Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Mulailah Melangkah dengan Iman

Edisi C3I: e-Konsel 069 - Hidup dalam Iman

Salah satu pelajaran terbesar yang hendak diberikan Allah kepada kita adalah bagaimana mulai berjalan di atas air. Melangkahlah dengan iman. Beranikan diri untuk melangkah dalam hal apa pun yang diperintahkan-Nya, baik kepada Anda sekeluarga maupun secara pribadi. Mungkin, sepuluh tahun yang lalu, Allah pernah berbicara kepada seseorang. Bahkan, Ia terus berbicara kepadanya, namun tidak memperoleh tanggapan atau reaksi apa pun dari orang tersebut. Bila Allah sudah begitu setia mengingatkan Anda bahwa Ia telah berbicara mengenai sesuatu hal kepada Anda, beranikan diri untuk melangkah dengan iman berdasarkan Firman Allah. Bagi orang Kristen, tidak adanya keberanian seperti ini akan menghasilkan hidup yang suram, gersang, tak berbuah, dan penuh keputusasaan belaka. Kemungkinan besar, Roh Kudus terus berbicara dan mendorong Anda untuk menaati Firman Allah yang telah disampaikan-Nya bertahun-tahun yang lalu. Kalau saja Anda berani melangkah, Anda akan menikmati kepenuhan Roh Kudus dan mulai berjalan di dalam kepenuhan Roh. Masih belum terlambat untuk memberikan reaksi Anda kepada-Nya.

Setiap orang Kristen harus belajar "melangkah dengan iman". Di dalam Alkitab, orang-orang pilihan Allah disebut "orang-orang yang beriman". Apakah artinya ini? Pada dasarnya, ini berarti bertindak dengan keberanian seperti yang telah ditunjukkan oleh Petrus.

Abraham adalah salah seorang dari orang-orang yang beriman ini. Ia memang tidak berjalan di atas air, tetapi ia berjalan di lautan padang pasir atas perintah Tuhan. Di dalam Ibrani 11:8 dikatakan:

"Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui."

Waktu Abraham dipanggil Allah, ia tidak tahu sama sekali ke mana Allah akan membawanya. Bayangkan! Seberapa besar iman yang dibutuhkan Abraham untuk mempercayai Allah, sehingga ia berangkat. Satu-satunya yang dimiliki Abraham adalah janji Allah: "Abraham, Aku akan memberikan negeri bagimu dan anak cucumu. Jumlah mereka akan melebihi jumlah bintang di langit atau pasir di laut. Ikutlah dengan-Ku dan Aku akan membawamu ke negeri itu." Bagi Abraham, cukuplah ia tahu bahwa Allah sendiri yang sudah berbicara, dan dengan iman ia melangkah pergi. Ketaatan Abraham adalah iman yang dibuktikan.

Setiap orang percaya dapat memperoleh pengalaman yang sama dengan Allah, bila ia mulai "melangkah dengan iman" di dalam Roh Kudus. Sekali Petrus atau setiap orang Kristen mau menaati Tuhan dan melangkah, ia akan mampu melakukan apa saja, sebab segala sesuatu adalah mungkin terjadi bagi mereka yang percaya.

Sekali pun kelihatannya mustahil, Petrus percaya bahwa ia dapat berjalan di atas air menemui Yesus dan ia pun melangkah keluar dengan iman. Waktu Petrus sudah dekat dengan Yesus, tiba-tiba ia melepaskan pandangan daripada-Nya. Akibatnya, ia mulai tenggelam. Namun, pada saat ia berseru: "Tuhan, tolonglah aku!" Yesus pun mengulurkan tangan-Nya, mengangkatnya dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

Mengingat sifat manusia pada umumnya, sangat besar kemungkinannya apabila Petrus menengok kepada orang-orang yang berada di perahu pada saat gelombang di bawah kakinya bergulung-gulung. Karena merasa bahwa ia pastilah satu-satunya orang yang pernah berdiri di atas air, boleh jadi ia berseru: "Hai, lihatlah aku! Aku sedang berdiri di atas air!". Kristus telah dilupakan dan Petrus sedang bermegah diri atas kebolehannya itu.

