Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Peran Orang Tua Menghadapi Anak Berpacaran

Edisi C3I: e-Konsel 56 - Pacaran secara Kristen

Mau tidak mau pada suatu saat anak-anak kita juga akan sampai pada proses pacaran. Suatu tahap yang wajar terjadi dalam kehidupan setiap orang. Sebagai orangtua sudah menjadi kewajiban kita untuk tetap membimbing mereka dalam setiap kehidupan mereka. Ada banyak hal yang harus kita perhatikan bila anak-anak ini sudah sampai pada tahap berpacaran. Anda penasaran hal-hal apa saja itu? Simak saja kolom TELAGA berikut ini bersama Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph.D!

T :

Apa yang membedakan antara berpacaran dan berteman akrab selain perbedaan jenis kelamin?

J :

Yang menjadi perbedaan utama adalah ketertarikan secara romantis dan emosional. Persahabatan biasanya diikat oleh rasa kebutuhan emosional yang dipenuhi oleh seorang sahabat, sedangkan berpacaran mengandung unsur suatu ketertarikan secara romantis.

T :

Apakah kalau mereka sering pergi berduaan lalu mengambil kesempatan-kesempatan hanya berdua saja, lalu kita bisa mengatakan mereka sedang berpacaran?

J :

Kemungkinan kalau dengan lawan jenis dan sudah mulai bepergian berdua, saya kira sudah menjurus ke situ. Sebab dalam persahabatan seringkali itu tidak kita lakukan, biasanya bersahabat itu berdua, bertiga, apalagi pada anak-anak remaja, jarang sekali yang eksklusif hanya berdua dengan lawan jenis. Jadi kalau mulai berdua dengan lawan jenis, mereka mungkin juga pada awalnya mengatasnamakan persahabatan, namun dalam hati -- meskipun mereka belum tentu mau mengakuinya -- mereka sudah memiliki ketertarikan yang romantis. Karena untuk penjajakan pada tahap awal, masing-masing tidak mau mengungkapkan perasaan sebetulnya. Jadi mereka hanya bepergian dan berpikir ini adalah persahabatan. Setelah melewati jangka waktu tertentu mereka makin menyadari betapa tergantungnya mereka satu sama lain, betapa butuhnya mereka akan kehadiran pasangannya itu. Akhirnya mungkin salah satu akan mengungkapkan isi hatinya dan resmilah mereka pacaran.

T :

Kalau kita tahu anak kita sudah mulai berpacaran, apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua?

J :

Jauh sebelum anak kita mulai berpacaran, kita seharusnya sudah mulai berbicara kepada dia tentang calon pacarnya, tentang suami atau istri yang baik. Kita berbicara tentang hal-hal seperti ini tidak harus secara terencana dan sistematik tetapi lakukan serileks mungkin namun mengandung pesan moral yang jelas. Misalnya dengan berkata kepada dia: "Nanti saya mengharapkan kamu akan menikah dengan seseorang yang lebih baik dari saya. Maksudnya, saya hanya minta kamu mencintai dan memilih orang yang mencintai Tuhan Yesus dan kamu dengan sepenuh hati." Hal-hal inilah yang mulai perlu kita sampaikan kepadanya, sehingga dia mempunyai kerangka atau standar atau tolok ukur ketika dia mulai dekat dengan seorang pria. Akhirnya tanpa disadarinya prinsip-prinsip atau kriteria tersebut sudah melekat padanya dan menjadi panduan yang akan dia gunakan. Sebaiknya pembicaraan kita juga tidak bernada instruksi, larangan, keharusan atau menggurui. Misalnya, jangan menggunakan kata-kata: "Kamu tidak boleh menikah dengan ini, kamu harus begini, dan sebagainya." Larangan-larangan itu bisa efektif namun dampaknya kurang begitu konstruktif karena anak itu cenderung tidak begitu tanggap terhadap larangan-larangan. Justru bisa-bisa anak itu merasa ingin tahu mengapa tidak boleh berpacaran dengan orang yang dilarang oleh orangtua, akhirnya malah melakukannya. Jadi sampaikanlah pesan-pesan moral kita itu secara positif bukannya secara negatif.

T :

Tapi apakah mereka tidak canggung untuk diajak bicara seperti itu?

