Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Pengangguran

Edisi C3I: e-Konsel 195 - Pengangguran

Pada awal 1960, beberapa orang berpendapat bahwa sudah tiba saatnya untuk sebagian besar orang tidak akan bekerja; sebagian kecil orang akan diberdayakan dan menyediakan kebutuhan orang lain. Apa yang sedang terjadi? Adakah batasan terhadap potensi atau kebutuhan untuk bekerja di dunia ini? Apakah implikasinya sebagian dari penduduk akan menjadi pengangguran dalam waktu yang lama?

Menjadi pengangguran tidak sekadar berarti "tidak memiliki pekerjaan". Ketika suatu perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja, pemecatan atau perampingan, orang yang terkena dampaknya bisa terus melakukan pekerjaan rumah, menjadi sukarelawan di gereja dan komunitas, dan mencari pekerjaan baru. Menganggur adalah keadaan ketika seorang pekerja tidak mendapatkan gaji walaupun keinginan dan kebutuhan terus ada. Bagi orang-orang di negara Barat, yang identitasnya terikat erat dengan pekerjaan, pengalaman ini biasanya menghancurkan; mereka merasa tidak berguna. Namun, pada tingkat pribadi, menganggur adalah saat untuk meninjau dan mengenal secara lebih dalam pekerjaan spiritual. Pada level sosial dan nasional, menganggur merupakan masalah pelayanan, karena masalah ini mencerminkan dosa sistematis dan kurangnya kreativitas sosial dalam menyediakan kesempatan untuk semua penduduk menggunakan karunia dan talenta mereka untuk kepentingan umum.

Kenyataan Sekarang

Dulu, pengangguran dianggap sebagai dosa besar. Sekarang pengangguran sering dianggap tak terelakkan. Banyak pekerjaan kasar hilang atau dialihkan ke pasar pekerjaan yang berbeda. Sementara, dalam bidang pekerjaan halus yang dulunya nyaman, tiba-tiba terjadi perampingan dan penyusunan ulang struktur suatu perusahaan. Istilah baru seperti "kekurangan pekerjaan" kini masuk dalam perbendaharaan kata. Apa artinya? Apa pengaruhnya? Apakah Alkitab mengatakan sesuatu tentang hal ini?

Pada beberapa bagian di dunia ini, pengangguran mencapai tingkat yang tinggi, misalnya tingkat pengangguran di Nairobi yang mencapai 30 persen. Di kota-kota Dunia Ketiga, orang-orang bisa menghabiskan waktu selama 7 tahun untuk mencari pekerjaan pertama mereka ketika mereka pindah ke kota, karena daerah pertanian sekarang berkurang menjadi jauh lebih sempit; sesuatu yang tidak produktif dan tidak dapat lagi menopang suatu keluarga. Pengangguran di daerah seperti ini lebih sulit diukur karena sebagian besar orang bisa mencukupi beberapa kebutuhan sehari-hari mereka, seperti makanan dan tempat tinggal, dari hasil pertanian mereka bila tidak terjadi kekeringan, kelaparan, atau perang. Hidup di lingkungan global seperti kita ini, masalah itu bukan hanya "masalah mereka" tetapi masalah kita juga. Robert Kaplan mengungkapkan suatu gambaran pahit perbedaan antarnegara:

Bayangkan sebuah mobil limosin panjang di jalanan berlubang kota New York, tempat para pengemis tunawisma tinggal. Di dalam limosin itu adalah daerah-daerah pascaindustri berudara sejuk di Amerika Utara, Eropa, negara-negara di Pesisir Pasifik, dan beberapa tempat terpencil lainnya, dengan perdagangannya yang selaras dan jalanan berteknologi komputer. Di luar limosin itu adalah sisanya; umat manusia yang berjalan ke arah yang sangat berlawanan. (hal. 60)

Di negara-negara industri dan pascaindustri, pengangguran memiliki wajah baru. Bukannya mendapatkan kedudukan tetap selama hidup dengan suatu perusahaan, sistem sekolah, atau kantor pemerintahan, sebagian besar orang terus menghadapi perjuangan seumur hidup dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Perubahan dalam dunia kerja berjalan lebih cepat daripada yang bisa ditanggung oleh banyak orang. Para pekerja saat ini menghadapi tren yang tidak tentu: dari produksi ke pelayanan, dari generalis ke spesialis, dari tugas-tugas yang berulang-ulang ke intervensi (khususnya melalui komputer), dari pendidikan usia khusus ke pembelajaran seumur hidup, dari pekerjaan nyata ke pekerjaan yang tidak nyata, dan dari pekerjaan yang sulit ke pekerjaan yang menyebabkan stres. Tetapi salah satu tren yang paling mengancam adalah perubahan dari karier seumur hidup ke beragam pekerjaan jangka pendek. Ini berarti bahwa sebagian besar orang akan mengalami beberapa bentuk pengangguran dalam hidup mereka, meskipun periode peralihannya singkat.

