Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Apakah Pelayanan Itu Suatu Karier?

Edisi C3I: e-Konsel 120 - Panggilan untuk Melayani Tuhan

Cara kita memandang tugas dapat mengubah apa yang ada dalam dunia-- dan juga gereja.

Saya sedang berlutut pada anak tangga di altar dengan beberapa tangan yang ditumpangkan pada pundak saya. Saat itu adalah upacara penahbisan tugas pelayanan saya. Kelihatannya, pendeta sengaja menaikkan doa yang panjang sekali agar Tuhan memberkati dan memberikan kuasa-Nya pada saya. Kaki saya mulai terasa kram. Peluh bercucuran pada jubah hitam saya yang berasal dari Eropa Utara. Tidaklah mengherankan mengingat panasnya wilayah Selatan California petang itu. Lutut saya pun seolah-olah terasa luluh di karpet merah itu.

"Apakah beliau berpikir kalau saya perlu lebih banyak didoakan ketimbang biasanya?" pikir saya. Lalu sepertinya jawaban untuk pertanyaan itu pun datang. Dia berdoa, "Tuhan, sebagaimana Ben merasakan bobot tangan-tangan ini di pundaknya, kiranya dia juga bisa merasakan bobot panggilan yang akan dia lakukan."

Amin.

"Tetapi kiranya dia juga bisa merasakan kekuatan abadi dari tangan- Mu yang telah menyangganya."

Amin dan amin.

Seperti itulah pelayanan berjalan selama ini. Pelayanan menjadi sesuatu yang tidak mungkin, pekerjaan yang tidak dapat dipikul dan disertai ketidakmungkinan, kekuatan yang tidak dapat diterangkan.

Rasul Paulus menemukan panggilannya dan berkata, "Siapakah yang layak untuk tugas ini?" Versi saya muncul beberapa kali setahun setelah saya naik mimbar. "Patterson," saya berkata dalam hati. "Coba Anda renungkan, Anda sedang berbuat apa di sini? Siapakah Anda di antara orang banyak sehingga mengatakan apa yang dipikirkan Tuhan kepada mereka?"

Pertanyaan ini juga menantang saya pada kesempatan-kesempatan lain. Pada suatu hari Minggu, seorang pria dari tempat tinggal saya dulu datang berkunjung untuk mengetahui apakah yang berkhotbah benar- benar Ben Patterson yang dikenalnya beberapa tahun yang lalu. Saya yakin dia ingin tahu apa yang saya lakukan ketika memimpin pelayanan. Dengan melihat dia dan mengingat masa lalu, saya bertanya-tanya sendiri.

Berjam-jam saya duduk bersama mereka yang dihantam oleh beban hidup yang berat. Saya mencoba memberitahukan kebaikan dan harapan yang diberikan oleh Yesus. Jujur saja, Patterson. Untuk apa Anda berada di sini?

Saya tidak punya hak maupun alasan. Tidak ada harapan dalam pelayanan jika semuanya tidak diperuntukkan bagi Allah yang Mahakuasa dalam kebijaksanaan-Nya yang tak tergambarkan, yang telah memanggil saya untuk pelayanan ini. Dialah yang mempunyai rencana, bukan saya.

Dengan kedatangan-Nya, Roh pun bertiup ke mana Dia mau. Demikianlah Ia memimpin saya pada pelayanan ini. Seperti lahir baru, saya dilahirkan bukan oleh keinginan manusia. Bukan pula oleh keinginan suatu institusi, melainkan oleh kemauan Bapaku yang ada di surga.

PANGGILAN BUKANLAH KARIER

Saya sering dipusingkan dengan hal yang kita sebut sebagai "panggilan". Apa itu panggilan? Bagaimana cara Anda mengetahui datangnya panggilan itu?

Banyak yang tidak saya ketahui. Namun, satu hal yang benar-benar bisa saya jelaskan ialah bahwa panggilan bukanlah karier. Ada perbedaan mendasar di antara kedua hal ini. Adalah penting bagi kita untuk mengerti apa itu panggilan Allah, khususnya pada saat ini.

