Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Penyakit Terminal (Penyakit Pembawa Kematian)

Edisi C3I: e-Konsel 081 - Melayani Penderita Penyakit Terminal

AYAT ALKITAB

Yohanes 14:1-6; Mazmur 23:1-6; 1Tesalonika 4:13-18; Filipi 1:21

LATAR BELAKANG

Orang yang Anda layani mengidap penyakit yang sangat berat. Hidupnya terancam; dia tak akan hidup terlalu lama. Kanker, tekanan darah tinggi, sakit jantung, gangguan ginjal, atau penyakit-penyakit gawat lainnya yang menghancurkan fungsi badannya. Dia merasa sunyi. Siapa gerangan pernah menderita seperti ini?

Secara berurutan, walaupun tidak selalu berurutan, dia merasakan penolakan ("Hal ini tak mungkin menimpa diriku."), marah ("Mengapa harus aku, Tuhan?"), depresi ("Tak ada harapan."), tawar-menawar ("Tuhan, keluarkan aku dari situasi ini, aku akan melakukan apa yang Kaukatakan."), dan penerimaan ("Jadilah kehendak Allah."). Perasaan- perasaan ini tidak terlupakan sesudah muncul dan teralami, tetapi akan terulang berkali-kali. Perasaan-perasaan ini bukan hal yang tidak wajar, tetapi justru merupakan ciri dari orang yang sedang dalam "lembah kekelaman".

Apa yang harus Anda katakan pada orang yang demikian? Bagaimana tanggapan Anda? Untuk penderita, sakit gawatnya dianggapnya unik, hingga ada kecenderungan untuk menolak pengertian orang lain yang tidak sungguh mengerti keadaan demikian.

STRATEGI BIMBINGAN

  1. Dengarkan! Dengan simpati, dengarkan perasaan-perasaan yang dicurahkannya. Anjurkan dia untuk berbicara. Mungkin Anda perlu menggali perasaan-perasaannya secara lembut. Sebagian ada di permukaan, sebagian lagi terpendam cukup dalam.

  2. Jangan menghakimi perasaan-perasaan yang diceritakannya itu walaupun, kadang-kadang, itu diungkapkan dalam kemarahan, mengasihani diri, atau kepahitan. Tunjukkan saja kepadanya bahwa Anda mendengarkan. Jangan memberi kesan sok dengan mengatakan bahwa Anda menyelami dalam-dalam semua perasaannya. Tetapi, Anda boleh menyatakan perhatian Anda kepadanya. Ini bisa diucapkan atau dikesankan melalui nada suara, kelembutan Anda dan kemampuan Anda merasa dan melibatkan diri. (Bandingkan dengan Ibrani 13:3)

    Waktu itu bukan saat untuk menyatakan pengalaman pedih Anda sendiri; pusat perhatian harus pada orang yang Anda layani.

  3. Jangan optimis berlebihan walaupun secara rohani. Hindarkan diri dari ucapan-ucapan klise. Jangan menganjurkan dia untuk menjadi teladan dalam penderitaannya.

    Jangan menanamkan harapan semu tentang penyembuhan, atau menyatakan bahwa semua penyakit berasal dari iblis dan asal ada iman dia dapat sembuh. Allah bisa menyembuhkan, bisa juga tidak. Semua tergantung kedaulatan-Nya. Satu hal yang pasti hanyalah bahwa Allah akan menyembuhkan secara rohani, mereka yang menaruh imannya dalam Yesus Kristus.

  4. Jangan mencegahnya, bila dia menyebut-nyebut soal kematian. Justru ini merupakan tanda adanya pikiran sehat terhadap hal yang memang tak terelakkan itu. Pembicaraan tentang kematian dapat membuka kesempatan bagi Anda, sebagai pembimbing, untuk menanyakan tentang hal-hal penting yang belum dibereskan. Ini sebabnya kita bersaksi: membantunya mempersiapkan diri terhadap kekekalan.

    Anda bisa bertanya: "Jika Anda malam ini meninggal dan di pintu surga ditanyakan, `Berdasarkan apa kau berusaha diizinkan masuk ke surga Allah?` apa jawab Anda?"

    Jelaskan "Damai dengan Allah", [["Damai dengan Allah" -- Traktat untuk menolong/menuntun orang non-Kristen agar dapat menerima Kristus (dari LPMI/PPA); atau Buku Pegangan Pelayanan, halaman 5; CD-SABDA: Topik 17750.]].

    Jika dia menerima, jelaskan "Kepastian Keselamatan" [["Kepastian Keselamatan" -- Traktat untuk orang yang telah menerima Kristus, namun mengalami keraguan (dari LPMI/PPA); atau Buku Pegangan Pelayanan, halaman 9; atau CD-SABDA: Topik 17752]]. Anda boleh juga menjelaskan bagian-bagian Firman Tuhan lainnya seperti Mazmur 23:1-6; Yohanes 14:1-6 dan 1Tesalonika 4:13-18.

  5. Penyerahan diri kepada Kristus seharusnya mempersiapkan jalan bagi masalah-masalah yang belum dibereskan, seperti hubungan (keluarga, sahabat), keuangan (warisan, misalnya), pengurusan rinci proses kematiannya, kematian, penguburan, dan lain sebagainya. Anjurkan dia untuk mengurus semua hal tadi, sambil mencari bantuan penggembalaan atau nasihat dari orang yang berkepentingan.

  6. Berdoalah baginya agar dia mendapat keberanian dan kekuatan dalam penderitaannya, sambil menyerahkan dia kepada Dia yang telah menanggung semua kepedihan dan kedukaan kita.

Sumber
Halaman: 
170 - 171
Judul Artikel: 
Buku Pegangan Pelayanan
Penerbit: 
Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA)

Komentar