Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Masalah Ambivalen

Oleh: Dr. Yakub B. Susabda

Ambivalen (mendua hati) sebenarnya merupakan gejala yang tak terhindarkan dalam setiap hubungan antar manusia. Tak pernah ada manusia yang 100% suka atau 100% tak suka pada sesamanya, siapapun dia. Walaupun ia sedang jatuh cinta, dan merasa tergila-gila, tetap "kalau ia sadar" ia akan mengakui bahwa ada hal-hal tertentu dari orang yang ia cintai yang sebenarnya tidak ia sukai.

Ambivalen adalah hal yang alami, meskipun keseriusan dampaknya tidak selalu sama, tergantung pada watak, kematangan pribadi, dan level perbandingan antara suka dan tidak suka dalam hubungan tersebut. Kalau rasa sukanya lebih besar, ia akan mengatakan bahwa ia menyukai orang tersebut. Sebaliknya kalau rasa tidak sukanya lebih besar, dan perbandingan dengan rasa sukanya sangat mencolok, ia mungkin akan membenci orang tersebut. Dan yang mengherankan ialah bahwa, rasa suka ataupun tidak suka ini tidak selalu mempunyai alasan yang masuk akal. Seorang bisa membenci ayahnya yang begitu baik hanya oleh karena kelemahan-kelemahan kecil yang telah dilakukan oleh sang ayah. Dan sebaliknya ia bisa mencintai ibunya yang wataknya buruk meskipun ia melihat banyak kesalahan yang telah dilakukan si ibu. Sebagai contoh, kita dapat perhatikan kasus di bawah ini.

Kasus: A adalah seorang pemuda Kristen, aktivis gereja, tampan, berbakat, dan sangat concern dengan hal-hal rohani. Ia suka mengikuti ceramah-ceramah rohani bahkan ikut sekolah Alkitab malam untuk memperlengkapi dirinya dalam pelayanan dan kesaksiannya. Berbicara dengan A sungguh menyenangkan karena pengetahuannya yang banyak dan luas. Meskipun demikian dengan jujur A mengeluh dan merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Ia heran karena ia secara cognitif (rasionil) tahu bahwa ayahnya baik dan mengasihi dia, tetapi tidak mengerti mengapa ia tidak pernah merasa dekat dengan dia. Bahkan setiap kali komunikasi dengan dia selalu berakhir dengan pertengkaran. Lain halnya antara hubungan A dengan ibunya. A tahu bahwa ibunya mempunyai watak dan kepribadian kurang baik. Heran, justru dengan ibunyalah A merasa dekat sekali.

Dalam percakapan, A memberi alasan mengapa ia tidak menyukai ayahnya. Ia mengatakan bahwa ayahnya seorang laki-laki pengecut yang setiap kali ada orang kampung ketuk-ketuk pintu minta sumbangan ia tak berani keluar menghadapinya sendiri. Ia selalu menyuruh istri atau anak-anaknya yang keluar. Dan bagi A sang ayah juga adalah seorang laki-laki tak bertanggung jawab oleh karena ia tak berani beresiko meminjam uang dari bank untuk membesarkan tokonya. A kecewa sekali toko yang dikelola ayahnya tak pernah maju.

Dua "alasan kecil" kelemahan ayah ini, meskipun riil, sebenarnya adalah alasan yang dicari-cari. Anehnya, kedua alasan tersebut, kalau (misalnya) ditemukan ada pada ibunya, ternyata tidak menjadi alasan kebencian A kepada ibunya. Jadi, kedua alasan tersebut adalah alasan yang khusus hanya menjadi alasan kebencian bagi A dalam hubungan dengan ayahnya. Memang ada alasan lain mengapa A tidak menyukai ayahnya dan lebih menyukai ibunya. Mungkin oleh karena sang ayah terlalu pendiam sehingga tak banyak mendekati dan berkomunikasi dengan dirinya. Sebaliknya ibunya, meskipun wataknya kurang baik, tetapi memanjakan dia, selalu memberi apa yang secara pribadi. Tidak heran kalau A merasa lebih dekat dengan ibunya daripada ayahnya.