Kata "karier" itu sendiri sudah mengacu kepada pembedaan tersebut. Kata bahasa Inggris, "career", berasal dari bahasa Perancis, "carriere", yang berarti `suatu jalan` atau `suatu highway`. Gambaran ini menyiratkan adanya satu tujuan dan peta jalan yang ada dalam genggaman, tujuan di depan mata, tempat-tempat berhenti untuk makan, penginapan, dan tempat pengisian bahan bakar.

Dari gambaran sebelumnya, kita bisa menyebutkan bahwa karier seseorang ibarat sebuah jalan yang telah dia ambil. Semakin sering membicarakannya, semakin terlihat jalur ke depan yang diambil dan direncanakan untuk dilalui secara profesional. Ibarat suatu jalan yang peta dan rencananya telah dibuat, mencapai tujuan menjadi hal yang terutama. Jalannya telah ditandai dengan baik. Selanjutnya, terserah kepada orang yang akan melakukan perjalanan tersebut.

Tidak seperti karier, panggilan sama sekali tidak dipetakan. Tidak satu jalur pun yang akan diikuti. Tidak ada tujuan yang dapat dilihat. Panggilan lebih bersandar kepada mendengarkan "Suara". Organ iman untuk panggilan berupa telinga, bukan mata. Yang pertama dan terakhir, itulah sesuatu yang perlu didengarkan oleh seseorang. Segala sesuatu hanya bersandar kepada hubungan yang ada antara pendengar dan Dia yang memanggilnya.

Bila karier berarti membuat sebuah formula dan cetak biru, suatu panggilan hanya bertujuan untuk membina hubungan. Suatu karier bisa didapat hanya dengan memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, sedangkan panggilan tidak.

Ketika Musa mendengar Allah memanggilnya untuk membebaskan para budak di Mesir, tanggapannya yang pertama adalah seolah-olah ia muncul dengan keputusan yang bersifat karier. Apakah dia memenuhi syarat? Apakah dia mempunyai pengalaman cukup dan kemampuan khusus yang diperlukan untuk tugas semacam itu? Dia berbicara dengan Allah yang sepertinya sedang mengadakan wawancara untuk suatu pekerjaan. Siapakah saya yang melakukan pekerjaan semacam ini? Bagaimana jadinya kalau rakyat tidak mau menurut? Dan apakah Allah tidak tahu kalau dia itu bukanlah orang yang pintar berbicara di muka umum?

Semua hal tersebut tidak relevan bagi Allah. Yang terjadi selanjutnya adalah Musa yakin bahwa Allah dapat dipercayai sehingga ia pun berkata, "Aku akan mengikuti-Mu."

Pendeknya, yang menjadi perhatian adalah panggilan tersebut--dan Musa pun mengikatkan dirinya pada Dia yang menyerukan panggilan itu.

BAHAYA SEORANG PROFESIONAL

Jika kita memandang panggilan itu sebagai suatu karier, kita merendahkan pelayan-pelayan Yesus sebagai seorang makhluk hambar yang disebut "kaum profesional". Berpakaian dan berbicara dengan baik, dilengkapi dengan kepandaian, mengerti kepemimpinan, pintar dalam manajemen, dan belajar mengenai seluk-beluk pemasaran--tentu saja semua itu baik kalau dipergunakan bagi sebuah kerajaan. Kita ingin membuat tanda pada dunia, sedikit memberi respek pada para profesional, dan untuk selamanya memancarkan citra seperti Pendeta Rodley Dangerfield.

Dengan perasaan yang realistis, kaum profesional berharap agar gereja memperlakukan mereka sebagai seorang profesional sehingga untuk berhubungan diadakan perundingan tentang gaji dan keuntungan- keuntungan yang akan didapat.

Sungguh suatu hal yang mengerikan ketika kita mendapati seorang rohaniwan yang bisa memakai kepandaian dan kecanggihannya dalam berdagang dan meningkatkan pendapatan secara luar biasa. Gereja- gereja bertumbuh--dan melakukannya tanpa bersandar kepada sesuatu pun.

