Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Konseling yang Berhasil

Jika Anda adalah orang yang peduli, Anda pasti memberi konseling. Apabila Anda berkata, "Saya tidak pernah bisa memberi konseling!" Artinya Anda mengatakan bahwa Anda tidak mau mendengarkan orang yang berbeban berat, yang datang kepada Anda untuk meminta pertolongan.

Anda mungkin malu. Anda mungkin merasa tidak mampu. Akan tetapi, orang-orang Kristen rindu menjadi orang-orang yang peduli, dan orang-orang yang peduli lebih rindu menjangkau orang-orang yang terluka daripada menyembunyikan diri dari mereka, sekalipun ini berarti harus berbagi "rasa sakit" dengan mereka. "Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu." (1 Tesalonika 3:12)

Orang yang peduli dapat memberikan konseling dengan baik. Para peneliti melakukan penelitian di sebuah kampus untuk mengetahui perbandingan tentang keefektifan konseling yang dilakukan oleh para konselor profesional dan oleh para dosen biasa. Mereka mendapati bahwa para konselor profesional tidak lebih berhasil dalam menolong para mahasiswa yang bermasalah daripada para dosen biasa. Para konselor profesional memiliki pengetahuan lebih banyak, teknik-teknik mereka pun mungkin lebih baik. Namun, para mahasiswa lebih memilih berkonseling dengan dosen mereka berdasarkan relasi yang terjalin. Para mahasiswa datang kepada para dosen yang mereka kenal dengan baik, yang mereka percaya, dan yang terasa paling banyak memberikan perhatian kepada mereka.

Orang yang memilih berkonseling dengan seorang pendeta dan khususnya dengan istri pendeta, biasanya memilihnya berdasarkan hal yang sama. Konseling semacam ini cenderung berhasil.

"Perjalanan hidup adalah suatu rangkaian kegentingan yang beberapa di antaranya dapat diprediksi dan diduga, dan beberapa di antaranya benar-benar mengejutkan," kata Norman Wright dalam buku "Crisis Counseling". Beberapa krisis membuat orang-orang datang kepada keluarga besar mereka untuk meminta bantuan, dan berharap teman-teman seiman akan mendengarkan dan tetap mengasihi mereka serta memberi penghiburan dan dukungan.

Izinkan saya membagikan 5 rahasia untuk melakukan konseling yang baik:

  1. Belajarlah untuk mendengar. Banyak hal baik yang Anda dapatkan saat Anda mendengarkan konseli, terutama pada awal pertemuan Anda yang pertama.

    • Anda menunjukkan kepada konseli bahwa Anda peduli. Dengarkanlah semua kata meskipun terkesan berlebihan. Kata-kata itu menyampaikan apa yang dipikirkan dan dirasakan konseli. Dengan mendengarkan, membuktikan bahwa Anda peduli, dan orang-orang yang bermasalah benar-benar mau tahu bahwa ada seseorang yang peduli.

    • Bagi konseli, perkataan bisa menjelaskan masalah. Berbicara adalah terapi yang ampuh. Dengan menuangkan perasaan mereka ke dalam kata-kata, orang beralih dari tingkat emosional ke tingkat yang lebih rasional. Baju-baju yang diambil dari tempat cuci dan yang diletakkan di keranjang semuanya diremas, tak berbentuk, dan terpluntir. Namun, menjemurnya di atas tali jemuran, membuat ukuran dan warna-warnanya satu per satu tampak jelas. Pikiran dan perasaan, masalah dan kebutuhan, bisa terlihat sangat rumit. Ketika mengungkapkannya dalam kata-kata, itu seperti menggantung baju-baju di atas tali jemuran. Banyak hal akan mulai terlihat jelas.

    • Bagi konselor, mendengar dapat menjelaskan masalah. Ketika Anda berbicara, Anda tidak belajar. Saat Anda memberi perhatian yang sangat banyak untuk memberi jawaban, Anda bisa saja salah memahami bagian dari pertanyaan-pertanyaan. Banyaklah mendengar agar dapat banyak belajar.

    • Anda mendorong konseli Anda untuk berbicara dengan memberi senyuman, mengangguk, mencondongkan badan Anda kepada konseli, dan menunjukkan perhatian. Kebanyakan konseli tidak merasa bebas berbicara terus, kecuali konselor memberi beberapa penguatan positif. Seperti kata seorang konselor profesional ketika merekrut para pemula untuk membantunya dalam memberi konseling kepada orang-orang yang datang ke klinik berhenti merokok, "Semua yang saya inginkan untuk Anda ketahui adalah satu kata, "Ya, ya ...."

