Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bimbingan Konseling bagi Anak yang Suka Tawuran

Edisi C3I: e-Konsel 252 - Menangani Anak yang Terlibat dalam Perkelahian Antarpelajar

Ditulis oleh: Sri Setyawati

Psikolog A. Bandura mengatakan, "Masa remaja menjadi suatu masa pertentangan dan pemberontakan," karena pada masa ini para remaja terlalu menitikberatkan ungkapan-ungkapan bebas dan ringan dari ketidakpatuhan, seperti model potongan rambut dan pakaian yang nyentrik. Bacaan, film, dan media massa lainnya, sering menggambarkan para remaja sebagai kelompok yang tidak bertanggung jawab, memberontak, melawan, dan bertindak sensasional.

Para remaja adalah kelompok manusia yang masih mengalami perkembangan, baik secara emosi, psikis, dan kepribadian. Oleh karena itu, keadaan mereka bisa dikatakan masih sangat labil. Mereka masih mencari jati diri mereka yang sebenarnya, mudah tersinggung apabila keinginannya tidak terpenuhi, cenderung susah dinasihati karena merasa orang yang lebih tua daripada mereka belum tentu benar, dan lebih merasa nyaman bertukar pikiran atau bergaul dengan teman-teman sebayanya. Jadi, tidak heran jika anak remaja suka berkelompok atau membentuk "geng". Di dalam kelompok tersebut, mereka saling bergantung dan berinteraksi untuk kepentingan bersama. Meskipun belum tentu kelompok yang mereka miliki selama di SMP akan sama hingga mereka berkeluarga nanti, mereka akan tetap membentuk kelompok yang biasanya memiliki minat dan harapan yang sama. Jika 1 orang dalam kelompok suka mabuk, maka anggota yang lain pun ikut mabuk. Dalam hal kekompakan, mereka patut diacungi jempol. Bahkan, saking solidnya, jika seorang dari mereka memiliki masalah dengan orang yang bukan anggota kelompoknya, remaja biasanya akan melibatkan teman sekelompoknya, untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tawuran pun tidak terelakkan lagi.

Beberapa waktu yang lalu, beberapa geng pelajar sempat menyeruak ke media. Contohnya, kelompok kakak kelas (senior) bertindak semena-mena dengan adik kelasnya (junior) dan perkelahian antarpelajar dari sekolah yang berbeda. Mengapa hal ini bisa terjadi? Siapakah yang bertanggung jawab untuk membimbing para remaja/pelajar agar tidak terjerumus dalam perilaku anarkis?

Faktor-Faktor Penyebab Perkelahian Antarpelajar

1. Faktor Internal

a. Keberdosaan manusia.

Sebagai manusia, kita mewarisi dosa keturunan. Dosa dapat mengakibatkan anak-anak memberontak terhadap orang tua dan mengabaikan ajaran Alkitab (Roma 3:23). Dosa yang tidak dibereskan dapat berdampak buruk bagi hidup remaja itu sendiri.

b. Konsep diri yang salah.

Sebagai seorang pribadi yang sedang mencari jati dirinya, para remaja memerlukan pengakuan, dukungan, dan penerimaan dari lingkungan tempat tinggal mereka. Jika hal-hal tersebut tidak mereka dapatkan, para remaja cenderung mencari komunitas yang bisa menerima mereka apa adanya. Saat mereka menemukan komunitas/kelompok yang bisa membuatnya merasa "nyaman", biasanya mereka akan mengorbankan dan melakukan apa saja yang bisa dilakukan untuk kelompoknya, sekalipun mereka harus mengorbankan sekolah, uang, maupun masa depannya.

c. Trauma/luka batin.

Seorang anak yang masa kecilnya sering mengalami tindak kekerasan, baik secara fisik atau melalui kata-kata yang bersifat celaan, biasanya mengalami trauma atau luka batin atas apa yang pernah dialaminya. Hal ini memengaruhi hidupnya ketika beranjak dewasa. Ketika masih kecil, seorang anak cenderung tidak melakukan perlawanan atas perilaku kurang menyenangkan, yang dilakukan oleh orang dewasa. Seorang anak kecil memilih untuk diam/menangis, karena mereka tidak berani melawan orang yang telah berlaku kasar terhadap mereka -- karena mereka lebih tua atau karena badan mereka lebih besar. Namun ketika seorang anak beranjak dewasa, kemungkinan ia akan membalas setiap orang yang menyakitinya.

d. Perubahan hormon.

