Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Kristus Menderita dan Mati untuk Pengampunan Dosa-Dosa Kita

Edisi C3I: e-Konsel 358 - Karya Keselamatan Kristus

"Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya." (Efesus 1:7)

"Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa." (Matius 26:28)

Ketika kita membebaskan utang atau mengampuni suatu pelanggaran atau luka, kita tidak menuntut pembayaran untuk penyelesaian. Hal itu dapat menjadi sesuatu yang berlawanan dengan pengampunan. Jika uang ganti diberikan untuk sesuatu yang kita hilangkan, tidak perlu ada pengampunan. Itu memang kewajiban kita.

Pengampunan itu memuat anugerah. Jika saya terluka karena Anda, anugerah akan membiarkannya berlalu. Saya tidak menuntut Anda. Saya memaafkan Anda. Anugerah berarti memberikan sesuatu kepada orang yang sebenarnya tidak pantas menerimanya. Karena itu, pengampunan mengandung kata "memberi" di dalamnya. Pengampunan tidak memiliki unsur "mendapatkan" yang sepadan. Pengampunan itu melepaskan hak untuk mendapatkan yang sepadan.

Itulah yang Allah lakukan kepada kita ketika kita memercayai Kristus: "... barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya." (Kisah Para Rasul 10:43) Jika kita percaya kepada Kristus, Allah tidak lagi menyimpan dosa-dosa kita untuk melawan kita. Inilah kesaksian Allah sendiri di dalam Alkitab: "Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu." (Yesaya 43:25) "Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita." (Mazmur 103:12)

Namun, hal ini menimbulkan masalah. Kita semua tahu bahwa pengampunan tidaklah cukup. Kita hanya dapat melihat pengampunan dengan jelas jika luka yang kita dapatkan sangat besar, seperti pembunuhan atau pemerkosaan. Baik masyarakat maupun alam semesta tidak ada yang dapat menahan diri jika para hakim (atau Allah) hanya berkata kepada setiap pembunuh dan pemerkosa, "Apakah Anda menyesal? Baiklah. Negara mengampuni Anda. Anda boleh pergi." Dalam kasus seperti ini, kita melihat bahwa meskipun seorang korban mungkin memiliki kebesaran hati untuk mengampuni, negara tidak dapat mengabaikan keadilan.

Demikian halnya dengan keadilan Allah. Semua dosa bersifat serius karena dosa adalah melawan Allah. Dia adalah Pribadi yang kemuliaan-Nya tercabik ketika kita mengabaikan, tidak taat, atau menghujat Dia. Keadilan-Nya tidak akan lagi membiarkan kita dibebaskan begitu saja seperti penghakiman manusia yang dapat membatalkan semua utang yang dimiliki seorang pelaku kejahatan terhadap masyarakat. Pengrusakan yang dilakukan terhadap kemuliaan Allah oleh dosa-dosa kita harus dipulihkan supaya dalam keadilan, kemuliaan-Nya terpancar lebih terang. Jika kita, para pelaku tindak kriminal, dibebaskan atau diampuni, dalam hal ini harus ada beberapa demonstrasi dramatis yang menunjukkan bahwa kemuliaan Allah ditegakkan walaupun penghujat sebelumnya dibebaskan.

Itulah sebabnya, Kristus menderita dan mati. "Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya." (Efesus 1:7) Pengampunan tidak menuntut apa pun atas kita. Semua ketaatan kita yang berharga merupakan buah, bukan akar, dari pengampunan yang kita terima. Karena itu, kita menyebutnya anugerah. Akan tetapi, hal itu mengharuskan Yesus membayarnya dengan nyawa-Nya. Itulah sebabnya, kita menyebutnya adil. Oh, betapa berharganya berita yang mengatakan bahwa Allah tidak menyimpan dosa-dosa kita untuk melawan kita! Betapa agungnya Kristus, yang darah-Nya menjadikan apa yang dilakukan Allah benar. (t/S. Setyawati)

Sumber asli:

Judul asli buku : The Passion of Jesus Christ
Judul asli artikel : Christ Suffered and Died for the Forgiveness of Our Sins
Penulis : John Piper
Penerbit : Crossway Books, Wheaton 2004
Halaman : 36 -- 37

Diambil dari:

Nama situs : Paskah Indonesia
Alamat URL : http://paskah.sabda.org/
Tanggal akses : 5 Februari 2014

Komentar