Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Mengampuni Orang Lain

Edisi C3I: e-Konsel 215 - Pengampunan

Sama seperti dosa memisahkan manusia dari Allah, dosa memisahkan manusia dari manusia. Karena itu, pengakuan dan pengampunan antarmanusia merupakan jalan kasih. Pengampunan merupakan tindakan yang terlibat dalam mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri dan khususnya dalam orang-orang Kristen yang saling mengasihi seperti Yesus mengasihi mereka.

Ketika seseorang sungguh-sungguh mengerti pengampunan Yesus dan apa yang harus ditanggung-Nya untuk mati di kayu salib, dan ketika ia telah menerima pengampunan ini dari Yesus, maka ia akan mampu mengampuni orang lain. Tetapi jika ia tidak mengerti arti salib, atau jika ia merasa bahwa ia tidak membutuhkan banyak pengampunan dari Allah, maka mungkin ia tidak bersedia untuk mengampuni.

Pada waktu kita mengampuni seseorang, kita sendiri menanggung harga dosa yang dilakukan terhadap kita. Sering harganya tinggi sehubungan dengan emosi, sakit hati, dan kekecewaan. Karena itu, pengampunan harus lebih merupakan suatu pilihan daripada suatu perasaan. Ini adalah pilihan dan janji untuk tidak lagi menanggungkan dosa kepada si pelanggar.

Ini adalah respons kasih yang aktif oleh seseorang yang didiami Allah dan yang ingin supaya kehidupan Yesus dinyatakan melalui dia. Pengampunan menerima rasa sakit yang disebabkan oleh pelanggaran dan melepaskan hak untuk membalas dan untuk merasakan kepahitan hati atau kemarahan. Jika seseorang terus-menerus menaruh dendam terhadap seseorang, maka hal itu berarti pengampunan belum dilaksanakan.

Pengampunan dimulai dari jiwa seseorang ketika ia memutuskan untuk mengampuni, bahkan sebelum orang yang berdosa itu bertobat. Suatu sikap mengampuni memampukan seseorang yang disakiti hatinya untuk memberikan pengampunan verbal secara cuma-cuma kepada orang berdosa ketika orang tersebut mengakui dosanya dan bertobat. Suatu sikap mengampuni mencegah kepahitan hati dan kemarahan, namun tidak mencegah seseorang untuk berusaha memperbaiki keadaan dengan cara melakukan konfrontasi seorang saudara seiman dalam kasih.

Sikap tidak mengampuni mengakibatkan hubungan yang buruk dan bahkan masalah-masalah kesehatan. Sikap ini membuat orang yang tidak mau mengampuni dan yang tidak diampuni tetap berada dalam belenggu. Sering akar dari sikap tidak mengampuni tertanam dalam-dalam dan membuat seseorang melanjutkan pola pemikiran dan tingkah laku yang merusak dirinya dan orang lain.

Sikap tidak mengampuni juga sering menyebabkan seseorang menjadi kesepian dan menaruh dendam. Karena ketidakadilan atau dosa yang tidak mengampuni membentuk suatu penghalang bagi keintiman dan rasa belas kasihan, maka kepekaan terhadap orang lain diganti dengan perlindungan dan pembenaran diri sendiri. Pasangan-pasangan yang mengeluh bahwa mereka memunyai masalah komunikasi mungkin menyembunyikan sikap tidak mengampuni. Kemarahan dan kepahitan hati sering sukar diatasi karena keduanya terserap ke dalam sifat orang yang tidak mau mengampuni. Tetapi dengan pertolongan Allah kita mungkin mengatasi pola-pola seperti itu.

Di samping menciptakan penghalang-penghalang antarmanusia, sikap tidak mengampuni menjauhkan manusia dari Allah. Jika seseorang tidak dapat mengalami kasih dan pengampunan Allah, ada kemungkinan ia tidak mau mengampuni orang lain. Hati yang tidak mengampuni sering menjadi penghalang bagi seseorang untuk menerima kasih Allah. Kepahitan hati mengeraskan hati sehingga tidak mau menerima kasih Allah dan kasih orang-orang lain.

Jika seseorang tidak mau mengampuni, ia tidak dapat menerima apa yang ditawarkan Allah dengan cuma-cuma. Yesus memberikan peringatan yang jelas sekali berkenaan dengan pengampunan (Matius 6:14-15). Banyak orang hidup dalam penghukuman dan rasa bersalah karena mereka telah menolak untuk mengampuni orang lain.

