Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Ketrampilan Konseling I

Edisi C3I: e-Konsel 028 - Ketrampilan Konseling

KETRAMPILAN-KETRAMPILAN KONSELOR KRISTEN

Ada beragam jenis ketrampilan yang harus dikembangkan seorang konselor Kristen kalau dia mau melayani para kliennya. Kemampuan- kemampuan tersebut diperlukan dalam keseluruhan proses konseling -- sejak dari pertemuan awal sampai kepada pemecahan final dari permasalahan. Dalam bab ini kita akan membahas tentang beberapa ketrampilan ini. Secara berkala konselor harus mengevaluasi bagaimana kemampuannya dalam setiap bidang ketrampilan tersebut. Seringkali ada manfaatnya memiliki seorang rekan yang membantu dalam evaluasi ini.

KEMAMPUAN UNTUK MEMPEROLEH DATA

Jika seorang konselor ingin berhasil, dia harus mampu memperoleh cukup data untuk membuat penilaian mengenai akar dari permasalahan dan terapi yang sesuai. Yang menjadi intinya adalah observasi yang tajam terhadap setiap gejala yang ditunjukkan oleh konsele. Selain dari penampilan secara umum, ketidakwajaran apapun seperti disorientasi, delusi, halusinasi, obsesi, fobia, atau gangguan pikiran, harus diperhatikan. Konselor akan mencoba memahami suasana hati konsele dan hubungan antar pribadinya.

Untuk memperoleh perspektif yang benar dari klien-nya, sangat penting untuk mengembangkan seni "mengajukan pertanyaan yang tepat". Hal ini mencakup pengetahuan tentang bagaimana mengungkap dan menangani hasil dari pertanyaan-pertanyaan provokatif yang menimbulkan kegelisahan. Begitu pula bagaimana beralih dari pertanyaan-pertanyaan yang umum ke pertanyaan-pertanyaan yang lebih spesifik. Konselor juga harus mengembangkan kemampuan untuk mengarahkan wawancara secara logis dan halus menuju ke bagian-bagian yang sulit dan menyakitkan (masalah kejiwaan yang pernah dialami sebelumnya, penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau alkohol, percobaan bunuh diri). Sebagai tambahan, sangat penting bagi konselor untuk mampu menerangkan istilah kata dengan jelas (misalnya "depresi"), memberikan bimbingan, dan mengakhiri wawancara secara bijaksana.

KEMAMPUAN UNTUK MERUMUSKAN PENDEKATAN

Memilih di antara berbagai cara pendekatan dan rencana tindakan yang bisa diadopsi sesuai dengan setiap kepribadian klien merupakan salah satu hal paling sulit yang dihadapi oleh seorang konselor. Bagaimana seorang konselor dapat mengetahui cara untuk memulainya? Nasehat kami adalah supaya dia menggunakan beberapa teknik dasar pada saat dia memulai tugasnya. Dia akan belajar untuk membuat beragam pendekatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu dari para konselenya seiring dengan meningkatnya pengalaman, pengetahuan, dan sensitivitas yang dimilikinya. Dia harus bersabar dengan dirinya sendiri saat mencoba untuk menguasai dunia konseling yang kompleks dengan berbagai dimensinya. Seiring dengan berjalannya waktu, dia akan belajar kapan saatnya memberikan wawasan/pengertian dan menawarkan dukungan, kapan saatnya menekankan tingkah laku dan kapan saatnya untuk memfokuskan pada perasaan, kapan saatnya bertindak langsung dan kapan saatnya bertindak tidak langsung, kapan saatnya menggali masa lalu dan kapan saatnya berkonsentrasi pada masa sekarang. Dia juga belajar pentingnya menjadi diri sendiri -- konsele akan percaya pada konselor hanya jika dia bersikap spontan/apa adanya dan nondefensif.

Kesulitan untuk mengetahui bagaimana memilih pendekatan yang tepat menjadi bertambah lagi dengan adanya sejumlah besar pilihan yang tersedia. Berikut ini adalah suatu daftar umum yang singkat mengenai:

