Fokus C3I Maret 2015 -- Wanita dan Permasalahannya
Wanita hadir untuk menjadi penolong yang sepadan bagi kaum pria sehingga keduanya dapat berbagi peran dan tanggung jawab yang berbeda demi mewujudkan kerajaan Allah di muka bumi. Dalam menjalani peran tersebut, kerap kali kaum wanita menemui problem-problem yang menantang iman percaya mereka. Simak Fokus C3I di bulan Maret 2015 ini untuk mengetahui lebih jauh mengenai berbagai permasalahan dalam kehidupan wanita.
Di tengah masyarakat yang semakin maju dan memiliki kesempatan yang semakin besar untuk mengembangkan diri, tidak mengherankan bila semakin banyak wanita yang tetap bekerja setelah menikah. Di sisi lain, kita tetap dapat menemukan banyak wanita yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan kariernya.
Konflik pernikahan merupakan sesuatu yang normal dalam kehidupan pernikahan. Ketika dua orang bersatu dalam pernikahan, konflik pasti tidak terhindarkan. Setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda, dan tentunya, masing-masing memiliki pengharapan yang berbeda dari pernikahan dan pasangannya.
Tampaknya perbedaan antara pria dan wanita bukan saja mempengaruhi suasana di dalam rumah, namun juga iklim relasi di luar rumah. Ternyata cara kepemimpinan wanita di tempat pekerjaan mereka berlainan dengan gaya kepemimpinan pria. Judy B. Rosener, seorang dosen di Universitas California, Irvine melaporkan hasil penemuannya pada Harvard Business Review, November-December 1990. Misalnya, pria cenderung memandang pekerjaannya dari sudut transaksi, yakni transaksi antara dia dengan bawahannya. Gaya ini disebut transaksi sebab yang terjadi adalah pertukaran imbalan dengan jasa yang telah diberikan atau penetapan sanksi bagi kinerja yang kurang memuaskan.
Sebelum menikah, kita menyusun cita-cita setinggi langit. Kita
berusaha meraih pendidikan setinggi bintang dan karier setinggi-
tingginya. Ketika baru menikah kita mengangankan anak-anak yang lucu
dan mungil. Kita pun menyusun idealisme orang tua yang baik. Tanpa
terasa konflik antara idealisme dan cita-cita mulai muncul. Kita
mulai dihadapkan kepada realita bahwa hidup sangatlah kompleks. Anda
tidak sendiri. Ada banyak ibu-ibu yang bergumul untuk hal ini.
Ibu Full Time Bekerja:
Saya ibu dari dua orang anak (usia dua dan tiga tahun) dan bekerja
"full time" sebagai sekretaris. Kedua anak saya sepenuhnya diasuh
oleh "baby-sitter".