Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Etika Konseling

Etika konseling berarti suatu aturan yang harus dilakukan seorang konselor dan hak-hak klien yang harus dilindungi oleh seorang konselor. Selama proses konseling berlangsung, seorang konselor harus bertanggung jawab terhadap kliennya dan dirinya sendiri.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu konselor harus bertanggung jawab untuk memberi perhatian penuh terhadap klien selama proses konseling. Konselor tidak boleh melakukan konseling ketika energi, atensi, dan motivasinya dibuyarkan oleh jadwal yang terlalu padat, masalah-masalah pribadi, dll.. Mengapa demikian? Itu pertanggungjawaban kita sebagai seorang konselor. Jika kita sedang letih, bosan, atau sedang sibuk mengerjakan sesuatu, kita sulit memberikan perhatian kepada seseorang, kecuali jika mendesak atau orang yang akan konseling tiba-tiba sudah datang.

Di dalam konseling, kita membutuhkan konsentrasi yang penuh. Jadi jika kita sedang bosan dan memunyai banyak masalah, bagaimana kita bisa berkonsentrasi secara penuh? Konseling adalah jenis pelayanan yang sangat menguras energi. Oleh karena itu, pelaksanaan pelayanan ini tidaklah mudah. Kita harus berkonsentrasi dari awal sampai akhir konseling. Pikiran kita menganalisis apa yang dikatakan oleh klien. Sebetulnya, apakah yang sedang dirasakan oleh klien? Apakah yang mengisi pikiran dan hati klien? Jika kita tidak "fully attentive", konseling itu tidak akan berlangsung dan itu berarti kita tidak bertanggung jawab. Menurut saya, konseling biasanya harus didahului "appointment" supaya saya bisa siap. Jika kita keliru dalam menghadapi seseorang, kita akan membuat dia sengsara. Artinya, itu tidak bertanggung jawab.

Konselor harus dapat mengukur kekuatannya supaya dapat melakukan konseling dengan baik. Mengukur kekuatan berarti ia benar-benar mengetahui sekuat apa dia dalam berkonseling. Kita tidak boleh terlalu memaksakan diri. Jika hari ini saya bisa mengonseling 3 orang, jangan dipaksakan untuk mengonseling 5 orang. Setiap konselor memunyai kekuatan yang berbeda. Semakin ahli seseorang, semakin mudah dia berkonsentrasi dalam konseling. Tetapi, dia pun harus tetap mengukur kekuatannya. Anda juga harus menyadari kompetensi Anda dan tidak melakukan konseling di luar kompetensi Anda meskipun ia sangat tertarik. Etika ini sangat penting. Misalnya, saya tidak akan mengonseling anak penyandang autisma karena itu bukanlah keahlian saya. Sangat tidak bertanggung jawab jika saya mengonseling anak tersebut. Jadi, kita harus melihat hingga sejauh mana keahlian kita.

Hubungan konselor dan klien adalah hubungan yang menyembuhkan. Sekalipun profesional, kita tidak boleh menghilangkan relasi personal, misalnya berelasi sebagai teman. Kita harus mengetahui batasnya. Jika relasi kita sebatas personal, kita hanya menjadi pendengar curahan hati. Relasi antara konselor dan klien tidak boleh terlalu personal yang menjadikan klien "over dependent", atau terjadi relasi yang saling memanfaatkan. Jika demikian, mengingat konselor adalah penanggungjawabnya, ia harus menghentikan proses konseling itu.

Konselor sebaiknya berhati-hati juga ketika menyikapi hubungan pribadi dengan klien. Kedekatan yang berlebihan dengan klien sering menjadikan dia sangat bergantung kepada kita. Oleh sebab itu, kita harus bisa menjaga jarak. Kita harus mengetahui tanda-tanda klien mulai bergantung kepada kita. Jika itu sudah terjadi, kita bisa tidak objektif lagi. Kita akan kesulitan dalam melihat masalah klien dan merefleksikan perasaannya ketika relasi tersebut sudah menjadi terlalu personal. Jadi, relasi yang dibangun di antara konselor dan klien haruslah bersifat terapeutik.

Karakteristik Terapis yang Efektif

  1. Beritikad baik: prihatin terhadap keadaan orang lain dan bersedia membantunya (termasuk memperhadapkan dia dengan hal-hal yang belum disadarinya).