APA YANG DAPAT DILAKUKAN OLEH SEORANG KONSELOR

  1. Menawarkan dukungan.
    Konseling yang suportif (supportive counseling) benar-benar membantu secara emosional dan spiritual. Beberapa teknik yang masuk dalam kategori ini adalah memberi nasehat (Amsal 19:20), penghiburan (2Korintus 1:3-4), memberi dorongan (Roma 1:11-12), mendengarkan (Elihu di Ayub 32), dan mendidik (surat-surat Paulus). Konseling yang suportif, tentu saja, tidak hanya terbatas pada pertemuan-pertemuan pribadi. Keseluruhan tubuh Kristus berpotensi besar sebagai sumber dukungan bagi individu- individu yang membutuhkan bantuan.
  2. Memberikan pengertian.
    Perumpamaan-perumpamaan dari Kristus memberikan penjelasan kepada para pendengar-Nya mengenai kebenaran mengenai diri mereka sendiri yang tadinya tidak mungkin dapat mereka mengerti. Nabi Natan menggunakan pendekatan yang serupa untuk membuat Daud menyadari dosanya.
  3. Menganjurkan konsele untuk mengaku dosa (Yakobus 5:16).
  4. Memberikan penguatan lisan secara positif (Roma 1:8).
  5. Memperlihatkan teladan seorang Kristen.
    Banyak tokoh Alkitab yang hidupnya menjadi teladan bagi orang lain. Ingatlah teladan Musa kepada Yosua, teladan Naomi kepada Rut, teladan Kristus kepada murid-murid-Nya.
  6. Mendidik para konsele.
    Hal ini untuk menantang keyakinan-keyakinan yang salah dari konsele (Galatia 4:9). Konselor Kristen dapat memberitahukan kebenaran-kebenaran Tuhan sebagai gantinya. Prosedur yang paling berguna dalam kasus ini adalah dengan memberikan konsele tugas- tugas untuk dikerjakan di rumah.
  7. Bekerjasama dengan konsele dalam sebuah kelompok.
    Alkitab seringkali menekankan pentingnya dan manfaat-manfaat pribadi yang diperoleh dari menjalin interaksi dengan orang lain -- saling mengasihi satu sama lain, saling memikul beban, bersikap ramah satu sama lain (1Korintus 12, Efesus 4:14-16).
  8. Memulai program konseling bersama keluarga konsele.
    Ada penekanan yang kuat mengenai keluarga, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Rasul Paulus memberi banyak nasehat tentang kehidupan keluarga (Efesus 5:22-33; 6:1-4).
  9. Manfaatkan teknik-teknik modern untuk mengembangkan tingkah laku.
    Beberapa teknik yang tersedia adalah pelatihan ketegasan, pelatihan tingkah laku, dan penguatan secara positif maupun negatif.

Sampai di bagian ini, kita hanya menyentuh bagian permukaan saja. Di antara rencana-rencana tindakan lain yang bisa diterapkan oleh seorang konselor adalah pemurnian melalui meditasi, menasehati (1Tesalonika 5:14), konfrontasi, dan mendesak konsele untuk melakukan refleksi atau membuka diri.

Dalam banyak kejadian, seorang konselor akan menemukan bahwa satu metode pendekatan saja tidaklah cukup. Dukungan saja tidak cukup. Pengertian/wawasan saja tidak cukup (Salomo punya banyak pengertian/ wawasan tetapi masih tetap jatuh dalam dosa). Begitu pula, mendengarkan atau melepaskan tekanan semata akan memiliki pengaruh yang kecil pada kehidupan konsele. Perlu ada perubahan-perubahan tingkah laku yang lebih spesifik. Alkitab berulangkali menekankan pentingnya aktivitas Kristen yang benar (Matius 7:24, Filipi 2:13; 4:13). Jika hanya ada sedikit atau tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik dari tingkah laku konsele dalam batas waktu yang masuk akal, beberapa cara pendekatan tambahan harus diterapkan. Dalam kasus seperti itu kita sering menemukan bahwa akan sangat membantu bagi konsele untuk memeriksa rencana hidupnya sendiri (contohnya mengamati bagaimana sebenarnya ia menjalani hidup). Kemudian kita membantunya membuat perubahan-perubahan yang tepat. Kita sebut cara ini bergerak dari rencana "A" ke rencana "B". Rencana "B" menganjurkan aktivitas-aktivitas harian spesifik yang akan menghasilkan kesehatan. Di antara anjuran-anjuran tersebut adalah interaksi sosial, olahraga, rekreasi, dan saat teduh. Rencana ini perlu dinyatakan secara terbuka dan dievaluasi ulang secara berkala.

Jika ternyata semua ini terbukti tidak mencukupi, seorang konselor akan menyadari bahwa faktor-faktor lainnya mungkin terlibat dan bahwa evaluasi lebih lanjut diperlukan. Mungkin perlu mengadakan pemeriksaan kejiwaan secara khusus. Atau menganjurkan konsele untuk mengadakan pemeriksaan fisik yang ekstensif, atau pengobatan oleh psikiater, atau mungkin perawatan rumah sakit.