Pilihan untuk mengampuni akan mengaktifkan pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan seseorang. Ketika seseorang memilih untuk mengampuni, ia bertindak sesuai dengan sifat Allah. Ia sedang melakukan tepat seperti apa yang sedang dilakukan Tuhan: mengampuni.

Pilihan untuk mengampuni melepaskan seseorang yang mengampuni itu dari kepahitan hati dan kemarahan yang lebih lanjut dan membebaskan dia untuk mengasihi dan hidup dalam hubungan dengan Allah dan orang lain. Pilihan untuk mengampuni juga memberikan kebebasan kepada orang yang bersalah untuk melakukan apa yang benar.

Pengampunan juga berarti memercayai Allah untuk menangani orang yang bersalah maupun akibat-akibat kesalahannya. Pengampunan melepaskan orang yang mengampuni dan orang yang diampuni dari hubungan yang mempersalahkan, balas dendam, kepahitan hati, dan kemarahan. Pilihan untuk mengampuni membuka arus kasih Allah melalui orang yang mengampuni.

Berkat-berkat pengampunan sungguh mengagumkan, tetapi orang-orang percaya harus mengatasi rintangan-rintangan tertentu terhadap pengampunan. Satu rintangan yang menyangkal pelanggaran atau sakit hati dengan tidak mengakui bahwa pelanggaran telah dilakukan terhadap kita atau dengan menjadi marah dengan segera. Juga, ada kecenderungan manusia untuk mempersalahkan orang lain dengan tujuan membenarkan diri.

Sering dalam proses pengampunan seseorang harus mengakui kesalahannya sendiri dalam keadaan itu. Ia mungkin harus mengakui dosa dan juga mengampuni. Namun, pengakuan tidak boleh berisi tuduhan seperti: "Ampunilah saya atas kemarahan saya terhadap Anda karena Anda tidak berpikiran panjang."

Sebagian orang takut bahwa jika mereka mengampuni, mereka bersalah karena justru memberi kebebasan kepada orang mengulangi kesalahannya. Pengampunan tidak bersifat pasif; pengampunan sebenarnya merupakan suatu pilihan yang membebaskan kita untuk mengubah keadaan atau menyelesaikan masalah yang mungkin telah mengakibatkan pelanggaran. Akhirnya, kita mungkin tidak mau mengampuni karena kita memusatkan perhatian pada sakit hati pribadi dan tetap memikirkan ketidakadilan dan tidak memilih untuk mengasihi orang lain sama seperti diri sendiri.

Pembimbing perlu menjelaskan prinsip-prinsip dan sumber pengampunan sehingga orang itu dapat mengampuni bukan hanya pelanggaran-pelanggaran yang sekali-sekali, tetapi juga pengulangan pelanggaran yang sama (Lukas 17:3-4).

Karena manusia tidak dapat dengan sepenuhnya mengalami arus pengampunan dalam menghadapi ketidakadilan, kekerasan, penolakan, kemarahan, dan sakit hati, maka perlu sekali adanya pengampunan ilahi untuk mengalir melalui orang percaya yang disakiti. Sama seperti Yesus mengampuni setiap orang, Ia hidup di dalam orang percaya untuk mengampuni.

Pengampunan adalah tindakan bersama. Yesus memampukan orang-orang percaya untuk mengampuni karena mereka memilih untuk mengampuni. Sebaliknya, sikap tidak mau mengampuni adalah dosa dan memisahkan orang yang tidak mengampuni itu dari Allah.

Dunia bukan tempat yang adil, namun ada Allah yang adil yang juga mengasihi dan mengampuni. Banyak penderitaan berasal dari ketidakadilan. Jika seseorang menghubungkan ketidakadilan kepada Allah, maka ia tidak akan mengerti kasih dan pengampunan Allah. Karena itu, seorang pembimbing mungkin perlu menggunakan banyak waktu untuk mengajarkan sifat Allah, keadilan Allah, dan pengampunan Allah sehingga orang yang dibimbing akan bersedia untuk mengampuni dan diampuni.

Ketika seseorang sungguh-sungguh memilih untuk mengampuni, tindakan itu dilaksanakan oleh kehendak dan dimampukan oleh Roh Kudus. Namun, pembimbing dapat memberikan kepada orang yang dibimbing gambaran mengenai langkah-langkah berikut menuju pengampunan.