  2. Bersedia dan dapat hadir bersama klien dalam pengalaman hidupnya, entah suka maupun duka.

  3. Menyadari dan menerima kelebihannya bukan dengan maksud untuk menguasai atau mendominasi orang lain atau mengecilkan orang lain.

  4. Menggunakan metode dan gaya berkonseling yang sesuai dengan kepribadiannya sendiri.

  5. Bersedia menanggung risiko, rela menjadi contoh, dalam hal ini bagi kliennya. Bersedia disentuh secara emosional dan menyampaikannya kepada klien pada saat itu diperlukan.

  6. Menghargai diri sendiri sehingga mampu berhubungan dengan orang lain. Menggunakan kelebihannya dalam hal berhubungan dengan orang lain.

  7. Bersedia menjadi contoh bagi klien dan tidak menuntut klien melakukan sesuatu yang ia sendiri tidak mampu lakukan. Dituntut kejujuran, keterbukaan, dan kesediaan mengoreksi diri sendiri.

  8. Berani mengambil risiko untuk membuat kekeliruan dan berani mengakuinya pula. Bersedia belajar dari kekeliruan itu tanpa mencela diri sendiri.

  9. Berorientasi pada pertumbuhan: tidak menganggap diri telah memiliki segalanya.

Seorang konselor harus memunyai spiritualitas yang sehat supaya dia bisa menolong kliennya bergumul bersama Tuhan. Banyak klien sering tidak mengetahui apakah arti bergumul dengan Tuhan. Jika konselor tidak memerhatikan kerohanian dirinya sendiri, dia akan kesulitan untuk memberikan konseling.

Siapa yang bisa mengubah hati manusia? Tidak ada! Kita juga tidak bisa, meskipun kita seorang konselor. Hanya Tuhan yang bisa mengubah manusia. Jadi, kita harus sangat memerhatikan pertumbuhan rohani kita. Pilar pelayanan konseling adalah doa. Kita kadang-kadang menemukan orang yang begitu sulit, masalah yang sangat rumit, tetapi Tuhan memberikan pencerahan tentang bagaimana kita bisa menolong orang tersebut. Secara ilmu pengetahuan, analisis kita mungkin baik, tetapi orang kadang-kadang membutuhkan faktor lain. Jika kita tidak melihat pertumbuhan rohani kita, sebaiknya kita tidak memberikan konseling. Itu adalah wujud tanggung jawab kita.

Kita juga perlu membangun kehidupan emosional yang sehat. Artinya, kita memunyai relasi yang baik dengan orang lain, dan kita belajar menyelesaikan masalah-masalah kita sendiri. Jika emosi kita tidak sehat, klien mungkin menjadi sasaran kita. Bukan tidak mungkin kita akan marah atas ketidaksehatan klien.

Bagaimana pembangunan emosi yang sehat? Syarat utama konselor adalah ia seorang yang sudah lebih dahulu dilayani konseling. Saya sudah bertahun-tahun dilayani konseling supaya siap menjadi konselor. Jika kita tidak sehat secara emosi, kita bisa saja kolaps.

Masalah-Masalah Etis dalam Konseling

1. Tanggung jawab profesional.

Apakah saya orang yang tepat untuk menolongnya atau saya harus merujuk konselor lain untuk dia. Apakah saya konsisten pada prinsip dan tujuan selama proses terapi itu, atau saya mulai berkompromi dengan kepentingan atasan?

Konselor harus bersedia merujuk konselor lain untuk klien apabila ia merasa tidak mampu menangani seorang klien yang datang kepadanya. Sebagai konselor, kita dituntut untuk mampu bersikap demikian. Seorang konselor tidak bisa menangani konselinya karena beberapa alasan, misalnya jika kasusnya atau akibatnya bisa menimbulkan sesuatu yang tidak baik (misalnya pada kasus-kasus histeria), atau kita merasa bahwa dia akan lebih baik ditangani seorang konselor wanita, dan sebagainya.

