Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bukti Seorang yang Dipanggil Melayani Tuhan

Edisi C3I: e-Konsel 035 - Panggilan Melayani Tuhan

Panggilan untuk melayani Tuhan adalah panggilan yang sangat istimewa sebagai seorang pengikut Kristus. Namun banyak orang Kristen yang masih sering bertanya-tanya apakah buktinya bahwa kita [semuanya!!] dipanggil Tuhan untuk melayani. Artikel berikut ini akan menolong kita mengerti lebih jelas apa bukti dari seseorang yang dipanggil Tuhan untuk melayani, baik melayani sebagai orang Kristen awam maupun sebagai hamba Tuhan purna waktu.

BUKTI SEORANG YANG DIPANGGIL MELAYANI TUHAN
a. Seorang yang benar-benar dipanggil, pasti ia mempunyai bukti pengalaman "dilahirkan baru". Dibaptis, mengikuti Perjamuan Kudus, dan menjadi anggota gereja, bukanlah bukti bahwa orang tersebut sudah "dilahirkan baru".

Pada waktu orang Israel keluar dari Mesir, di antara yang ikut serta, terdapat orang-orang kafir yang kemudian menjadi jebakan bagi orang Israel untuk berbuat dosa. Tuhan Yesus pernah memberikan perumpamaan tentang "Gandum dan Lalang" yang bertumbuh secara bersama-sama (Matius 13). Pada masa kini, gereja juga menghadapi kesulitan yang sama. Terlebih-lebih bagi gereja yang sembarangan saja menerima orang untuk menjadi anggota gereja.

Orang yang berkarunia, bisa berdiri di mimbar membaca Alkitab, berdoa, bersaksi, dan sebagainya, tetapi tidak menjamin bahwa orang tersebut sudah diselamatkan. Penulis pernah melihat seorang yang sudah menyelesaikan studi di sekolah teologia dan terkenal pula dengan bakatnya, tapi siapa sangka, melakukan kejahatan dan harus berurusan dengan aparat pemerintah dan kemudian dimasukkan ke dalam penjara.

Sebab itu seyogyanya pihak gereja perlu memberi perhatian ekstra untuk mereka yang mau menyerahkan diri untuk menjadi hamba Tuhan. Pimpinan gereja, bukan hanya melihat bagaimana pelayanannya di gereja, tetapi juga perlu diperhatikan kehidupan rohani dan moralnya. Dari segi hidup rohani; apakah ia mempunyai kehidupan yang saleh dan bagaimana hubungan pribadinya dengan Allah? Di antara keluarga, bagaimana hubungannya dengan orangtua; di gereja, bagaimana sikapnya terhadap orang yang lebih tua, yang sederajat dan yang lebih muda? Bagaimana pula pergaulannya dengan lawan jenisnya? Jika ternyata yang bersangkutan mempunyai kelakuan yang tidak baik, perkataannya tidak bertanggung jawab, bertemperamen tinggi, dan sebagainya; biarpun bagaimana hebat bakatnya, jangan sekali-kali dengan sembarangan memperkenalkannya untuk masuk sekolah teologia.

b. Seorang yang menerima panggilan, perlulah ia mempunyai bukti "panggilan dalam roh". Mungkin cara Tuhan memanggil seseorang tidak seperti cara Tuhan memanggil Paulus, tapi mungkin sama dengan pengalaman panggilan terhadap Elia.

Kitab 1Raja-raja 19 memberitahukan bahwa Elia dipanggil tatkala ia berada di sebuah goa di bukit Horeb. Panggilan ini dilakukan bukan di tengah-tengah angin taufan atau di tengah-tengah gempa bumi yang dahsyat; melainkan dalam keadaan sunyi senyap. Panggilan pada Elia hanya dalam bentuk bisikan.

