Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Apakah Akibat Kekuatiran Itu?

Edisi C3I: e-Konsel 024 - Penyebab Masalah Kejiwaan

Kekuatiran menimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan penguatir kronis, dan tidak ada satu pun yang bersifat positif; semuanya negatif. Bahkan penguatir itu sendiri pun sering menyadari bahwa tenaga dan waktu yang mereka pakai untuk kuatir itu sebenarnya tidak ada gunanya sama sekali. Kebanyakan penguatir biasanya akan berhenti merasa kuatir kalau mereka mengerti bagaimana caranya, dan sebagian lainnya berhenti merasa kuatir kalau mereka menghayati betapa menderitanya mereka merasakan akibat-akibat kebiasaan kuatir mereka, seperti yang akan dipaparkan berikut ini.

KEKUATIRAN MEMPERBURUK PRESTASI SESEORANG

Biasanya prestasi dalam tes dan ujian dari para penguatir yang kronis tidak bagus. Kecemasan terhadap tes merupakan persoalan gawat yang biasanya dialami oleh mahasiswa perguruan tinggi, namun kengerian terhadap ujian dapat melanda semua orang, tanpa membedakan usia, misalnya, seseorang yang sedang mempersiapkan ujian kenaikan pangkat atau menghadapi situasi tes tertentu.

Kekuatiran mulai muncul lama sebelum waktu ujian itu sendiri. Penguatir pada umumnya gelisah tentang ujian yang akan berlangsung dan bayangan tentang hasil ujian yang tidak bagus. Biasanya penderita juga merasa kuatir tentang persiapannya, yakni berkaitan dengan waktu dan tenaga yang harus disisihkan untuk belajar dan persiapan tes. Pandangan umum mengatakan bahwa hasil tes akan jelek apabila persiapannya tidak memadai. Kekuatiran tetap mempunyai pengaruh negatif selama tes itu berlangsung. Para penguatir mengalami kesulitan untuk mengingat kembali hal-hal yang telah dipelajari. Para penguatir juga mengalami kesulitan untuk memusatkan diri pada perintah-perintah dalam tes secara rinci. Mereka juga tidak mampu menunjukkan hasil terbaik mereka. Singkatnya dapat dikatakan bahwa orang yang tidak kuatir dapat mengerjakan ujian secara lebih baik daripada orang yang kuatir.

Contoh prestasi buruk yang diakibatkan oleh kekuatiran mungkin dapat dilihat dengan jelas dalam kecemasan terhadap suatu tes, namun sebenarnya tidak terbatas pada kecemasan terhadap suatu tes saja. Kekuatiran untuk berpidato, membuat taman bermain anak-anak, menggambar, atau belajar bahasa dapat menunjukkan hasil yang sama, prestasi yang buruk.

KEKUATIRAN MENGAKIBATKAN PERUBAHAN FISIK

Sebagaimana telah disebutkan di atas, beberapa peneliti menemukan bahwa para penguatir suka tidur berkepanjangan. Namun, beberapa peneliti lain juga menemukan adanya gejala yang berlawanan dengan kesimpulan tadi. Kekuatiran dan penyakit tidak dapat tidur (insomnia) sering saling berkaitan. Para penguatir yang mengalami kesulitan tidur melaporkan bahwa kekuatiran yang sangat mengganggu dan tidak dapat dikontrol tiba-tiba muncul dalam pikiran ketika mereka berusaha untuk tidur. Pikiran-pikiran tersebut mengganggu mereka sehingga mereka tidak dapat merasa relaks dan terlelap.

Gejala-gejala fisiologis yang lain tidak begitu mudah dideteksi dalam diri penguatir. Tes electroencephalogram (EEG) menunjukkan bahwa gelombang otak orang yang sedang kuatir berbeda. Sementara itu, ketika sedang berpikir atau berusaha memecahkan masalah, jumlah gelombang otak para penguatir kurang dari yang dibutuhkan untuk menciptakan suasana relaks. Kegiatan selaput luar otak -- 'khususnya otak bagian kiri' -- meningkat. Sebagai akibatnya, penguatir terus terjaga dan tegang serta tidak relaks.

Disamping itu, para penguatir dan penderita kecemasan kronis dapat menderita gangguan fisik seperti yang dialami oleh penderita stres akut, seperti jantung berdebar-debar, syaraf tegang, gemetar, berkeringat, dan nyeri lambung. Jumlah gangguan di atas bertambah banyak apabila orang mengalami gangguan emosi yang berat, dan dalam jangka panjang dapat mengganggu kesehatan.

