Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Menangani Stres -- Sebelum Menjadi Krisis

Edisi C3I: e-Konsel 025 - Stres

Kehidupan itu berselang-seling antara masa tenang, masa stres, dan masa krisis. Sebagian besar orang berpikir bahwa kehidupan merupakan suatu irama yang berkesinambungan dari badai krisis menuju ketenangan dan kembali lagi kepada krisis yang lain. Saudara telah mengetahui ciri-ciri krisis yang perlu dipecahkan dalam suatu waktu tertentu. Tetapi stres adalah suatu keadaan yang berbeda dengan krisis. Stres dapat dilihat pada diri seorang ahli bedah yang sedang melakukan pembedahan otak atau pada seorang ibu yang sedang mempersiapkan tiga anaknya untuk ke sekolah. Tingkat stres yang wajar diperlukan untuk mendorong kita maju dalam hidup dan untuk menyelesaikan berbagai hal. Banyak orang memperoleh prestasi terbaik ketika mereka berada dalam keadaan stres, tetapi itu stres yang dapat mereka tangani. Mereka memanfaatkannya dan menjaga agar stres itu tetap dalam batas-batas tertentu.

Stres adalah suatu tipe tindakan atau situasi yang membebani seseorang dengan tuntutan-tuntutan yang berat atau yang bertentangan. Tuntutan itu seringkali mengacaukan keseimbangan tubuh. Stres adalah suatu situasi yang secara kronis mengganggu atau mengacaukan seseorang. Yang merupakan indikator adalah penantian penuh kecemasan atas kejadian-kejadian yang akan datang yang tidak dapat dihindari, dan kemudian perhatian dan pikirannya tersita oleh peristiwa-peristiwa itu selama suatu jangka waktu sesudah peristiwa- peristiwa itu terjadi.

Reaksi manusia berbeda-beda dalam menghadapi tekanan-tekanan di dalam kehidupan. Apa yang bagi seseorang dapat menimbulkan stres, bagi orang lain tidak. Jika terlalu banyak kejadian mendadak terjadi sekaligus, penangggulangan tekanan menjadi lebih sukar. Latar belakang seseorang, struktur neurologinya, dan pengalaman- pengalamannya yang terdahulu dalam menghadapi tekanan, mempengaruhi cara dia memberi tanggapan. Seorang yang kehilangan pekerjaan dapat merasa hancur, tetapi sebaliknya ada orang lain yang kehilangan pekerjaan tetapi ia melihat hal itu sebagai suatu kesempatan untuk maju karena ia dapat menemukan kedudukan baru yang kemungkinan lebih baik.

Bagaimana hubungan stres dengan krisis? Seseorang yang mengalami sejumlah gangguan terus-menerus atau sejumlah gangguan kecil lebih sulit menanggulangi suatu pengalaman krisis yang serius. Sebaliknya jika seseorang dapat belajar bagaimana menanggulangi beberapa situasi khas setiap hari yang berpotensi untuk menimbulkan stres, ia akan diperlengkapi secara lebih baik untuk menangani krisis di dalam kehidupan ini. Di sinilah pengajaran di gereja dapat menjadi suatu pelayanan pencegahan stres. Sudah menjadi tugas kita untuk menolong anggota gereja dalam menanggulangi stres dengan suatu cara yang positif, yaitu dengan mengenal hal-hal yang dapat menyebabkan stres di dalam kehidupan mereka. Kemudian mempersiapkan diri untuk menghadapi beberapa hal yang biasanya menyebabkan stres dengan mengembangkan pandangan alkitabiah dalam hidup.

Apakah sebenarnya yang menyebabkan stres? Ada beberapa faktor. Saya menganjurkan Anda untuk melihat gejala-gejala ini dalam orang-orang yang Anda beri konseling dan yang Anda ajak bicara di gereja Anda. Pokok-pokok di bawah ini dapat dijelaskan dan disampaikan waktu Anda mengajar atau berkhotbah. Sumber-sumber tambahan akan ditunjukkan demi studi lanjutan Anda dalam bidang ini.

Apakah yang Dapat Menimbulkan Stres di dalam Kehidupan Seseorang?

