Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Tujuh Cara untuk Menghilangkan Ketakutan Anda akan Pengabaian

Pengabaian menciptakan krisis emosional yang serius. Ditinggalkan oleh orang yang Anda kasihi sungguh menghancurkan dan melemahkan. Pengabaian meninggalkan torehan emosional pada jiwa yang menyatakan, "Kamu tidak berharga." Hal itu menghancurkan harga diri Anda. Anda tiba-tiba merasa dipotong/diputus dari hubungan penting, yang menopang kehidupan Anda. Anda akan merasa kewalahan serta kesepian, putus asa, dan cemas. Beratnya beban kekosongan emosional terasa seperti akan menghancurkan Anda.

Ketakutan akan pengabaian melumpuhkan Anda dan merampas kemampuan Anda untuk membentuk hubungan yang normal. Anda tidak memilih pengabaian, tetapi itu terjadi kepada Anda. Rasanya seolah-olah segala sesuatu telah diambil dari Anda. Bagaimanapun juga, pilihan yang Anda miliki adalah mengejar kesehatan/kebaikan/keadaan yang baik. Jika Anda ingin sembuh, itu dimulai dengan keputusan kuat Anda untuk menghadapi rasa sakit sebagai yang paling utama. Adalah pilihan Anda pada seberapa dalam Anda ingin melangkah. Namun, sadari/kenali bahwa kita hanya dibatasi oleh dinding yang kita bangun sendiri. Jangan biarkan ketidakpercayaan menghambat pemulihan Anda. Anda dapat menanganinya. Meski tidak ada obat bius untuk menjalani kesulitan dalam melalui patah hati, dengan berani hadapi rasa sakit Anda sebagai salah satu pemberian/hadiah terbaik yang dapat Anda berikan kepada diri sendiri.

Tujuh Cara untuk Menyembuhkan Ketakutan Anda akan Pengabaian

Berikut adalah tujuh cara praktis untuk menyembuhkan ketakutan Anda terhadap pengabaian.

1. Ketahui/Kenali Lebih Dahulu

Apakah Anda tahu alasan mengapa Anda takut terhadap pengabaian? Penyembuhan adalah suatu undangan untuk menemukan mengapa ketakutan ini berdampak kepada Anda hingga sejauh itu. Dengan menunjuk dari mana perasaan yang intens ini datang, akan memberi Anda sudut pandang yang dibutuhkan untuk dapat melihat gambaran besarnya dengan lebih jelas. Saat pemicunya menghampiri Anda, Anda akan berada di tempat yang lebih baik untuk tetap berpijak dalam masa sekarang dibanding ditelan oleh masa lalu.

Untuk membuka sumber dari trauma, mulailah untuk menggali sejarah pribadi Anda. Kapan perasaan ini dimulai? Apa yang terjadi? Mengapa Anda merasa diabaikan? Bagaimana pengalaman ini berdampak terhadap Anda? Apa yang hilang/menjadi kerugian? Apa yang Anda butuhkan?

Cerita Anda pantas mendapat tanggapan dari diri Anda sendiri. Pertimbangkan untuk menceritakannya kepada seorang terapis/konselor, sebab kebenaran Anda patut untuk didengar. Sesuatu yang penting telah terjadi terhadap Anda, dan karenanya itu patut untuk dikenali. Baik secara fisik maupun emosi, pengabaian adalah perasaan kehilangan yang wajar dan memerlukan suatu periode untuk berduka.

2. Kenali Tanda-Tandanya

Masalah dengan ketakutan akan pengabaian adalah bahwa hal itu menjadi momok meski orang-orang yang bersama Anda tidak memiliki maksud untuk meninggalkan atau menolak Anda. Dengan bertindak atas dasar ketakutan ini, Anda tanpa sadar dapat merenggut hubungan yang baik. Saat Anda menjadi sadar atas pemicu serta reaksi Anda. Anda akan berada dalam posisi yang lebih kuart untuk mengendalikan situasi, dibandingkan situasi yang mengendalikan Anda.