Ketika anak-anak memasuki usia remaja, mereka mengalami apa yang disebut dengan masa puber. Masa ini merupakan masa transisi -- dari anak-anak ke dewasa. Saat ini, terjadi perubahan hormon yang cukup besar dalam diri remaja. Kadang hormon meningkat secara luar biasa, kadang juga menurun tajam. Keadaan ini membuat remaja terkadang sulit mengontrol dirinya sendiri. Oleh karena itu, hal yang sepele pun bisa memicu emosi remaja, dan akhirnya berlanjut menjadi perkelahian yang sengit.

e. Masalah emosi.

Emosi yang labil memengaruhi remaja dalam mengambil keputusan dan bertindak. Tidak mengherankan jika remaja pria contohnya, lebih mudah marah hanya karena teman perempuannya dilirik atau didekati oleh remaja pria yang lain.

2. Faktor Eksternal

a. Terlalu dimanja.

Seorang anak yang terlalu dimanja oleh orang tua/kerabat, bisa menimbulkan dampak buruk bagi si anak pada masa mendatang. Anak yang keinginannya terus-menerus dipenuhi oleh orang tuanya, akan sulit menerima penolakan. Dalam pergaulan, ketika temannya tidak mau memenuhi dan menuruti keinginannya, kemungkinan anak tersebut akan marah, berontak, memaksakan kehendak, atau bertindak brutal, yang berujung pada perkelahian.

b. Pergaulan/lingkungan.

"Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33) Saat anak remaja bergaul dengan lingkungan/kelompok yang kurang baik, kemungkinan besar ia akan terpengaruh oleh keadaan tersebut. Contohnya, jika ia bergaul dengan kelompok anak-anak yang suka berkelahi/melakukan hal-hal yang berbau kekerasan, lama-kelamaan kebiasaan kelompoknya tersebut memengaruhi pribadi si anak remaja tersebut.

c. Empati kelompok.

Remaja yang sudah bergabung dalam sebuah geng/kelompok, biasanya memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi. Mereka akan tersinggung dan marah, apabila salah seorang teman sekelompoknya disakiti oleh seseorang/kelompok yang bukan anggota mereka. Salah satu hal yang biasanya dilakukan oleh kelompok tersebut adalah membalas pihak yang telah menyakiti anggota kelompok mereka, dengan jalan melakukan kekerasan fisik, sehingga perkelahian pun tidak terhindarkan.

d. Pengaruh media (film, youtube, internet, dll.).

Remaja yang sering melihat adegan kekerasan dalam film-film laga, bisa terpengaruh untuk mempraktikkan apa yang dilihatnya. Ketika dia mengalami masalah, mereka cenderung memilih untuk menyelesaikannya dengan jalan kekerasan daripada memilih jalan damai.

e. Kurang penanaman nilai-nilai kristiani sejak dini.

Masa anak-anak merupakan masa emas untuk menanamkan nilai-nilai hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Jika masa-masa itu dilewatkan oleh orang tua atau pendidik, maka anak bisa bertumbuh menjadi remaja yang tidak punya standar hidup kristiani dalam kehidupannya. Mereka bisa menjadi remaja yang tidak peduli terhadap norma-norma dan etika yang ada di masyarakat. Selain itu, kurangnya pemahaman yang benar akan nilai-nilai Kristen, dapat memengaruhi cara berpikir mereka dalam menghadapi masalah. Melakukan tindak kekerasan bisa menjadi solusi bagi mereka dalam menyelesaikan masalah.

f. Panutan yang kurang tepat.

Orang tua atau orang yang lebih dewasa perlu menyadari bahwa remaja suka mengidolakan seseorang. Dengan kata lain, mereka suka mencari figur untuk dijadikan panutan dalam hidupnya. Ketika dia tidak menemukan figur yang "kukuh" di lingkungan keluarganya, maka dia akan mencari figur lain di luar keluarganya. Sangat disayangkan jika dalam pencariannya, dia menemukan figur yang kurang tepat, yang justru membawanya ke dalam pergaulan yang buruk. Salah satu dampak pergaulan buruk itu bisa membawa mereka menjadi remaja yang memberontak dan suka berkelahi.