"Allah memerdekakan kita dari mereka yang memakai sikap profesional," kata Pendeta John Piper dari Minneapolis. Dengan mengikuti gema suara Paulus dia bertanya, "Apakah Allah membuat hamba-hamba Tuhan menjadi yang terakhir dalam keseluruhan ciptaan dunia-Nya ini? Demi Kristus kita adalah orang-orang bodoh yang lemah. Menjadi seorang profesional memang bijaksana. Mereka yang profesional memang diangkat dengan kehormatan .... Namun, profesionalisme tidak ada hubungannya dengan inti dan hati pelayanan Kristen karena tidak ada seorang profesional yang seperti anak kecil. Tidak ada seorang profesional yang lemah lembut. Tidak ada seorang profesional yang mencari pertolongan kepada Allah." Bagaimana cara Saudara membawa salib secara profesional? Apakah iman secara profesional itu?

Karierisme telah mendorong adanya pemisahan antara Allah yang memanggil dan individu yang menjawab-Nya. Hal itu mengarahkan kita untuk percaya bahwa penampilan lebih penting daripada diri kita sehingga apa yang kita lakukan dalam lingkungan gereja tak ubahnya dengan pertemuan antara pembeli dan penjual (tempat seperti itu disebut pasar) di mana suasana itu lebih penting dibandingkan posisi kita di hadapan Allah.

Karierisme akan memberikan rasa percaya diri pada kita. Oleh karena itu, kita perlu gemetar dan berseru untuk pengampunan. Hal seperti itu tidak ada dalam silabus para profesional, padahal Paulus sendiri datang ke Korintus dalam kelemahan dan kebodohan. Demikian pula Yeremia yang menelan firman Allah dan dari situ ia hanya mengecap rasa yang tidak enak. Atau pada Yesus yang mengakhiri hidup-Nya di depan umum di atas kayu salib.

PANGGILAN ADALAH SESUATU YANG KITA DENGAR

Sebenarnya, hal yang penting dari panggilan digambarkan dalam cerita rakyat tentang seorang ayah dan anak laki-lakinya. Mereka melakukan perjalanan ke suatu kota yang jauh sedang mereka tidak mempunyai peta. Perjalanan itu sangatlah panjang dan tidak mulus, penuh dengan bahaya. Jalan-jalan yang ditempuh banyak yang tidak bisa dikenali dan sebagian besar sudah tidak berupa jalan lagi.

Di tengah perjalanan, anak lelakinya bertanya-tanya. Dia ingin mengetahui apa gerangan yang ada di balik hutan, jauh di seberang tepian? Bisakah dia melintasi dan melihatnya? Ayahnya pun mengizinkannya.

"Tetapi Ayah, bagaimana caranya supaya saya tahu kalau-kalau saya telah berjalan terlalu jauh dari engkau? Bagaimana caranya supaya saya jangan sampai tersesat?"

"Setiap menit," kata sang ayah, "Saya akan memanggil namamu dan menunggu jawabanmu. Dengarkanlah suaraku, anakku. Di saat engkau tidak bisa lagi mendengar suara ayah, engkau akan tahu bahwa engkau telah pergi terlalu jauh."

Pelayanan bukanlah suatu kedudukan, melainkan suatu panggilan. Bukan ijazah profesional yang diperlukan, melainkan kemampuan mendengar dan memerhatikan panggilan Allah. Cara yang sederhana ialah dengan cukup menyempatkan diri untuk mendekat dan mendengar suara-Nya. Keteguhan dalam melaksanakan tugas-tugas kita yang tidak terpikul hanya bisa diperoleh karena uluran tangan-Nya yang tidak pernah berakhir.

PANGGILAN AKAN TETAP KUAT

Bersatu dalam panggilan Allah merupakan sesuatu yang kejam yang tidak bisa dibantah. Dia memanggil, tetapi Dia tidak bisa dipanggil. Hanya Dialah yang melakukan panggilan itu sedangkan kitalah yang menjawabnya.

"Engkau tidak memilih-Ku; Akulah yang memilih kamu," kata Yesus kepada murid-murid-Nya. Panggilan Allah ini selalu mengandung paksaan. Bahkan sering terkesan kejam.