Pada dasarnya, situasi apa pun yang membuat Anda merasa sendirian, direndahkan, tidak dipedulikan, tidak didengar, diabaikan, atau disalahpahami dapat menyalakan ketakutan akan pengabaian dan mengirim Anda kembali untuk kembali mengalami situasi traumatis.

Perhatikan saat ketakutan muncul dalam hubungan Anda saat ini. Apakah Anda tahu bagaimana Anda bertindak ketika Anda merasa diabaikan? Apakah Anda menjadi melekat, tergantung berlebihan, mengendalikan, posesif, tidak berdaya, tidak mau terhubung, terganggu, sangat marah, panik, atau tenggelam? Jenis kondisi apa yang menambah ketakutan Anda terhadap penolakan? Teman Anda terlalu sibuk. Saudara laki-laki Anda melupakan hari ulang tahun Anda. Mungkin atasan Anda menegur Anda. Rekan Anda mengkritik Anda.

Otak Anda menghubungkan dengan skenario-skenario ini dengan peristiwa pengabaian awal dan memperingatkan Anda bahwa akan terdapat bahaya. Jangan mengartikan peringatan ini pada nilai nominal. Perhatikan tombol pemicu Anda yang unik dan berusahalah untuk menenangkan diri sebelum melompat pada kesimpulan. Luangkan waktu sejenak untuk bernapas dan tanyakan pada diri Anda, "Apakah ketidakamanan saya membuat situasi ini tampak lebih mendesak daripada yang sebenarnya?"

3. Patahkan Pola Perekaan Trauma

Bystanders sering dibingungkan dengan bagaimana orang yang ditinggalkan merasa wajib untuk menciptakan kembali dinamika yang menimbulkan rasa sakit emosional. Perilaku siklis ini disebut mereka kembali, upaya bawah sadar untuk menyelesaikan trauma. Reka ulang adalah respons mendalam terhadap ingatan yang tersimpan dalam sistem gairah tubuh. Ketika situasi hari ini memicu pengabaian, orang itu secara naluriah melihat pada masa lalu untuk mendapatkan instruksi tentang cara bertindak.

Biasanya, orang-orang akan menempatkan diri mereka dalam peran sebagai korban dan memosisikan diri mereka dalam hubungan untuk dibuang dan disalahgunakan lagi. Dengan bantuan seorang terapis, Anda bisa menjadi sadar akan pola reka ulang Anda dan faktor apa yang menarik Anda ke dalamnya. Bagian penting dari terapi adalah membantu Anda memberdayakan diri sendiri untuk memutuskan siklus menyakiti diri ini. Sesudah Anda sadar bahwa Anda tidak lagi tidak berdaya dan terjebak, Anda dapat mulai mempraktikkan kekuatan pilihan.

Bagaimana jika Anda mengharapkan sesuatu yang berbeda dari diri Anda sendiri? Pikirkan tentang Sally, yang merasa ditinggalkan sebagai seorang anak karena ayahnya secara verbal melecehkannya. Mekanisme penanggulangan Sally adalah untuk berdisosiasi. Sebagai orang dewasa, dia sering dimarahi oleh suaminya. Namun, pada satu hari, alih-alih berhenti, dia berjuang untuk muncul ke permukaan dan membela dirinya sendiri. Jika Anda mengubah skrip, Anda membuka diri dari masa lalu.

4. Hentikan Membangun/Mengembangkan Kasus Terhadap Diri Anda

Orang yang takut diabaikan hidup secara defensif. Mereka sangat waspada, selalu mencari tanda-tanda pemutusan hubungan demi mempersiapkan diri untuk penolakan. Mereka berharap akan dibuang. Sejarah pengabaian menciptakan cetak biru emosional pada bagaimana Anda melihat diri Anda sendiri. Penyembuhan akan menantang Anda untuk berpikir secara berbeda tentang diri Anda. Anda harus berhenti mengumpulkan data untuk membuktikan bahwa Anda tidak penting.

Misalnya, pada pertemuan sosial, apakah Anda menyaring kata-kata dan bahasa tubuh orang melalui lensa negatif dan menggunakannya sebagai bukti terhadap diri Anda sendiri? Apakah Anda sadar akan frekuensi Anda yang menuduh diri Anda sendiri adalah tidak berharga? Allah tidak menghukum Anda, jadi Anda juga sebaiknya tidak melakukannya. Anda harus memutuskan ikatan Anda dengan penilaian dari orang yang mengabaikan Anda. Hadapi kebohongan.

