Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Ketrampilan Konseling II

Edisi C3I: e-Konsel 028 - Ketrampilan Konseling

MENDAPATKAN KETRAMPILAN-KETRAMPILAN

Ada banyak cara untuk mendapatkan ketrampilan-ketrampilan konseling. Sejumlah orang mendapatkannya dengan membaca atau dengan mencoba dan membuat kesalahan. Mereka melakukan apa yang mereka anggap akan membantu dan cocok bagi mereka. Di beberapa tempat di Asia, sebenarnya tidak mungkin mengikuti sebuah program pelatihan konselor meskipun hal ini sangat diinginkan oleh para konselor. Sejumlah orang mungkin mengikuti program pelatihan informal atau program- program jangka pendek sementara sejumlah orang lainnya mendapatkan pengetahuan dari berbagai sumber. Ketika bidang ini berkembang di Asia, semakin banyak pusat-pusat pelatihan didirikan di universitas- universitas, sekolah-sekolah tinggi dan lembaga-lembaga yang memberikan pelatihan formal dalam bidang konseling.

Universitas-universitas dan lembaga-lembaga pelatihan cenderung menekankan teori, yang merupakan unsur utama dari tuntutan kurikulum. Ketrampilan-ketrampilan didapatkan melalui praktik lapangan atau praktikum, dimana peserta pelatihan ditempatkan pada sebuah biro dan bekerja di bawah penyeliaan staf yang lebih senior. Dewasa ini, ada pergeseran arah dalam pelatihan, yang dikenal sebagai program-program berdasarkan kompetensi, dimana peserta pelatihan diajarkan ketrampilan-ketrampilan dalam bidang wawancara dan konseling. Sejumlah pelatihan bahkan membalik programnya dengan mengajarkan ketrampilan terlebih dulu sebelum memberikan teori- teori. Apa pun bentuk pelatihannya, tuntutan yang lebih penting dari setiap program pelatihan adalah memastikan bahwa peserta pelatihan mendapatkan ketrampilan-ketrampilan yang dapat diterapkan dalam setiap situasi konseling.

Pusat Konseling mempunyai pengalaman beberapa tahun dalam menyelenggarakan Program Pelatihan Konselor. Pada saat itu peserta pelatihan diarahkan untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih bersifat ensiklopedik tentang teori-teori dan cara-cara konseling. Tampak bahwa mereka mengalami semacam kebingungan karena mereka lulus dari program itu dengan dibekali banyak pengetahuan dan ketrampilan, tetapi tanpa keahlian yang memadai dalam salah satu cara konseling tertentu. Setelah diadakan peninjauan terhadap program tersebut, diputuskan untuk lebih memperhatikan pelatihan ketrampilan berdasarkan dasar teoritis yang sesuai untuk praktik konseling. Ternyata memang lebih baik memulai satu program pelatihan bagi para pemula atau konselor yang kurang berpengalaman dengan memberikan satu pendekatan tertentu sebelum mereka diperkenalkan pada pendekatan-pendekatan lainnya. Ini merupakan alasan lain lagi mengapa dalam buku ini diusulkan pendekatan pemecahan-masalah. Jika seorang konselor dapat menjalankan pendekatan ini secara kompeten, ia dapat berusaha memadukan pendekatan-pendekatan lain dan orientasi yang lebih umum atau eklektik dalam konseling.

Di antara berbagai jenis program pelatihan yang tersedia, program- program yang berorientasi pada ketrampilan dan berdasarkan pada kompetensi akan memberikan peserta pelatihan bukan hanya pengetahuan teoritis tetapi juga ketrampilan-ketrampilan yang tepat untuk bisa berfungsi sebagai konselor. Program-program harus cukup menerapkan dan mempraktikkan ketrampilan-ketrampilan yang diajarkan. Hal ini akan menuntut peserta pelatihan untuk ikut ambil bagian dalam praktek konseling konkret di bawah penyeliaan. Ini merupakan pendekatan langsung. Dalam Pusat Konseling dan Perawatan di Singapura, penggunaan cermin satu-arah dimaksudkan untuk penyeliaan langsung terhadap kasus-kasus. Pelatih secara langsung melakukan penyeliaan dari balik cermin. Pertemuan-pertemuan juga direkam dalam video-tape sehingga peserta pelatihan dapat mengamati kinerjanya sendiri dan menyempurnakannya. Sejumlah pendekatan langsung juga dilakukan dengan menghadirkan penyelia yang berperan sebagai klien dalam satu kasus. Penyelia biasanya memainkan peranan pasif dan bisa saja melakukan campur tangan untuk membantu peserta pelatihan dalam praktek itu. Umpan-balik dan diskusi terhadap kasus tersebut dan kinerja peserta pelatihan dilakukan setelah pertemuan itu.

Pendekatan tak-langsung dalam pelatihan mencakup penggunaan peragaan-peran, pengamatan terhadap kasus-kasus yang ditangani oleh para pelatih atau profesional lain (entah melalui pengamatan langsung di balik cermin satu-arah atau melalui rekaman audio/video) dan ceramah mengenai kasus-kasus. Kadang-kadang tidak mudah melakukan penyeliaan langsung atau mendampingi peserta pelatihan yang menangani klien-kliennya selama pelatihan. Dalam situasi- situasi seperti itu, pendekatan yang tidak-langsung dapat dipergunakan. Peserta pelatihan dapat juga dilibatkan dalam penelaahan kasus agar mendapatkan pokok-pokok yang harus dipelajari untuk penerapan mereka sendiri.

Di Singapura, yang lebih ditekankan adalah pelatihan langsung. Pengalaman Pusat Konseling dan Perawatan merupakan salah satu contoh dari pelatihan langsung yang diselenggarakan untuk pekerja sosial, konselor dan profesional lain dalam bidang kesehatan mental. Semua peserta pelatihan diharapkan mempunyai sejumlah kasus sehingga apa yang dipelajari dapat diterapkan. Setiap peserta pelatihan dituntut untuk bekerja di antara klien dengan mendapatkan penyeliaan. Para pelatih mengamati mereka bekerja dari balik cermin satu arah. Pelatih bisa saja memberikan petunjuk-petunjuk melalui telepon untuk membantu mereka dalam konseling yang sedang mereka praktikkan atau meminta mereka meninggalkan klien sejenak untuk berdiskusi.

Sumber
Halaman: 
83 - 86
Judul Artikel: 
Konseling (Suatu Pendekatan Pemecahan-Masalah)
Penerbit: 
PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2002

Komentar