      Pada tahap awal konseling, Anda hanya perlu berbicara untuk menjelaskan apa yang dikatakan konseli. Terkadang apa yang Anda dengar tidak seperti yang ia katakan. Terkadang apa yang ia katakan bukanlah apa yang benar-benar ia rasakan. Ulangilah dengan bentuk pertanyaan menurut Anda apa yang ia katakan. "Benarkah apa yang saya dengar, Anda mengatakan bahwa ketika suami Anda lembur bekerja setiap malam, Anda merasa tertolak?" Konseli akan membenarkan Anda jika Anda benar-benar salah mendengar tentang apa yang ia coba katakan.

    • Jangan mudah terkejut. Apabila Anda tampak terkejut oleh apa yang diungkapkan konseli, ia mungkin akan merasa terancam dan enggan untuk terbuka lebih jauh. Mintalah Allah menolong Anda untuk menerima seseorang meskipun apa yang ia lakukan mungkin tidak Anda sukai. Di sisi lain, Anda tidak perlu mendorongnya untuk menceritakan segala hal dengan detail.

    • Mendengarlah dari dua sisi. Jangan menganggap bahwa apa yang Anda dengar dari satu sisi sudah sangat akurat atau bahwa orang itu sengaja berbohong, tetapi anggaplah bahwa ia benar menurut pandangannya sendiri. Kata-kata sanjungan yang muncul karena Anda dipilih sebagai konselornya cenderung membiaskan pemikiran Anda untuk keuntungannya. Lebih dari itu, setiap orang yang memiliki itikad baik untuk meminta nasihat Anda tidak akan salah jauh! Anda akan cenderung melihat dari sisi orang lain. Apabila memungkinkan, bicaralah dengan orang lain, yang terkait, secara pribadi.

    • Jadilah orang yang tidak menghakimi seperti yang Yesus lakukan terhadap wanita yang ketahuan berzina. Dan biarlah kemurahan Anda berkembang menjadi pesta "yang menyenangkan" bagi Anda dan juga konseli.
    • Saya belajar sebuah pelajaran yang berharga dalam pengalaman konseling saya. Saya pikir saya sudah menginvestasikan waktu ketika bertemu seorang suami dan istri pada kunjungan mereka yang pertama. Akan tetapi, selanjutnya si istri menelepon saya dan memberitahukan kepada saya cerita yang sama sekali baru (berbeda) dari apa yang ia ceritakan di hadapan suaminya. Seluruh gambaran berubah. Sejak saat itu, saya mempraktikkan untuk memberikan konseling secara terpisah pada pertemuan pertama. Konseli Anda mungkin terintimidasi di hadapan pasangan yang dominan.

  2. Fokuskanlah pada solusi. Habiskan sebagian besar waktu Anda pada solusi, bukan masalah! Setengah jam pertama pada pertemuan pertama seharusnya adalah waktu yang cukup untuk mendengarkan masalah. Beberapa orang terus-menerus menceritakan masalah dan menolak untuk mengerjakan solusi. Mereka menginginkan simpati yang lebih banyak daripada menginginkan solusi. Apabila mereka sudah mengatasi masalah mereka, mereka merasa tidak penting lagi untuk konseling. Mereka tidak akan memiliki alasan untuk datang. Anda tidak hanya membuang-buang waktu dengan orang semacam itu, Anda juga melukai mereka dengan memberikan simpati yang berlebihan. Anda akan menjadi tongkat mereka, tetapi menahan mereka untuk berjalan.

  3. Saya suka cerita singkat tentang solusi yang dahulu pernah saya dengar dari Pendeta Glenn Coon. Ia dan istrinya pindah ke sebuah rumah baru, dan bangunannya belum selesai. Ketika Glenn menjejakkan lumpur ke atas karpet baru mereka, istrinya sedih. Akhirnya istrinya berkata bahwa mereka menghadapi masalah. Glenn bertanya apa masalahnya. Jawaban sederhana si istri adalah "lumpur". Lalu mereka mulai mencari solusi. Solusi yang mereka dapatkan adalah meletakkan sepasang sepatu di dekat masing-masing pintu untuk dikenakan Glenn saat ia bekerja di luar rumah. Sepatu itu nantinya bisa ditanggalkan di dekat pintu sebelum ia masuk ke dalam rumah. Pada intinya mereka tidak menghabiskan banyak waktu pada masalah.

    Semua yang terjadi adalah hal sederhana, dengan penjelasan yang cepat atas masalah tersebut, perhatian kita bisa segera beralih pada solusi!