Pengabaian bukan ukuran nilai Anda. Anda tidak dapat dibuang, tetapi berharga dan dipuja oleh Allah. Anda sangat dicari oleh Raja Surga. Berfokuslah untuk memperbaiki pendapat Anda tentang diri Anda sendiri. Citra diri yang positif akan menentukan jalan hidup Anda. Ketika Anda memahami nilai Anda, Anda akan merasa kurang terancam oleh orang-orang dan lebih berdaya untuk menciptakan kehidupan yang Anda inginkan. Mulailah untuk memercayai bahwa Anda penting, dan perhatikan bahwa lingkungan di sekitar Anda berubah.

5. Jangan Meremehkan Rasa Sakit

Pernahkah Anda mendengar kata-kata Anda sendiri, “Itu bukan masalah besar. Orang-orang mengalaminya dengan cara yang jauh lebih buruk dari saya. Saya tidak boleh marah.” Meremehkan rasa sakit Anda berarti tidak menghormati diri Anda sendiri. Sisi penyembuhan yang penting adalah untuk mengenali kedalaman luka emosional Anda. Pengabaian sering dikaitkan dengan ketidakhadiran fisik seperti pengabaian/penelantaran, perceraian, kematian, pengasuhan, atau perpisahan. Namun, efek yang merusak dari pengabaian emosional (sering) tidak dianggap cukup serius.

Masalah pengabaian bisa berasal dari peristiwa apa pun yang menyebabkan perasaan terputus dan penolakan. Ini membuat Anda merasa seolah-olah Anda tidak dapat mengandalkan orang lain untuk merawat Anda atau untuk bersama dengan Anda dengan cara yang Anda butuhkan. Kita harus melihat pengabaian melalui lensa yang lebih luas untuk memasukkan pengalaman seperti orang tua yang dingin secara emosional, orang tua dengan kecanduan atau penyakit mental, pelecehan seksual atau fisik, intimidasi saudara, penolakan teman sebaya, dan pengasuh yang gila kerja.

Dinamika ini memengaruhi seseorang dari waktu ke waktu. Kerugian yang bertambah sangat bergema di dalam jiwa. Jika Anda menemukan diri Anda meremehkan insiden menyakitkan sejak kecil, pertimbangkan bahwa proses anak-anak dalam mengalami sangatlah berbeda dari orang dewasa. Jadi, bahkan jika akar penyebab trauma tampak kecil bagi Anda sebagai orang dewasa, itu adalah masalah besar bagi diri anak Anda.

Kesampingkan penilaian dan sadari adanya luka pengabaian yang diciptakan dalam hidup Anda. Terimalah dengan baik rasa sakit Anda. Jika kita benar-benar mengenal hati Allah, kita akan tahu bahwa Dia tidak pernah mengabaikan setiap kerusakan yang terjadi pada kita. Apa yang Anda alami sangat penting bagi-Nya, jadi mungkin kita harus menganggap serius kisah kita.

6. Tantang Perasaan Malu

Banyak emosi yang menyakitkan menjadi pendamping dari pengabaian, tetapi rasa malu tampaknya menjadi emosi yang paling melemahkan semangat semua orang. Tentu saja, mudah untuk mempersonalkan pengabaian. Akan tetapi, berjuang dengan masalah pengabaian tidak membuat Anda tidak memadai atau lemah. Itu berarti bahwa Anda adalah seorang manusia dan telah sangat terluka. Tetapkan niat untuk melawan rasa malu yang muncul.

Berikut beberapa contoh cara untuk menyangkal rasa malu:

Mengapa saya harus merasa tidak berharga karena ditolak?
Mengapa saya harus merasa buruk karena merasa tidak enak?
Siapa yang memberi penelantar saya otoritas untuk menentukan nilai saya?
Bagaimana seluruh perasaan ini dapat membantu saya?