Bisikan ini mempunyai daya penakluk yang tidak bisa dibantah, karena bisikan ini sampai ke dalam lubuk hati yang terdalam. Kemanapun ia pergi, bisikan ini akan terus mengikutinya, sampai ia benar-benar taat. Dan tentu, orang yang menerima bisikan ini, mempunyai satu jangka waktu untuk "pergumulan". Dalam masa pergumulan ini, ia mempertimbangkan tugas, tanggung jawab yang berat, dan kesulitan yang akan dialami dalam memenuhi panggilan bisikan ini, dan sekaligus pula melihat kelemahan dan kebodohannya.

Pada waktu Musa dipanggil, ia mengatakan, "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" (Keluaran 3:11). Sewaktu Yeremia dipanggil, ia juga mengatakan hal yang sama, "Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda." (Yeremia 1:6)

Tapi jika memang benar Tuhan yang memanggil, maka Ia akan bertanggung jawab. Ia berkata dengan memberi jaminan kepada Musa, "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini." (Keluaran 3:12).

Tuhan juga memberi jaminan yang sama kepada Yeremia dengan mengatakan,

"Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kau sampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman Tuhan." (Yeremia 1:7-8).
c. Seorang yang dipanggil, harus mempunyai beban terhadap panggilannya dan kegetolan hati dalam penginjilan.

Sama seperti pengalaman panggilan yang dialami oleh Yeremia dengan mengatakan:

"Tetapi apabila aku berpikir: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya", maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup." (Yeremia 20:9).

Sama pula yang dialami Paulus,

"Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil." (1Korintus 9:16).

Paulus menasehati penginjil muda Timotius dengan mengatakan, "Benarlah perkataan ini: "Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah." (1Timotius 3:1)

Mengapa dalam perkataan Paulus ditambah dengan kata, "Benarlah perkataan ini?" Dalam terjemahan bahasa Inggris The Amplified Bible menyebutkan, "Perkataan ini benar adanya dan tidak dapat dibantah atau ditolak (irrefutable), jika mau menjadi penilik jemaat, hendaklah ia merindukan pekerjaan yang terbaik (an excellent task)."

Orang yang menerima panggilan Tuhan, harus menganggap bahwa memilih pekerjaan Tuhan itu adalah yang terbaik. Bagaimanapun orang lain mencemooh atau berpendapat, tapi tidak bisa menghalanginya untuk menerima panggilan Tuhan. Yang disebut "tugas yang baik", bukan karena tugas ini dapat mencukupi kebutuhan orang lain, melainkan semata-mata karena itu adalah panggilan Tuhan. Sebab itu, jabatan "hamba Tuhan" bukan semacam "profesi" (profession), melainkan "memiliki" (possession) amanat dan anugrah Allah.

Ada seorang pendeta gereja besar mencari Dr. Howard Robinson dan berkata, "Howard, aku sudah mengambil keputusan untuk tidak mengabarkan Injil lagi." Dr. Robinson dengan ringan menjawab, "Bagus aku sangat senang mendengar kamu mengatakan demikian." Pendeta itu merasa terkejut mendengar jawaban yang demikian. Dengan perasaan heran ia bertanya, "Apa maksudmu dengan perkataan ini?" Dengan tidak kalah entengnya Robinson menjawab, "Jika kamu bisa meletakkan jabatan sebagai hamba Tuhan dan untuk seterusnya tidak menginjil, ini membuktikan kamu belum pernah mengalami panggilan Tuhan. Sebab itu, baik sekali kamu berhenti."

Dua minggu kemudian, pendeta ini kembali lagi dan berkata kepada Dr. Howard Robinson, "Perkataanmu dua minggu yang lalu, memang benar. Aku tidak mau berhenti! Untuk selama-lamanya aku tidak mau berhenti."

Sumber
Halaman: 
18 - 22
Judul Artikel: 
Problematika Hamba Tuhan
Penerbit: 
Persekutuan Alumni SBC, Jakarta dan Yayasan Daun Family, Manado, 1998

Published in e-Konsel, 01 March 2003, Volume 2003, No. 35


Komentar