J :

Memang ada kecenderungan anak tidak akan menunjukkan sikap bahwa dia itu sungguh-sungguh memperhatikan karena ada rasa malu. Namun sebetulnya dalam hatinya dia akan mendengarkan dengan serius. Beritahu dia bahwa merupakan hal yang alami baginya jika suatu hari kelak dia menyukai seseorang yang berlawanan jenis dan tidak usah merasa malu. Orangtua perlu mengambil inisiatif untuk memunculkan dan membicarakan hal ini dengan tujuan agar anak mempunyai keberanian untuk bercerita.

T :

Kadang-kadang sesudah anak ini menginjak dewasa, mereka justru tertarik pada orang-orang yang tidak seiman. Bagaimana mengatasinya?

J :

Harus kita akui kematangan iman kita seringkali dipengaruhi oleh kematangan usia dan jiwa kita. Maksudnya, memang ada anak-anak remaja usia 11-13 tahun yang memiliki kematangan rohani. Pada umumnya, kebanyakan kita mulai memikirkan dengan serius tentang iman kepada Tuhan sekitar usia 17-18 tahun ke atas. Ini cukup alamiah sebab ada tahapannya. Artinya adalah pada usia sebelumnya hal-hal rohani itu kurang menempati posisi yang penting di dalam kehidupannya, kecenderungannya adalah dia ikut dengan kita ke gereja karena kewajiban. Pada saat ini mungkin saja dia tertarik dengan lawan jenisnya. Harus kita akui bahwa pada umumnya pintu pertama yang menjadi penghubung antara kita dengan yang kita sukai adalah ketertarikan fisik. Seringkali unsur seiman atau tidak seiman menjadi soal kedua, sama dengan unsur kecocokan kepribadian atau sifat-sifatnya. Dari pengertian ini kita bisa menyimpulkan bahwa sewaktu anak kita itu menjalin hubungan dengan lawan jenisnya yang kebetulan tidak seiman, itu dilakukannya dengan tidak sengaja karena memang prosesnya begitu.

T :

Kalau kita sudah tahu bahwa mereka sedang pacaran dengan orang yang tidak seiman, apa yang harus kita lakukan?

J :

Reaksi yang umum, kita merasa panik karena tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan dan kita takut hal ini membawa kerugian pada anak kita. Cobalah untuk berdialog dengan dia. Larangan yang keras kurang begitu efektif. Justru kalau kita larang dengan keras, dia malah berbalik membela pacarnya dan merasa bahwa kita itu tidak adil. Jadi kembalikan tanggung jawab ini ke pundaknya dan dorong untuk mempertanggungjawabkan tindakannya itu di hadapan Tuhan. Misalnya, kita bacakan Amsal 19:14,

"Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi istri yang berakal budi adalah karunia Tuhan."
Sebab sebagai seorang Kristen kita harus berkata bahwa pasangan hidup kita itu adalah pemberian Tuhan, berarti yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita tahu bahwa Firman Tuhan meminta kita menikah dengan yang seiman, kita tidak diizinkan untuk menikah dengan yang tidak seiman. Namun sekali lagi kita tidak menekankan pada kehendak kita tetapi lebih menekankan bahwa dia sekarang bertanggung jawab secara langsung kepada Tuhan.
T :

Jika dia mengambil keputusan untuk putus dengan pacarnya yang tidak seiman itu, bagaimana supaya ia tidak terluka hatinya atau bagaimana jika ia tidak mau pacaran lagi, bagaimana kita menolongnya?

J :

Kita bisa menyampaikan kepadanya bahwa setelah kita putus, luka itu akan terus tinggal dalam hati kita untuk jangka waktu yang lama. Jadi lumrah kalau dia itu tidak mau mencoba kembali. Namun setelah luka itu sembuh, keinginan itu akan muncul secara lebih alamiah. Amsal 20:18,

"Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglah."
Ayat ini bisa dibagikan kepada anak kita bahwa lain kali harus mempertimbangkan dengan baik sebelum melangkah masuk dalam hubungan yang lebih serius, karena toh yang terluka adalah kita dan Tuhan mau melindungi kita dari luka dan kerugian-kerugian. Oleh sebab itu, sebelum melangkah kita dasari langkah itu atas pertimbangan-pertimbangan yang matang.

Sumber:
[[Sajian di atas, kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. #24A yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan.
Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat e-Mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel@xc.org > atau: < TELAGA@sabda.org > ]]

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
TELAGA - Kaset T024A (e-Konsel Edisi 056)
Penerbit: 
--

Komentar