Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Peran Ayah dalam Keluarga

Biasanya pembagian tugas dalam keluarga bagi ayah dibatasi berkaitan dengan lingkungan luar keluarga. Sang ayah hanya dianggap sebagai sumber materi, dan yang hampir menjadi seorang asing karena seolah-olah hanya berurusan dengan dunia di luar keluarga.

Dari berbagai contoh terlihat bahwa ayah yang kurang menyadari fungsinya di rumah akhirnya kehilangan tempat dalam perkembangan anak. Anak membutuhkan ayah bukan hanya sebagai sumber materi, tetapi juga sebagai pengarah perkembangannya, terutama perannya di kemudian hari. Ayah sebagai otak dalam keluarga mempunyai beberapa tugas pokok.

  1. Ayah sebagai pencari nafkah:

  2. Sebagai tokoh utama yang mencari nafkah untuk keluarga. Mencari nafkah merupakan suatu tugas yang berat. Pekerjaan mungkin dianggap hanya sebagai suatu cara untuk memenuhi kebutuhan utama dan kelangsungan hidup. Padahal melihat pekerjaan seorang ayah, ibu mempunyai jangkauan lebih jauh. Anak yang melihat ibu dan ayah bekerja, atau ayah saja yang bekerja akan melihat bahwa tanggung jawab dan kewajiban harus dilaksanakan secara rutin. Dengan demikian, anak tahu bahwa kewajiban dan tanggung jawab harus dilaksanakan tanpa paksaan. Selanjutnya dari cerita orang tua mengenai tugas dan pekerjaan sehari-hari, anak belajar tentang pekerjaan yang kelak bisa dilaksanakan. Akhirnya anak memperoleh bahan pemikiran dan pilihan peran manakah yang kelak akan dimainkan.

  3. Ayah sebagai suami yang penuh pengertian akan memberi rasa aman:

  4. Ayah sebagai suami yang memberikan keakraban, kemesraan bagi istri. Hal ini sering kurang diperhatikan dan dilaksanakan. Padahal istri sebagai ibu, bila tidak mendapat dukungan keakraban dan kemesraan dari suami, bisa jemu terhadap semua kegiatan rumah tangga, mengurus keluarga, membesarkan anak, dan pekerjaan di luar rumah, akhirnya uring-uringan dan cepat marah sehingga merusak suasana keluarga. Ibu yang merasa tidak aman dengan adanya suasana keluarga yang gaduh, akan mengakibatkan anak merasa tidak aman dan tidak senang di rumah. Agar suasana keluarga bisa terpelihara baik maka perlu tercipta hubungan yang baik antara suami istri.

  5. Ayah berpartisipasi dalam pendidikan anak:

  6. Dalam hal pendidikan, peranan ayah di keluarga sangat penting. Terutama bagi anak laki-laki, ayah menjadi model, teladan untuk perannya kelak sebagai seorang laki-laki. Bagi anak perempuan, fungsi ayah juga sangat penting yaitu sebagai pelindung. Ayah yang memberi perlindungan kepada putrinya memberi peluang bagi anaknya kelak memilih seorang pria sebagai pendamping, pelindungnya. Dari sikap ayah terhadap ibu dan hubungan timbal balik mereka, anak belajar bagaimana ia kelak harus memperlihatkan pola hubungan bila ia menjadi seorang istri.

  7. Ayah sebagai pelindung atau tokoh yang tegas, bijaksana, mengasihi keluarga.

  8. Seorang ayah adalah pelindung dan tokoh otoritas dalam keluarga, dengan sikapnya yang tegas dan penuh wibawa menanamkan pada anak sikap-sikap patuh terhadap otoritas, dan disiplin. Ayah dalam memberikan tugas kepada anak perlu melihat kemampuan anak untuk bisa menyelesaikan tugas itu. Dengan kemampuan menyelesaikan tugasnya, anak mengetahui kemampuan dan batas-batasnya. Ayah dengan sikap wibawanya sering menjadi wasit dalam memelihara suasana keluarga sehingga mencegah timbulnya keributan akibat perselisihan dan pertengkaran dalam keluarga. Ayah yang diharapkan lebih rasional, biasanya lebih adil dan konsisten sebagai wasit.

Akhirnya akan tampak bahwa disiplin orang tua merupakan pengalaman yang penting bagi timbulnya rasa aman seluruh keluarga. Kesatuan pandangan dan tujuan pendidikan ayah ibu merupakan landasan penting bagi perkembangan anak. Disiplin orang tua dalam berbagai aspek akan dicontoh oleh anak sehingga menjadi sikap disiplin pada anak. Dengan demikian, terlihat bahwa kesepakatan ayah dan ibu, kesatuan pandangan ayah dan ibu merupakan landasan bagi terciptanya suasana keluarga yang sejahtera. Semua usaha harus berpangkal pada kesepakatan, mufakat ayah ibu sebagai kesatuan dan pengarah keluarga. Ayah dan ibu sedapat mungkin memiliki satu falsafah hidup dalam hubungannya dengan anak mereka. Sering terlihat sikap orang tua yang beraneka ragam dalam mendidik anak. Sikap orang tua terhadap anak memperlihatkan adanya 3 kelompok ciri yang bervariasi:

  1. Sikap ketat -> sikap terlalu membolehkan.

  2. Sikap kehangatan -> sikap permusuhan.

  3. Sikap tenang melepaskan -> sikap cemas, melibatkan.

Apa yang diharapkan dari anak dan bagaimana kelak ia membentuk dirinya dalam masyarakat merupakan hasil pendidikan di lingkungan keluarga dan sekolah. Akibat dari suasana keluarga dan hubungan keluarga terlihat bentuk pribadi anggota keluarga:

  1. Banyak sifat dan sikap seseorang di peroleh dari orang tua dalam bentuk kecenderungan-kecenderung bertingkah laku.

  2. Konsep diri, gambaran tentang diri dipengaruhi oleh model dari orang tua, gambaran tentang dirinya menjadi akar dari pandangannya terhadap orang lain.

