Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Single Parent's Talk

Salah satu fenomena yang banyak dijumpai dalam masyarakat kita saat ini adalah keberadaan orang tua tunggal atau yang lazim disebut dengan istilah "single parent". Mereka mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka sendiri tanpa bantuan dari pasangannya, baik itu pihak suami maupun isteri. Sepertinya tak mudah untuk menyandang status ini di tengah-tengah masyarakat kita yang masih memandang sebelah mata akan keberadaan mereka. Belum lagi mereka harus menerima cap negatif dari lingkungannya. Lalu mengapa ada sebagian dari orang tua yang memilih untuk menjalani status single parent tersebut? Mari kita melihat kehidupan dari 3 orang ibu yang bersedia mengisahkan seputar kehidupan mereka yang menjalani perannya sebagai single parent -- Mimi Gunawan (45 tahun) bekerja sebagai penjual bunga, Mutiara Yahya (36 tahun) bekerja sebagai sekretaris, dan Hie Sin Meij (36 tahun) seorang ibu rumah tangga. Mereka adalah satu gambaran kecil dari dunia single parent yang menarik untuk kita cermati.

Apa yang menjadi penyebab mereka menjadi single parent tentu saja berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Mimi yang sudah 15 tahun menjadi single parent mengatakan bahwa perbedaan prinsiplah yang membuat ia berpisah dengan suaminya. Sedangkan Mutiara dan Hie yang sudah sejak 5 dan 6 tahun lalu menjadi single parent mengatakan penyebabnya adalah karena suami mereka mengidap suatu penyakit tertentu dan kemudian meninggal. Persoalan tampaknya tidak hanya sampai di situ saja karena mereka harus bergumul dengan kebutuhan sehari-hari dan juga harus memberi perhatian terhadap pendidikan anak-anak mereka. Bagi Mimi, yang dikaruniai 3 orang putri ini, hal yang paling berat baginya adalah saat harus membagi waktu antara pekerjaan, memperhatikan anak-anak dan pelayanan. Sementara bagi Mutiara, sisi emosilah yang sering membuatnya terganggu, apalagi jika ibu dari dua putri ini melihat "pemandangan indah" dari keluarga lain yang utuh (bapak, ibu, dan anak-anak) dan terlihat bahagia. Lain halnya dengan Hie. Ia merasa kesulitan dalam mendidik ketiga anaknya. Hal ini disebabkan dulu suaminyalah yang melakukan tugas ini. Memang butuh suatu proses yang panjang untuk menjadi terbiasa dengan kehidupan seorang single parent. Pintar membagi waktu, meminta hikmat dari Tuhan dan berdoa adalah jawaban dari mereka dalam mengatasi masalah ini.

Ada banyak hal yang akan berubah saat mereka tak lagi hidup didampingi oleh suami mereka. Bagi ibu rumah tangga yang tidak pernah bekerja di luar rumah, mungkin akan mulai bekerja untuk mencukupi seluruh kebutuhannya sendiri dan anak-anaknya. Selain itu dibutuhkan kemampuan untuk membuat prioritas pengeluaran dan tabungan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Di balik ketegaran mereka, terkadang mereka terusik juga dengan perasaan sedih dan bertanya-tanya kepada Tuhan "Mengapa saya menjadi single parent?" Tapi di balik itu semua, pasti ada pembelajaran yang dapat diambil. Melalui pengalaman ini Mimi belajar bahwa sebagai orang Kristen hendaknya kita menikah dengan orang yang seiman. Hidup bersama orang yang seiman memang tidak akan pernah menjamin bahwa pernikahan itu akan berjalan dengan mulus tanpa hambatan, karena pasangan seiman pun tak akan pernah lepas dari berbagai persoalan itu. Namun bertolak dari hal tersebut, maka dapat dibayangkan jika rumah tangga dijalankan oleh pasangan yang tidak seimbang dalam imannya tentu perbedaan prinsip yang sangat menyolok akan menyebabkan hancurnya biduk rumah tangga mereka.

Hal lain yang dapat diambil sebagai pembelajaran adalah seperti yang dituturkan oleh Mutiara, yaitu pentingnya menjaga kesehatan, baik itu kesehatan pribadi maupun pasangan. Hal ini dapat meminimalisasi kemungkinan baik kita ataupun pasangan untuk mengidap suatu penyakit dan tentu saja hal ini dapat menghindarkan kemungkinan menjadi single parent di usia yang relatif muda. Sedangkan bagi Hie, berharap sepenuhnya kepada Tuhan dan tunduk kepada suami adalah hal yang utama. Tuhan mengingatkan kepadanya bahwa suaminya adalah kepunyaan Tuhan dan jika Tuhan mau ambil, itu memang milik-Nya.

Satu hal yang luar biasa yang dapat dipetik dari kisah ketiga contoh single parent ini adalah bahwa mereka tidak membuat status mereka sebagai single parent menjadi halangan untuk mereka melayani Tuhan dan mengucap syukur atas semua yang mereka hadapi. Perjuangan memang masih panjang, problema hidup akan terus datang dan kesulitan demi kesulitan tidak akan pernah hilang. Satu hal yang perlu dipercaya adalah Allah selalu memiliki maksud tertentu atas setiap persoalan yang kita alami. Seberapa sulitnya beban hidup itu dan seberapa mampu kita menjalaninya. Yang pasti rencana Allah yang tak terbatas dalam kehidupan kita tidak akan pernah dapat terselami oleh pikiran manusia kita yang terbatas. Sebab Allah mendidik anak-anak-Nya dengan berbagai macam cara yang tidak kita mengerti. Mari, nikmati didikan Allah dari hari ke hari dalam kehidupan kita! (s/endang)

Kesaksian diatas disadur dari:
Judul Majalah: getLIFE! Edisi 17/2005
Judul Artikel: Single Parent`s Talk
Penerbit : Yayasan Pelita Indonesia, Bandung, 2005
Halaman : 42 - 43

Sumber
Halaman: 
42 - 43
Judul Artikel: 
getLIFE! Edisi 17/2005
Penerbit: 
Yayasan Pelita Indonesia, Bandung, 2005

Komentar