Meskipun penyebab perkelahian antarpelajar begitu kompleks, namun mereka yang sudah terjerat dalam penyakit sosial ini bisa dibimbing untuk memperoleh pemulihan.

Dalam bukunya "Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja", Prof. Dr. Singgih Dirga Gunarsa mengatakan, "Usaha untuk mengubah tingkah laku seseorang dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Salah satu metode psikoterapi yang diperkenalkan para ahli dan yang mulai berkembang pada awal tahun 50-an adalah terapi keluarga. Mengapa harus terapi keluarga? Karena keluarga adalah kesatuan sistem sosial terkecil yang anggota-anggotanya saling memengaruhi. Oleh karena itu, dengan melakukan terapi keluarga, yang memusatkan usahanya untuk melakukan perubahan terhadap keluarga sebagai suatu kesatuan dan mencapai keseimbangan yang serasi dalam hubungan-hubungan antarpribadi di dalam keluarga, remaja yang bertingkah laku buruk bisa berubah. Dalam hal ini, orang tua memegang peranan utama."

Berikut ini hal-hal yang sebaiknya dilakukan orang tua, bila anak mereka terlibat dalam perkelahian antarpelajar.

  1. Orang tua perlu memberikan pengertian yang benar kepada anak-anak mereka dengan kasih. Bukan hanya tentang budi pekerti, norma susila, tetapi juga ajaran kekristenan yang benar. Dengan demikian, anak-anak saat beranjak remaja, tidak mudah terpengaruh, meski mereka berada di lingkungan pergaulan yang kurang baik. Dalam periode emas seorang anak (0 - 5 tahun), orang tua harus intens menanamkan nilai-nilai kristiani dalam hidup anaknya. Kenalkan mereka kepada Kristus sejak dini dan berikan teladan hidup yang benar. "Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu." (Amsal 29:17) "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4)

  2. Orang tua harus menjadi teladan dan panutan yang tepat bagi anak-anaknya. "Seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya." (1 Timotius 3:4) Orang tua harus minta hikmat dan bijaksana dari Tuhan agar dapat mendidik anak-anak sesuai kehendak-Nya. Orang tua yang tidak menundukkan diri pada otoritas Tuhan, hampir dapat dipastikan tidak mungkin menjadi teladan dan panutan yang tepat bagi anak-anaknya.

  3. Bimbinglah anak-anak remaja Anda dalam mengambil keputusan. Berikan kepercayaan kepada anak remaja Anda, bahwa mereka pun dapat mengambil keputusan yang tepat. Tanamkan kepada mereka untuk berani bertanggung jawab dan menanggung risiko dari semua keputusan yang mereka ambil. Hal ini akan menolong remaja menjadi manusia yang mandiri dan teguh dalam prinsip.

  4. Bekerja sama dengan pembimbing konseling di sekolah atau di gereja. Orang tua tidak mungkin mengawasi anak remajanya selama 24 jam terus-menerus. Jika remaja Anda terlibat dalam perkelahian antarpelajar, jangan putus asa dan menganggap Anda sudah gagal menjadi orang tua. Bekerjasamalah dengan berbagai pihak, misalnya guru bimbingan konseling/konselor dan pendeta/ketua kaum muda di gereja. Seorang pembimbing konseling sebaiknya memberikan perhatian ekstra untuk anak-anak yang terkena penyakit sosial ini. Jangan hanya memarahi mereka dan menetapkan hukuman-hukuman yang harus mereka tanggung sebagai akibat perbuatan mereka. Bersahabatlah dengan remaja yang sering terlibat dalam perkelahian. Yakinkan bahwa Anda ingin membantu mereka keluar dari kelompok yang "sakit" itu dan memulai gaya pergaulan yang baru. Dengan menjadi sahabat mereka, Anda bisa lebih mudah mencari tahu akar penyebab yang membuat anak terlibat dalam tawuran dan Anda bisa lebih mudah memberikan konseling.

Sumber bacaan:

1. Gunarsa, Prof. Dr. Singgih D. dan Gunarsa, D. Dra. Yulia Singgih (Ed.). 1995. "Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja". Edisi Ketujuh. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. Hlm. 190 -- 222.

2. Sears, David O.; Freedman, Jonathan L.; dan Peplau, L. Anne. ___. "Psikologi Sosial". Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hlm. 106

Komentar