    Cara kristiani untuk mengubah orang lain adalah dengan mengubah diri sendiri. Anda bisa mengetahui apakah Anda benar-benar dapat menolong seseorang atau tidak dengan cara mencari tahu apakah ia berharap untuk membuat perubahan dalam tingkah lakunya sendiri. Sering kali konseling pastoral terdiri atas seseorang yang datang dengan cerita gelap tentang tidak adanya pasangan, dan berusaha menarik simpati. Banyak sekali sesi-sesi konseling yang berakhir dengan sebuah doa yang memohon kepada Tuhan untuk mengubah pasangan. Ini sama sekali bukan konseling Kristen! Cara kristiani untuk mengubah orang lain adalah mengubah dirinya sendiri.

    Kita tidak ingin membiarkan orang lain pergi dengan merasa bersalah karena semua kesalahan yang mungkin mereka buat dalam sebuah hubungan. Di sisi lain, perlu diingat bahwa pengudusan adalah pertumbuhan dalam kasih yang mengarah kepada Allah dan sesama. Kita menolong orang menerapkan kekristenan bagi masalah-masalah mereka ketika kita menolong mereka melihat bagaimana Kristus dapat mengubah sikap dan tingkah laku mereka sendiri dan bagaimana mereka dapat menggunakan kasih kristiani dalam memotivasi pasangan untuk berubah.

    Jangan berusaha mengatasi masalah orang lain. Bantulah mereka untuk memahami apa masalah mereka yang sebenarnya, lalu terapkan cara mereka dalam mengatasinya. Bimbinglah mereka dalam memutuskan perubahan apa yang Kristus kehendaki untuk mereka lakukan sementara Ia bekerja bersama mereka dalam memulihkan relasi.

    Jangan melakukan konseling "besar-besaran" yang mematahkan semangat karena harus mengikuti terapi jangka panjang, khususnya jika Anda menangani konseling pernikahan. Operasi besar mungkin diperlukan meskipun satu pertemuan biasanya tidak langsung mengatasi masalah-masalah pernikahan. Yang membahayakan adalah ketika Anda menolong para konseli untuk mengurangi gejala-gejala, lalu mereka merasa lebih baik dan menganggap semuanya baik-baik saja.

    Saya mengenal pasangan-pasangan yang merasa tekanannya semakin berkurang secara dramatis setelah dua atau tiga kali pertemuan dengan konselor. Kemudian mereka berkata, "Terima kasih, kami tidak memerlukan pertolongan lagi." Namun, setelah beberapa bulan mereka berpisah. Mereka menjadi begitu malu untuk datang kembali dan berkata, "Konseling yang lalu tidak cukup." Sebuah relasi biasanya memerlukan waktu yang lama untuk hancur dan memerlukan waktu yang lama untuk membangunnya kembali.

    Apabila sebuah pasangan mendesak untuk mengakhiri konseling, setidaknya biarkanlah mereka sendiri, dan berikanlah sebuah buku tentang memberi konseling yang baik kepada diri sendiri. Salah satu buku yang bagus adalah "How to Have A Happy Marriage" karangan David dan Vera Mace. Buku ini diuraikan untuk program 6 minggu, yang menolong pasangan mempelajari keterampilan dalam berkomunikasi, berkonfrontasi, dan menghargai.

  4. Tolonglah mereka membuat rencana. Para konseli lebih mudah memikirkan solusi jika ia membuat daftar pilihan yang beragam bersama Anda. Setelah itu, tolonglah mereka memutuskan pilihan yang mana yang kelihatannya paling baik, dan susunlah rencana untuk melibatkan mereka dalam pelaksanaan. Sekarang, tugas utama Anda adalah mendorong mereka mengimplementasikan keputusan mereka sendiri.

  5. Apabila Anda menghadapi konseli yang terus-menerus menelepon Anda dan mengangkat beberapa masalah lama, tanyakanlah kepadanya, "Apakah Anda sudah mengusahakan apa yang kita putuskan?" Jika ia menghindar, doronglah dia untuk mencobanya sebelum Anda mendiskusikan kembali masalahnya. Yakinkan dia bahwa Anda masih akan tetap memberi perhatian, lalu dengan senang hati dan dengan berani tutuplah percakapan dan tutuplah telepon Anda. Jika ia tidak mau menolong dirinya sendiri, Anda tidak dapat menolongnya.