  1. Rasa bosan atau merasa semua yang dilakukan tidak berarti, dapat menyebabkan stres. Mungkin ini kedengarannya aneh, tetapi banyak orang yang tidak menemukan suatu tantangan dan arti dalam kehidupan. Ini merupakan kesempatan untuk menolong seseorang menemukan arti hidup yang Kristus berikan. Menolong seseorang melihat kehidupan melalui perspektif Allah dapat mendatangkan arti, tidak peduli di bidang apa ia sedang bekerja atau tidak peduli apa yang sedang ia alami.
  2. Tekanan-tekanan waktu dan batas waktu yang harus dipenuhi dapat menciptakan stres. Sering kali hal ini ditimbulkan oleh kita sendiri.
  3. Beban kerja yang berlebihan dapat menciptakan tekanan pada hidup seseorang dan sekali lagi hal ini sering ditimbulkan oleh diri kita sendiri.

    Kadang-kadang hal ini terjadi karena seseorang merasa tidak dapat mengharapkan orang lain untuk mengerjakan tugas itu, atau ia merasa bahwa orang lain akan mengerjakannya dengan cara yang berbeda dan dengan lebih lambat atau mungkin bahkan lebih baik daripada kalau dia yang mengerjakannya.

  4. Harapan-harapan yang tidak realistis terhadap diri sendiri atau terhadap orang lain dapat menimbulkan ketidakpuasan dan ketegangan. Sarankan kepada orang-orang yang Anda layani supaya mereka merinci tiap-tiap harapan mereka dan mengenali asal-usul setiap harapan itu, mengapa harapan itu penting, dan bagaimana pengaruhnya terhadap hidup mereka jika harapan-harapan itu tidak tercapai.
  5. Konflik sehubungan dengan peranan kita dapat menyebabkan ketegangan. Saya telah bertemu dengan banyak pendeta dalam kedudukan yang tidak cocok dengan kemampuan dan karunia-karunia pribadi mereka. Mereka merasa seperti sebuah balok segi empat yang menyumbat sebuah lubang yang bulat. Pasangan yang menikah juga dapat merasakan tekanan karena konflik peranan yang mereka temui dan perasaan bahwa tidak ada kemungkinan untuk berubah.
  6. Masalah keuangan dan ketidakpastian pekerjaan dapat menjadi peyebab utama stres. Banyak dari antara kita pernah merasakan hal ini.
  7. Terhalangnya pengungkapan emosi dan macetnya komunikasi yang terbuka dalam suatu hubungan tidak hanya mengakibatkan stres, tetapi juga dapat membawa kepada depresi dalam hidup seseorang yang sudah merasa harga dirinya rendah.
  8. Orang-orang yang membangun rasa jati diri dan rasa harga diri mereka di atas dasar yang tidak mantap, misalnya dalam pekerjaan, akan mengalami stres dan ketegangan.
  9. Kurangnya pengertian tentang tahap-tahap perkembangan orang dewasa yang normal dapat menyebabkan tekanan pribadi maupun tekanan dalam pernikahan.

Inilah daftar yang saya pakai untuk orang-orang yang saya layani mengenai penyebab stres. Sebagian dari penyebab yang disebutkan di sini dapat Anda perbanyak dan silakan memakainya untuk melayani orang-orang yang Anda beri konseling atau memakainya waktu Anda mengajar.

