Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Mengajar Anak Berdoa

Edisi C3I: e-Konsel 104 - Kehidupan Doa Dalam Keluarga

Doa penting sekali diajarkan kepada anak sejak dini supaya hubungan mereka dengan Tuhan juga bisa terjalin sejak dini. Namun kendala yang sering dihadapi orang tua adalah bagaimana cara mengajarkannya. Simak perbincangan bersama Bp. Heman Elia, M. Psi. (beliau adalah pakar konseling) berikut ini untuk mendapatkan jawabannya. Selamat menyimak!

T : Kita tahu bahwa berdoa atau mendidik anak untuk bisa berdoa dengan baik itu penting sekali. Sebenarnya bagaimana mengajar anak untuk bisa berdoa sendiri?

J : Yang perlu kita perhatikan adalah contoh dari orang tua lebih dulu. Meskipun anak-anak ini tidak mengerti berdoa, berkata-kata kepada suatu pribadi yang tidak kelihatan langsung, tetapi sikap berdoa itu perlu kita ajarkan dan kita contohkan terlebih dulu. Orang tua tidak perlu menjelaskan dulu kepada siapa kita berdoa dan sebagainya, karena itu tidak relevan dan tidak akan dimengerti oleh anak, justru akan menimbulkan berbagai pertanyaan yang kurang perlu.

T : Tentu anak itu memiliki pola pikir yang sederhana, lalu untuk menjelaskannya dengan kalimat-kalimat yang sederhana. Contohnya bagaimana?

J : Pada waktu anak-anak masih sangat muda dan mulai bisa berkata- kata, kita bisa mengajarkan misalnya "terima kasih Tuhan" atau "terima kasih Bapa, amin!" atau pada waktu makan, "Tuhan berkati makanan ini, amin!" Hanya kata-kata yang pendek-pendek saja. Ketika anak semakin besar dan semakin banyak perbendaharaan katanya, kita boleh tambahkan yang lebih panjang lagi. Pada anak- anak yang sudah lebih besar bisa diajak untuk menghafal doa. Kita juga ajak anak-anak ini untuk mendoakan misalnya temannya, kakaknya atau adiknya, ayah ibunya.

T : Seringkali justru karena anak ini sudah hafal lalu doa diucapkan seperti otomatis. Apakah itu tidak membawa suatu dampak yang negatif untuk anak itu sendiri?

J : Selain mengajarkan Doa Bapa Kami, kita juga harus membiasakan anak untuk berdoa secara bebas. Jadi kita berusaha melatih mereka untuk berdoa mengucapkan apa saja kepada Tuhan. Kita katakan kepada mereka bahwa Tuhan itu Raja di atas segala raja yang harus betul-betul kita hormati, kita harus hidup kudus dihadapan-Nya sebelum kita berdoa, dan Dia juga sayang kepada anak-anak. Dia dekat kepada anak-anak dan Dia juga mengasihi kita semua, Dia adalah seorang Bapa yang penuh kasih. Kita sebagai anak Tuhan boleh meminta apa saja dan boleh berkata-kata apa saja sama seperti berkata-kata kepada ayah dan ibunya sendiri. Dan kemudian kita juga perlu tegaskan kepada anak-anak bahwa Yesus itu sangat menghargai anak-anak, Dia pernah mengatakan bahwa yang akan ada di kerajaan sorga adalah mereka yang seperti anak-anak ini. Dengan demikian anak-anak yang polos, yang selalu berdoa dengan kejujuran hatinya ini merasa dikuatkan dan mereka akan lebih berani untuk mengucapkan doa, meskipun dengan kesalahan-kesalahan, kita harus maklumi itu.

T : Apakah hal-hal yang dilakukan di masa kecil ini akan membawa suatu kenangan atau pengaruh untuk masa depan anak?

J : Pasti ada kenangan-kenangan yang indah ketika anak ini berdoa, meskipun misalnya suatu ketika mereka meragukan apakah doanya didengar, mungkin juga kadang-kadang anak ini ketika tumbuh remaja mereka berpikir apakah Tuhan sungguh-sungguh ada dan sebagainya. Tetapi kenangan-kenangan ini akan mengingatkan mereka, ada doa-doa yang pernah dijawab, ada doa yang membuat kita semua merasa terharu dan itu yang diharapkan akan menjadikan anak-anak kita itu selalu ingat untuk hidup di dalam doa.