    Banyak hamba Tuhan dan pasangannya merasa didominasi oleh telepon dari banyak orang, demikian juga jam-jam berharga yang dapat digunakan untuk memenangkan jiwa. Jika Anda menganggapnya sebuah masalah, cobalah mengikuti kelas training ketegasan. Dalam sebuah koran yang berjudul "Mengapa Seorang Istri Pendeta Kepayahan?" Roy Oswald, dari Institut Alban, menyatakan bahwa para istri pendeta sering kali meyakini bahwa para jemaat mengharapkan mereka menjadi orang yang pasif dan tidak memedulikan kebutuhan mereka sendiri. Akhirnya, kebiasaan pasif membuat mereka kehilangan kontrol atas diri sendiri. Sebaliknya, kebiasaan agresif berarti mengeksploitasi atau memaksa orang lain. Kebiasaan tegas kristiani merupakan perasaan jelas tentang siapa Anda dan apa yang dapat dan tidak dapat Anda berikan. Anda bisa senang dan menerima penelepon yang benar-benar memerlukan bantuan, tetapi tidak membiarkan agenda siapa pun mendominasi Anda.

  6. Ketahuilah kapan harus mengarahkan. Saat mendengarkan, amatilah respons-respon yang kurang tepat seperti pengutaraan lisan yang tidak logis, emosi yang tak terkontrol, mata yang melihat ke mana-mana atau tidak fokus, depresi ekstrem, ketidakmampuan untuk membuat keputusan sederhana, keyakinan bahwa orang lain tidak dapat memahami mereka, kehilangan kontrol untuk makan, dan kebiasaan lainnya. Hal-hal tersebut bisa menjadi gejala-gejala gangguan psikis, dan orang-orang yang memperlihatkan hal itu harus diarahkan kepada konselor profesional atau psikiater yang terlatih dalam menangani kondisi tersebut. Carilah bantuan-bantuan yang tersedia di daerah Anda yang dapat Anda ajak untuk bekerja sama dalam menangani kasus-kasus yang tidak dapat Anda tangani sendiri. Anda dapat mencari bantuan dengan bertanya pada departemen kesehatan mental di negara Anda.

  7. Jagalah rahasia dengan sungguh-sungguh. Ketika seseorang membuka rahasia hatinya kepada Anda, Anda mendapatkan tanggung jawab besar untuk menjaga rahasianya dengan sungguh-sungguh! Jika Anda tidak dapat menjaga kepercayaan, jangan memberi konseling. Lebih baik Anda memberitahunya bahwa Anda tidak pandai menjaga rahasia, tanpa sengaja ada saja rahasia yang tercetus pada saat yang tidak tepat. Saya mengenal salah satu istri pendeta yang meminta suaminya dan orang lain untuk tidak menceritakan rahasia apa pun kepadanya. Itulah cara yang sengaja ia berikan agar rahasia mereka terjaga.

  8. Hati-hatilah dengan orang-orang yang suka bergosip. Mereka cenderung lebih banyak "memancing" informasi. Misalnya, seseorang mungkin berkata kepada Anda, "Saya tahu Mary sedang memikirkan tentang perceraian." Orang yang suka bergosip ini melihat Mary berkonseling dengan Anda di kantor gereja, dan ia melihat suami Mary tidak bersama dengannya baru-baru ini. Ia tidak benar-benar mengetahui bahwa Mary berpikir tentang perceraian, ia hanya ingin mencari tahu! Jika Anda mengira ia tahu dan menjawab ya, Anda sudah membocorkannya.

    Jangan kaget jika seseorang yang berkonseling dengan Anda selanjutnya menghindari Anda karena relasi Anda sudah berubah. Ini benar-benar terjadi terutama pada seseorang yang jarang menceritakan perasaannya kepada orang lain sebelumnya. Saya ingat akan seorang wanita yang menyeberang jalan ketika ia melihat saya datang. Saya bertanya-tanya apakah saya sudah mengecewakannya. Selanjutnya ia memberi tahu saya bahwa ia sangat menghargai pertolongan saya. Ia hanya malu karena ia tahu bahwa saya melihatnya.

    Ajaklah orang yang berkonseling dengan Anda untuk berdoa karena doa membantu memfokuskan perhatiannya pada Sumber pertolongan yang sejati -- Allah.

Apabila Anda peduli, kembangkanlah keterampilan konseling yang baik, dan sediakan waktu untuk memberi konseling. Anda dapat menjadi penolong yang hebat untuk suami Anda. Konseling yang Anda lakukan mungkin cukup berarti dan membantu meringankan bebannya. Mungkin Anda dapat tawar-menawar dengannya, memintanya untuk sepakat meluangkan waktu bersama Anda dan keluarga Anda. Jika konseling adalah karunia yang Allah berikan kepada Anda, gunakanlah itu untuk memuliakan Dia. (t/S. Setyawati)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Ministry
Alamat URL : https://www.ministrymagazine.org/archive/1987/04/successful-counseling
Judul asli artikel : Successful Counseling
Penulis : Ellen Bresee
Tanggal akses : 21 Oktober 2014

Komentar