Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Peran Konseling Awam: Sakit Parah/Terminal dan Depresi

Edisi C3I: c3i September 2019

Reaksi alami bagi individu-individu dengan sakit tak tersembuhkan adalah depresi. Para ahli psikologi umumnya percaya bahwa depresi juga merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh yang dipilih individu di tengah posisi dan kondisi kritis yang tak terhindarkan. Dengan mekanisme ini, individu tersebut masih dapat memiliki "sense of life - perasaan hidup" sehingga dia dapat mengeluh, menangis, marah, meratap, dan mempunyai setitik pengharapan. Dia memilih posisi "cry for help/ketidakberdayaan", yang mengundang belas kasihan dari dirinya sendiri, sesama manusia, dan dari Allah. Tanpa mekanisme pertahanan tubuh ini, individu hanya mempunyai satu kemungkinan yaitu bunuh diri. Tidak heran jikalau peran konselor dalam kasus-kasus depresi jenis ini adalah listening dan empathy/mendengar dan ikut merasakan penderitaannya. Dia tidak membutuhkan nasihat dan dia tahu bahwa konselor tidak dapat menyembuhkan penyakitnya. Oleh sebab itu, yang dia butuhkan adalah perasaan dimengerti dan ditemani oleh seorang yang dia harapkan, rela mendengar seluruh isi hati dan perasaannya.

Orang yang mengalami depresi

Kasus: Ibu Melati (bukan nama sebenarnya) pernah sungguh-sungguh bersyukur kepada Tuhan. Dua tahun yang lalu, dia menjalani operasi kanker payudara dengan sukses. Setelah itu, ke mana-mana dia memberikan kesaksian dan hidupnya banyak diisi dengan kegiatan-kegiatan rohani, bahkan dia mempersembahkan dirinya untuk menjadi hamba Tuhan. Sayang sekali kebahagiaannya berakhir tiga bulan yang lalu. Dia harus menjalani operasi lagi dan dokter menemukan penyebaran kanker ke seluruh tubuhnya. Kondisinya dari hari ke hari semakin memburuk. Setiap beberapa jam, dia harus mendapatkan suntikan untuk mengurangi rasa sakitnya. Dokter sudah mengatakan bahwa pengobatannya sudah maksimal.

Di tengah kondisi yang sangat menyedihkan ini, ibu Melati sering kali minta didoakan supaya Tuhan mengambil dirinya lebih cepat. Meskipun demikian, dia juga meminta teman-teman dari persekutuan lain untuk mencarikan hamba-hamba Tuhan yang dapat memanjatkan doa kesembuhan.

Menurut suaminya, ibu Melati sangat mengkhawatirkan anak tunggalnya yang sedang menginjak remaja. Di samping itu, dia sering kali menangis dan tidak mau diajak bicara. Dia merasa tugas hidupnya belum selesai, mengapa Tuhan membiarkan dia menderita sakit separah ini.

Nah, dalam menghadapi ibu Melati dengan kondisi seperti ini, beberapa prinsip di bawah ini mungkin perlu mendapat perhatian yang khusus:

Kenali tipe dan kondisi depresinya.

Ada beberapa macam jenis depresi. Secara garis besar, konselor dapat menilai, yaitu jikalau sebelum dia sakit memang sudah ada gejala-gejala depresi (mis: sulit tidur, lelah, merasa tidak berguna, sulit konsentrasi, dan putus asa), ada kemungkinan dia memang menderita Major Depression Disorder. Akan tetapi, kalau gejala depresinya baru muncul setelah dia menderita sakit, kemungkinan dia hanyalah penderita Adjustment Disorder with Mixed Anxiety and Depressive Mood. Jenis depresi yang seperti ini biasanya dialami individu oleh karena adanya stressor/pemicu seperti kematian orang yang dicintai, kegagalan cinta, kehancuran usaha, sakit terminal, dsb.. Konselor dapat mengenali bagaimana dan berapa lama gejala-gejala depresinya dialami oleh individu tersebut. Kalau durasinya kurang dari 6 bulan, kondisinya dapat digolongkan akut. Akan tetapi, kalau lebih dari 6 bulan, kondisinya termasuk kronis.

Meskipun demikian konselor harus sadar, apa pun jenis depresinya, konselor jangan coba-coba menanganinya sendiri. Konselor harus memakai referral seorang psikiater supaya dapat mengatasi gejala depresinya. Baru, setelah individu tersebut "membaik (gejala-gejala depresinya mulai hilang)", konselor boleh melayani dia dengan pelayanan konselingnya. Selama gejala depresinya masih ada, tugas konselor hanyalah available hadir di sisinya pada saat dibutuhkan. Konselor tidak seharusnya memberikan nasihat apa-apa kecuali hanya empathic listening (menjadi pendengar segala keluhannya dengan jiwa yang empati, yaitu menempatkan diri di tempatnya dan belajar ikut merasakan apa yang dirasakannya).

