Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Game Dapat Melenyapkan Empati

Perhatikan apa yang dikatakan oleh Daniel Goleman: "Media seperti video game dan digital game justru bermuatan makna-makna agresivitas yang hanya menciptakan kecerdasan destruktif, bukan kecerdasan emosional." Perasaan empati justru lenyap di dalam dunia game yang cenderung mengutamakan kecepatan, rasionalitas, dan ketepatan.

Jadi, permainan-permainan ini akan memengaruhi anak-anak kita karena tidak bersifat konstruktif, tetapi destruktif. Perasaan empati akan hilang dari hatinya. Jika mereka terbiasa memainkan permainan yang menonjolkan unsur kekerasan, maka mereka akan menganggap kekerasan itu -- seperti menganiaya, memukul, menembak, atau membunuh -- adalah hal yang biasa.

Dalam dunia permainan elektronik tersebut, tercipta suatu "virtual reality". Seorang anak akan bisa menciptakan dunianya sendiri di dalam komputer. Dampaknya, anak menjadi asosial, artinya jarang mau bergaul dengan teman-temannya dan lebih suka menyendiri karena sudah terbiasa bermain dengan komputer dan dipuaskan olehnya. Hal ini juga dapat berdampak pada prestasi belajar anak karena berkurangnya waktu untuk belajar dan terkurasnya konsentrasi untuk bermain game. Akan berkurang pula komunikasi dengan keluarga karena anak akan lebih senang berkomunikasi dengan permainannya daripada dengan orang tua.

Dampak Buruk Video Game

Salah satu majalah game pernah mengulas "Playboy The Mansion", yaitu sebuah game tentang bagaimana mendirikan sebuah "kerajaan Playboy". Dalam game ini, ada model-model yang bisa diajak bicara, dari yang formal sampai yang intim, bahkan sampai melakukan hubungan seksual. Kita bisa bayangkan kalau anak kita bermain game seperti itu, dia akan memosisikan dirinya sebagai pemilik "kerajaan Playboy", lalu mengatur model-modelnya, bisnisnya, bahkan dia bisa melakukan hubungan seksual dengan mereka. Ini adalah hal yang sangat berbahaya sekali.

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat sebuah CD yang dijual di tempat umum, gambarnya seperti sampul komik Jepang. Kita tahu bahwa banyak komik Jepang yang berbau pornografi. Ternyata komik itu ada pula yang dibuat dalam format CD, dan ceritanya ada yang tentang "chatting", ada juga tokoh-tokoh seperti cerita drama. Mulanya bercerita seperti biasa, anak-anak sekolah, situasi di dalam kelas, masalah penyakit, ke rumah sakit, dan sebagainya. Akan tetapi pada akhir cerita, dikisahkan bahwa anak sekolah yang masih remaja itu mengajak teman wanitanya menginap di sebuah motel, kemudian ditampilkan slide dalam bentuk dua dimensi (bukan animasi), berlatar belakang gambar, dan ada tulisannya. Nah, tiga gambar terakhir ini adalah gambar porno. Ada pula penggambaran hubungan seks dalam dialognya. Ini sangat berbahaya, banyak orang tua merasa itu adalah komik yang lucu dan tidak berbahaya, namun ternyata disusupi pornografi.

Ada satu tayangan dari MTV, sebuah film kartun yang banyak ditonton anak-anak. Sebuah film kartun yang sangat sederhana, menayangkan dua tokoh kartun yang bermain api, dan ketika terbakar mereka mengatakan, "It`s cool!" Di Amerika ada anak-anak yang meniru adegan tersebut, dan akhirnya ada yang rumahnya terbakar serta menewaskan anak yang masih kecil.

Anak-anak meniru begitu saja apa yang mereka lihat di TV. Sebagai orang tua, kita perlu ketegasan untuk melarang mereka menyaksikan tontonan yang merusak dan tidak mendidik, bahkan membahayakan.

Pengaruh video game bukan saja membuat anak menjadi kecanduan, tapi kesehatannya pun dapat terganggu, khususnya pada syaraf otaknya. Contohnya, apabila kita bermain game 3D yang gambar animasinya bisa berputar dan bergerak cepat, ini sangat berpengaruh terhadap fokus dan pergerakan mata serta syaraf otak. Beberapa kali saya pernah mencoba beberapa permainan seperti itu, baru tiga menit sudah pusing. Di Jepang ada yang sampai pingsan dan masuk rumah sakit, di Korea bahkan ada yang tewas. Belum lagi dari pengaruh radiasi monitor komputer. Kalau anak-anak terfokus pada game, maka waktu belajar mereka akan tersita, nilai moral mereka terpengaruhi, pergaulan dan prestasi di sekolah juga terpengaruh, serta pemborosan pemakaian uang untuk hal yang tidak berguna.