1. Memberitahukan kepada Allah tentang situasinya, mengakui dosa-dosa Anda, dan memohon kepada-Nya untuk memberikan kesembuhan, pengampunan, dan kemampuan untuk mengampuni.

2. Ingatlah akan besarnya pengampunan Allah dan mahalnya harga salib Kristus.

3. Pilihlah untuk mengampuni dan untuk tidak menanggungkan kesalahan terhadap orang yang bersalah.

4. Jika Anda sendiri telah berdosa terhadap orang yang bersalah, hampirilah dia dan akuilah dosa Anda sendiri dan mintalah pengampunan tanpa mempersalahkan atau bahkan mengharapkan dia untuk meminta pengampunan Anda.

5. Tetaplah bersikap mengampuni dan lawanlah pencobaan untuk menaruh dendam untuk luka-luka masa lampau.

6. Jika sikap tidak mengampuni atau kepahitan hati lagi-lagi timbul karena hal-hal yang mengingatkan kembali atau karena dosa itu diulangi, pertahankan pilihan untuk mengampuni dengan sungguh-sungguh sekalipun jika perasaan lambat untuk menerima.

Jika seorang yang dibimbing tetap merasa sakit hati karena suatu kesalahan atau memunyai perasaan untuk tidak mengampuni setelah memilih untuk mengampuni, pembimbing dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut.

1. Apakah Anda masih sakit hati? Jika demikian, ingatlah bahwa sebagian luka pribadi mungkin tidak sembuh sama cepatnya seperti pilihan untuk mengampuni. Perasaan sakit hati tidak selalu merupakan petunjuk dari sikap tidak mengampuni.

2. Apakah Anda memilih dengan tindakan Anda untuk tidak menuntut pembayaran atas pelanggaran sehubungan dengan pembalasan dendam atau keinginan agar orang yang bersalah menderita atas tindakan-tindakannya?

3. Apakah Anda berdoa kiranya Allah akan mengampuni dan memberkati orang yang bersalah?

Setelah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, pembimbing dapat menasihati orang yang dibimbing agar jangan tinggal dalam rasa sakit hati dan jangan membawanya dalam percakapan dengan orang lain. Dalam memilih untuk melupakan dengan cara sengaja tidak memikirkan atau membicarakan rasa sakit hati, orang yang dibimbing tentu akan melupakannya, dan perasaan luka akan hilang.

Selain mengajar orang yang dibimbing untuk mengampuni, para pembimbing perlu juga menolong mereka untuk mengakui dan minta pengampunan dari orang lain. Sering terjadi bahwa seseorang yang telah disakiti juga telah menyakiti orang lain. Mengaku bersalah dan meminta pengampunan mungkin jauh lebih memalukan daripada menyampaikan pengampunan. Namun, dalam banyak kasus pengakuan kesalahan membuka jalan bagi orang lain untuk mengaku sehingga pengampunan timbal balik dan kesembuhan dapat terjadi. Dalam meminta pengampunan, adalah bijaksana untuk mengakui secara verbal telah melakukan kesalahan terhadap seseorang, lalu secara khusus bertanya,

"Apakah Anda mau mengampuni saya?" Sekadar menyatakan, "Saya menyesal," tidaklah cukup sebab ucapan itu tidak mencakup pengakuan atau permohonan.

Dalam mengatasi kepahitan hati dan kebencian yang telah berkembang dari sikap tidak mengampuni atas kesalahan masa lampau, pilihan untuk mengampuni pada masa kini akan membawa kelegaan dan kesembuhan. Namun, banyak orang berusaha untuk melepaskan diri dari perasaan bersalah dengan berpikir seolah-olah hidup pada masa lampau dan berusaha mengingat-ingat kesalahan-kesalahan masa lampau. Daripada menggali masa lampau dan meninjau kembali, mengingat kembali, dan memendam luka-luka masa lampau, lebih menolong jika kita memilih untuk mengampuni sekarang juga. Jika seorang yang dibimbing kebetulan teringat akan sakit hati masa lampau, ia dapat memilih untuk mengampuni pelakunya. Namun, jika ia tidak teringat akan luka-luka masa lampau, ia tidak usah risau sebab pilihan untuk mengampuni pelanggaran-pelanggaran yang sekarang akan membantu untuk melepaskan seseorang dari ikatan kepahitan hati dan kemarahan yang mungkin telah mengendap dalam hati. Sementara seseorang mengembangkan respons pengampunan baru yang didasarkan atas pengampunan Kristus yang sangat besar, pilihan-pilihan baru akan mengganti pola-pola lama.