Industri perbankan adalah studi kasus klasik. Pemberhentian kerja dalam industri ini, khususnya melalui pengurangan tenaga kerja, sepertinya tidak mengarahkan para tenaga kerja dalam bidang yang sama, namun lebih kepada penggunaan pengalaman seseorang dalam menangani keuangan dan orang-orang di bidang terkait, biasanya dengan gaji yang lebih rendah. Dulu, dalam bimbingan kejuruan, ada dilema "akan jadi apa saya nanti saat dewasa" di antara anak-anak muda. Kini, hal itu menjadi disiplin seumur hidup. Kita juga harus belajar melihat pengangguran itu sendiri sebagai disiplin rohani.

Pengangguran dan Kemalasan

Bagaimana seharusnya kita memandang pengangguran? Pengangguran ada dalam Alkitab. Yesus menggambarkan para pekerja yang menunggu disewa sebagai pekerja harian tanpa menguraikan moralitas orang yang menunggu disewa atau mereka yang tidak disewa (Matius 20:1). Kita bisa mendapatkan banyak referensi tentang orang-orang yang sengaja tidak bekerja atau malas di dalam Alkitab. Jelas ini adalah dosa (2 Tes. 3:10-13). Meskipun sudah pensiun, orang-orang akan terus bekerja melakukan pekerjaan rumah tangga dan menjadi sukarelawan selama mereka mampu. Untuk orang kaya atau yang baru-baru ini pensiun, menuruti kemalasan dan waktu luang yang terus-menerus itu berbahaya bagi kehidupan rohani (Amsal 6:9-11; 10:5; 19:15, 24; 20:4).

Ayat-ayat tersebut memang sudah jelas maksudnya, namun tentunya ada perbedaan antara kemalasan belaka dan menganggur karena terpaksa. Bila demikian, mengapa ayat-ayat tersebut tidak menyebutkannya? Sebuah asumsi mengatakan bahwa pada zaman Alkitab, tidak ada pengangguran struktural. Asumsi lain adalah bahwa pada masa itu, selalu ada pekerjaan yang bisa dilakukan. Dalam masyarakat agraris yang terdiri dari beberapa petani, kedua asumsi tersebut tidak diragukan lagi kebenarannya. Sebagian besar orang bekerja sendiri (wiraswasta) dalam perdagangan atau bekerja sebagai petani dalam konteks struktur keluarga besar tempat handai taulan dan sanak saudara saling memelihara, khususnya selama masa paceklik, kekeringan, dan kesulitan ekonomi. Alasan lain adalah tidak ada definisi mengenai "pekerjaan" yang dirumuskan dengan saksama seperti kita mendefinisikannya -- terpisah dari seluruh kehidupan. Pekerjaan pada masa itu didefinisikan sebagai berbagai macam "pekerjaan" di mana semua orang terlibat, sebagian besar dilakukan di rumah dan oleh seluruh keluarga.

Memang benar bahwa beberapa orang menjadi pengangguran karena performa yang buruk dan kegagalan untuk terus belajar dalam pekerjaan mereka. Orang-orang ini bisa jadi merasa bahwa menganggur merupakan tantangan dari Tuhan untuk bekerja, mencari pekerjaan penuh waktu, memeriksa alasan mengapa mereka benar-benar tidak bisa "menyatu" dengan pekerjaan mereka atau bahkan penolakan mereka untuk melakukan lebih dari yang diminta. Mereka yang menganggur perlu berusaha mengolah suatu pekerjaan sebagai suatu perilaku. Kunci prinsipnya adalah menuntut orang yang menganggur menganggap hal mencari pekerjaan itu sebagai pekerjaan.

