Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Posesif (Perspektif Psikologis)

Orang yang posesif adalah orang yang haus. Istilah posesif itu sendiri berasal dari kata kerja, "to possess", yang berarti memiliki. Jadi, orang yang posesif adalah orang yang "memiliki" atau lebih tepat lagi, menguasai orang lain.

Jika kita adalah orang yang posesif, kita akan menuntut pasangan kita untuk selalu memberitahukan keberadaannya. Kita akan mengharuskannya meminta izin terlebih dahulu sebelum ia memotong rambutnya dan sudah tentu, kita akan marah bila model rambutnya ternyata berlainan dengan model yang kita setujui. Kita mewajibkannya untuk tunduk dan memberi pengakuan bahwa kita adalah orang yang paling penting dalam hidupnya. Kita haus akan pengabdiannya dan segala sesuatu yang ia berikan kepada kita.

Jika kita adalah orang yang posesif, kita akan menolak bila dijuluki posesif. Kita lebih suka disebut peduli atau sayang. Kita berlogika, jika tidak sayang, sudah tentu kita tidak akan terlibat dalam kehidupannya, apalagi mencampuri urusannya. Permintaan- permintaan kita adalah wujud kasih kepadanya dan seharusnyalah ia menghargai kepedulian yang besar itu. Acapkali kita merasa tertolak dengan sikap orang yang menolak "perhatian" kita dan ini membuat kita marah. Kita tidak dapat (atau, tidak mau) memahami mengapa orang tidak berkenan menerima perhatian kita.

Sebenarnya masalah posesif adalah masalah kebutuhan. Kita membutuhkan keamanan yang besar, begitu besarnya sehingga segala tindak tanduk orang yang tidak sesuai dengan harapan kita sangatlah mencemaskan. Rasa aman barulah muncul bila orang mematuhi permintaan kita tanpa ragu sebab ini membuktikan pengabdiannya yang total. Bagi kita, lebih baik tidak bersamanya sama sekali daripada bersamanya namun harus direpotkan oleh kehendaknya yang berbeda dari keinginan kita.

Kita yang posesif menyimpan ketakutan yang besar, kita takut ditinggalkan, takut diabaikan, takut tidak berarti dalam hidupnya, dan takut kehilangan kendali atas kehidupan kita. Daripada hidup dalam kecemasan terus menerus, kita pun mengatur-atur kehidupan orang agar seturut dengan rancangan hidup kita. Kita berupaya memasukkan orang ke dalam skema kehidupan kita dan sudah tentu, tidak pernah sekalipun kita mempertimbangkan untuk masuk ke dalam skema kehidupannya.

Musuh utama kita yang posesif adalah kemandirian. Kita lebih suka mengidentikkan kemandirian dengan pemberontakan. Bagi kita, orang yang tidak lagi mendengarkan dan menuruti kehendak kita sama dengan pemberontak dan naluri alamiah kita menghadapi pemberontakan adalah menumpasnya dengan segala cara. Namun jika kita gagal menumpasnya, langkah penghabisan adalah membuangnya tanpa penyesalan sedikit pun.

Masalah posesif adalah masa batas. Kita tidak bisa memahami bahwa sama seperti negara, setiap orang mempunyai wilayahnya sendiri dan bahwa sama seperti negara yang beradab, kita pun wajib menghormati batas wilayah masing-masing. Kita yang posesif beranggapan bahwa hanya kitalah yang memiliki batas wilayah itu sebabnya kita marah bila orang mencampuri urusan kita, apalagi mencoba mengubah keputusan kita. Sebaliknya, kita melihat orang lain sebagai negara tanpa batas dan bahwa sesungguhnya batas wilayah kita mencakup wilayahnya juga. Itulah sebabnya, kita merasa merdeka untuk masuk ke dalam hidupnya dan memintanya melakukan apa yang kita kehendaki, tanpa merasa sedikitpun bersalah. Upaya orang untuk menegakkan batas wilayahnya sama dengan penolakan dan penghinaan.

Saya tidak mengatakan bahwa orang yang posesif adalah orang yang tidak mengasihi. Saya percaya bahwa orang yang posesif sanggup mengasihi dan memang kerap kali semua tindakannya keluar dari kasihnya yang besar. Saya pun mahfum bahwa kasih dalam kadarnya yang tinggi cenderung berubah menjadi tali yang mengikat objek kasih. Saya kira masuk akal apabila kita takut kehilangan orang yang kita kasihi karena kita bisa membayangkan betapa susahnya hidup tanpa kehadirannya.

Sungguhpun demikian, kita perlu menyadari bahwa kasih sebesar apa pun seyogianya tetap menyisakan ruang bagi pribadi itu untuk memilih dan inilah yang sukar diberikan oleh orang yang posesif. Kita yang posesif melarang orang untuk memilih sebab kita takut suatu hari kelak ia tidak lagi memilih kita. Inilah mimpi buruk kita. Itu sebabnya, kita berusaha mematahkan setiap tulang kakinya dan mencabuti semua helai bulu sayapnya agar selamanya ia tidak akan pergi ke mana-mana. Kita pun membuatnya bergantung sepenuhnya kepada kita agar tidak pernah terbersit sedikitpun di benaknya bahwa dia akan mampu hidup tanpa kita. Kitalah orang yang paling penting dan perlu dalam hidupnya dan kita akan menjaga agar tidak seorang pun dapat menggantikan kedudukan kita.

Orang yang posesif haus akan pemenuhan kebutuhan amannya. Ia terus meneguk dan meneguk namun tidak pernah puas; ia tetap haus akan rasa aman dan bekerja keras untuk memastikan bahwa dunianya aman. Rasa hausnya tidak pernah hilang sebab pemenuhan kebutuhan itu berasa dari luar, bukan dari dalam dirinya. Rasa takutnya yang besar membuatnya mencari keamanan dari luar dan sekali ia mendapatkannya, ia akan menggenggamnya erat-erat. Begitu kuat genggamannya kadang membuat orang tidak bisa bernapas dan akhirnya mencoba melarikan diri.

Orang yang posesif lupa berserah kepada Dia yang berkata, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33) Orang yang posesif adalah orang yang mencari kerajaannya dan mementingkan kebenarannya. Akibatnya jelas. Semua "penambahan" yang diterimanya semu dan sementara sebab sesungguhnya, "penguranganlah" yang tengah dituainya.

Sumber
Halaman: 
3-4
Judul Artikel: 
PARAKALEO No. 2 Edisi: April - Juni 2004

Komentar