A sangat sadar, dan rasionya mengatakan bahwa sikapnya tidak masuk akal. Ia bahkan ingat betapa setiap keluar kota, sang ayah tak pernah lupa membawa oleh-oleh kesukaannya. Tapi, heran, ia lebih suka berbicara dengan ibunya. Ia tidak mengerti mengapa justru ia begitu toleran dengan ibunya yang kasar, suka omong kotor, curang, pembohong, suka menjelek-jelekkan orang lain (gossips), agresif dominan, dan tidak menghargai ajaran Alkitab, mengambil alih seluruh tanggung-jawab kepemimpinan dalam keluarga.

Untuk menolong A, beberapa prinsip konseling di bawah ini mungkin dapat dipakai.

  1. Memahami bahwa kasus A di atas sebenarnya adalah kasus kita semua. Warna dan intensitasnya mungkin berbeda-beda, tetapi hampir setiap pribadi terlibat dengan masalah ambivalency (sifat mendua) dalam hubungan dengan sesamanya. Selalu ada orang-orang (bisa orang yang begitu dekat dengan kita seperti ayah, ibu, anak, saudara sekandung, dsb) yang tanpa alasan jelas kita hindari oleh karena tidak kita sukai. Terhadap orang tersebut, dorongan untuk menghidupkan kebencian lebih besar daripada keinginan untuk mengembangkan keakraban. Meskipun kita tahu bahwa orang tersebut sebenarnya cukup baik. Kesalahannya sebenarnya tidak fatal, dan kelemahannya biasa saja, dan toh kita cenderung antipati dengannya. Sebaliknya, kepada orang-orang yang kita sukai, rasa tidak suka yang beralasan cenderung diminimir bahkan dilupakan.

    Ahli-ahli ilmu jiwa umumnya percaya bahwa ambivalen adalah gejala/fenomena alam ketidak-sadaran (unconscious phenomena) di mana gejala transference (pemindahan perasaan) dan hidupnya sinful nature tak terhindari. Rasa suka dan tidak suka pada seseorang biasanya diatur oleh insting yang terbentuk sejak kecil. Sifatnya ambivalen sehingga menimbulkan masalah oleh karena seringkali individu objek perasaan tersebut pernah berpikir bahwa ia disukai. Tetapi kemudian ia begitu kecewa karena ternyata ia lebih banyak dibenci. Inilah yang disebut ambivalen. Entah mengapa dalam jiwa A telah berkembang insting tertentu di mana rasa tidak suka muncul setiap kali ia berhubungan dengan ayahnya. (Catatan: insting adalah inherited pattern of behavior or predisposition to behave in particular way/pola yang diwarisi seseorang yang membuat dirinya bertingkah- laku dalam bentuk tertentu).

    Insting inilah yang telah menghambat hubungan pribadinya dengan sang ayah, dan yang telah menyebabkan A bertingkah-laku secara tidak masuk akal. Seolah-olah " common sense"nya mati. Seperti raja Lear dalam drama Shakespeare yang sampai hati membunuh Cordelia yang jujur dan berani menegakkan kebenaran sehingga menolak untuk ikut menyanjung-nyanjung ayahnya yang sudah gila hormat. Tetapi oleh karena itulah ia harus dibenci dan dibunuh. Hidup memang benar-benar tidak fair. Dan spirit ambivalen ini ada dalam jiwa setiap pribadi oleh karena memang merupakan bagian dari natur manusia yang berdosa.

  2. Dengan understanding di atas, konselor dapat membebaskan diri dari spirit judgemental (menghakimi) sehingga ia dapat lebih peka mendengar (listening) apa yang A pikirkan tentang dirinya sendiri. Kalau konselor dapat listen (peka mendengar apa yang tak terucapkan) ia akan menemukan berbagai kemungkinan mengapa A begitu.

    1. Mungkin, apa yang dikeluhkan hanyalah sekedar sharing (chatarsis) tanpa rasa bersalah dan tanpa keinginan untuk benar-benar memperbaharui hidupnya.