Seseorang seharusnya memiliki disiplin yang sama dalam mencari pekerjaan seperti memiliki pekerjaan yang rutin -- waktu mulai bekerja, selesai bekerja, bersiap-siap bekerja, dan seterusnya. Menjaga kerangka pikir bekerja secara aktif untuk memenuhi kebutuhan yang terpenting -- bekerja -- merupakan hal yang penting. Selalu ada alternatif dan pilihan. Ayah saya (Stevens), seorang eksekutif bisnis, bekerja di divisi pengiriman pada saat perusahaan tempat dia bekerja sedang dalam masa sulit. Ayah saya (Mestre) bekerja di suatu perusahaan yang sedang berada pada masa-masa kejatuhan. Pekerjaannya adalah mendesain, tetapi selama beberapa minggu dia ditugaskan untuk membersihkan pabrik, karena itu adalah satu-satunya pekerjaan yang ada. Usaha, tingkat kemampuan, dan perilaku adalah faktor kunci. "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia" (Kolose 3:23). Ini adalah ayat yang baik bagi mereka yang men cari pekerjaan dengan bayaran yang tinggi dan bagi mereka yang merasa bahwa mereka menganggur. Namun, bagi beberapa orang, penyebab pengangguran lebih kompleks lagi. Bagaimana kita berpikir dan bertindak ketika seluruh ekonomi kacau, ketika pengangguran jelas bukan hasil dari usaha, perilaku, atau kemampuan seseorang?

Pengangguran sebagai Sebuah Struktur Kejahatan

Ketika suatu perusahaan bangkrut, ketika persediaan yang berlebihan memaksa pemerintah mengurangi produksi hingga keadaan kembali normal, ketika pasar bursa di Jepang turun dan seluruh ekonomi dunia mengalami kemunduran besar, ketika ekonomi suatu negara membutuhkan pengangguran struktural supaya dapat mempertahankan gaji yang tinggi, kita menghadapi kenyataan yang jauh lebih kompleks.

Menyuarakan pandangan dari banyak pakar ekonomi dan sosiologi, P.G. Schervitch berpendapat bahwa statistik pengangguran "mengelakkan berbagai interpretasi sederhana -- fakta sederhananya adalah bahwa pengangguran bukanlah fakta yang satu dimensi" (Schervitch, hal. 2). Sebenarnya orang yang kehilangan pekerjaannya karena tempat kerjanya tutup mewakili kira-kira hanya seperempat dari jumlah pengangguran. Para pekerja secara mengejutkan ternyata cepat mendapatkan pekerjaan pertama mereka segera setelah diberhentikan. Sepertiga dari mereka mendapatkan pekerjaan sebelum menjadi pengangguran (Daniel, hal. 3). Para pekerja yang dipecat karena pengurangan pekerja secara besar-besaran cenderung lebih mampu dan terampil, dengan catatan kerja yang baik dan masa bakti kerja yang lama. Mereka terus melaju ke posisi puncak. Mereka yang paling menderita adalah para pencari kerja yang kurang menarik, misalnya mereka yang sudah lama terdaftar sebagai pengangguran, orang-ora ng muda yang baru pertama kalinya masuk ke dunia kerja, dan orang-orang yang kembali masuk ke pasar kerja setelah menganggur selama beberapa waktu karena alasan tertentu (Daniel, hal. 4)

Bagaimana kita merespons hal ini? Bagian dari pelayanan Kristen kita tidak hanya kepada orang-orang secara individu, tetapi juga kepada struktur, organisasi, bangsa, serta pemerintahan dan otoritas. Kita yang bekerja seharusnya membantu mereka yang belum bekerja agar berinisiatif secara kreatif untuk mencari pekerjaan, berlatih kembali, dan menjadi produktif lagi. Kita juga harus menegur faktor-faktor sistematis yang menjadikan pengangguran masalah sosial. Seperti yang seseorang pernah katakan, "Jadi, singkirkanlah segala hal yang tidak menyenangkan Allah." Kehendak Allah adalah bahwa suatu bangsa maju dalam menyediakan kesempatan bagi seluruh warga negaranya untuk menggunakan karunia dan talenta mereka bagi kepentingan umum.

Naskah-naskah awal Kristen yang masih ada berisi teguran untuk masyarakat Kristen supaya menyediakan pekerjaan bagi para petobat baru. Thomas Aquinas lebih lanjut membahas masalah ini dengan menunjukkan usaha-usaha para pengusaha untuk membuka lapangan kerja dalam skala besar sebagai suatu tindakan yang sangat mulia (Goss_, hal. 8). William Droel, aktivis pada masa itu, mengharapkan adanya pemuridan publik:

Semua pekerja -- yang bekerja, pengangguran, ibu rumah tangga, sukarelawan, pemimpin bisnis, dan para pelajar -- dipanggil untuk mempraktikkan hak suara mereka, kemampuan mereka untuk memengaruhi, kekuatan mereka bersama dalam persatuan dan asosiasi profesional, dan kesaksian mereka dalam pekerjaan untuk memengaruhi kebijakan perusahaan, untuk memajukan perundang-undangan, dan untuk mengatur mekanisme lain yang bertujuan untuk membangun suatu ekonomi di mana semua orang yang mau bekerja mendapatkan pekerjaan. Struktur ekonomi tidak muncul dengan sendirinya. Orang-orang yang mendirikannya, menggerakannya, dan mengaturnya. Oleh sebab itu, orang-orang yang berpikir dan bertindak dengan tepat dapat membentuk dan mengembangkannya. (Goss_, hal. 8-9).

