Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Wibawa Orangtua

Apakah sebenarnya wibawa itu? Apa yang harus dilakukan orangtua supaya memiliki wibawa yang tepat bagi anak-anaknya? Langkah-langkah apakah yang perlu dilakukan untuk membangun wibawa sesuai dengan firman Tuhan? Silakan menyimak diskusi yang dipandu oleh Pdt. Paul Gunadi berikut ini yang membahas tentang "Wibawa Orangtua".

-*- WIBAWA ORANGTUA -*- oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi

------- T: Tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan oleh orangtua, supaya mempunyai wibawa yang tepat? Jadi bukan ditakuti oleh anak-anak mereka tetapi memang anak-anak ini hormat kepada orangtuanya ini.

J: Pertama-tama, saya akan paparkan sikap yang bukan wibawa tapi seringkali dianggap wibawa. Pertama adalah seringkali orangtua beranggapan kalau saya mampu mencukupi kebutuhan fisik, finansial, anak-anak atau istri atau suami saya maka otomatis saya layak untuk dihormati oleh anak-anak. Poin pertama sebetulnya adalah keuangan bukanlah ukuran. Nah jadi adakalanya konsep kita ini keliru dalam hal wibawa. Adakalanya orangtua beranggapan selama saya masih bisa menyediakan uang kepada anak- anak, maka anak-anak seharusnyalah hormat kepada saya. Jadi bukan soal berapa besar jumlahnya namun betapa bertanggungjawabnya si orangtua, betapa rajinnya dia itu yang akan membuahkan wibawa pada dirinya, itu yang pertama.

Nah sikap yang kedua, adakalanya orangtua beranggapan dengan semakin keras perlakuannya kepada anak, semakin berwibawalah dia. Tapi sebenarnya anak-anak takut pada orangtua atau istilahnya ketakutan kepada orangtua dibedakan dari istilah takut yang lebih netral. Anak-anak menjadi ketakutan kepada orangtua karena perlakuan orangtua yang sangat keras. Nah ini juga anggapan yang keliru sebab membuat anak-anak ketakutan sebetulnya tidaklah melahirkan wibawa. Justru sebetulnya reaksi yang tersembunyi pada diri anak sewaktu takut terhadap orangtua ialah rasa tidak suka, rasa tidak hormat, bahkan rasa benci kepada orangtua. Nah ini adalah faktor kedua yang acapkali kita kaitkan dengan wibawa. Bila orangtua merasa anak-anak tidak menghormatinya, biasanya langkah yang diambil adalah memarahi, berteriak-teriak, memukul anak -- tambah hari tambah keras -- dengan harapan wibawa itu akan dibangkitkan kembali. Namun yang terjadi justru sebaliknya -- orangtua tidak ada wibawa.

------- T: Tapi orangtua seringkali memakai hal-hal di atas dengan alasan untuk menegakkan disiplin terhadap anak, bagaimana menurut Bapak?

J: Memang yang diharapkan secara lahiriah akan tercapai dimana anak- anak karena ketakutan akan taat melakukan yang dikehendaki oleh orangtuanya. Tapi saya kira ini akan berpengaruh pada usia tertentu atau sampai usia tertentu, tapi sulit berlaku misalkan ketika anak-anak ini remaja dan sudah mampu melawan.

------- T: Kadang-kadang sikap disiplin ini akan ditunjukkan dengan sikap yang keras pada usia-usia tertentu untuk membiasakan supaya anak ini disiplin. Apakah itu bisa terpengaruh atau terbawa terus sampai usia dewasa?

J: Disiplin itu sendiri memang mutlak diperlukan, jadi orangtua mesti mendisiplin anak. Namun seberapa kerasnya dia mendisiplin dan seberapa adilnya dia mendisiplin, itu 2 hal yang sangat penting yang harus dilihat oleh anak. Kita tidak boleh sedikitpun melupakan bahwa disiplin hanya efektif kalau sebelum disiplin diberikan anak merasa dicintai dan setelah disiplin diberikan anak juga merasa dicintai. Jadi disiplin itu tidak berdiri sendiri, disiplin harus didampingi oleh kedua belah pihak oleh cinta kasih sebab waktu anak-anak dikasihi dan dia tahu dikasihi kemudian didisiplin, maka disiplin itu efektif. Jangan setelah didisiplin anak-anak ini merasa terbuang, tersingkirkan, tidak diinginkan, karena dimarahi dengan begitu keras oleh orangtua. Cinta kasih perlu diungkapkan lagi kepada si anak, perlu diberikan lagi untuk meyakinkan bahwa kita tetap mencintainya. Apa yang diperbuatnya tadi tidak mengubah cinta kita padanya. Nah jadi pasca disiplin atau setelah disiplin cinta kasih juga harus diberikan. Nah dengan cara inilah wibawa orangtua akan bisa ditegakkan. Jadi sekali lagi poin kedua yang seringkali disalahfahami oleh orangtua adalah disiplin yang keras akan menampakkan wibawa saya, kalau tidak ada ini ya tidak bisa. Jadi 2 hal ini memang seringkali menjadi anggapan yang keliru.

------- T: Jadi di dalam membangun wibawa itu, langkah-langkah apa yang harus dilakukan orangtua?

J: Saya akan bacakan dari kitab Kolose 3:18, "Hai istri-istri tunduklah kepada suamimu sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan." Nah, yang ingin saya tekankan: yang pertama adalah bahwa wibawa orangtua muncul kalau orangtua hidup sesuai dengan peranan dan tugasnya sebagai orangtua. Waktu orangtua mempunyai hubungan yang kuat, yang baik dan yang harmonis, anak-anak tidak bisa tidak akan memandang orangtua dengan penuh hormat. Jadi wibawa yang pertama muncul dari kualitas hubungan suami istri, ini tidak bisa ditawar-tawar.

Kalau tadi Tuhan memberi satu perintah kepada istri, di ayat berikutnya Tuhan memberikan 2 perintah kepada suaminya. Saya bacakan dari Kolose 3:19 "Hai suami-suami kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia." Jadi memang ada 2 unsur, yang pertama adalah perintah yakni kasihilah istrimu dan yang kedua adalah larangan jangan berlaku kasar terhadap istri.

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
TELAGA - Kaset T046A (e-Konsel Edisi 023)
Penerbit: 
--

Komentar