      Penulis pernah mendapat keluhan dari seorang aktivis gereja yang setia dan ingin menegakkan kebenaran di gerejanya. Heran ia selalu dimusuhi oleh pendeta dan majelis karena dialah yang selalu menentang kalau ada hal-hal yang tidak beres (mis: menyuap untuk ijin pembangunan gedung gereja). Sikap pendeta mirip seperti A yang ambivalen. Rasa sukanya dimatikan, karena instingnya lebih kuat untuk membenci aktivitas tersebut. Dalam sharing bahkan dalam persekutuan doa seolah-olah pendeta berterima kasih untuk beberapa kebaikannya (untuk mendapat simpati seolah-olah ia orang baik yang tahu berterima kasih) tetapi realitanya di belakang pengetahuannya, ia bersekongkol dengan majelis-majelis gereja yang lain (yang tak pernah mengkritik) untuk memusuhi dia. Dalam rapat pembangunan ia dikeroyok, dihabisi. Pendeta tersebut tahu, perasaannya yang ambivalen dan sebenarnya tak cukup beralasan untuk membencinya, tetapi ia tak punya keinginan sama sekali untuk memperbaikinya. Yang diinginkannya hanyalah terbebas dari gangguan. Instingnya selalu bekerja negatif dan memberikan perasaan gelisah, tertekan, dan tidak aman setiap kali bertemu dengannya. Oleh sebab itu, kalau bisa ia akan menyingkirkannya. Ia selalu mengumpulkan data-data kesalahan- kesalahan dengan harapan suatu saat betul-betul akan menemukan kesalahan yang fatal sehingga ia mendapat dukungan banyak orang untuk menyingkirkan dan menggantikan posisinya.

    2. Mungkin oleh karena lamanya waktu, sistem sudah terbentuk dan diterima oleh semua pihak, sehingga A tidak tahu apakah sistem masih dapat dan perlu diperbaiki.

      Seringkali orang seperti A tidak menyadari kalau ia menyimpan kebencian terhadap ayahnya. Karena yang disadari seringkali hanya sebatas "tidak cocok sehingga sering konflik" dengan ayahnya. Sebaliknya, si ayah pun barangkali sudah menerima keadaan hubungan yang tidak harmonis tersebut. Sehingga hal menghidupkan dan mempermasalahkan apa yang selama ini sudah dapat diterima, merupakan beban tambahan yang seringkali bahkan tidak siap dipikul oleh individu yang bersangkutan. Sikap reluctant dan resistant yang tersembunyi mungkin menjadi hambatan utama dalam proses konseling ini.

    3. Mungkin A sangat sadar dan sangat bersedia untuk memperbaiki dirinya tetapi sang ayah sudah resistant karena ia merasa selama ini ia lebih banyak dikecewakan dan dilukai.

      .... Bahkan mungkin resistant tersebut terjadi oleh karena sikap ambivalen sang ayah terhadap istrinya. Dengan kemungkinan defence mechanism "Projection/ pemindahan blame" yang ia sangat sadari, dari kebencian terhadap istrinya kepada kebencian terhadap A anaknya.

      Berbagai kemungkinan ada di belakang kasus A di atas, dan konselor terpanggil untuk peka terhadap realita bahwa setiap kasus unik pada dirinya.

  3. Setelah (melalui listening) konselor memahami struktur pola kerja jiwa A sebagai alasan di belakang tingkah-lakunya, maka konselor dapat mengkonfrontir A dengan kebenaran firman Tuhan dan meminta A menentukan strategi penyelesaian persoalannya sendiri. Peran konselor hanyalah sebagai reflektor yang setiap kali menyadarkan A apakah strategi dan langkah-langkah yang diambil memang masuk akal dan sesuai dengan pertanggungjawaban dan kedewasaan imannya.

    Misalnya: A berjanji untuk tidak akan marah lagi pada ayahnya. Untuk janji yang tidak masuk akal ini (karena sistem buruk yang sudah terbentuk begitu lama) konselor harus menolong A untuk menjadi lebih realistis. Sehingga A dapat menyusun strategi yang bertahap yang lebih masuk akal. Mungkin langkah demi langkah. Sehingga tekad yang baik tidak dicemari oleh kegagalan-kegagalan yang tidak perlu.

    Sekali lagi ini hanyalah contoh sederhana untuk realita pelayanan konseling yang jauh lebih kompleks. Harapan penulis adalah supaya awam-awam yang terbeban untuk pelayanan konseling mulai dapat diperlengkapi dengan beberapa prinsip dasar yang dapat mereka aplikasikan. Tuhan memberkati.