Setiap kali sesuatu yang negatif menimpa seseorang ia dapat membiarkan dirinya merasa agar sakit hati atau ia dapat memilih untuk mengampuni. Sering seseorang bahkan tidak berpikir untuk mengampuni karena orang yang menyakiti tidak merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang salah. Tetapi kapan pun timbul sakit hati yang kecil sekali pun, sikap mengampuni akan menyucikan dan membebaskan. Jika tidak, setiap sakit hati akan terkumpul sampai ada setumpuk luka hati yang dapat roboh bila ditambahkan satu luka lagi saja. Hal itu seperti memungut barang setiap kali ada yang jatuh dan tidak membiarkan rumah menjadi penuh dengan barang-barang yang berserakan sehingga keadaan menjadi benar-benar kacau.

Pikiran marah yang dipendam atau yang diutarakan dapat berubah menjadi suatu sikap kemarahan dan mengakibatkan rasa bersalah atas pikiran-pikiran yang pahit atau ledakan kemarahan.

Pola kemarahan yang dipendam atau yang dinyatakan seperti itu dapat diubah oleh pilihan untuk mengampuni. (Efesus 4:31-32)

Seorang pembimbing alkitabiah perlu peka terhadap bertumpuknya sakit hati dan pola-pola pertahanan diri yang mungkin timbul sebagai respons seseorang. Ia perlu membawa seseorang pada pola respons yang baru dengan lemah lembut namun tekun.

Ketika seseorang memilih untuk mengampuni, ia akan menemukan bahwa semakin dini ia mengampuni, semakin sedikit kerugian yang diakibatkan. Jika seseorang menunggu 3 jam sebelum mengampuni seorang yang bersalah di dalam hatinya, ia membiarkan benih-benih kepahitan hati dan kemarahan bersemi selama 3 jam, dan selama itu ia menghabiskan energi emosional untuk marah dan mengasihani diri, padahal energi itu bisa dipergunakan dengan cara yang positif. Waktunya mungkin 3 menit atau bahkan 3 detik, atau seseorang mungkin terbelenggu selama bertahun-tahun. Pilihan terserah pada pihak yang dilukai.

Mengampuni mungkin mahal sekali karena dalam mengampuni seseorang melepaskan apa yang disebut hak untuk membalas dendam. Meskipun demikian pengampunan memang berharga karena kasih Allah membawa kesembuhan dan hubungan yang dibarui. Ketika seseorang memilih untuk mengampuni, ia dibebaskan untuk memiliki sifat Allah. Ia mulai dapat mengerti tindakan pengampunan Allah yang terus-menerus dan penuh dengan pengorbanan itu. Ia mulai menyerupai Allah dan tindakan Allah yang konstan -- mengampuni. Ketika ia mengampuni orang lain sebagaimana Allah mengampuni dia, ia melihat Allah bekerja di dalam dia dan ia dikuatkan. Dengan memilih untuk mengampuni dan dengan menerima kemampuan untuk mengampuni dari Tuhan, maka ia mampu untuk keluar dari belenggu sikap tidak mau mengampuni, kepahitan hati, kemarahan, dan depresi.

Karena Yesus telah membayar harga dosa di atas kayu salib, Ia menyediakan pengampunan bagi semua orang. Setelah pengakuan, pengampunan menyucikan seseorang dari rasa bersalah, membebaskan dia untuk mengikuti pemikiran dan tindakan yang benar, membuka saluran kasih, memulihkan hubungan secara penuh. Kapan pun timbul rasa sakit hati, putusnya komunikasi, pembenaran diri, sikap mempersalahkan, atau kemarahan, seorang pembimbing alkitabiah perlu menolong orang yang dibimbing untuk menerima dan memberi pengampunan.

Diambil dan disunting dari:

Sumber
Halaman: 
190 -- 195
Judul Buku: 
Bimbingan Berdasarkan Firman Allah
Pengarang: 
Martin dan Deidre Bobgan
Penerbit: 
Yayasan Kalam Hidup
Kota: 
Bandung
Tahun: 
1996

Komentar