Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Konsep Diri yang Unik di Hadapan Allah

Dalam video-video MTV selalu ditonjolkan orang nomor satu. Mereka adalah orang-orang yang sukses dalam karier di bidang musik, olah raga, dan bintang film. Selain menerima berbagai penghargaan berupa piala atau piagam, mereka pun disanjung para penggemarnya.

Tampak kebanggaan menghiasi pupil mata dan menantang diri mereka untuk mencapai sukses lebih tinggi lagi. Semua yang diraih memantapkan konsep diri mereka sebagai public figur beken. Menurut Philip Yancey, "Harga diri adalah semacam kecanduan, kerinduan ego untuk dibelai, yang tidak akan pernah terpuaskan."

Orang dibius oleh konsep popularitas yang mendunia. Bagi mereka, konsep diri dipuaskan dengan pemenuhan ego. Itulah yang dicari dalam kehidupan modern yang ditandai dengan kesuksesan, popularitas, kebanjiran materi dan lain sebagainya. Pertanyaan kita adalah apakah konsep diri itu? Apakah konsep diri dikaitkan dengan prestasi? Lalu, kalau tidak berprestasi, lantas buyar konsep diri seseorang? Bagaimana seseorang menemukan konsep diri yang sesungguhnya? Siapakah yang menjadi sumber konsep diri kita?

Anak remaja suka bertanya tentang siapa dirinya. Pada suatu kesempatan, seorang anak remaja putri bertanya kepada orang tuanya, "Mengapa terjadi perubahan fisik pada dirinya?" "Aku nggak mau ah bokong yang membesar!" Pertanyaan dan keluhan ini tampak sepele, bukan! Tetapi kalau disimak lebih jauh, pertanyaan ini sangat penting untuk dikupas bersama anak remaja itu.

Dengan tujuan menuntunnya untuk menerima dirinya sebagaimana adanya; bukan mengeluh atau membandingkan dengan orang lain. Jika kita tidak menolongnya menerima keadaan dirinya maka hal ini akan mengganggu pertumbuhan psikisnya, yang dapat mengakibatkan perasaan minder, menolak diri sendiri, membentuk pandangan yang keliru di dalam dirinya, memupuk kemarahan, kebencian, dan menghasilkan tingkah laku yang melenceng yang dapat merusak kepribadiannya.

Pertanyaan lain pun bisa muncul, "Mengapa wajah mulai dihiasi jerawat?" "Mengapa payudara saya mulai terbentuk?" " Mengapa saya mengalami mimpi basah?" "Mengapa postur tubuh saya seperti ini, tidak seperti teman saya yang langsing?"

Untuk itu sangat penting sekali orang tua mengenali situasi ini dan berusaha menolong anak remajanya berjalan dalam suasana yang nyaman dan menerima citra dirinya sendiri dan puas dengan hidupnya sebagaimana Allah mendisain laki-laki dan perempuan dengan perbedaan yang esensil. Semua ini harus diterima dengan sukacita dan rasa syukur kepada Allah.

Konsep diri berarti memeriksa unsur-unsur dasar yang membentuk citra diri saya. "Siapakah saya?" "Apakah yang membentuk diri saya?" "Dari mana sumber citra saya?" "Mengapa model (pipi, hidung, wajah, rambut) saya seperti ini?" Dan banyak lagi pertanyaan yang dapat dikemukakan untuk menemukan jawaban yang memuaskan bagi diri kita.

Memahami konsep diri berarti saya berusaha mengetahui kebutuhan dasar yang menuntun saya pada pengenalan dan penerimaan terhadap diri saya sendiri.

Konsep diri seseorang terbentuk dari komponen kognitif dan afektif. Pertama, "komponen kognitif" yakni seseorang mengenal tentang dirinya sendiri. Konsep pengenalan tentang dirinya sendiri menghias pemikirannya, saya anak yang pintar atau bodoh? Saya seorang yang energik atau lamban? Pandangan terhadap dirinya akan menjelaskan gambaran dirinya sendiri. Para ahli mengatakan bahwa gambaran diri (self picture) akan membentuk citra diri (self image).

Jika si A mengenal tentang dirinya maka ia dengan santai dan jujur akan menjelaskan tentang siapa dia sesungguhnya, misalnya saya seorang wanita karier di bidang modeling, seorang akuntan, seorang penyanyi, sutradara, psikolog, artis, bankir, seorang guru atau konselor. Barangkali ia juga tidak segan-segan menjelaskan tentang tujuan hidup, kesenangan, hobi atau obsesinya. Pokoknya orang yang memiliki citra diri yang sehat akan menjelaskan tentang gambaran dirinya yang sehat pula yang memberkati orang lain.

Komponen berikut adalah afektif (berkenaan dengan perasaan yang mempengaruhi jiwanya). Di sini seseorang lebih menekankan penilaiannya terhadap dirinya yang akan membentuk penerimaan diri (self acceptence) dan harga diri (self esteem). Jiwa saya mengalami sukacita, gembira, senang, murung, gelisah.

Individu yang memiliki perasaan yang benar dengan terbuka menilai dirinya sendiri, "saya puas dan senang dengan keadaan saya" atau "saya berharap saya akan lebih sukses di masa depan" atau "saya akan membangun keluarga yang bertekun dalam iman." Pemahaman ini ada dalam kehidupan seseorang maka ia termasuk orang yang menilai dirinya dengan benar dan memengaruhi keberadaannya di tengah-tengah masyarakat luas.