--------------------oooooo0O0ooooo---------------------

 
 
PERSPEKTIF PSIKOLOGIS

Beda Antara Cinta dan Cocok

Oleh: Dr. Paul Gunadi

Salah satu alasan terumum mengapa kita menikah adalah karena cinta-- cinta romantik, bukan cinta agape, yang biasa meyakinkan kita untuk melangkah bersama masuk ke mahligai pernikahan. Masalahnya adalah, walaupun cinta merupakan suatu daya yang sangat kuat untuk menarik dua individu, namun ia tidak cukup kuat untuk merekatkan keduanya. Makin hari makin bertambah keyakinan saya bahwa yang diperlukan untuk merekatkan kita dengan pasangan kita adalah kecocokan, bukan cinta. Saya akan jelaskan apa yang saya maksud.

Biasanya cinta datang kepada kita ibarat seekor burung yang tiba- tiba hinggap di atas kepala kita. Saya menggunakan istilah "datang" karena sulit sekali--meski mungkin--bagi kita untuk membuat atau mengkondisi diri untuk mencintai seseorang. Setelah cinta menghinggapi kita, cinta pun mulai mengemudikan kita ke arah orang yang kita cintai itu. Sudah tentu kehendak rasional turut berperan serta dalam proses pengemudian ini. Misalnya, kita bisa menyangkal hasrat cinta karena alasan-alasan tertentu. Tetapi, jika tidak ada alasan-alasan itu, kita pun akan menuruti dorongan cinta dan berupaya mendekatkan diri dengan orang tersebut.

Cinta biasanya mengandung satu komponen yang umum yakni rasa suka. Sebagai contoh, kita berkata bahwa pada awalnya kita tertarik dengan gadis atau pria itu karena kesabarannya, kebaikannya menolong kita, perhatiannya yang besar terhadap kita, wajahnya yang cantik atau sikapnya yang simpatik, dan yang lain sejenisnya. Dengan kata lain, setelah menyaksikan kualitas tersebut di atas timbullah rasa suka terhadapnya sebab memang sebelum kita bertemu dengannya memang kita sudah menyukai kualitas tersebut. Misalnya, memang kita mengagumi pria yang sabar, memang kita menghormati wanita yang lemah lembut, memang kita mengukai orang yang rela menolong orang lain dan seterusnya. Jadi, rasa suka muncul karena kita menemukan yang kita sukai pada dirinya.

Saya yakin cinta lebih kompleks dari apa yang telah saya uraikan. Namun khusus untuk pembahasan kali ini, saya membatasi lingkup cinta hanya pada unsur suka saja. Cocok dan suka tidak identik namun sering dianggap demikian. Saya berikan contoh. Saya suka rumah yang besar dengan taman yang luas, tetapi belum tentu saya cocok tinggal di rumah yang besar seperti itu. Saya tahu saya tidak cocok tinggal di rumah sebesar itu sebab saya bukanlah seseorang yang rajin membersihkan dan memelihara taman (yang dengan cepat akan bertumbuh kembang menjadi hutan). Itulah salah satu contoh di mana suka tidak sama dengan cocok. Contoh yang lain. Rumah saya kecil dan cocok dengan saya yang berjadwal lumayan sibuk dan kurang ada waktu mengurusnya. Namun saya kurang suka dengan rumah ini karena bagi saya, kurang besar (tamannya). Pada contoh ini kita bisa melihat bahwa cocok berlainan dengan suka. Pada intinya, yang saya sukai belum tentu cocok buat saya; yang cocok dengan saya belum pasti saya sukai. Sekarang kita akan melihat kaitannya dengan pemilihan pasangan hidup.

Tatkala kita mencintai seseorang, sebenarnya kita terlebih dahulu menyukainya, dalam pengertian kita suka dengan ciri tertentu pada dirinya. Rasa suka yang besar (yang akhirnya berpuncak pada cinta) akan menutupi rasa tidak suka yang lebih kecil dan--ini yang penting--cenderung menghalau ketidakcocokan yang ada di antara kita. Di sinilah terletak awal masalah.

Ini yang acap kali terjadi dalam masa berpacaran. Rasa suka meniup pergi ketidakcocokan di antara kita, bahkan pada akhirnya kita beranggapan atau berilusi bahwa rasa suka itu identik dengan kecocokan. Kita kadang berpikir atau berharap, "Saya menyukainya, berarti saya (akan) cocok dengannya." Salah besar! Suka tidak sama dengan cocok; cinta tidak identik dengan cocok! Alias, kita mungkin mencintai seseorang yang sama sekali tidak cocok dengan kita.

