Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Kasih Tanpa Syarat

Edisi C3I: e-Konsel 279 - Kasih Kristiani

Diringkas oleh: Sri Setyawati

G.K. Chesterson, seorang penulis dan jurnalis, mengatakan bahwa tujuan utama pendidikan bukanlah mempelajari sesuatu, melainkan belajar meninggalkan sesuatu.

Kita perlu belajar melupakan segala anggapan kita dulu mengenai cinta, agar kita dapat memahami kasih kristiani yang sebenarnya. Dalam sebuah upacara perkawinan, ada pasangan yang mengucapkan ikrar perkawinan seperti ini, "Saya berjanji akan mencintaimu selama saya bisa tetap jujur pada diri saya sebagai manusia, saya berjanji akan mencintaimu selama kita mampu saling membantu mengembangkan potensi masing-masing semaksimal mungkin, saya berjanji akan mencintaimu selama cinta kita tak berubah." Janji tersebut mengungkap suatu ketetapan niat yang bersyarat. Janji itu berlaku selama syarat-syarat itu dipenuhi.

Hal ini berbeda dengan kasih kristiani yang tak bersyarat. Dalam mengasihi, kita harus meninggalkan syarat-syarat kasih seperti berikut.

Kasih yang Memilih

Secara alamiah kita cenderung hanya mengasihi orang-orang yang seperti kita; memiliki persamaan suku, minat, hal kejiwaan, pekerjaan, atau ekonomi. Pilihan-pilihan ini menambahkan sebuah syarat pada cinta. "Saya akan mencintai dirimu selama...."

Banyak pria dan wanita modern yang amat pemilih dalam menentukan siapa yang akan mereka kasihi. Pola khas pergaulan semacam ini ialah memilih dua atau tiga orang teman dekat, dan boleh dikatakan mengabaikan yang lain. Bila jumlah teman dekat yang mereka pilih itu menurun, syarat-syarat pun bertambah. Seseorang terpilih sebagai teman, sebab dia seimbang dengan seseorang yang memilihnya. Karenanya, sumber-sumber perselisihan yang mungkin ada diperkecil, agar dapat memperoleh manfaat sebanyak mungkin dari persahabatan itu.

Inilah pola yang saya ikuti sebelum saya menjadi orang Kristen. Saya memunyai dua teman akrab saja. Hubungan kami membentuk suatu lingkungan yang akrab dengan beberapa aspek yang baik, namun tertutup. Hubungan kami menjadi hubungan yang sangat mengikat diri dan terbatas pada kelompok kecil saja.

Akhirnya, kami bertiga menjadi Kristen (menerima Kristus sebagai Juru Selamat) dan menjadi anggota jemaat yang sama. Kami masih tetap berhubungan erat. Dalam banyak hal, ikatan kami semakin kuat, karena ikrar kami sebagai orang Kristen. Namun kini, kami masing-masing juga dekat dengan sejumlah anggota lain dari kelompok yang lain. Dan kami merasa terikat juga pada banyak orang yang sama sekali berbeda dengan diri kami.

Kasih yang Menguntungkan

"Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu... kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat." (Lukas 6:27-28, 32-35)

Kasih kristiani tidak mengharapkan balas budi dari kasih yang mereka berikan. Sebenarnya, kita cenderung mengasihi orang-orang yang mampu membalas kasih kita saja, atau orang-orang yang menghargai kita. Akan tetapi, hal itu membatasi kasih kristiani. Ketika Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, Ia menentukan batas yang lebih tinggi dalam kasih.

Tentu, selalu ada orang-orang yang sukar untuk kita kasihi. Ini normal. Mungkin beberapa orang tadi adalah musuh kita, yakni orang-orang yang hendak menyakiti kita, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang hanya menjengkelkan kita, orang-orang yang kepribadiannya bertolak belakang dengan kepribadian kita. Namun demikian, mengasihi orang-orang seperti ini ada juga keuntungannya bagi kita. Mereka itu seperti kertas ampelas yang menimbulkan pergesekan. Manfaatnya timbul apabila sifat-sifat mereka yang menjengkelkan itu menghasilkan sesuatu yang kita butuhkan, seperti kesabaran yang lebih besar, toleransi, keluwesan, dsb.. Ini semacam pemolesan rohani. Walaupun kita memperoleh manfaat dari pemolesan ini, tetapi ini bukan alasan utama untuk mengasihi orang lain, dengan tidak mempersoalkan apakah kita akan mendapat keuntungan atau tidak bila kita mengasihi mereka.

Adakalanya, orang-orang yang sukar kita cintai ini akan menghargai usaha kita. Tetapi walaupun mereka tak menghargai usaha kita, kita harus mengasihi mereka dan melayani mereka, seperti yang dilakukan Yesus (Lukas 17:11-18).

