"Mama bilang sudah waktunya simpan mainan."
(Tak ada jawaban)
"Mama hitung sampai tiga."
(Hening)
"Satu, dua, tiga ... tiga ... tiga. Kau dengar apa kata Mama barusan? Mama bilang sudah waktunya simpan mainan, sikat gigi, berdoa, dan pergi tidur." (Suara semakin meninggi)
Anak menjawab, "Iya, aku dengar tapi aku masih main, coba Mama hitung lagi!"
Menjadi orang tua memang pekerjaan yang menantang. Kita berusaha semampunya untuk membimbing anak-anak kita, tetapi seakan-akan justru merekalah yang mengendalikan kita. Terkadang mereka bahkan tidak mendengar kata-kata kita. Kebanyakan orang Amerika Utara yakin bahwa para orang tua memiliki pengaruh yang lebih sedikit terhadap anak-anak mereka dibandingkan sekolah dan media massa. Dengan gaya hidup yang sibuk, sebagian orang tua mengira bahwa tempat penitipan anak, sekolah, dan acara televisi memainkan peran utama dalam membentuk anak-anak mereka.
Bahkan di gereja, ada orang tua yang percaya pada mitos bahwa mereka hanya bisa berbuat sedikit untuk membentuk kehidupan anak-anak mereka. Tidak heran jika terjadi kehilangan rasa percaya diri dalam membesarkan anak-anak yang bermoral.
Benarkah Saya Punya Pengaruh Atas Anak-Anak Saya?
Saya ingat, sebelum memiliki anak, saya dan suami sangat memikirkan bakal menjadi orang tua macam apa kami nanti. Bahkan sekarang pun kami senantiasa menyelidiki Alkitab dan melihat apa yang diajarkan firman Tuhan kepada kami tentang mengasuh anak. Kadang-kadang, hanya berpikir tentang segala bahaya dan ketidakpastian yang akan dihadapi oleh anak saya ketika ia bertumbuh, bisa membuat saya kelimpungan. Saya takut memikirkan keamanannya, tetapi yang terutama, saya takut memikirkan jiwa, pikiran, dan rohnya.
Kenyataannya, dunia yang kita diami telah kehilangan kompas moralnya. Media massa terus saja menebarkan pesan-pesan tidak realistis dan berbahaya yang mudah sekali mencemarkan kekudusan kita. Ketika anak-anak kita dicekoki dengan film-film yang menyajikan gambar-gambar tak bermoral, televisi yang penuh kekerasan, atau musik berlirik menghujat, mereka akan terkena dampak buruknya.
Meskipun demikian, ketika saya terus menyelidiki Kitab Suci dan berdoa, saya yakin bahwa Tuhan menawarkan pertolongan dan kekuatan kepada setiap orang tua yang ingin merengkuh erat-erat tahun-tahun yang cepat berlalu ini untuk membentuk generasi berikutnya.
"Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang." (Mzm. 127:3-5)
Saya menyebut waktu kita sebagai tahun-tahun yang cepat berlalu karena sebagai orang tua, kita tidak memiliki anak-anak kita. Tuhan mengatakan bahwa mereka adalah milik pusaka dan upah, dan Dia memercayakan anak-anak kita kepada ki