T : Seandainya ternyata apa yang diinginkan oleh si anak ini tidak terkabul atau tidak terwujud, bagaimana seharusnya sikap orang tua?

J : Kita tidak boleh menjanjikan pada anak bahwa apa yang didoakan itu pasti akan terkabul. Kita semua harus belajar pada doa Tuhan Yesus di Taman Getsemani, di mana Dia berdoa agar Dia tidak usah minum cawan pahit itu, tetapi biar kehendak Tuhan yang terjadi. Anak-anak sering kali mengajukan keinginan kekanak-kanakannya akan suatu mainan, kita bisa katakan bahwa kalau misalnya sesuatu itu entah berbahaya, entah tidak berguna atau kadang- kadang Tuhan memikirkan sesuatu yang lebih dari itu, maka ada kemungkinan permintaan itu tidak dipenuhi. Dan dalam situasi- situasi demikian kita bisa mengajar kepada anak-anak untuk lebih berpikir secara dewasa, untuk menahan diri, dan berdoa tidak hanya sekadar memuaskan hawa nafsu seperti yang dikatakan oleh Alkitab.

T : Sebaliknya kalau apa yang didoakan itu terkabul atau terwujud di dalam hidupnya. Bagaimana kita mengajarkan kepada anak bahwa doanya itu sudah dijawab oleh Tuhan?

J : Kalau misalkan doa anak ini sudah terkabul, kita bisa katakan bahwa kita harus mengucap syukur. Karena seringkali kita mengajar anak untuk berdoa waktu dia sakit dan kita seringkali lupa untuk minta anak mengucap syukur ketika ia sudah sembuh. Nah, di sini kita mengingatkan bahwa ketika anak sembuh, nah ini Tuhan sudah menjawab doa, meskipun itu misalnya lewat dokter dan sebagainya, tetapi yang jelas bahwa Tuhan memberikan kekuatan untuk sembuh, karena banyak orang yang tidak bisa sembuh. Dan kemudian kita mengajak dia berdoa dan mengucap syukur, dengan demikian anak ini tahu bahwa doanya sudah dikabulkan.

T : Hal-hal penting apa lagi yang perlu disampaikan dalam hal mengajar anak untuk berdoa?

J : Sikap doa. Sering kali anak-anak ini tidak bersikap hormat karena mereka masih suka bermain. Kita harus ajarkan kepada mereka bahwa sikap hormat waktu berdoa itu sangat penting dan juga kerendahan hati dan kekudusan waktu kita berdoa di hadapan Tuhan. Kita ingat saja waktu Yesus memberi perumpamaan tentang membandingkan kehidupan doa orang Farisi dengan pemungut cukai, di situ diajarkan tentang kerendahan hati seorang pemungut cukai yang doanya diterima oleh Tuhan. Demikian juga tentang kekudusan, ketika ada dosa di dalam diri kita, kita tidak bisa berdoa dengan baik di hadapan Tuhan. Ini penting kita ajarkan kepada anak jika kita ingin mereka berdoa dengan benar.

T : Apakah ada ayat Alkitab yang tepat yang bisa mendasari atau menjadi kesimpulan dari pembicaraan?

J : 1 Samuel 1:27-28, "Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka akupun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan, lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada Tuhan." Ayat ini mengisahkan tentang Hana yang mendapat anak, yaitu Samuel dan dia mengucap syukur kepada Tuhan. Sikap ini penting bagi orang tua yaitu bagaimana orang tua menyerahkan anak-anaknya kepada Tuhan. Di dalam doanya orang tua mengatakan demikian, "Seumur hidup terserah anak saya mau dipakai Tuhan seperti apa". Hal lain juga yang juga perlu kita ajarkan kepada anak-anak mengenai doa yaitu berdoa tidaklah hanya semata-mata meminta sesuatu dari Tuhan, tetapi juga misalnya bersyukur, memuji-muji kebesaran Tuhan atau hanya sekadar berdiam diri, merenungkan kebesaran Tuhan dan berdiam di hadapan-Nya.

Sumber
Judul Artikel: 
TELAGA - Kaset T102A

Komentar