Sebaliknya kalau hati dan pikiran diliputi dengan perasaan sedih, murung, kecewa maka suasana batin ini akan tampil dalam kehidupannya, "saya pesimis tentang masa depan hidup saya, saya takut melangkah karena takut gagal, saya ragu tentang bisnis atau studi saya."

Konsep diri memberi kesan (perasaan-perasaan) dalam diri seseorang sehingga ia dapat mengenal dan menerima dirinya sendiri. Kesan yang dimaksudkan adalah suatu perasaan kepuasan dengan diri sendiri pada saat seseorang mulai melihat dan memandang dirinya di depan cermin.

Juga sebaliknya, yaitu kesan-kesan yang timbul dapat menimbulkan perasaan tidak puas terhadap diri sendiri yang ditandai dengan kemarahan terhadap diri sendiri atau orang lain, juga dapat menimbulkan gesekan-gesekan dengan orang lain yang tidak disadarinya. Ada seorang konseli yang mengeluh bahwa orang lain sulit bekerja sama dengannya. Setelah diteliti, hal ini berkaitan dengan konsep dirinya yang keliru. Setelah ditolong menerima dirinya dan keberadaan orang lain, lambat laun hubungannya dengan orang lain makin sehat.

Jadi kalau seorang merasa puas, maka ia akan memiliki pandangan yang sehat, sebaliknya kalau ia tidak puas, maka ia akan kecewa.

Norman Wright mengatakan bahwa gambaran diri merupakan "map" atau "peta" di mana seseorang mulai melihat dirinya, dan mulai bertanya dari mana asalnya, dan bagaimana ia bisa nampak sebagaimana yang terlihat pada cermin.

Sering para remaja mengalami hal yang sama seperti yang disebutkan di atas dalam menanyakan tentang dirinya. Ia melihat-lihat dirinya, membandingkan diri dengan bertanya, "Saya kok begini?" Ia berdialog dengan diri sendiri, melalui kata-kata atau pikirannya. William Backus dan Marie Chapian dalam bukunya `Mengapa Aku Merasa Begini` mengatakan bahwa "Kata-kata tersebut terdiri dari pertanyaan mengenai orang lain, diri sendiri, pengalaman-pengalaman, kehidupan pada umumnya, Allah, masa depan, masa lampau, masa kini, khususnya semua kata yang selalu ditanyakan kepada diri sendiri."

Seorang psikiater, William Gaylin, pernah berkata, "Yang dapat disebut konsep diri, atau gambaran diri, atau citra diri yang salah, atau anggapan-anggapan yang salah tentang diri sendiri adalah seperti menanamkan kebiasaan. Makin sering kita melakukan sesuatu, makin terbiasa kita dengan hal itu, tanpa kita sadari. Makin kerap kita berpikir atau beranggapan salah, makin tak kita sadari itu salah."

Kadang-Kadang ada hal-hal yang salah yang selalu diucapkan atau dikatakan kepada diri sendiri. Anggapan-anggapan yang salah membuat seseorang menjadi sedih dan bingung. Dari mana mulainya anggapan- anggapan yang tidak benar itu? Jawabannya, ialah dialog dengan diri sendiri. Misalnya, "bodoh amat aku", "aku tak dapat kerja keras", "aku tolol", dan sebagainya.

Gambaran diri yang dimiliki oleh seseorang menunjukkan sikap terhadap banyak hal. Pertama, berkaitan dengan fisiknya, apakah ia tinggi, pendek, gemuk, kurus, cantik, cacat, atau sehat. Kedua, berkaitan dengan prestasinya apakah ia seorang yang selalu berhasil atau gagal. Ketiga, berhubungan dengan latar belakang keluarga, apakah keluarganya harmonis, berantakan, miskin, kaya, terkenal, atau terhormat.

Tidaklah heran kalau konsep dunia mengajarkan untuk menjadi yang terkemuka. Anak-anak Zebedeus yakni Yakobus dan Yohanes terjerat dalam ketegori ini. Ibu mereka memohon kepada Yesus supaya kedua anaknya diberi kedudukan penting di dalam Kerajaan Allah (Mat. 20:20-24; Mrk.10:35-41). Namun, Yesus mengoreksi dan meluruskan sikap ini dengan mengatakan masalah penempatan seseorang pada posisi di dalam Kerajaan telah disediakan bagi mereka yang berhak dan hal ini merupakan wewenang Sang Bapa, bukan diri-Nya.

Dunia selalu mengajarkan kita menjadi yang nomor satu, untuk berkompetisi, untuk menuntut keadilan, untuk melindungi diri sendiri, untuk membangun masa pensiun yang memadai, untuk meminimalkan resiko" - yang bagi Philip Yancey, semuanya ini justru ditentang Yesus dalam Khotbah di Bukit (Mat. 5-7).

Bagi Yesus, konsep diri dibangun bukan atas dasar keberhasilan atau prestasi atau kekayaan melainkan berdasarkan iman kepada-Nya melalui gaya hidup yang bersyukur atas penerimaan diri sebagaimana Allah mendisain kita masing-masing unik di hadapan-Nya.

Sumber
Halaman: 
40 - 43
Judul Artikel: 
Kalam Hidup, Nopember 2005
Penerbit: 
Yayasan Kalam Hidup, Bandung

Komentar