Berbagai Penyebab Stres

  1. Hubungan yang tak pasti.
    Jika seseorang mengalami ketidakpastian tentang suatu hubungan seperti persahabatan atau pernikahan, stres dapat timbul. Jika seseorang memikirkan apakah pasangannya tidak bahagia atau apakah pasangannya berniat hendak meninggalkan pernikahan, tidak hanya stres yang timbul, tetapi ini mudah menjadi suatu kritis. Beban jenis ini dapat mewarnai sikap seseorang terhadap seluruh bidang hidupnya. [Baca dan terapkan Filipi 4:6-9]
  2. Lingkungan sekitar.
    Keadaan lingkungan sekitar seseorang dapat menyebabkan stres. Keadaan lingkungan yang monoton dan tidak berubah dapat merupakan masalah, sama saja seperti suatu suasana bersaing yang penuh tekanan dan yang berjalan dengan cepat. [Baca Yohanes 16:33]
  3. Perfeksionisme.
    Mempunyai standar yang terlalu tinggi merupakan jalan utama yang menyebabkan kegagalan dan penolakan diri. Sulit hidup dengan orang yang perfeksionis. Perfeksionisme biasanya berarti ketidakmantapan. Orang-orang yang mantap bersifat luwes dan bersedia mengambil resiko serta membuat perubahan-perubahan yang positif. Ketika seseorang mempunyai harapan-harapan yang tidak realistis dan ia tidak dapat mencapainya maka ia akan mulai membenci dirinya, dan ini membawanya kepada depresi. [Baca 1Yohanes 4:7 dan buku "Making Peace with Your Past" (oleh H. Norman Wright) untuk mendapat informasi tambahan.]
  4. Ketidaksabaran.
    Jika orang sangat tidak sabar terhadap orang lain, berarti ia tidak sabar terhadap dirinya sendiri. Tidak dapat menyelesaikan berbagai hal sesuai dengan rencana membuat batin orang kacau. Kata sabar berarti "dapat menahan nafsu, tidak terburu-buru atau menurutkan kata hati, tabah, sanggup menanggung". [Baca Galatia 5:22-23]
  5. Kekakuan.
    Ketidakluwesan hampir sama dengan perfeksionisme dan ketidaksabaran. Orang yang kaku menghabiskan waktu mereka untuk menyelidiki sesuatu yang mengganggu pikiran mereka. Mengakui kesalahan sendiri dan menerima pendapat orang lain adalah tanggapan yang matang dan dapat mengurangi stres. Efesus 4:2 menganjurkan, "Pertimbangkanlah berbagai keadaan dan keterbatasan karena kamu saling mengasihi" (terjemahan dari the Amplified Bible).
  6. Ketidakmampuan untuk rileks.
    Banyak orang merasa sukar untuk duduk di kursi selama sepuluh menit dengan rileks. Pikiran mereka tetap jalan dan mereka memaksa diri. Kegiatan mereka disebut momentum stres. [Baca Yesaya 32:17]
  7. Mudah meledak dan marah.
    Jika hidup seseorang ditandai dengan bom-bom penyebar amarah pada orang lain, stres tidak hanya mempengaruhi orang itu tetapi juga orang lain. [Baca Amsal 29:22]
  8. Kurangnya humor dan kecilnya semangat hidup.
    Orang-orang yang suka membanggakan diri, suka menyalahkan diri, dan karenanya mereka mengalami stres, barangkali juga merasa sedih. [Baca Filipi 4:13]
  9. Terlalu banyak bersaing.
    Membandingkan diri dengan orang lain dalam hal apa yang mereka perbuat dan apa yang mereka miliki akan menyebabkan tekanan yang tidak perlu pada diri seseorang. Kita tidak perlu membiarkan apa yang diperbuat dan dimiliki orang lain mempengaruhi hidup kita. Persaingan dalam hal-hal tertentu dapat mendatangkan kesenangan tersendiri, tetapi apabila hal ini berjalan terus-menerus maka tidak menyenangkan lagi. [Baca Mazmur 37:3]
  10. Kurangnya harga diri.
    Konsepsi diri yang rendah adalah dasar dari banyaknya kesulitan dalam hidup. Depresi dan stres dapat terjadi. [Sebagai sumber tambahan untuk menolong orang yang Anda beri konseling, baca buku "Now I Know Why I'm Depressed" dan "Improving Your Self-Image" (Harvest House; bahasa Inggris).]

Menanggulangi Stres

Bagaimana kita dapat menghilangkan stres? Ada 3 cara:

  1. Kita dapat mencoba mengubah keadaan lingkungan sekitar untuk mencegah hal-hal yang mungkin menyebabkan stres. Seseorang dapat berganti pekerjaan, berpindah dari lingkungan tempat tinggal, atau tidak berkunjung kepada kerabatnya sesering dulu. Sayangnya, tidak banyak orang menyadari berapa banyak perubahan tambahan yang harus dibuat dan ini dapat menimbulkan lebih banyak lagi stres.
  2. Cara kedua untuk menanggulangi stres adalah memperhatikan gejala- gejalanya. Kita dapat berusaha mengubah tanggapan emosional dan tanggapan psikologis kita terhadap stres melalui penggunaan obat penenang, teknik-teknik relaks, meditasi, atau imajinasi. [Untuk informasi tambahan baca "The Healing of Fears" (Harvest House) dan "Making Peace with Your Past" (Revell), karangan penulis.]
  3. Langkah yang ketiga ini adalah cara terbaik. Langkah ini meliputi tindakan mengubah berbagai keyakinan, anggapan dan cara berpikir negatif, yang membuat kita lebih mudah terserang stres. Persepsi dan evaluasi kita tentang dunia ini sebenarnya dapat menyebabkan stres. Mengubah sikap kita mungkin sulit, tetapi hal ini mungkin juga merupakan jalan yang paling berguna untuk mengurangi stres, tekanan dan kegelisahan.

Sumber
Halaman: 
256 - 260
Judul Artikel: 
Konseling Krisis
Penerbit: 
Gandum Mas, Malang, Jawa Timur, 1996

Komentar