapan pada tingkat ini, pertanyaan itu menjawab sendiri. Itu benar-benar tentang perbedaan-perbedaan yang lebih dalam.

6) Pertanyaan biasanya memiliki sikap serta isi. Sikap kadang-kadang memberitahu Anda sebanyak isi tentang apa yang sebenarnya ditanyakan. Bahkan, sikap mungkin mengatakan kepada Anda bahwa kata-kata yang digunakan dalam pertanyaan ini bukanlah tentang masalahnya. Ketika itu yang terlihat, kita tidak harus meremehkan kata-katanya, tapi dengan serius mengajukan pertanyaan untuk melihat apakah sikap dan kata-kata benar-benar mengajukan pertanyaan yang sama. Jika tidak, yang mana yang benar-benar diinginkan untuk dijawab?

7) Pertanyaan memiliki konteks yang perlu Anda ketahui. Begitu banyak pikiran dan keadaan dan perasaan yang dapat terkandung di dalam pertanyaan ini yang dapat tidak kita ketahui atau pahami. Mendengarkan dengan seksama dapat membantu Anda menangkap hal-hal itu. Mungkin hanya ada petunjuk kecil bahwa ada keadaan penting di balik pertanyaan itu. Jika Anda menangkap petunjuk itu, saat Anda mendengarkan dengan seksama, Anda mungkin dapat menarik itu keluar dan mampu menjawab pertanyaan dengan jauh lebih mengena.

8) Pertanyaan terdiri dari kata-kata. Kata-kata memiliki makna yang dibentuk oleh pengalaman dan pendidikan seseorang. Kata-kata ini mungkin tidak membawa arti yang sama bagi Anda dan si penanya. Jika Anda ingin menjawab apa yang mereka benar-benar ditanyakan, Anda harus mendengarkan dengan sangat bersungguh-sungguh. Ketika ada kemungkinan bahwa pertanyaan mereka berakar pada pemahaman yang berbeda tentang sebuah kata, akan lebih bijaksana untuk berbicara tentang arti kata-kata kita sebelum kita berbicara tentang jawaban atas pertanyaannya. Saya menemukan bahwa berbicara tentang definisi dari kata-kata dalam pertanyaan biasanya menghasilkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.

9) Amsal 18:13 mengatakan adalah "kebodohan" kita untuk menjawab sebelum kita mendengar. Artinya, itu akan membuat kita bodoh. Salah satu alasan untuk ini adalah bahwa hampir semua jawaban dini didasarkan pada pemikiran bahwa kita mengetahui semua yang kita perlu ketahui. Akan tetapi itu "bodoh." Sikap kita seharusnya: Apa yang bisa saya pelajari dari pertanyaan ini? Orang bodoh mengira dia tahu semua yang dia perlu tahu.

10) Dan yang terakhir Amsal 18:13 mengatakan bahwa itu adalah "kecelaan" untuk menjawab sebelum kita mendengar. Bagaimana jika Anda ditanya di depan publik, "Saya dan istri saya memiliki masalah serius dan kami ingin tahu. . . " dan Anda memotong penanya dengan memberikan jawaban Anda tentang pentingnya konseling dan apa yang bisa dibantu oleh konselor. Namun, kemudian mereka mengatakan, "Yah, sebenarnya, apa yang saya akan katakan adalah," Saya dan istri saya memiliki masalah serius dan kami ingin tahu, sekarang konseling kami sudah selesai dan keadaan menjadi lebih baik daripada sebelumnya, bagaimana menurut Anda jika kita merayakannya?" Kemudian Anda akan malu karena tidak mendengarkan.

Masih belajar untuk mendengarkan dengan Anda,
Pastor John (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Desiring God
Alamat URL : http://www.desiringgod.org/articles/ten-reasons-to-listen-to-questions-before-you-answer
Judul asli artikel : Ten Reasons to Listen to Questions Before You Answer
Penulis artikel : John Piper
Tanggal akses : 29 Oktober 2015

Komentar