KEKUATIRAN MELUMPUHKAN AKAL SEHAT

Penderita tidak mampu berpikir dengan jernih. Sebagai contoh, pada hari Minggu pagi biasanya saya mengendarai mobil sejauh delapan kilometer ke gereja. Perjalanan itu cukup rutin dan mudah. Dalam perjalanan itu biasanya saya berbelok dua kali. Biasanya saya tidak perlu berpikir panjang. Saya tidak pernah berpikir bahwa mobil saya akan rusak di perjalanan atau juga tidak terlalu membayangkan jangan-jangan ban saya bocor di perjalanan. Selain itu, saya tetap melewati beberapa bengkel mobil, bahkan ada di antara bengkel mobil yang saya lewati itu telah buka pagi-pagi di hari Minggu.

Akan tetapi, jikalau saya tidak sehat -- menderita kekuatiran kronis -- sebelum saya berangkat ke gereja, saya pasti menghabiskan banyak waktu: merasa gelisah, membayangkan jangan-jangan mobil saya rusak di perjalanan, mobil saya tiba-tiba berhenti di tengah lalu lintas yang ramai karena bannya kempes. Apa yang akan terjadi apabila saya tidak dapat menghindari pembatas jalan bebas hambatan? Apa yang akan terjadi jikalau seseorang tidak menempatkan kembali derek mobil ke tempatnya semula setelah menggunakannya? Apa yang akan terjadi jikalau saya tidak membawa ban cadangan? Apa yang akan terjadi jikalau saya akhirnya terlambat? Dan, mereka memecat saya sebagai guru Sekolah Minggu? Bagaimana jika ...? Bagaimana jika ...? Bagaimana jika ...?

Orang yang bukan penguatir berusaha menghindari perasaan resahnya dengan cara membayangkan bahwa tingkat kemungkinan terjadinya setiap hal buruk itu berbeda-beda. Memang, bisa saja ban meletus di perjalanan, tetapi kemungkinannya sangat kecil, maka saya tidak akan menghabiskan banyak waktu untuk kuatir dan resah. Memang, bisa saja mesin mobil saya mogok ketika saya sedang berada di sebuah perempatan yang ramai, namun kemungkinan hal itu benar-benar terjadi sangat kecil.

Mengapa para penguatir mengganggap bahwa kemungkinan-kemungkinan itu sungguh-sungguh akan terjadi, padahal sebenarnya kemungkinannya sangat kecil? Mungkin karena dalam ingatan mereka tersimpan begitu banyak contoh kejadian-kejadian masa lalu yang mengerikan sedemikian kuatnya sehingga ingatan-ingatan yang mengerikan itu merusak penglihatan mereka akan masa depan. Makin kuatir para penderita kekuatiran, makin tidak jernihlah pikiran mereka.

KEKUATIRAN MEMICU KECEMASAN

Akibat terakhir dari perasaan kuatir adalah kecemasan. Para peneliti yang telah begitu banyak menghabiskan waktunya untuk meneliti kekuatiran pada umumnya menarik kesimpulan bahwa kekuatiran yang berkepanjangan akan dibarengi dengan munculnya kecemasan. Biasanya, kecemasan lama-kelamaan akan hilang dengan sendirinya, kecuali ada dinamika batin tertentu yang menyebabkan kecemasan itu tetap muncul. Pada umumnya, kekuatiran dianggap sebagai faktor utama dari tetap munculnya kecemasan. Para klinisi (praktisi klinik kejiwaan) yakin, apabila kita dapat membantu penderita menghilangkan proses munculnya kekuatiran yang biasanya terjadi secara otomatis dalam pikiran mereka, maka kita juga dapat mengontrol kondisi kecemasan mereka yang biasanya dapat meningkatkan tingkat kesusahan mereka dan lebih sulit lagi untuk ditangani.

Kita tidak mengharapkan satu pun dari akibat-akibat kekuatiran yang telah dibahas di atas muncul. Adanya akibat-akibat yang menyedihkan tersebut mendorong kita untuk berusaha lebih keras menolong para penguatir sehingga mampu memperkecil dan mengontrol kebiasaan kuatir mereka.

Download audio

Sumber
Halaman: 
42 - 46
Judul Artikel: 
Kuatir
Penerbit: 
PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2000

Komentar