Dengan keahlian yang ada, kita bisa melihat bahwa klien ini sebaiknya kita "refered" ke orang lain. Itu tindakan profesional. Misalnya, jika saya melihat klien ini tidak bisa maju-maju sepanjang konseling dengan saya (konseling juga menyangkut soal kecocokan) atau sukses konseling itu kecil, saya wajib mengarahkan dia ke konselor lain. Ini adalah bentuk pertanggungjawaban seorang konselor. Walaupun kita begitu tertarik pada kasusnya, janganlah merasa kecewa sekiranya kita tidak bisa menangani dia. Dia mungkin tidak cocok dengan kita. Setiap konselor harus memprediksi sukses suatu konseling, hingga sejauh mana bisa berhasil. Kita harus membangun sikap profesional, bukan semata-mata karena keinginan untuk membantu atau tertarik.

2. Menjadi diri sendiri (otentik dan membuka diri).

Bila ketertarikan klien sudah termasuk proses "transference" (pemindahan), perlukah konselor terbuka kepada klien dan mengatakan, "... bahwa saya tidak bisa konseling dengan Anda, karena... " (misalnya kasus klien naksir konselor)? Apakah seorang konselor perlu mengemukakan alasannya secara transparan atau mengetahui keadaan yang sebenarnya?

Ini bergantung pada kesiapan dan kematangan klien. Misalnya, pada kasus klien yang terobsesi pada konselor. Jika perlu, kita bisa mengeksplorasi ketertarikan klien kepada kita, misalnya "Apa yang kamu sukai pada saya?", "Apa yang timbul dalam hatimu ketika kamu saya perhatikan?" Bila klien menjawab, "Saya merasa Anda seperti Ayah saya." Konselor bisa menjawab, "O, jadi kamu sangat merindukan figur Ayahmu yang selama ini hilang dari hidupmu?" (Jadi, jangan tergesa-gesa melepaskan si klien).

Adakalanya terapis ingin menekankan persahabatan. Hati-hati! Jika hanya menekankan persahabatan, kita tidak dapat menekankan sesuatu kepada si klien. Jika kita sedikit menjaga jarak, tekanan itu akan lebih efektif. Hindari berbasa-basi, seperti mengatakan, "Kita kan teman, jangan segan-segan."

Contoh lain, bila klien memang tidak punya teman, lalu kita menawarkan diri menjadi temannya, namun ternyata dia menyebalkan kita. Kita justru menjadi sulit untuk berteman dengannya. Jadi, pelihara bobot pertemanan dan profesionalitas kita. Jangan mengobral kalimat, "Anggap saja kita berteman." Juga hati-hati, jangan berjanji kepada klien "Saya tidak akan meninggalkan engkau", "Saya tidak akan marah kepadamu" sebab dengan berbuat demikian kita sudah membatasi diri kita sendiri.

Sikap membuka diri juga berkaitan dengan gejala pemindahan. Kita akan lebih suka berbicara dengan klien tertentu, namun berbicara seperlunya dengan klien kita yang lain. Adakalanya kita berbicara melucu dan "ngalor ngidul" dengan klien tertentu. Ini adalah gejala "tranference" pada diri konselor. Gejala ini perlu disadari dan ditanyakan pada diri sendiri: demi kepentingan siapa saya berbicara melantur seperti ini? Apakah itu berfaedah bagi klien? Ini menolong kita untuk lebih menguasai diri.

Sebaliknya, jangan menjadi profesional canggung, kaku, dan tidak bisa bercanda (kecuali jika kita berkarakter demikian). Bercanda pun jangan demi kepentingan diri kita, tetapi demi kepentingan si klien.

3. Hati-hati, jangan menyentuh klien.

Tidak semua orang suka disentuh. Tetapi, jika dia yang ingin memeluk kita, tanggapi dia secara tepat (sejenis). Namun, terhadap lawan jenis, jika kita tidak bisa, sampaikan secara terus terang kepada klien. Bisa dengan cara lain, misalnya Anda mengatakan, "Mau nggak jari (jari kelingking) kita berpelukan sebagai tanda kita saling menguatkan satu terhadap yang lain." Tindakan ini akan dikenang lama oleh klien.

4. Dalam hal berdoa.

Apakah doa yang kurang etis (karena tidak terapeutik) dalam konseling? Amati motivasi kita mendoakan klien: untuk apa? Ada waktunya kita tidak perlu mendoakan klien. Misalnya dia, sedang marah kepada Tuhan.

Pemindahan dan Kontra-Pemindahan

Pemindahan (transference) merupakan sebuah proses alam bawah sadar (unconscious) yang diproyeksikan klien kepada terapisnya mengenai perasaan-perasaan, atau sikap/reaksi terhadap tokoh-tokoh penting dalam kehidupan masa lalunya. Pemindahan sering terjadi karena pengalaman masa lalu yang membekas dalam hidup kita.