Walaupun Yesus tidak menyetujui sikap tak tahu berterima kasih, bahkan Ia mengecamnya, namun kasih-Nya tidak bergantung pada ucapan terima kasih yang diberikan, sebagai alasan atas kasih-Nya. Bila kita mendapati diri kita melayani orang-orang yang lupa menyatakan terima kasih mereka, kita tidak boleh menanggapi sikap mereka itu dengan mengatakan, "Itulah kali terakhir saya membantu mereka." Akan tetapi, sebagaimana Tuhan kita, Yesus, kita hendaknya mengasihi dan melayani orang-orang yang tak tahu berterima kasih. Pelayanan ini tak dapat dilakukan dengan kasih yang bergantung pada keuntungan.

Kadang kala, kasih itu menguntungkan. Kasih itu menular. Orang-orang yang kita kasihi cenderung membalas kasih kita. Tetapi keuntungan perseorangan bukanlah urusan kita. Kita harus mengasihi tanpa memedulikan apakah itu menguntungkan atau tidak.

Kasih yang Berhati-Hati

"Kasih itu penuh risiko. Apa yang terjadi bila orang yang Anda kasihi itu berpaling dan mengkhianati Anda? Apakah yang akan terjadi bila orang yang Anda kasihi itu meninggal dunia, atau menemui kemalangan? Bukankah kasih hanya akan membuat hati Anda terluka?" Kasih yang berhati-hati berusaha melindungi diri dari dukacita. Hal menjauhi dukacita, kesulitan, dan cobaan akan menjadi syarat-syarat kasih. Cara semacam ini menjadi semakin umum dalam hubungan kita, dan orang mudah berubah karena mereka mendasarkan kasih pada perasaan.

Tentu saja tidak bisa dijamin, bahwa kasih kristiani tidak akan membawa dukacita. Orang Kristen masih bisa berbuat dosa dan masih dapat saling menyakiti hati. Rasul Yakobus mengatakan bahwa kasih "menutupi banyak dosa." Maksudnya, ada banyak dosa yang dapat ditutupi. Hubungan yang langgeng hanya dimungkinkan dengan menahan kesedihan melalui kasih yang mengikat diri, bukan dengan cara menghindari kesedihan.

Daripada mencari-cari cara melindungi diri agar hati tidak terluka dalam pergaulan kita dengan sesama, lebih baik orang Kristen melakukan pendekatan lain dalam menangani hal tersebut. Dalam pelajaran bela diri, salah satu pelajaran pertama yang diberikan adalah cara menjatuhkan diri yang tepat. Para pelatih bela diri memang realistis. Mereka menganggap bahwa anak-anak asuhan mereka nantinya harus menahan tendangan-tendangan yang tangguh. Maka dari itu, mengetahui cara menjatuhkan diri yang baik, serta cara mengatasi pukulan-pukulan yang datang adalah ketangkasan yang penting.

Orang Kristen juga dapat belajar cara menahan sakit hati dalam hubungan antar pribadi, yakni melalui pengampunan, kesabaran, langsung menangani perselisihan, dst., tanpa membuat semakin tegang ataupun menjaga jarak.

Kasih demi Pemuasan Diri

"Saya butuh hubungan yang penuh kasih, supaya hidup saya memuaskan." Siapakah akan memungkiri fakta yang tersirat di dalam pernyataan itu? Kita semua butuh hubungan penuh kasih agar hidup kita memuaskan. Masalahnya bukanlah pemuasan diri, tetapi menganggap pemuasan diri sebagai tujuan hidup kita.

Bila pemuasan diri adalah tujuan akhir, maka akan ada kecenderungan untuk memandang hubungan kasih sebagai alat untuk mencapai tujuan itu. Sering kali pendekatan ini menuntun kita untuk memusatkan perhatian pada kebutuhan pribadi akan kasih sayang atau pemuasan diri sendiri melalui cinta. Kasih yang tadinya merupakan pelengkap dari pemuasan diri, kini menjadi syarat lain yang harus dipenuhi.

Tujuan hidup orang Kristen bukanlah pemuasan diri, melainkan kasih akan Allah dan sesama manusia. Ajaran-ajaran Alkitab mendorong kita untuk memusatkan diri pada sesama, dan bukan memikirkan diri sendiri. Kita mengasihi, bukan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi sebagai tanggapan kasih Allah, "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita." (1 Yohanes 4:19) Kasih bukanlah upaya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu pemuasan diri, kebahagiaan, ataupun kepuasan pribadi; kasih itulah tujuannya.

Kasih sebagai Ganjaran atau Hukuman

Para ahli ilmu jiwa menyatakan bahwa teknik ganjaran dan hukuman sangat efektif untuk mengubah tingkah laku. Sebagai contoh adalah tikus, ia dapat dilatih untuk melakukan latihan-latihan yang cukup sulit.

Karena kasih itu sangat kuat, kita cenderung memakainya sebagai suatu ganjaran, atau menariknya kembali sebagai hukuman. Tetapi kasih semacam itu adalah kasih yang bersyarat. Kasih kristiani tidaklah untuk diamalkan dengan cara seperti itu. Kita tidak boleh menarik kembali ikatan janji kita untuk mengasihi orang lain, sebagai hukuman bagi orang tersebut bila ia bersalah; kita juga tidak boleh mengancam akan menarik kembali kasih kita, agar ia terdorong untuk mengubah dirinya. Dengan perkataan lain, mengasihi atau janji untuk lebih mengasihi hendaknya tidak dimanfaatkan sebagai alat pemikat.

