Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Ketika Bunuh Diri Datang Mendekat

Edisi C3I: e-Konsel 401 - Menolong Mereka yang Memiliki Kecenderungan Bunuh Diri

Saya tidak akan pernah melupakan ketika pertama kalinya bunuh diri datang mendekat kepada saya. Saya bertemu dengan seorang wanita muda yang meninggalkan pekerjaan misinya di Eropa Timur. Dia dihantui oleh suatu pengalaman, yang bahkan tidak bisa dibicarakannya -- saya menduga ia terbebani oleh hubungan tidak pantas dengan seorang pemuda yang tinggal di sana.

Gambar: Pergumulan

Dua bulan kemudian, saya menerima surat dari orangtuanya. "Kami ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan Anda terhadap putri kami dan ingin memberitahu Anda bahwa penderitaannya sekarang sudah selesai. Dia merenggut nyawanya sendiri dua pekan lalu." Surat itu penuh iman, kasih karunia, harapan, dan duka. Saya menyimpannya di laci meja saya selama lebih dari satu dekade meskipun saya tidak perlu sesuatu untuk mengingatkan saya bahwa mereka yang kita sayangi dapat mengakhiri kehidupan mereka sendiri, saya juga tidak butuh injeksi yang menambahkan perasaan bersalah "bagaimana seandainya" yang tak ada habisnya. Perasaan tersebut sudah ditorehkan dalam diri saya. Satu-satunya alasan mengapa penyesalan saya atas kematiannya tidak berlangsung lama adalah karena itu telah digantikan oleh bunuh diri lainnya.

Bunuh diri telah mendekat kepada sebagian besar kita. Kita telah membaca tentang cerita bunuh diri dari anak seorang pendeta yang dikasihi baru-baru ini. Kita tahu bahwa sejumlah veteran militer mengakhiri kehidupan mereka sendiri setiap hari, dan bahkan anak-anak dapat berbicara tentang kegelapan internal yang hanya dapat ditemukan pada mereka yang mengalami akumulasi dari banyak masa kesulitan dan rasa sakit.

Apa yang telah kita pelajari?

Kebanyakan bunuh diri berkaitan dengan depresi. Entah bagaimana, depresi bahkan lebih buruk daripada sakit fisik kronis. Mungkin ini karena orang-orang sakit fisik masih bisa melihat kebaikan dalam hidup dan masih dapat berharap, sementara mereka yang mengalami depresi tidak mampu melihat keduanya.

Mereka yang mengalami depresi dapat terlihat melakukan hal yang lebih baik sebelum mereka mencabut nyawa mereka sendiri. Itu tidak selalu terjadi, dan meningkatnya rasa depresi bukanlah bukti bahwa upaya bunuh diri yang pasti akan terjadi. Hal itu berarti bahwa prediksi yang pasti dari bunuh diri hanya mungkin setelah seseorang telah mengakhiri hidupnya, bukan sebelumnya.

Bunuh diri meninggalkan penyesalan yang amat luas. Peninjauan setelah kejadian menyebabkan kita memikirkan puluhan hal yang dapat kita lakukan secara berbeda. Kenyataannya, kita adalah orang-orang yang dapat mengendalikan dengan sangat sedikit.

Ketika kita melihat orang yang kita cintai menarik diri dari hal-hal yang pernah ia nikmati, seperti orang-orang, hobi, pekerjaan, atau bahkan kesenangan estetika, kita dapat mendekati orang itu dan mengajukan pertanyaan yang tulus, "Apa kabar? Saya bertanya-tanya selama ini, apakah kehidupan Anda menjadi begitu sulit akhir-akhir ini." "Saya selalu memikirkan Anda. Mungkin itu karena Anda tampak sedikit lebih menarik diri dan sedih. Bagaimana saya dapat mendoakan apa yang bisa saya doakan untuk Anda?"

Gambar: Pandang Yesus

Ketika kita prihatin untuk orang lain dan tidak tahu bagaimana cara untuk membantu, kita dapat meminta anggota masyarakat yang bijaksana untuk bermitra dengan kita. Ketika harapan berkurang, kehidupan manusia berada dalam bahaya. Keduanya tak dapat dipisahkan. Jadi, mari menjadi orang yang membawa harapan, yang kebetulan merupakan pesan dominan dalam keseluruhan Perjanjian Baru. Gereja mula-mula memiliki pengetahuan yang mendalam tentang penderitaan manusia. Mereka mengetahui sesuatu tentang hidup yang tampaknya tidak memiliki hal yang baik. Mereka harus berlatih melihat realitas abadi dengan iman atau mereka tidak akan bertahan sampai hari akhir. Anda hampir dapat mendengar mereka berbicara di antara mereka sendiri setelah membaca surat apostolik yang ditulis rasul: "Saudara, Saudari, mari kita bertahan bersama-sama, mari kita mengarahkan mata kita pada Yesus, mari kita menjangkau dan merasakan sukacita yang ada di depan, dan mari kita berdoa agar Roh akan memberi kita hal-hal tersebut."

Tuhan, kasihanilah mereka yang terkungkung oleh rasa depresi. Jangan biarkan kegelapan menyentuh mereka. Semoga mereka mendengar kata-kata dari realitas yang lebih dalam dan harapan tulus yang kami miliki oleh karena Yesus hidup. (t/N. Risanti)

Audio: Ketika Bunuh Diri Datang Mendekat

Diterjemahkan dari:
Nama situs : CCEF
Alamat situs : http://www.ccef.org/resources/blog/when-suicide-comes-close
Judul asli artikel : When Suicide Comes Close
Penulis artikel : Ed Welch
Tanggal akses : 5 Januari 2016

Komentar