Dampak Positif Game Tidak semua permainan itu membawa dampak yang buruk, ada juga permainan yang tidak menonjolkan kekerasan, seperti permainan untuk mengelola kebun binatang yang dilengkapi dengan ensiklopedia binatang. Atau permainan yang membangun karakter anak, seperti salah satu permainan yang dimainkan secara interaktif, misalnya kalau ada kebakaran, apa yang harus ia lakukan. Permainan tersebut menuntun pemain untuk pergi ke telepon umum lalu menelepon pemadam kebakaran. Setelah selesai dipadamkan, petugas memberikan penghargaan kepada penelepon.

Sekalipun ada permainan yang baik untuk membangun karakter, namun perlu diperhatikan bahwa game akan menarik anak-anak untuk berlama-lama di depan komputer, ini tentu tidak sehat. Kita harus membatasi waktu bermain anak.

Alternatif permainan yang baik bisa kita berikan. Karena itu, orang tua perlu usaha untuk "berburu" dan memilih permainan yang baik, sebab persentasenya sangat sedikit.

Kembali lagi ke firman Tuhan, bahwa firman Tuhan mengajarkan untuk membicarakan berulang-ulang ketika kita duduk, dalam perjalanan, berbaring, dan pada saat bangun. Ini adalah hal penting dalam komunikasi keluarga. Kita harus melihat kesempatan untuk berkomunikasi dengan anak, jangan sampai kehilangan momen ini. Jika kita tidak menggunakan kesempatan untuk mengomunikasikan nilai-nilai yang penting untuk ditanamkan kepada anak-anak kita, maka kesempatan itu akan diambil oleh media. Lalu kita akan mengalami kesukaran besar dalam mengajar anak. Anak akan memiliki sikap pemberontak karena terpengaruh permainan tersebut, mungkin di depan kita ia kelihatan sangat baik, tetapi di luar, ia akan melakukan hal-hal yang kita larang. Karena itulah kita perlu membangun komunikasi yang baik dalam keluarga.

Bermain dengan Anak dan Pengaruh Firman Komunikasi yang bersifat tatap muka, mengobrol bersama yang disertai dengan beragam ekspresi wajah, canda ria, sentuhan, belaian, dan pelukan akan memberi arti tersendiri dan mengandung sejuta makna bagi pasangan dan anak-anak kita. Kalau ini tidak kita lakukan, maka ini akan diambil alih oleh media. Lalu anak kita akan lebih menuruti dan mendengarkan media daripada kita, orang tuanya.

Komunikasi bukan hanya dengan cara berbicara, tetapi harus bersifat "audiovisual". Lewat suara (audio), kita berkomunikasi, tetapi lewat gerak tubuh dan ekspresi wajah secara visual pun merupakan sebuah komunikasi. Berbicara mengenai sikap, itu berhubungan juga dengan nilai-nilai yang kita pegang sesuai firman Tuhan. Anak-anak akan begitu sangat sensitif, walaupun tidak melihat kita berbicara, tetapi lewat sikap hidup kita sudah mengomunikasikan sesuatu pada anak. Jikalau hidup kita tidak taat kepada Tuhan, sekalipun anak-anak tidak melihat kita bicara, mereka sudah melihat cara hidup dan sikap kita.

Olahraga adalah bentuk lain dari cara kita berkomunikasi dengan anak. Kalau masa ini lewat, maka kita akan kehilangan kesempatan. Anak-anak punya masanya, ada saat mereka sangat ingin bermain dengan kita, ada saat mereka lebih senang bermain dengan teman-teman seusia mereka. Kalau masa di mana kita bisa bermain dengan mereka tidak dipakai dengan baik, maka kita akan kehilangan kesempatan indah dan masa itu tidak bisa kita ulangi lagi. Anak saya senang nonton film "Tsubasa" di TV, ia jadi hobi bermain sepak bola. Kalau saya sedang ada di kantor, dia akan telepon tepat jam 16.00 dan menanyakan, "Pa, kapan pulang?" lalu katanya, "Main bola yuk ...."

Saya selalu berusaha bermain bola bersama dia walaupun kadang saya pulang ke rumah dalam kondisi lelah. Sekarang, ketika saya melihat ke belakang, saya bersyukur bahwa dulu saya bisa bermain bola bersamanya, sebab sekarang hobinya sudah lain lagi. Dunia video game, televisi, internet menciptakan sebuah "virtual reality", yang tidak kelihatan. Kita harus menarik anak-anak dari yang "virtual" ini ke yang "reality". Kalau di film "Tsubasa", dia melihat tendangannya begitu hebat, bisa melompat begitu tinggi, saya harus menjelaskan bahwa di dunia nyata tidak seperti yang ada di TV. Tendangannya sesuai dengan kemampuannya menendang, tidak akan sama seperti di film. Jadi setiap anak punya masanya, kita harus peka juga untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari virtual ke realitas.