Kuasa dari Allah

Begitu banyak di antara kita yang lupa terhadap asal kuasa yang ada dalam hidup kita. Kita memiliki pengalaman rohani dan doa-doa yang dijawab. Atau suatu ketika, kita memenangkan jiwa bagi Kristus dan pada saat yang penuh kemenangan dan suka cita itu, tiba-tiba kita lupa bahwa hal-hal tersebut terjadi karena kuasa Allah bekerja melalui kehidupan kita. Pada saat kita merasa percaya pada kekuatan diri sendiri, maka jatuhlah kita.

Bagi Petrus, tentunya terasa sangat menyakitkan ketika Tuhan bertanya mengapa ia tidak beriman. Sebab bagaimana pun juga, ia telah melangkah keluar dari perahu. Ia juga sudah berjalan di atas ombak yang bergulung-gulung itu sampai di hadapan Tuhan Yesus. Namun demikian, Yesus mengatakan kepadanya bahwa ia tidak memiliki iman. Allah menantikan kita untuk taat supaya Ia dapat menunjukkan kuasa- Nya kepada kita dan kita seringkali takjub melihat besarnya kuasa itu. Hal-hal yang kecil bagi Allah, tampak begitu penting bagi kita.

Saya masih teringat waktu pertama kali Allah menjawab salah satu doa saya. Permintaan saya begitu sepele, sehingga saya nyaris ragu- ragu untuk mengucapkannya.

Waktu kami masih tinggal di Argentina, saya membaca sebuah kisah mengenai George Mueller, seorang beriman yang terkenal. Ketika itu, saya bekerja di sebuah bank yang sedang dilanda "mogok kerja" selama empat puluh dua hari. Dapat Anda bayangkan, betapa kacaunya sistem perbankan pada waktu itu. Selama pemogokan berlangsung, gaji para pegawai tidak dibayarkan. Ibu saya seorang janda dan saya masih mempunyai lima orang saudara wanita dan seorang adik lelaki. Kami sudah kehabisan uang sama sekali. Selesai membaca buku tentang pengalaman-pengalaman George Mueller, saya pun berkata: "Tuhan, saya belum pernah mengalami sendiri sebuah jawaban doa. Tunjukkan sebuah jawaban atas doa saya dan kirimlah uang kepada saya, supaya saya dapat berangkat ke bank dengan naik bis. Kirimkan uang itu dengan cara yang membuat saya tahu bahwa uang itu adalah daripada-Mu." Saya sudah sering melihat doa-doa ibu saya terjawab. Saya tahu bahwa ia memiliki iman dan bahwa Tuhan menjawab doa, tetapi saat itu saya menginginkan jawaban bagi saya pribadi.

Pagi itu saya bangun pagi, sebab di musim panas, bank buka mulai pukul tujuh pagi. Dalam bayangan saya, Tuhan menjawab doa saya dengan jalan menggerakkan seseorang untuk menjatuhkan uang dua puluh lima sen, supaya saya dapat menemukannya dan kemudian saya dapat pergi ke bank dengan naik bis. Meskipun saya mengharapkan Allah bekerja, namun iman saya begitu kecil. Hal ini terlihat pada tindakan saya yang bangun pagi-pagi sekali, supaya mempunyai cukup waktu untuk berjalan kaki ke bank, seandainya uang itu tidak dikirimkan oleh Tuhan. Ketika saya meninggalkan rumah, hari masih gelap. Sepanjang perjalanan, saya mencari-cari uang dua puluh lima sen yang saya kira pasti akan saya temukan. Saya menuju sudut jalan dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Saya perhatikan setiap orang yang sedang repot mencari-cari uang kecil di dompet mereka. Saya juga melihat ke semua arah, tetapi tidak juga menemukan uang dua puluh lima sen itu. Saya berpikir, mungkin uang dari Tuhan tidak ada di halte bis yang ini, karena masih ada satu halte lagi, maka saya pun berjalan ke situ. Uang yang saya butuhkan itu pasti akan ada di sana.