Saya tidak mau memberi kesan bahwa kita berlaku tidak konsekuen jika kita mengasihi orang lain, dan bersamaan dengan itu pula, kita mencoba mengubah mereka. Kita bisa saja menerima dan mengasihi orang lain, dan pada saat yang sama, berusaha mengubah tingkah laku mereka. Cara Tuhan menerima dan mengasihi kita adalah contoh yang baik, yang dapat kita terapkan dalam hubungan kita dengan sesama.

Dalam kebaktian penginjilan yang dilakukan Billy Graham, sebuah lagu dinyanyikan, "Sebagaimana adaku, kudatang pada-Mu, Yesus." Kata-kata lagu pujian itu menyatakan suatu kebenaran yang penting: Allah mengundang kita untuk datang kepada Yesus dan menerima keselamatan, walau bagaimanapun keadaan kita. Warta suci Kristus bukanlah "berubah dahulu, baru datang", tetapi "datanglah, sebagaimana ada." Meskipun demikian, perubahan merupakan bagian berita keselamatan. "Datanglah sebagaimana adanya, tetapi jangan tetap dalam keadaan itu; berubahlah supaya serupa dengan Kristus."

Maksud kasih yang mengubah tingkah laku ialah bahwa kasih yang kita berikan itu tidak tergantung pada tingkah laku orang, bukan berarti kita tak boleh berusaha mengubah kelakuan orang. Sebenarnya, adakalanya kita wajib mencoba memperbaiki tindak-tanduk seseorang. Misalnya, apabila tingkah laku seorang anak tidak pantas, maka orang tua wajib berusaha agar kelakuan anak mereka berubah. Kita tidak boleh mengabaikan tanggung jawab kita untuk membantu maupun mendorong orang yang kita cintai untuk mengubah kelakuannya, jika memang harus melakukannya. Namun, kita hendaknya jangan mengancam bahwa kita akan berhenti mengasihi mereka, jika mereka tidak mengubah kelakuan mereka.

Kasih yang Harus Setimpal

Keseimbangan dalam kasih itu bertalian dengan menjaga agar semua setimpal. Namun, mencari keseimbangan itu sama seperti hendak menjangkau bintang yang jauh sekali dari kita.

Dalam Efesus 5:25, Paulus mengatakan, "... kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat...." Nasihatnya membatalkan usaha untuk memelihara keseimbangan dalam kasih. Saya tidak dapat membayangkan bahwa Tuhan mengasihi umat-Nya seperti itu. Puji Tuhan, Ia tidak pernah menerapkan prinsip keseimbangan kasih semacam itu kepada saya.

Hanya kasih tanpa syarat -- kasih yang tidak ambil pusing dengan ketidakseimbangan dalam pernyataan kasih -- yang dapat mengakhiri prinsip kasih yang setimpal. Seperti Yohanes menuliskan, "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita," bukan "kita mengasihi agar semua itu setimpal."

Dalam bentuk apa pun kasih itu muncul, kasih yang bersyarat bukanlah kasih kristiani. Kasih kristiani berdasarkan kasih Tuhan yang tidak bersyarat kepada umat-Nya, yakni kasih yang diulurkan-Nya kepada kita, walaupun kita memusuhi Dia (Kolose 1:21-22).

Ringkasan

Kasih yang diamalkan oleh orang Kristen hendaklah kasih tanpa syarat. Kasih yang memilih, mendorong kita untuk hanya mengasihi orang-orang yang serupa dengan kita. Kasih yang menguntungkan, mendorong kita untuk mengasihi sesama bila kita melihat bahwa kasih yang kita tanamkan itu membuahkan hasil/balasan. Kasih yang berhati-hati, berusaha melindungi kita dari sesuatu yang menyakiti hati kita atau dari kekecewaan. Kasih demi pemuasan diri, hanya mengutamakan kebutuhan kita akan pemuasan diri. Kasih yang dipakai sebagai sarana untuk mengubah kelakuan orang yang kita kasihi, berarti menggunakan kasih sebagai ganjaran atau hukuman. Kasih yang harus seimbang, berusaha agar segala sesuatu seimbang, tidak pernah memberikan lebih banyak atau lebih sedikit kepada orang yang kita kasihi. Semua ini adalah bentuk kasih yang menyimpang dari kasih kristiani. Kasih kristiani, sama seperti kasih Tuhan, adalah kasih tanpa syarat.

Diringkas dari:

Judul asli buku : Decision to Love
Judul buku : Apakah Kasih Kristiani Itu?
Judul asli artikel : Tanpa Syarat
Penulis : Ken Wilson
Penerjemah : Tidak dicantumkan
Penerbit : Penerbit Gandum Mas, Malang
Halaman : 42 -- 57

Catatan: Jika Anda ingin membaca artikel ini seutuhnya, Anda bisa mengaksesnya melalui situs Christian Counseling Center Indonesia di alamat: http://c3i.sabda.org/kasih_tanpa_syarat

Komentar