Dalam proses terapi, pemindahan ini memunyai nilai tersendiri, karena melalui proses inilah klien akan dapat mengungkapkan perasaan-perasaannya yang telah terdistorsi. Sedangkan reaksi yang didapatnya adalah respons terapis dan bukan tokoh-tokoh dalam hidupnya dahulu. Ketika klien memilih terapis A, B, atau C, ini pun suatu pemindahan.

Jadi, prinsip utamanya ialah terapis tidak boleh membiarkan dirinya masuk/terjerat ke dalam proyeksi kliennya. Jika terapis sudah terjerat, hakikatnya ia telah memuaskan kebutuhan neurotik klien, yang akhirnya akan melestarikan kebutuhan-kebutuhan neurotik si klien. Jika klien memproyeksikan figur ayahnya yang galak pada diri terapis, si terapis tidak perlu bereaksi marah atau tersinggung. Dengan demikian, klien menyadari bahwa tidak semua orang seperti ayahnya yang galak itu.

Kontra Pemindahan (Counter Transference) adalah proses pemindahan yang dilakukan terapis terhadap kliennya. Ini terjadi apabila kebutuhan pribadi terapis bercampur aduk hubungannya dengan si klien. Akhirnya, ini dapat merusak objektivitasnya.

Beberapa pertanyaan dapat diajukan kepada diri sendiri untuk mengetahui apakah terapis sedang melakukan kontra pemindahan.

  1. Apakah saya senantiasa membutuhkan pujian dan pengakuan klien? Adakalanya terapis perlu menegur pola pikir klien yang irrasional (ini berisiko).

  2. Apakah saya melihat diri saya pada si klien? Apakah saya makin terserap (karena menyukai), atau makin menjauh (karena melihat karakteristik tertentu pada klien yang Anda tidak sukai). Misalnya, dalam terapi pernikahan atau kelompok, saya lebih menyukai salah satu klien dibanding klien lainnya.

  3. Apakah saya mulai tertarik kepada klien, baik secara romantik atau seksual? Penting untuk Anda ketahui bagaimana menghadapinya secara sadar tanpa merusak proses terapi. Misalnya, jangan menanyakan sesuatu berkaitan seksual yang tidak perlu.

  4. Apakah saya terdorong untuk segera memberikan nasihat kepada klien? Terapis terjebak perasaan diri lebih tinggi dari klien; terlalu khawatir bahwa klien akan mengambil keputusan yang keliru sehingga tidak membiarkan klien mandiri.

  5. Apakah muncul keinginan untuk menjalin persahabatan dalam diri saya? Masih beranikah?

  6. Apakah ada perasaan tidak ingin kalah terhadap klien (menang sendiri)?

  7. Apakah Anda merasa marah melihat klien tidak maju, atau ketika klien kurang menghargai terapi?

  8. Apakah ada dorongan untuk menggunakan kekuasaan saya sebagai terapis?

  9. Jika saya meminta klien datang lebih dari seminggu, untuk kepentingan siapakah itu? Apakah itu untuk reputasi?

Kerahasiaan

Apakah istrinya perlu diberitahu bahwa suaminya telah menyeleweng? Sebaiknya, mintalah si suami sendiri yang menyampaikan. Jika menyangkut anak remaja, ceritakan garis besarnya. Ini pun atas izin dari remaja tersebut. Mintalah dia memberitahukan yang manakah harus dirahasiakan. Jadi, ceritakan gambaran secara umum saja kepada orang tuanya.

Sebaiknya, terapis tidak menceritakan masalah klien kepada siapa pun yang dikenal klien maupun terapis. Ini berbahaya, sebab orang akan mengatakan kita suka bergosip. Semuanya harus dengan persetujuan klien jika memang perlu diceritakan.

Nilai Kehidupan

Tak bisa dihindari, terapi melibatkan nilai kehidupan terapis. Ia tidak mungkin 100% netral ketika bertindak dan bereaksi terhadap klien, yang dipengaruhi nilai kehidupannya. Tanpa sadar ia sudah mengkomunikasikan nilai itu kepada kliennya. Misalnya, ketika ia mengatakan, "Untuk apa ke kamu ke disko, nggak baik itu!" "Tidak boleh berpacaran sebelum 20 tahun, lho!" "Mengapa kamu tidur berdua bersama dengannya (teman sejenis)."

