Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Masa Depan Konseling Alkitabiah

Seharusnya kita baik dalam hal konseling -- peduli, terampil, dan bijaksana. Seharusnya kita menjadi yang terbaik -- berhati-hati, siap membantu, bersikap praktis. Namun, sering kali kita menjadi payah dan bodoh, kaku atau tidak kompeten. Jawaban lugas, penilaian yang terlalu cepat, sikap terburu-buru, dan solusi kilat terlampau sering menjadi ciri khas. Di mana kebaikan yang bersabar? Di mana perhatian dan perenungan mendalam yang cermat? Di mana kebenaran yang bercahaya dan relevan? Di mana fleksibilitas yang erat dengan kebijaksanaan? Di mana proses pengungkapannya? Di mana kemanusiaan Yesus yang tergambar di dalam orang-orang yang manusiawi, rendah hati, dan berakal? Kasihani kami, Bapa yang penuh belas kasih.

Buku karya Heath Lambert, "The Biblical Counseling Movement After Adams" adalah buku yang bagus tentang umat Allah yang berusaha menjadi baik dalam melakukan konseling. Lambert mengusulkan beberapa langkah lebih lanjut yang diharapkan dalam mengungkap hikmat kita bersama. Ada lebih banyak bab yang harus ditulis dalam cerita ini. Ke mana tujuan kita? Bagaimana kita bisa maju ke arah yang baik?

Arah kita ke depan adalah bagian terpenting dari gerakan Konseling Alkitabiah. Saat saya melihat lanskap buku Lambert, saya melihat perkembangan dari keenam tahap pengembangan hikmat kolektif kita. Ini adalah proses yang kita lalui untuk membangkitkan dan mendewasakan kasih yang penuh hikmat dalam konseling yang baik. Keenam tahap ini juga menggambarkan proses yang akan kita semua lalui saat kita bertumbuh bersama.

Tahap Pertama: Setiap kita perlu mendengar -- beberapa dari kita untuk pertama kalinya -- bahwa gereja memiliki panggilan konseling yang unik dan signifikan.

Gambar: konseling

Tuhan menafsirkan pergumulan pribadi dan kesulitan situasional melalui pandangan yang sangat berbeda dari model-model konseling lain memandang sesuatu. Ia mengajak kita melihat serangkaian tujuan yang sangat berbeda dari model konseling lainnya berjalan. Kita, sebagai anak-anak-Nya, dimaksudkan untuk memberikan nasihat sesuai dengan cara Ia melihat dan menindaklanjuti. Buah dari visi itu mungkin tampak jauh. Gereja Anda saat ini mungkin melakukan pekerjaan konseling yang buruk, melakukan konseling dengan pandangan yang menyimpang, atau sepenuhnya gagal melakukan tugas tersebut. Akan tetapi, ketika Anda menyadari bahwa Sang Penasihat Ajaib bermaksud untuk membentuk umat-Nya menjadi, ya, menjadi konselor yang cukup baik -- dan menjadi lebih baik setiap saat -- itu membuat Anda berhenti dan berpikir. Sampai kita tahu bahwa sesuatu mungkin terjadi, kita tidak dapat membayangkan untuk berpartisipasi. Partisipasi menjadi mungkin saat sesuatu terjadi. Saya harap Anda mendengar panggilan itu.

Tahap Kedua: Kita perlu setuju bahwa visi itu adalah sesuatu yang diinginkan.

Gereja tidak hanya mampu menjadi baik dalam konseling, tetapi kita juga harus berhikmat dan berbuah dalam pelayanan konseling. Allah kita memanggil kita untuk bertumbuh dalam bidang pelayanan ini. Anda mungkin ingin membaca Efesus 3:14-5:2 melalui pertanyaan, "Apakah ini berarti tentang pelayanan konseling timbal balik?" Setiap kalimat memiliki implikasi. Mendengar bahwa adalah mungkin untuk menasihati dalam hikmat alkitabiah -- yang Allah kehendaki untuk kita lakukan -- membawa pada persetujuan dan komitmen. Saya harap Anda berkata, "Ya, memang seharusnya begitu. Saya mungkin belum mengerti persis bentuknya, tetapi saya setuju itu harus terjadi."

Tahap Ketiga: Kita perlu secara pribadi merangkul dan mewujudkan visi.

Ini adalah langkah yang menentukan, sine qua non (kondisi yang esensial - Red.). Kitab Suci mengajarkan Anda cara memahami pergumulan terdalam Anda dan juga karunia terbaik Anda. Allah menunjukkan kepada Anda cara menghadapi masalah-masalah terberat Anda dan menanggapi berkat-berkat terbesar Anda. Saya percaya bahwa visi Tuhan tentang dosa dan kesedihan saya, tentang rahmat dan kebahagiaan saya, adalah pemahaman yang benar. Saya percaya bahwa cara Tuhan melibatkan orang-orang yang hancur di dunia yang hancur adalah satu-satunya keterlibatan yang benar-benar penuh kasih. Saya menyimpan semua hal ini ke dalam hati. Saat kita mengingatnya, kita memasuki dinamika transformasi yang hidup yang digambarkan dalam Mazmur, Amsal, Nabi, Sejarah, Injil, dan Surat-surat Paulus. Anda masuk ke dalam proses konseling Allah untuk diri Anda sendiri. Anda menjadi murid-Nya dan mempelajari jalan-Nya. Anda bergabung dengan orang-orang kudus yang bijaksana dari segala zaman.