Ibu Melati membutuhkan orang-orang yang mengasihinya yang bisa menangis bersamanya, yang sabar tanpa memotong, mendengar segala sesuatu yang dikeluhkannya. Meskipun demikian, konselor harus waspada, apakah kehadirannya dikehendaki oleh ibu Melati. Di sinilah, seni dan skill hadir bersama-sama. Bagaimana konselor mulai membangun rapport sehingga komunikasi dapat terjalin dengan baik, merupakan seni pendekatan yang sering kali membutuhkan perpaduan yang pas antara kemampuan berkomunikasi, keramah-tamahan, ketulusan, dan kewibawaan. Setelah itu, dibutuhkan skill pelayanan konseling itu sendiri, yang ... dalam konteks seperti ini, sangat tinggi. Dari kesaksian dan pengakuan banyak konselor profesional, pelayanan konseling kepada klien penderita terminal illness (apalagi ditambah dengan gejala depresi) adalah salah satu pelayanan konseling yang paling sulit. Sering kali untuk menemukan kata yang tepat dalam konteks ini begitu sulitnya sampai banyak konselor bengong, bingung, kikuk tidak tahu mesti mengatakan apa. Kadang-kadang, empati begitu cepat berubah menjadi simpati sehingga konselor hanyut dan emotional. Itulah sebabnya, konselor harus terus-menerus berdoa minta ketenangan, pikiran yang jernih, pertolongan, dan bijaksana surgawi.

Jangan Playing God

Salah satu godaan terbesar dari konselor untuk klien terminal illness adalah playing God. Sering kali, konselor merasakan seolah-olah kehadirannya sebagai konselor tidak mempunyai faedah apa-apa jikalau dia tidak dapat melakukan sesuatu yang dapat mengubah kondisi dari klien.

Memang klien depresi oleh karena faktor pencetusnya terminal illness, tetapi tugas konselor bukanlah tugas seorang dokter yang berupaya mengatasi sumber masalah tersebut, yaitu sakit yang dideritanya. Akan tetapi, kita harus waspada bahwa fokus pada menyembuhkan sakit-penyakit klien justru melemahkan perannya sebagai konselor yang Tuhan sudah anugerahkan. Suatu peran yang kemungkinan besar justru jauh lebih penting daripada kesembuhan ajaib dari klien. Mengapa demikian?

Pertama, karena melalui konseling inilah, klien menemukan kesadaran dirinya, yang membuat klien dapat berdiri sebagai manusia yang dewasa sadar dan utuh di hadapan Tuhan sehingga dapat meresponi realitas yang dihadapinya dengan iman yang benar. Sembilan puluh sembilan persen penderita terminal illness akan segera menghadapi kematian. Jangan sampai mereka menghadapi kematian dalam kondisi pikiran dan emosi yang terjerat dengan hal-hal yang sekunder, yaitu keinginan semata-mata untuk mengalami kesembuhan ajaib. Meskipun pengharapan sembuh itu penting sekali, tetapi jangan sampai klien menghadapi realitas kematian dengan iman rapuh dan tidak siap.

Menghibur pasien

Kedua, karena melalui konseling, klien dapat bergumul dengan Tuhan secara sadar dan dengan bekal yang semakin baik. Dalam Tuhan, tidak pernah ada realitas yang kebetulan. Kalau Tuhan mengizinkan, pasti ada maksud-Nya. Oleh sebab itu, coba bayangkan jikalau teologi klien begitu kacau dan kekanak-kanakan. Seluruh rencana Allah (yang sudah mengizinkan dirinya masuk dalam penderitaan itu) akan terhambat oleh karena klien buta rohani dan tidak pernah mengerti maksud dan rencana Allah untuk dirinya. Itulah sebabnya, banyak orang beriman penderita terminal illness meninggal dengan kesaksian yang minimal. Itu pun terjadi karena belas kasihan dan intervensi dari Tuhan sehingga mereka masih bisa menyaksikan sesuatu yang baik, yaitu menghadapi maut dengan menyerah dan pasrah sehingga meninggal dengan tenang. Akan tetapi, jikalau kita memahami betul-betul cara kerja Allah, kita akan mengerti bahwa itu sebenarnya bukan kemenangan iman yang dewasa. Dan sebabnya, sekali lagi, antara lain oleh karena kegagalan pelayanan konseling, di mana individu-individu dengan terminal illness ini sebenarnya dapat memasuki masa-masa yang begitu kaya dengan "anugerah rohani" (Filipi 3:10), tetapi tidak dapat menangkap kekayaan rohani tersebut.

Konseling merupakan tangan Allah yang terulur untuk mereka yang ada dalam kegelapan dan ketidakberdayaan. Marilah kita wujudkan pelayanan konseling sebagai kehadiran Roh Penghibur dan Roh Pendamping yang menyertai perjalanan pergumulan orang-orang percaya mencapai kemenangan imannya.

Sumber:
Judul artikel : Parakaleo, Juli September 2006, Vol. XIII, No. 3
Penulis artikel : Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
Editor : Paul Gunadi Ph.D., Yakub B.Susabda Ph.D., Esther Susabda Ph.D.
Penerbit : Departemen Konseling STTRII, Jakarta, 2006
Halaman : 1 -- 2
Diambil dari:
Nama situs : Christian Counseling Center Indonesia
Alamat situs : http://c3i.sabda.org/peran_konseling_awam_sakit_parahterminal_dan_depresi
Judul artikel : Peran Konseling Awam: Sakit Parah/Terminal dan Depresi
Penulis artikel : Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.

Komentar