Saya telah berjalan sejauh tiga blok di dalam kabut yang gelap ketika saya mendengar seseorang sedang berusaha mendorong mobilnya keluar dari garasi. Nafasnya sudah terengah-engah, namun ia tak berhasil mengeluarkan mobilnya. Saya menawarkan bantuan untuk mendorong mobilnya. Sementara mobil yang mogok itu menggelinding menuruni bukit, mesinnya pun hidup dan sebentar kemudian sudah tak nampak ditelan kabut. Saya melanjutkan perjalanan menuju ke halte bis terakhir dan belum juga menemukan uang itu. Tiba-tiba, saya mendengar suara mobil berhenti di dalam kabut. Ternyata, itu adalah orang yang saya tolong tadi. Dibukanya jendela sambil meminta maaf karena tidak menawarkan tumpangan kepada saya. Ia lalu bertanya ke mana saya akan pergi. Waktu saya jawab pertanyaannya itu, ia berkata bahwa ia bekerja di bank yang terletak di seberang jalan dan ia akan mengantar saya dengan senang hati.

Bagi Anda, pengalaman saya ini mungkin tidak terlalu istimewa, tetapi jawaban atas doa saya ini sungguh menggetarkan hati saya. Nilainya mungkin hanya dua puluh lima sen saja, tetapi bagi saya ini sudah merupakan ujian yang besar. Ini adalah pengalaman saya yang pertama dengan Allah di mana Ia menjawab doa saya, menembus semua kebimbangan saya.

Dari Iman Kecil Menuju Iman Besar

Pada waktu kami mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani di Lima, Peru, kami ingin agar setiap kebaktian ini disiarkan melalui jaringan televisi. Para anggota tim yang menangani Kebaktian Kebangunan Rohani itu menulis: "Luis, untuk mendapatkan kontrak itu kita memerlukan uang." Saya membalas: "Tanda tanganilah kontrak itu. Kita belum mempunyai uangnya, tetapi aku percaya, Tuhan akan mengirimkannya."

Buku kas Misi kami saat itu mengalami defisit $500. Sementara berdoa di rumah, saya percaya dengan iman bahwa Allah akan mengirimkan uang yang diperlukan itu. Panitia Kebaktian Kebangunan Rohani tersebut menandatangani kontrak. Kebaktian Kebangunan Rohani pun dimulai, malam pertama, kedua, dan ketiga -- dan uang sejumlah $2500 yang kami butuhkan itu belum juga tersedia. Manajer jaringan televisi itu tidak tahu sama sekali bahwa kami tidak memiliki uang sesen pun untuk membayar ongkos penyiaran itu.

Pada hari keempat, datanglah sebuah telegram dari istri saya, Pat. Isinya adalah: "PUJI TUHAN TITIK LONGHILL CHAPEL DI CHATHAM NEW JERSEY MENGIRIM $2500 UNTUK TELEVISI TITIK". Gereja yang mengirimkan uang itu bahkan tidak tahu bahwa kami membutuhkannya.

Diperlukan waktu beberapa tahun lamanya antara kejadian dua puluh lima sen dan $2500 itu. Dibutuhkan pula praktik dan pengalaman iman untuk dapat menerima anugerah yang mengherankan itu. Tetapi, setiap orang memang harus memulainya dari awal.

Hal yang menggairahkan dalam permulaan mempraktikkan iman adalah bahwa Allah senang memberikan pengalaman-pengalaman tersebut kepada kita.

Boleh jadi, kadang-kadang kita mengajukan permintaan-permintaan yang bodoh dan aneh. Hak apa yang dimiliki Petrus untuk meminta agar dapat berjalan di atas air? Meskipun demikian, Tuhan menyuruhnya datang dan ia pun mendapat upah atas imannya itu.

Mulailah melangkah berjalan dengan iman. Apa yang Anda risaukan dalam hidup ini bukanlah persoalan, percayalah bahwa Tuhan akan memberikan suka cita dan berkat ketika menjawab iman Anda yang kecil itu. Iman yang sedikit ini pun akan mampu menjadi sesuatu yang menggairahkan bagi Anda. Iman yang kecil dapat menjadi besar bila kita mulai menerapkannya hari lepas hari.

Sumber
Halaman: 
32 - 37
Judul Artikel: 
Melangkah dengan Iman
Penerbit: 
Yakin, Surabaya, 1981

Komentar