MENGIKUTI TELADAN KRISTUS

Sangat penting bahwa seorang konselor Kristen berupaya secara sadar untuk menjadi seperti Kristus. Semakin dekat sang konselor menyamakan caranya berhubungan dengan konsele seperti cara Yesus berhubungan dengan orang-orang yang dilayani-Nya, ia akan makin berhasil. Satu ciri yang menyolok dalam pelayanan Yesus adalah Ia memperlihatkan berbagai sikap. Ada saatnya Ia lemah lembut dan pasif. Di saat lain Ia aktif dan penuh keramahan, atau baik tetapi tegas. Jika diperlukan, Ia bisa benar-benar bersikap keras. Dengan kata lain, Yesus menempatkan diri-Nya pada situasi yang spesifik. Demikian juga seharusnya seorang konselor Kristen. (Lihat 1Tesalonika 5:14).

Bercermin dari pelayanan Yesus, poin-poin utama dari konseling Kristen adalah kebaikan hati dan kelemahlembutan (2Korintus 1:3-4; 10:1; Galatia 6:1; 1Tesalonika 2:7,11; 2Timotius 2:24; Titus 3:2). Tanda paling jelas dari pelayanan Kristus dan yang terlihat melalui konselor Kristen adalah kasih yang ia tunjukkan kepada konselenya. Ingatlah bahwa kasih adalah hal utama yang ditekankan dalam Alkitab:

"Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing." (1Korintus 13:1)

"Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22-23)

Upaya seorang konselor untuk meneladani sikap Kristus akan terlihat jelas dari kontak awal hingga melalui semua aspek dari proses konseling. Dengan menerapkan teladan pendekatan Kristus, seorang konselor akan mampu memberikan rasa nyaman kepada konsele, membina hubungan, membentuk suasana penuh kejujuran untuk wawancara, dan menunjukkan kasih, perhatian, dan empati. Konselor yang demikian akan menjadi peka terhadap perubahan-perubahan suasana hati konsele. Dia akan fleksibel dalam menghadapi berbagai situasi yang sulit (misalnya, jika konsele menolak untuk berbicara atau jelas-jelas paranoid), mencoba tidak memperlihatkan keterkejutan besar, dan mempertahankan tingkat kontak mata yang benar. Dia akan sensitif/ peka terhadap masalah-masalah yang kelihatan sepele seperti tatanan fisik (misalnya posisi tempat duduk) dan posisi tubuhnya (dia akan agak condong ke depan untuk menunjukkan ketertarikannya). Komunikasi akan berada pada tingkat yang dapat dipahami oleh konsele. Seorang konselor yang mengikuti pola pendekatan seperti Kristus yaitu mengembangkan kemampuan mendengarkan yang tajam (Yakobus 1:19) dan akan mampu memperoleh/mengeluarkan informasi yang berkaitan dengan bijaksana.

KEMAMPUAN MENGGUNAKAN FIRMAN TUHAN

Alkitab memainkan peran yang sangat penting dalam konseling Kristen. Dengan menyediakan makanan rohani Firman Tuhan menghasilkan pertumbuhan dan penyembuhan bagi konsele. Seorang konselor Kristen akan menggunakan Alkitab secara tajam, bijaksana, dan peka. Ada berbagai cara dimana konselor bisa menggunakan Firman Tuhan, misalnya sebagai alat/cara untuk menantang dan konfrontasi secara langsung, atau sumber penghiburan dan dukungan yang positif. Alkitab juga memberikan nasihat praktis dan berbagai teladan hidup orang- orang kudus. Dalam keadaan-keadaan yang tepat konselor bisa mempertimbangkan untuk memberikan tugas rumah (mempelajari Alkitab dan/atau menghafal). Atau dia mungkin bisa membantu konselenya dengan menunjukkan jalan-jalan dalam kehidupan pribadinya sendiri yang memiliki nilai spesial. Dengan bertambahnya pengalaman, seorang konselor akan menemukan lebih banyak dan makin banyak lagi cara menggunakan Alkitab.

Kita telah melihat bahwa ada sejumlah persyaratan yang dibutuhkan untuk berhasilnya konseling Kristen. Ini meliputi ketrampilan mengumpulkan data, kemampuan merumuskan cara pendekatan yang cocok untuk setiap individu konsele, mengikuti teladan Kristus, dan pengetahuan bagaimana menggunakan Alkitab. Seorang konselor yang bijaksana akan secara berkala mengevaluasi dirinya sendiri dan bersungguh-sungguh memacu kemajuan dirinya dalam bidang-bidang dimana dia merasa lemah.

Sumber
Halaman: 
69 - 73
Judul Artikel: 
Counseling and the Nature of Man
Penerbit: 
Baker Book House, Michigan, 1982

Komentar