Malu adalah pembohong. Perasaan itu berusaha meyakinkan Anda bahwa Anda tidak dapat dicintai karena identitas Anda sebagai pribadi pada dasarnya buruk; bahwa pada dasarnya ada yang salah dengan Anda. Rasa malu juga membuat Anda terjebak dalam perasaan mengasihani diri sendiri dan menghalangi penyembuhan. Ingat, perasaan bukan fakta. Alih-alih terburu-buru untuk melepaskan diri dari emosi yang kuat, cobalah untuk memahaminya. Cobalah untuk menghasilkan sesuatu yang konstruktif pada saat itu.

Misalnya, jika pasangan Anda lupa mengirimkan teks kepada Anda dan Anda bereaksi berlebihan, tanyakan kepada diri sendiri, “Apa yang saat ini terungkap tentang diri saya? Darimana perasaan ini berasal? Apa yang bisa saya pelajari atau ubah? Apa yang saya butuhkan? Bagaimana saya bisa mendorong diri saya sendiri? Bagaimana saya bisa lebih memperhatikan diri sendiri?” Belajar mengamati, mengidentifikasi, dan menoleransi emosi Anda akan membantu Anda mengurangi perasaan yang berlebihan.

7. Bersikap Welas Asih Terhadap Diri Sendiri

Sudahkah Anda mempertimbangkan bagaimana Anda memperlakukan diri sendiri? Khususnya selama krisis emosional, orang-orang dengan luka emosional pengabaian sulit untuk memaafkan diri sendiri. Mereka sangat membenci diri sendiri dan percaya bahwa mereka layak dihukum karena menganggap diri mereka cacat. Mereka menggunakan ketidakstabilan emosi mereka sebagai alasan lebih lanjut untuk mencelakakan diri mereka sendiri.

Apakah Anda bermusuhan terhadap diri Anda selama momen-momen yang rentan? Apakah Anda menghukum diri sendiri ketika Anda mengalami ketidaksadaran emosional, dengan berkata, “Kamu harus mengatasi ini sekarang! Mengapa kamu bereaksi seperti itu ?! Kamu sangat bodoh dan menyedihkan.” Berhentilah menghukum diri sendiri karena mengalami luka emosional. Anda harus realistis dan menyadari bahwa perasaan takut ditinggalkan adalah masalah yang rumit.

Penyembuhan membutuhkan banyak kesabaran serta tekad. Kebencian diri akan menggagalkan pemulihan. Mulailah untuk mendengarkan tubuh Anda. Bisakah Anda terhubung dengan gejolak emosi di dalam diri Anda? Jiwa Anda memohon adanya empati diri.

Selama masa penderitaan, kita harus belajar untuk secara radikal mencintai diri kita sendiri sebagaimana Allah mengasihi kita. Bisakah Anda menghormati batin Anda sebagai anak kecil yang terluka? Tolaklah godaan untuk mencela diri sendiri. Pilihlah kebaikan dan lakukan pengasuhan diri. Mintalah Roh Kudus untuk menunjukkan kepada Anda cara merawat diri Anda sendiri. Terimalah anugerah radikal Allah ketika Anda gagal.

Kesimpulan

Penyembuhan adalah sebuah perjalanan. Anda akan menderita benjol dan memar di sepanjang perjalanan. Pemulihan itu kacau, tetapi Tuhan tidak terancam oleh kekacauan Anda. Dia ingin bertemu dengan Anda di tempat tergelap Anda. Ambil tekanan dari diri Anda “untuk melupakannya” karena Allah senang untuk menyembuhkan hati.

Gunakan rasa sakit Anda sebagai kesempatan untuk menghadap Raja (Allah). Izinkan Dia secara radikal mengisi kekosongan dalam hati Anda dengan kasih Bapa. Pekerjaan utama Anda dalam penyembuhan dari pengabaian bukanlah meninggalkan diri sendiri. Jika Anda sudah menyerah terhadap diri sendiri, belum terlambat untuk mendapatkan kembali nilai pribadi Anda. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Konseling Kristen Everett
URL : http://everettchristiancounseling.com/fear-of-abandonment/
Judul asli artikel : Seven Ways to Heal Your Fear of Abandonment
Penulis artikel : Amanda Rowett
Tanggal akses : 12 Desember 2017

Komentar