Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Membangun Pernikahan dan Keluarga Kristen

Kegagalan membangun suatu pernikahan dan keluarga kebanyakan disebabkan kurangnya pemahaman yang benar tentang hakikat pernikahan Kristen dan lemahnya konsistensi terhadap komitmen yang dibangun bersama.

Memahami Hakekat Pernikahan Kristen

  • Pernikahan Kristen berdasarkan pada inisiatif atau rancangan Allah (Kej 2:18).
  • Pernikahan Kristen dirancang oleh Allah untuk menyelesaikan problem pertama manusia yaitu kesendirian/kesepian (Kej 2:18-22).
  • Pernikahan Kristen dirancang oleh Allah untuk memberikan kebahagiaan bersama bukan kesedihan (Kej 23).
  • Pernikahan Kristen harus dimulai dari meninggalkan semua hubungan yang lain dan membangun hubungan permanen antara suami istri (Kej 2:24).
  • Pernikahan berarti kesatuan dalam pengertian fisik yang intim (Kej 2:24-25). Kesatuan daging atau bersetubuh (Kej 4:1) mengunakan kata “to know” artinya mengenal fisik yang intim dan mengenal diri yang lembut. Dalam Perjanjian Baru, Roh Kudus mengidentikkan kesatuan suami istri sama dengan hubungan Kristus dan gereja-Nya (Ef 5:22-33).

Membangun Komunikasi Yang Bermakna

Komunikasi adalah proses “sharing” diri secara verbal maupun nonverbal yang dilakukan dengan baik, sehingga pasangan dapat menerima dan mengerti apa yang Anda “sharing-kan" kepadanya.

Kiat Membangun Komunikasi Yang Bermakna

Unsur-unsur yang terlibat di dalam komunikasi yang bermakna:

  1. Aspek Rohani. Dimensi rohani sebagai dasar dimensi lainnya. Kesatuan aspek rohani. Keduanya telah beriman kepada Yesus, keduanya bertumbuh secara rohani (tampak dalam kerinduan untuk berdoa, merenungkan dan mempelajari firman Allah dan beribadah), dan dipenuhi oleh Roh Kudus.
  2. Aspek Jiwa. Kesatuan jiwa yang terdiri dari pikiran, perasaan dan kemauan.
    • Pikiran. Bagaimana keduanya menyatukan pikiran: pendapat, pemahaman, persepsi, rencana (planning), pendidikan, dsb..
    • Perasaan. Hal ini menyangkut penerimaan, penghargaan, kenikmatan, cara mengungkapkan perasaan, dan ketakutan-ketakutan tentang pernikahan.
    • Kemauan. Setiap individu berbeda gaya dalam mengungkapkan kemauan/kebutuhan, mencari pola tepat untuk mengungkapkan kemauan, berusaha memahami kemauan pasangan, dan menghindari egoisme dan berusaha memenuhi kebutuhan pasangan.
  3. Aspek Fisik. Kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan dan seks). Pertahankan dan tumbuhkembangkan hubungan seks positif, serta hindari hal-hal yang menganggu (berdiam diri, curiga, marah, sakit hati, salah pengertian, takut, perasaan bersalah, dll.).
  4. Pahami Perbedaan Psikofisiologis. Perbedaan fisik dan psikis yang saling pengaruh mempengaruhi. Kecenderung lazimnya:
    • Suami lebih bersifat pelaku. Seharusnya suami mengambil inisiatif, istri bersifat menunggu.
    • Suami cenderung mengambil risiko atau kesempatan memikul tanggung jawab, sedangkan istri mendapatkan pemenuhan diri dengan cara menjadi sesuatu.
    • Suami selalu berpikir dengan logika (otak), sedangkan istri dengan perasaan (hati).
    • Suami cenderung berurusan dengan dunia luar, pekerjaan, dll..
    • Suami sering tidak peka terhadap kebutuhan istri.
    • Suami atau pria sebagai pengamat wanita, sedangkan wanita bukan penonton pria.
  5. Perbedaan Psikoseksual.
    • Orientasi. Suami lebih berorientasi pada aspek fisik: kesatuan fisik, seks menjadi prioritas utama. Sedangkan istri lebih berorientasi pada aspek emosi, keamanan, holistik dan seks salah satu prioritas.
    • Stimulus/rangsangan. Suami terangsang melalui mata dan wangi-wangian dan tubuh, sedangkan istri sikap, kata-kata, jamahan, dan kepribadian.
    • Kebutuhan. Suami membutuhkan penghargaan, respek dan dikagumi, sedangan istri membutuhkan pengertian, kasih, dan keamanan.
    • Kenikmatan. Puncak kenikmatan suami ditandai dengan orgasme. Bagi istri tanpa orgasme dapat puas.
  6. Pola Komunikasi.
    • Suami bila berkomunikasi, ia mempertimbangkan dahulu masalah yang ada dengan sangat hati-hati. Mereka akan mendiamkan dan mengamati apakah masalah itu akan terselesaikan dengan sendirinya. Dalam proses ini, kadang-kadang suami tidak perlu bicara. Bila cara ini berhasil, ia akan tenang. Akan tetapi, bila tidak berhasil ia mungkin akan mengungkapkannya dengan bentuk marah.
    • Suami cenderung berkomunikasi dengan tujuan memecahkan suatu masalah serasional mungkin, berbeda dengan istri yang lebih mengutamakan hati.
    • Suami pada umumnya lebih bersifat nonverbal, beda dengan istri.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : operatif.blog.com
Alamat URL : http://operatif.blog.com/
Penulis : Suharta Natanael
Tanggal akses : 26 Juli 2012

Komentar