Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bagaimana Menolong dan Memahami Kaum Homoseksual?

Edisi C3I: e-Konsel 084 - Homoseksual

Tidak mudah bagi kita untuk bisa melakukan sesuatu yang berbeda bagi orang lain, terlebih lagi kepada kaum homoseksual. Masyarakat sudah terbiasa memperlakukan mereka sebagai orang-orang yang harus dihindari, ditakuti bahkan harus dikucilkan dari pergaulan. Jika demikian, bagaimana kita bisa memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda dengan orang lain? Simak tanya jawab berikut ini dengan narasumber Pdt. Paul Gunadi Ph.D.!

T: Bagaimana tahapan-tahapan seseorang menjadi homoseks?
J:

Biasanya seseorang menyadari identitas seksualnya pada usia 3 atau 4 tahun. Namun seseorang akan menyadari seksualitasnya, ketertarikannya, gairah, dan dorongan-dorongan seksualnya pada waktu mereka menginjak usia remaja. Pada masa ini pulalah, seseorang yang memang orientasinya homoseksual menyadari bahwa dia tidak tertarik kepada lawan jenisnya, dia jauh lebih tertarik secara seksual dengan sesama jenis.

Saat dia menyadari itu, mulailah dia masuk ke dalam FASE KEBINGUNGAN. Kebingungan dalam pengertian mereka bertanya-tanya mengapa saya begini dan mengapa saya berbeda. Dia tidak merasakan bisa pas masuk ke dalam kelompoknya karena teman-temannya pasti membicarakan tentang lawan jenisnya, sedangkan dia tidak bisa bicara seperti itu. Dia mulai merasa berbeda dengan teman- temannya.

Fase ini akan membawa dia ke FASE PENYANGKALAN. Saya tidak mau menjadi seperti ini, saya normal, saya sama seperti orang lain, saya heteroseksual, saya tidak ada bedanya dengan teman-teman saya. Dia akan terus menggumuli dan melawannya, itulah sebabnya kita perlu berempati, dan menyadari bahwa tidak ada satu anak remaja pun yang akan dengan senang hati menyambut bahwa dia itu seorang homoseksual. Mereka akan merasa ketakutan, bingung, dan tertekan sekali sebab mereka tidak mau menjadi orang yang berbeda dengan orang lain, mereka ingin menjadi sama seperti teman- temannya, ini adalah suatu penderitaan tersendiri bagi mereka. Akhirnya, mereka menyadari bahwa mereka memang berbeda dan mereka tidak bisa mengatasinya.

Masuklah dia ke dalam FASE MENCARI. Ada suatu kerinduan mereka untuk bertemu dengan orang yang sama atau senasib seperti dirinya. Ini adalah kerinduan untuk dimengerti, untuk mendapatkan teman yang sama, yang bisa memahami dilemanya. Tanpa disadari, mulailah dia mencari. Akhirnya mereka bertemu dengan yang sama sebab memang akan ada yang sama dalam lingkungan mereka. Waktu bertemu, mulailah terjalin suatu hubungan yang akrab karena mungkin sekali temannya itu menghadapi dilema yang sama dan juga sedang mencari teman-teman yang sama sepertinya. Mereka menceritakan bahwa inilah yang mereka alami, ketertarikan- ketertarikan kepada sesama jenis. Setelah itu, kemungkinan besar yang terjadi adalah eksperimen seksual. Ini seringkali menjadi suatu titik berangkat dimana mereka sekarang akan lebih dicenderungkan untuk mengembangkan bukan saja orientasi homoseksual namun juga perilaku seksual, yaitu ingin terus berhubungan seksual dengan sesama jenisnya.

Meskipun sudah tahu dan mereka menyadari bahwa mereka adalah homoseksual dan tidak bisa lagi menghilangkannya, biasanya setelah eksperimen seksual itu terjadi akan ada pergumulan. Fase ini disebut FASE PERGUMULAN. Sekarang pergumulannya lebih dalam lagi, yaitu mereka menyadari bahwa ini bukan saja keinginan tapi sudah menjadi tindakan. Jadi ada keinginan untuk tidak seperti itu, saya ingin kembali lagi sama, saya ingin mencoba lagi menjadi orang yang sama. Tidak jarang ada homoseksual yang akhirnya bertekad menikah, bukan untuk menipu pasangannya, bukan untuk mengelabui orang lain, melainkan karena mereka ingin mengalahkan dorongan itu dan mereka berpikir bahwa dengan menikah mereka berharap mudah-mudahan dorongan seksual ini akhirnya bisa hilang.