Setelah pukulan yang membutakan di jalanan menuju Damaskus, pada akhirnya Paulus berkata dengan jelas, "Celakalah aku ini jika tidak mengkhotbahkan Injil!" Yeremia meratap bahwa Allah telah memaksakan panggilan yang dia terima dan tidak pernah membiarkannya untuk ingkar, tidak peduli seberapa parah luka yang terjadi, "Jika aku bisa berkata, `aku tidak akan menyebutkan-Nya atau berbicara lagi dalam nama-Nya,` kata-kata-Nya seperti api dalam hatiku, api yang berada dalam tulang-tulangku. Aku lelah membawa-Nya; sesungguhnya aku tidak mampu."

Spurgeon melihat penawaran secara ilahi ini sebagai tanda yang jelas dari suatu panggilan. Maka, dia menasihati orang muda untuk mempertimbangkan hal ini dan tidak mengambil jalur pelayanan jika mereka merasa bisa melakukan suatu hal yang lain.

Berkali-kali kami berusaha untuk menyederhanakan panggilan itu dengan menyamakannya dengan sebuah posisi staf gereja atau dalam organisasi keagamaan. Tetapi panggilan itu selalu mengalahkan segala sesuatu yang kami lakukan dengan paksa untuk mendapatkan uang. Bahkan jika perlu kami juga melakukan itu di dalam gereja. Kami meminta pembedaan yang sama untuk dicatat dalam permohonan yang dimintakan pada kami. Panggilan kami di dalam Kristus adalah satu hal, sedangkan apa yang kami lakukan adalah dalam kedudukan yang benar-benar berbeda.

Panggilan kami adalah panggilan untuk melayani Kristus. Sementara itu, kami juga memiliki kedudukan untuk melakukan pekerjaan memperoleh jalan dalam dunia ini. Merupakan panggilan juga bagi kami untuk memaksakan kedudukan pelayanan agar bisa masuk dalam panggilan kami. Berbahagialah lelaki atau perempuan yang panggilan dan kedudukannya saling berdekatan. Tapi tidak akan ada bencana jika mereka tidak melakukannya.

Jika esok pagi saya dipecat dari pekerjaan saya sebagai hamba Tuhan di New Providence Presbyterian Church dan saya terpaksa mencari pekerjaan di Stasiun SUNOCO itu, panggilan saya akan tetap melekat. Saya akan tetap terpanggil untuk berkhotbah. Tidak ada yang dapat mengubah panggilan tersebut dengan nyata, kecuali ada situasi yang bisa melarutkan saya. Sebagaimana ditunjukkan oleh Ralph Turnbull, saya bisa berkhotbah seperti hamba Tuhan yang dibayar oleh gereja, tetapi saya tidak dibayar untuk berkhotbah. Saya diberi izin sehingga saya bisa lebih bebas berkhotbah.

Berkali-kali kami mencoba menyederhanakan panggilan itu dengan menjadikannya sebagai rohaniwan. Pendidikan seminari (teologia) tidaklah membuat seseorang memenuhi syarat untuk ditahbiskan menjadi pendeta, tidak juga dengan bertambahnya penguatan oleh tes-tes psikologis dan pengalaman kerja. Tentu saja, hal-hal itu bisa berharga bahkan perlu bagi pelayanan. Tetapi tak satu pun dari persyaratan itu, baik secara terpisah ataupun seluruhnya, bisa memenuhi syarat.

Tidak ada kantor atau posisi yang bisa disamakan dengan panggilan. Tidak pula ijazah, pendidikan, ataupun tes yang bisa mempermudahnya. Pelatihan, pengalaman, ataupun sukses dalam bergereja tidak akan bisa mengambil alihnya.

"Patterson, coba pikirkan apa yang sedang Anda lakukan saat ini?" Jawaban saya adalah mencoba untuk mengikuti panggilan tersebut.

Hanya panggilan yang bisa memberi kepuasan. Yang lain hanya sekadar catatan kaki dan komentar.

*) Ben Patterson adalah pendeta New Providence (New Jersey) Presbyterian Church.

Sumber
Halaman: 
46--50
Judul Artikel: 
Kepemimpinan, Volume 18 Tahun V
Penerbit: 
Yayasan Andi, Yogyakarta 1990

Komentar