Pada waktu Tuhan menciptakan Hawa untuk menjadi istri Adam, Ia menetapkan satu kriteria yang khusus dan ini hanya ada pada penciptaan istri manusia, yakni, "Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Kata "sepadan" dapat kita ganti dengan kata "cocok." Tuhan tidak hanya menciptakan seorang wanita buat Adam yang dapat dicintainya, Ia sengaja menciptakan seorang wanita yang cocok untuk Adam.

Tuhan tahu bahwa untuk dua manusia bisa hidup bersama mereka harus cocok. Menarik sekali bahwa Tuhan tidak mengagungkan cinta (romantik) sebagai prasyarat pernikahan. Tuhan sudah memberi kita petunjuk bahwa yang terpenting bagi suami dan istri adalah kecocokan. Ironisnya adalah, kita telah menggeser hal esensial yang Tuhan tunjukkan kepada kita dengan cara mengganti kata "cocok" dengan kata "cinta." Tuhan menginginkan yang terbaik bagi kita; itulah sebabnya Ia telah menyingkapkan hikmat-Nya kepada kita. Sudah tentu cinta penting, namun yang terlebih penting ialah, apakah ia cocok denganku?

Saya teringat ucapan Norman Wright, seorang pakar keluarga di Amerika Serikat, yang mengeluhkan bahwa dewasa ini orang lebih banyak mencurahkan waktu untuk menyiapkan diri memperoleh surat izin mengemudi dibanding dengan mempersiapkan diri untuk memilih pasangan hidup. Saya kira kita telah termakan oleh motto, "Cinta adalah segalanya," dan melupakan fakta di lapangan bahwa cinta (romantik) bukan segalanya. Jadi, kesimpulannya ialah, cintailah yang cocok dengan kita!

PERTANYAAN ANDA
Dr. Esther Susabda

Saya baru menikah 3 tahun dan kami cukup bahagia. Ke mana-mana kami berduaan sampai teman-teman kami pada ngiri. Mereka mengatakan kami seperti pengantin baru terus. Tujuh bulan yang lalu saya melahirkan anak kami yang pertama. Mula-mula kami merasakan kebahagiaan kami bertambah besar. Tetapi, rupanya itu cuma perasaan kami di minggu- minggu pertama setelah kelahiran anak tersebut. Kemudian kami sering bertengkar. Saya tidak tahu mengapa saya jadi gampang marah, dan jengkel terus dengan suami yang saya rasakan sangat egoistis. Dia sepertinya tidak mengerti kalau saya sudah capai seharian dengan anak, dan mengerjakan pekerjaan rumah yang tak mungkin saya abaikan begitu saja. Rasanya perasaan saya ambivalen antara cinta dan benci. Betul-betul benci bu, sampai saya seringkali menyesali mengapa saya terjebak menikah dengan pria seperti ini. Tetapi kalau lagi sendirian dan lebih rileks, saya rindu kehadirannya dan saya merasakan betapa saya sangat membutuhkannya. Saya takut bu, kalau- kalau saya melakukan kesalahan-kesalahan yang bisa menghancurkan pernikahan kami. Apa yang harus saya perbuat?

Anda cukup mawas diri! Saya percaya anda mempunyai kepekaan yang besar atas apa yang sedang terjadi dalam hidup anda. Cuma, kepekaan saja rupanya tidak cukup. Anda terjebak dalam sistim kehidupan keluarga yang melelahkan dan anda seringkali tak dapat mengontrol emosi anda.

Memang kelahiran anak selalu merombak sistim yang lama, yang mungkin selama ini dinikmati. Anda dapat berduaan ke mana-mana dan betul-betul menikmati hidup pernikahan tanpa gangguan siapapun juga. Sekarang, sistim tersebut telah berubah. Kehadiran si Upik, yang kalian dambakan ternyata telah menciptakan sistim yang baru di mana sebagian besar waktu anda sudah tersita bersama dia. Anda lelah oleh karena si Upik membutuhkan pelayanan, perawatan, perhatian, cinta-kasih yang konsisten, sabar, telaten, bahkan keterampilan di mana anda harus belajar dengan tekun bagaimana menjadi ibu yang baik. Betul-betul melelahkan. Sehingga tenaga, energi dan waktu untuk suami barangkali sudah tidak ada lagi. Yang anda harapkan dari suami adalah pengertian, kasih, dukungan, dan mungkin bantuan untuk ikut merawat si Upik.