Bisa atau tidak memang tergantung dengan siapa kita berbicara. Seseorang yang memang ingin membela keyakinan bahwa ia dilahirkan sebagai homoseksual, dan tidak ada salahnya dengan diri seorang homoseksual, akan berkata terimalah itu, mengapa mesti memikirkan berubah. Tapi kita memiliki suatu titik berangkat, yaitu firman Tuhan yang tidak mengizinkan seseorang melakukan hubungan seksual dengan sesama jenisnya. Jadi, memang ada orang yang memasuki FASE PENERIMAAN, menerima apa adanya, tidak usah lagi melawan saya, dan menikmati hidup sebagai seorang homoseksual. Tapi Tuhan menghendaki kita TIDAK MEMASUKI FASE PENERIMAAN itu, seyogyanyalah kita terus berjalan di dalam fase pergumulan.

T:

Sebagai teman sepersekutuan atau teman segereja, bagaimana sikap kita menghadapi kenyataan seperti itu?

J:

Kita mesti menekankan cara Tuhan menghadapi manusia, yaitu Tuhan sebagaimana Tuhan Yesus pernah berkata: "Aku datang bukan untuk menghakimi tapi menyelamatkan manusia dari dosa." Jadi Tuhan selalu menggunakan cara pendekatan cinta kasih, Tuhan melihat kita berdosa, Tuhan terus memanggil kita, Tuhan terus menantikan kita. Demikian pula dalam menghadapi teman kita yang homoseksual. Respon kita haruslah tidak menjauhinya, tidak mengejeknya, tidak menghinanya, tidak memberi dia label-label tertentu. Justru kita harus bersimpati terhadap dia dan tetap berteman dengannya. Kita harus menyadari bahwa seseorang menjadi homoseksual, biasanya setelah mengalami pergumulan yang luar biasa beratnya, mereka juga ingin sama seperti orang lain. Jadi kita mesti memahami sisi penderitaan itu, selain itu kita juga mesti memahami bahwa mungkin sekali ada pengaruh genetik di dalam orientasi itu sehingga mereka lebih cenderung seperti itu. Kalaupun misalkan faktor genetiknya tidak sekuat dengan faktor lingkungan, kita tetap harus mengakui bahwa jika kita dibesarkan dalam lingkungan seperti itu, kita mempunyai kecenderungan yang sama dengan dia. Jadi kita tidak boleh mempunyai sikap benar sendiri, mempunyai sikap sombong, saya ini suci, engkau ini tidak suci atau saya ini bersih engkau ini kotor, kita tidak bisa mempunyai sikap seperti itu. Kita mesti menyadari bahwa dia mengalami suatu penderitaan yang berat dan kita mau menolongnya, itu yang harus kita lakukan, kita mau menolongnya. Sebab saya kira kalau kita datang dengan sikap mau menolong, mau membantu, dia akan lebih terbuka untuk membuka diri dan membiarkan dirinya ditolong oleh kita.

T:

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk menolong mereka sampai tuntas?

J:

Yang paling praktis adalah membentuk suatu kelompok, di mana kalau bisa, terdiri dari orang-orang yang mempunyai pergumulan tentang homoseksualitas. Di sana kita adakan kelompok tumbuh bersama, berdoa bersama, dan menguatkan satu sama lain. Jadi tujuan yang PERTAMA untuk mengubah orientasi mereka sehingga mereka menjadi heteroseksual. Tujuan yang KEDUA, selama belum menjadi heteroseksual, hiduplah kudus di hadapan Tuhan sebagai seorang yang single yang tidak menikah. Kaum homoseksual juga bisa hidup selibat, mempersembahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan dan itu akan menjadi persembahan yang akan Tuhan terima asalkan dia tidak melakukan hubungan seksual dengan orang lain. Jadi orientasi itu mungkin tetap ada di dalam dirinya dan masih dalam pergumulan untuk hilang dari dalam dirinya, tapi dia tidak melakukan hubungan seksual dengan orang lain. Dia menjaga dirinya kudus dan untuk ini mungkin perlu kelompok yang saling mendukung, saling menguatkan dan saling mendoakan.

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
TELAGA - Kaset T043B
Penerbit: 
--

Komentar