Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Berselisih Paham dengan Rekan Sekerja

Edisi C3I: e-Konsel 278 - Komunikasi dalam Tim Kerja

"Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHAN-lah yang menguji hati." (Amsal 16:2)

Perbedaan pendapat antar sesama rekan biasa dijumpai, khususnya dalam rapat atau diskusi.

Namun, perbedaan itu kadang-kadang sangat tajam, sehingga menimbulkan benturan-benturan sengit yang mengakibatkan banyak penundaan, karena tak ada kesepakatan yang diraih. Mengapa hal ini terjadi?

  1. Karena masing-masing pihak menganggap usulnya sendirilah yang paling benar, dan menganggap pihak lain sebagai "musuh" atau usulan mereka sebagai "sampah". Kalau sudah begini, masing-masing pihak dikuasai emosi dan tidak lagi dapat bersikap objektif dan rasional. Akhirnya, tujuan mereka tidak lagi mencari solusi, tetapi malah mencari pendukung untuk mengalahkan.

  2. Karena berambisi untuk menang, masing-masing pihak bersikap tertutup, tidak mau mengakui kelemahan atau keunggulan dalam usul masing-masing. Akhirnya, mereka tidak menyentuh pokok masalah, tetapi malah berputar-putar di sekitarnya. Akibatnya, tidak ada penyelesaian.

Untuk mencapai kesepakatan secara efektif dan cepat dengan pihak "lawan", hendaknya masing-masing pihak memahami bahwa:

  1. Perbedaan pendapat adalah sehat, karena mencerminkan tumbuhnya kreativitas dan peran serta aktif dalam memecahkan masalah.

  2. Mereka sebenarnya sedang bekerja sama memecahkan masalah, bukan bersaing atau saling menjatuhkan.

  3. Pendapat seseorang terkadang sulit dipahami karena merupakan jawaban untuk masalah-masalah yang sekarang ini masih belum terpikirkan.

  4. Seseorang umumnya tidak akan begitu saja mau menerima suatu perubahan atau hal-hal yang baginya masih asing dan baru. Mengapa?

    • Karena dalam benaknya telah terbentuk perangkat nilai yang dianggapnya paling ideal dan tak bisa diubah.

    • Karena ia takut bila perubahan itu malah merugikannya.

    • Karena, entah disadari atau tidak, ia terkungkung dalam suatu lingkungan yang membuatnya tidak dapat melihat "dunia luar" dengan kacamata yang lebih terbuka dan objektif.

    • Karena ia pernah punya pengalaman tidak enak dengan adanya perubahan, lalu "alergi" terhadap setiap perubahan, sehingga langsung menolak tanpa mau terlebih dahulu menelaahnya secara saksama.

    • Karena takut melanggar kebijaksanaan yang selama ini dianut.

    • Karena tidak suka bila perubahan ini nantinya malah menguntungkan rekan-rekan yang tak disukainya.

  5. Tanpa disadari, pengertian masing-masing terhadap satu pokok masalah yang sama dapat berbeda jauh. Bila satu pihak mengartikan masalah A sebagai B dan pihak lain mengartikannya sebagai C, tentu keduanya tidak pernah dapat mencapai kata sepakat. Mungkin juga perbedaan itu terletak pada tujuan yang ingin dicapai. Bila tujuan pemecahan suatu masalah adalah X, tetapi satu pihak beranggapan, bahwa tujuan itu adalah Y dan pihak yang lain menekankan bahwa tujuan itu adalah Z, tentu mereka tidak akan pernah sepakat.

  6. Mungkin selama ini mereka tidak membahas masalah secara sistematis dan terencana, tapi main "asal pukul" saja.

  7. Mereka perlu secara terbuka mengakui keunggulan dan kelemahan masing-masing, tanpa perlu merasa gengsi. Bila cara pihak lain memang lebih bagus, mengapa tidak dipakai?

  8. Emosi atau motif-motif lain (misalnya keinginan untuk tampak menonjol, penghargaan, atau keuntungan yang dapat diperoleh bila usul itu disetujui) dapat membuat orang menjadi "bola", sehingga tidak mampu mendudukkan masalah sebagaimana seharusnya dan menghalangi mereka untuk berkomunikasi secara rasional dan mengonsentrasikan diri dalam membahas masalah.

  9. Suatu masalah tidak harus dipecahkan melalui satu cara saja. Mungkin cara masing-masing yang saling berbeda itu dapat dikombinasikan untuk menghasilkan cara yang paling efektif.

  10. Diskusi kelompok kadang-kadang tidak diperlukan, khususnya bila masalah yang hendak dibahas cukup sederhana, dan ruang lingkupnya tidak luas. Ada pepatah Jerman yang berbunyi: "Terlalu banyak koki malah membuat masakan jadi berantakan".

  11. Bila kedua pihak tetap gagal mencapai kata sepakat, sering kali diperlukan pihak ketiga yang netral, objektif, disukai, dan dihormati kedua pihak yang berdebat. Pihak ketiga diharapkan dapat mendudukkan masalah pada proporsi yang sebenarnya dan melihat hal-hal yang gagal dilihat oleh kedua pihak yang berdebat. Bila tidak terpaksa, hendaknya pihak ketiga dipegang oleh orang dalam, bukan oleh konsultan luar. Dalam keadaan darurat, sebagai langkah terakhir kadang-kadang pimpinan perlu memutuskan secara sepihak untuk mengambil alih solusi.

  12. Bila kedua pihak tetap gagal mencapai kata sepakat dan bila waktu, biaya, dan tenaga memungkinkan, masing-masing pihak dapat menjalankan usul masing-masing secara terpisah. Dan setelah batas waktu yang ditetapkan habis, masing-masing harus mempertanggungjawabkan hasilnya, lalu kedua hasil itu diperbandingkan. Bila hasil suatu pihak lebih baik, pihak yang lain harus mengakuinya. Rapat evaluasi perlu diadakan untuk menganalisis cara kerja, keunggulan dan kelemahan masing-masing pihak. Langkah ini cukup memakan banyak sumber daya perusahaan dan hendaknya baru dilakukan hanya bila kondisinya memang memungkinkan.

Biasakan diri Anda untuk menghadapi dan menangani perbedaan secara arif, bukan untuk memecah-belah keakraban dan kerja sama yang telah terbina selama ini. Gunakan perbedaan itu justru sebagai lem yang merekatkan kelompok satu dengan lainnya.

Diambil dari:

Judul buku : 29 Kiat Sukses dalam Karier
Penulis : Arif Suryobuwono dan M. Kurniawati Prayitno
Penerbit : Yayasan ANDI dan YASKI, Yogyakarta - Jakarta, 1994
Halaman : 19 -- 22

Komentar