Anda kecewa rupanya, karena anda menikah dengan satu pribadi yang mungkin bukan tipe "family man" (laki-laki yang kepuasan batinnya ada dalam hubungan dengan keluarga). Ia tidak tertarik untuk merawat bayi dan ia tidak merasakan bahwa itu adalah bagian dari tanggung- jawabnya. Mungkin role (peran) seperti itu sangat asing baginya sehingga tidak pernah terbetik di otaknya apa yang anda pikirkan. Bahkan sebaliknya, mungkin ia heran dengan sikap anda. Mungkin ia merasakan andalah yang berubah, yang tidak mengasihi dia lagi karena kasih anda semua sudah diberikan kepada si Upik.

Jadi, masalah utama dalam hidup anda rupanya sistim yang baru di mana anda berdua tidak siap. Anda telah memainkan role (peran) yang baru dan menginginkan suami berperan yang baru pula mengikuti dan mengimbangi peran yang anda pilih. Sebaliknya suami anda masih memelihara peran yang lama dan merasakan bahwa sekarang kehidupan rumah-tangganya telah berubah dan andalah penentunya karena anda tidak lagi dapat memberikan kebutuhan-kebutuhan primernya.

Banyak laki-laki berpikiran sangat praktis. Mungkin ia heran mengapa anda mau terus-menerus terikat dengan si Upik dan tidak mempercayakannya saja kepada baby sitter. Mungkin baginya bangun tengah malam mengganti popok, membuat susu, menggendong dan menidurkan si Upik lagi adalah hal-hal praktis yang tidak harus ibu atau ayah si Upik yang melakukan. Mungkin ia merasa bahwa anda seorang wanita yang aneh, yang memang sudah mulai kehilangan cintanya kepada suami setelah kelahiran si Upik. Jadi, untuk menyelesaikan masalah ini, anda perlu perhatikan beberapa hal di bawah ini:

  1. Apakah role (peran) ibu yang anda pakai sekarang ini merupakan role yang tepat dan seharusnya untuk anda? Apakah alasan anda untuk menangani sendiri si Upik adalah alasan yang dapat anda pertanggung- jawabkan kepada Allah (mis: karena memang anda percaya bahwa umur 1-2 tahun adalah umur yang sangat krusial untuk pembentukan fondasi kepribadian anak). Kalau benar itu alasannya, tentunya anda punya strategi harian yaitu apa yang akan anda lakukan untuk menciptakan sistim pendidikan yang ideal tersebut. Dan jikalau benar demikian, justru anda seharusnya dapat mengatur waktu, lebih rileks, dan tidak mengalami kelelahan mental dan tubuh oleh karena sistim perawatan yang menjerat.
  2. Bagaimana sistim komunikasi dengan suami? Apakah "rasa bahagia" yang selama ini (sebelum kelahiran si Upik) anda rasakan adalah rasa bahagia yang lahir dari komunikasi yang sehat dengan suami? Mengapa suami tak dapat memahami pikiran anda? Apakah selama ini komunikasi yang ada adalah komunikasi semu dari dua orang yang semata-mata hidup untuk menikmati kehidupan saja? Nah, kalau demikian halnya (dan rupanya benar demikian karena anda tak mengerti suami dan suami tak mengerti anda) maka tugas andalah untuk mulai menciptakan sistim komunikasi yang lebih sehat dan dialogis. Belajarlah terbuka dan belajarlah mendengar apa yang suami rasakan dan pikirkan. Terimalah keunikannya terlebih dahulu sebelum anda mengharapkan dia memahami dan memberi apa yang anda butuhkan. Jujurlah kepada diri sendiri dan belajarlah membagi waktu.
  3. Bagaimana hubungan anda dengan Tuhan? Tanyakan kepada diri anda sendiri, apa kira-kira maksud Tuhan dengan memberikan seorang anak kepada anda. Apakah benar Dia memberikan anak supaya hidup anda terjerat dengan kesibukan terus-menerus dengan si anak sehingga tugas dan tanggung-jawab hidup anda yang lain (dengan suami, mertua, gereja, tetangga, teman, dsb) tak dapat anda penuhi? Carilah hadirat-Nya setiap hari dan belajarlah bergumul dengan Dia dalam dimensi- dimensi hidup yang baru karena anda sedang dituntun untuk menjadi lebih dewasa.

Tuhan memberkati anda.

Komentar