Kalau kita berbicara mengenai konseling bagi anak yang kecanduan, sebetulnya bukan dimulai dari si anak yang kecanduan, akan tetapi mulai dari keluarga. Kalau keluarga atau orang tua tidak beres, maka anak akan keluar untuk mencari hal-hal yang memberi perhatian padanya. Anak bisa terlibat pergaulan yang buruk, narkoba, termasuk menyenangkan diri dengan bermain game berjam-jam lamanya di warnet.

Saya pernah mengadakan angket di kelompok tunas remaja di tempat pelayanan saya. Ada sepuluh jawaban teratas dari pertanyaan, "Apakah yang kamu inginkan dari orang tuamu? Dua jawaban tertinggi adalah:

  1. Bisa untuk tempat curhat. Ini terjadi karena mereka mengalami stres dengan tugas-tugas di sekolah. Apalagi sekarang ini banyak sekolah yang terlalu membebani anak dengan pelajaran yang padat.
  2. Bisa lebih sering ngobrol, berkomunikasi dengan orang tua. Bayangkan, salah satu anak mengatakan bahwa dia bicara dengan ayahnya hanya pada saat diantar ke sekolah, bicara di dalam mobil. "Kalau ayah pulang, saya sudah tidur." Inilah masalah konteks perkotaan masa kini. Kalau kita tidak menyediakan waktu untuk anak-anak, maka mereka akan lari pada hal lain. Seberapa hebat terapi konseling yang diberikan tidak akan begitu besar berpengaruh. Kita harus mulai dari dalam keluarga kita. Jika kita tidak memulai komunikasi yang baik dalam keluarga dengan segenap waktu, tenaga, dan kasih, bahkan uang untuk hal-hal yang baik, maka semua itu akan diambil alih oleh media audio-visual. Apa yang masuk (media) itu juga yang akan keluar. Kita sedang berlomba dengan media. Kalau saya tanya, berapa skor antara keluarga dan media dalam berkomunikasi dengan anak-anak? Mungkin kita kalah telak.

Orang Tua Versus Game/Media

Perlu kita ingat bahwa ada lima hal besar yang tidak bisa dilakukan oleh media terhadap anak-anak kita.

  1. Media tidak dapat menyebut nama, tidak memunyai perhatian secara pribadi. Anak kita adalah satu pribadi yang unik, kita bisa memanggil namanya, memerhatikan dia, menatap matanya, dan berkomunikasi secara pribadi dengan dia.
  2. Media tidak dapat memangku anak kita.
  3. Media tidak bisa memeluk anak kita, tidak bisa membacakan buku cerita sebelum tidur.
  4. Media tidak pernah mendengarkan anak kita. Kita diberikan anugerah untuk bisa mendengarkan curhat anak kita.
  5. Media tidak bisa menaikkan anak ke tempat tidur lalu mengajaknya berdoa.

Dalam pelayanan saya, khususnya untuk anak saya, saya mendisiplinkan dia untuk jam-jam atau batasan-batasan tertentu, apakah itu nonton TV, bermain, dan lain-lain. Saat sebelum tidur adalah waktu yang sangat baik. Setelah berdoa syafaat bersama, ketika dia mau berbaring dan tidur, saya mengatakan beberapa hal berupa harapan, nasihat, dan lain-lain, lalu mengatakan, "Papa mengasihimu." Saya peluk dia. Saya melihat dia begitu senang sekali, saya melihat ekspresi wajahnya yang begitu mengesankan. Saya percaya momen seperti ini akan dia ingat seumur hidup.

Jangan kaget bila anak kita yang berusia lima tahun, ketika memasuki usia enam tahun, bisa berubah karena pengaruh media. Kita akan terkejut melihat dia begitu cepat berubah karena nilai-nilai yang diserap dari media. Jika suara audio, musik duniawi begitu keras, hebat, dan tayangan video yang menonjolkan seks dan kekerasan selalu menjadi perhatian dan konsumsi anak-anak kita, maka suara firman Tuhan makin lama makin redup, bahkan padam karena tenggelam oleh pengaruh media.

Nilai-nilai rohani yang kita tanam itu berakar, lalu tumbuh subur. Ini yang harus diperhatikan oleh orang tua. Sesuai nasihat firman Tuhan, kita harus menceritakan dan mengajarkannya berulang-ulang dalam perjalanan, waktu berbaring, waktu bangun, waktu duduk dalam keluarga kita.

Nilai-nilai yang kita tanam bisa membuat dia kuat untuk menilai dan bisa memfilter media yang masuk. Kita tidak akan bisa membendung media sebab media akan terus berkembang dan semakin canggih. Kita tidak akan mungkin memproteksi atau memantau anak-anak ke mana dia akan pergi, tetapi setidaknya kita bisa menanamkan rasa takut akan Tuhan kepada anak-anak kita.

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Sumber
Halaman: 
222 -- 228
Judul Buku: 
Mendidik Anak Sesuai Zaman dan Kemampuannya
Pengarang: 
Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha
Penerbit: 
Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK3), Jakarta 2007

Komentar