  3. Afeksi penerimaan, kehangatan berkaitan dengan penyesuaian yang baik, prestasi akademis, kreativitas, dan kepemimpinan.

Dengan demikian, pentingnya pendidikan dalam lingkungan keluarga perlu diperhatikan oleh orang tua dengan memperhatikan berbagai aspek dalam pendidikan.

Dalam pendidikan perlu diusahakan:

  1. Keselarasan pengajaran di sekolah dan di rumah sesuai dengan tujuan pendidikan.

  2. Kesesuaian antara ajaran pendidikan dan perilakunya sendiri.

  3. Dialog atau diskusi antara guru dengan murid mengenai nilai-nilai dan masalah-masalah mereka [bimbingan kelompok].

  4. Latihan-latihan untuk membina berbagai perilaku yang diharapkan.

Beberapa cara pendidikan dalam mengembangkan aspek moral anak:

  1. Pendidikan berorientasi pada kasih sayang: orang tua - anak, yang baik hubungannya. Hubungan kasih sayang ini akan mendekatkan anak dengan orang tuanya, memudahkan orang tua memberi hadiah dan hukuman yang sepadan. Anak juga akan lebih mudah menerima nilai-nilai orang tuanya dan menirunya. Orientasi ini berhasil bagi anak-anak remaja dini, remaja, dan dewasa muda. Bilamana orang tua secara berlebihan memberi kasih sayang tanpa syarat, orang tua akan kehilangan pengendalian mereka terhadap anaknya, orang tua kurang berwibawa terhadap anaknya.

  2. Pendidikan berorientasi pada penalaran: aspek paling penting adalah induksi. Induksi pada dasarnya menunjukkan kepada anak yang melanggar, akibat-akibat dari perilakunya bagi orang lain. Memberi alasan-alasan pada anak untuk menerangkan mengapa harus berbuat atau tidak berbuat. Bila memakai cara ini, perlu diperhatikan umur anak yang dihadapi. Di samping induksi, perlu juga sikap tegas orang tua, melalui cara berperilaku tertentu (reinforcement). Orang tua dan para pendidik yang tegas, akan berhasil dalam mendidik, tanpa memakai cara kekerasan.

  3. Pengawasan orang tua atau pendidik: melalui supervisi dan dorongan. Pengawasan orang tua dikurangi pada masa remaja dini dan lebih banyak diberikan kesempatan kepada anak untuk melatih pengendalian diri. Pada masa remaja kehangatan orang tua, bimbingan dan saran-saran sangat diperlukan.

  4. Hukuman: hukuman orang tua ada 2 macam : Teknik menunjukkan kuasa dan tidak memberikan kasih sayang.

    1. Penggunaan kekuasaan meliputi hukuman fisik, tidak memberikan hak-hak tertentu, mendesak, mengancam untuk mengendalikan anak. Dengan harapan anak takut akan hukuman, cara ini biasanya berhasil bagi mereka di bawah umur 7 tahun, dengan catatan dilaksanakan secara tidak berlebihan dan terus menerus agar mereka tidak menjadi agresif dan sopan-santunnya terganggu.

    2. "Love - withdrawal technique", ekspresi langsung penolakan terhadap perilaku anak yang tidak diinginkan dalam bentuk menolak bicara atau tidak mendengarkan anak, tidak menyenanginya, mengasingkan atau mengancam akan meninggalkannya. Cara ini semata-mata dipakai untuk menunjukkan ketidaksenangan orang tua karena perbuatan anak yang tidak baik.

  5. "Behavior training": orang tua dan para pendidik pembimbing biasanya sibuk mencari cara yang efektif untuk mengubah perilaku anak yang tidak diinginkan. Sesungguhnya memasukkan suatu perilaku prososial pada anak secara otomatis akan menghapuskan suatu tingkah laku yang tidak diinginkan itu.

    1. Belajar langsung dari induksi perilaku bantu-membantu, membagi, dan kerja sama. Orang tua menanamkan tanggung jawab anak dengan mengikutsertakan anak atau memberikan tugas pemeliharaan tanaman, binatang kesayangan, atau pada anak yang lebih tua dengan mengurus adik. Perlu diperhatikan bahwa anak melakukan tugas secara teratur, dan diberi tugas yang bisa dilaksanakannya.

    2. Belajar secara tidak langsung: Anak diminta mengajarkan nilai-nilai atau suatu tingkah laku tertentu kepada orang lain. Dengan mengajarkan kepada anak atau orang lain maka apa yang diajarkan akan diterimanya dan dipelajarinya sendiri.

  6. Behavior training dapat dilakukan terhadap semua anak didik khususnya anak tanggung dan remaja. Agar pendidikan anak di lingkungan keluarga berhasil baik sesuai dengan keinginan dan tujuan pendidikan orang tua, perlu dipahami bahwa setiap anak adalah pribadi yang khas, pribadi yang unik. Anak memiliki ciri kepribadian, kemampuan dalam batas-batas tertentu ada hal-hal yang sama antar satu anak dengan anak lain, sesuai dengan umur dan jenis kelaminnya.

Diambil dan disunting dari:

Judul buku : Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga
Judul artikel : Peran Ibu dalam Keluarga
Penulis : Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa & Dra. Ny.Y.Singgih D. Gunarsa
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 1995
Halaman : 31 -- 41

Komentar