Kerohanian Para Pengangguran

Tidak diragukan lagi, bagi para pengangguran, ada godaan yang harus diatasi: jatuh dalam keadaan mengasihani diri sendiri, tenggelam dalam anggapan bahwa ia adalah korban dari "sistem", menyimpulkan bahwa mereka telah kehilangan harga diri mereka, malu di hadapan keluarga, teman, tetangga, dan gereja. Seperti kebanyakan lainnya, krisis ini merupakan bahaya dan kesempatan. Ada kesempatan untuk menegaskan kembali identitas kita dalam konteks milik siapakah kita ini daripada apa yang kita lakukan. Ada undangan untuk menemukan kembali bagaimana Tuhan telah membentuk kita dengan talenta dan kepribadian, yang cocok untuk berbagai pekerjaan, mungkin beberapa. Ada disiplin bimbingan kejuruan dan pertumbuhan yang bisa muncul dari mengeksplorasi apa yang bisa dipelajari dari diri kita sendiri dari masa "menganggur" yang menyakitkan.

Menjadi pengangguran bisa memberi pengaruh pada keluarga kita, hubungan kita dengan gereja dan komunitas, karena orang yang terluka melepaskan kemarahan dan frustrasi pada orang lain, atau merasa tidak mampu bertemu dengan orang lain. Menjadi pengangguran bisa menjadi kesempatan bagi kepahitan untuk tumbuh dalam hubungan kita dengan Tuhan karena menyangkali bahwa kita adalah pekerja yang berguna dan dibayar tinggi. Tetapi menjadi pengangguran bisa juga menjadi alat untuk menguatkan relasi kita dengan Tuhan dan orang lain ketika berusaha berdoa, menolong, dan menasihati orang-orang yang terdekat dengan kita. Pekerjaan interior ini, bersama dengan pekerjaan eksterior, yaitu mencari pekerjaan, bisa menyenangkan Tuhan dan berkenan bagi-Nya (Kolose 3:23).

Ada pilihan-pilihan sulit yang tak terelakan yang harus dibuat bila kita diharuskan mendapatkan pekerjaan. Haruskah seseorang pindah ke tempat lain di mana lapangan pekerjaan terus berkembang, atau apakah bantuan bagi pengangguran itu merupakan hal yang mereka perlukan? Apakah memberikan bantuan secara terus-menerus kepada seseorang adalah lebih penting daripada membuat mereka dapat bekerja? Haruskah kita mengerjakan apa yang ada, meskipun kita merasa tidak cocok atau tidak termotivasi untuk melakukannya? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan lain yang perlu dipertimbangkan dalam konteks komunitas Kristen yang peduli, misalnya sebuah kelompok kecil di gereja. Hanya ada sedikit orang yang bisa mendapatkan pandangan tentang kondisi mereka yang menganggur tanpa mendapatkan dukungan dari masyarakat sekitar. Beberapa gereja dan komunitas memberikan dukungan biaya bagi para pengangguran untuk bertemu dan membagikan perjalanan kehidupan rohani mereka. Buku-buku, khusus nya yang berhubungan dengan kesedihan dan pengangguran, bisa menjadi bantuan penting, begitu pula dengan retret sehari untuk berdoa dan refleksi (Goss_, hal. 37-41). Sambil kita mencari pekerjaan, kita bekerja dan melakukan beberapa pekerjaan internal yang bisa memutarbalikkan tragedi pengangguran menjadi penemuan kecukupan di dalam anugerah Tuhan. Sementara itu orang yang sudah mendapatkan pekerjaan bisa berdoa mohon pengampunan atas dosa-dosa masyarakat dan dalam konteks yang Tuhan telah tetapkan untuk kita -- guru, tetangga, warga negara, pelaku bisnis, pegawai pemerintahan -- untuk melakukan tugas kita dengan cara-cara yang tidak hanya mengembangkan diri kita sendiri tetapi juga melengkapi orang lain. (t/Ratri)

Diterjemahkan dari:

Sumber
Judul Artikel: 
Unemployment

Komentar