Tanpa disadari sang terapis, ia sering menebarkan nilai hidup tertentu yang dilandasi kepentingan pribadi. Berhati-hatilah, jangan sampai berlebihan dan prematur ketika memberikan nilai kehidupan pribadi, apalagi bukan sesuatu yang prinsip. Waspadalah juga agar tidak menekankan sesuatu yang hanya untuk menyenangkan pribadi klien atau terapis.

Prinsip Etika Psikolog (Konselor)

A. Competence (Kemampuan)

Psikolog harus benar-benar melakukan tugasnya sebaik mungkin (sebaik-baiknya). Ia menyadari bahwa batasan dirinya bergantung pada bidang yang sudah dipelajari dan diterimanya. Ia menyadari bahwa kelompok yang berbeda membutuhkan penanganan secara berbeda pula. Ia harus senantiasa bersedia belajar.

B. Integrity (Integritas)

Ia perlu memelihara integritas pribadi: jujur, adil, dan menghormati orang lain, mengerti nilai-nilai kehidupan, keinginan-keinginan, dan keterbatasan diri pribadinya.

C. Profesional and Scientific Responsibility (Tanggung Jawab Profesional dan Ilmiah)

Ia harus memiliki tanggung jawab profesional. Tidak bertindak sembarangan. Perlu berkonsultasi dengan orang-orang atau lembaga yang berpengalaman dan lebih profesional. Tentang moralitas, psikolog boleh meyakini nilai-nilai itu tetapi tidak boleh merusak terapi. Nilai hidup pribadinya tidak boleh merusak kualitas pekerjaannya. Misalnya, jika ia seorang lesbian, ia tidak boleh memaksakan kliennya agar bersikap permisif terhadap perilaku lesbian. Setiap psikolog harus memerhatikan rekan sekerjanya. Jika ia mengetahui ada yang nakal, ia harus melaporkan rekannya untuk diproses pencabutan izin bekerjanya.

Standar Etika

Prinsip Umum

1. Boundaries of Competence: Kita hanya memberikan layanan yang sesuai dengan training dan pendidikan yang kita terima dan pelajari.

2. Describing the Nature and Results of Psychological Services:

(a) Beritahukan klien apa yang akan kita berikan dan lakukan kepadanya. Setelah selesai, kita wajib memberitahukan kepadanya, supaya ia tidak merasa dirugikan.

(b) Jika kita bekerja untuk suatu lembaga dan diwajibkan melapor kepada lembaga itu, kita harus meminta izin kepada klien.

3. Sexual Harrasment (pelecehan seksual):

(a) Tidak boleh melakukan pelecehan seksual, memikat klien secara seksual, dan atau berperilaku yang bermuatan seksual.

(b) Kita tidak boleh membedakan klien berdasarkan jenis kelamin.

4. Personal Problems and Conflics:

(a) Kita tidak boleh membahayakan klien karena masalah diri kita sendiri (misalnya, kita sedang marah kepada istri di rumah, lalu marah kepada klien).

(b) Jika memunyai masalah pribadi, segera cari pertolongan (jangan terlalu lama). Sementara itu, berhentilah sementara sebagai konselor.

5. Avoiding Harm: Kita tidak boleh merugikan klien. Harus menghindari gangguan.

6. Misuse of Psychologists' Influence: Kita tidak boleh memberikan pengaruh untuk menekan klien. Misalnya, memberi pertimbangan yang keliru demi kepentingan kita.

7. Multiple relationships: Kita tidak bisa menghindari persahabatan dengan klien, namun jangan sampai persahabatan itu mengganggu dan merugikan proses terapi kita. Bila perlu, jagalah jarak dengan klien.

8. Barter (With Patient or Clients): Dalam terapi yang serius, jangan menerima kado atau hadiah dalam bentuk apa pun. Pemberian yang bersifat tidak anti-teraupetik (membangun) boleh diterima dan harus dijaga agar tidak mengekploitasi hubungan itu.

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Sumber
Halaman: 
389 -- 399
Judul Buku: 
Perlengkapan Seorang Konselor
Pengarang: 
Julianto Simanjuntak
Penerbit: 
Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK3)
Kota: 
Jakarta
Tahun: 
2007

Komentar