Cara Allah menangani segala sesuatu menjadi cara Anda. Anda semakin hadir untuk hidup dalam kenyataan, meninggalkan bayang-bayang masa lalu, mengabaikan realitas virtual. Apa pun konfigurasi dan tingkat keparahan masalah pribadi Anda, Anda akan memahami diri sendiri dengan cara baru. Saya tidak berkomitmen pada konseling alkitabiah karena itu adalah teori yang menurut saya persuasif, atau karena satu ayat Alkitab mematikan yang memberi pencerahan. Saya berkomitmen karena Allah mengatakan kebenaran tentang saya, tentang dunia saya, tentang Bapa, Juru Selamat, dan Sobat yang telah masuk ke dalam hati dan memegang tangan saya. Dan, saya mengenal manusia lain -- Anda, sesama pejuang saya, saudara laki-laki atau perempuan saya -- dengan cahaya yang sama di mana saya mengenal diri saya sendiri.

Fakta dari penerimaan dan perwujudan pribadi bukanlah keanehan yang unik dalam konseling alkitabiah. Ada sesuatu yang pada dasarnya bersifat otobiografis tentang setiap model konseling yang pernah diusulkan -- Freud, Adler, Jung, Wolpe, Rogers, Frankl, Gestalt, Glasser, psikiatri biomedis, MFT, CBT, ACT, DBT, EFT -- atau kombinasi eklektik apa pun. Setiap teori dan praktik mengungkapkan keyakinan pribadi inti penulisnya. Setiap teori ABC dan terapi XYZ yang ditemukan seratus tahun dari sekarang akan menyatakan sesuatu yang pada dasarnya bersifat otobiografis. Ini akan menawarkan beberapa cara untuk menafsirkan dan kemudian mengonfigurasi ulang kemanusiaan sesuai dengan prinsip penulis secara pribadi. Jika pemahaman itu tidak benar bagi Kitab Suci dan bagi Kristus -- Firman yang tertulis dan Sabda yang menjelma -- maka itu adalah salah bagi manusia. Dalam komitmen pada konseling alkitabiah, saya memberikan kesaksian tentang cara saya memahami hidup dan cara saya hidup. Saya berharap bahwa Anda memasuki panggilan untuk melakukan konseling yang bijaksana sesederhana mewujudkan panggilan Anda untuk hidup di dalam Kristus.

Tahap Keempat: Kita membutuhkan pelatihan, pengajaran, pendampingan, praktik, dan pengawasan.

Kedewasaan selalu melibatkan proses pendidikan dan pemuridan. Anda membaca buku, berbicara dengan orang lain, mengikuti kelas, berusaha mempraktikannya, serta mendapatkan umpan balik. Jika Anda rendah hati, Anda bertumbuh menjadi lebih bijaksana. Pemahaman Anda tumbuh dalam jangkauan dan kedalaman. Keterampilan Anda dalam mengasihi bertumbuh semakin relevan dan fleksibel. Kita jarang bisa bertumbuh untuk memahami sesuatu tanpa melakukan penerapan yang disengaja. Beberapa dari Anda akan mulai membaca artikel atau buku yang bagus. Beberapa dari Anda akan membentuk kelompok diskusi. Beberapa dari Anda akan memasuki program pascasarjana untuk studi sistematis dalam konseling alkitabiah. Beberapa dari Anda akan mengambil bagian dalam pelatihan di gereja Anda. Saya harap Anda mencari jenis pembelajaran yang sesuai dengan maksud Allah menciptakan Anda dan cara Ia bekerja di dalam Anda.

Tahap Kelima: Kita perlu menjadi baik dalam melakukan konseling.

Sebenarnya, menjadi yang terbaik. Anda dapat dengan antusias menerima konseling alkitabiah sebagai sebuah ide, bahkan pergi ke sekolah untuk belajar lebih banyak, meski tetap tidak kompeten. Mungkin sinonim yang paling akurat untuk konseling adalah kasih yang bijak. Kasih yang bijak membuat perbedaan besar dalam kehidupan orang lain. Baik menerima dan memberi kasih yang bijak membuat perbedaan besar dalam hidup Anda. Perhatian yang tulus, pertanyaan yang cermat, simpati dan pengertian, firman Allah yang tepat waktu dan benar, dukungan praktis, kesabaran di setiap prosesnya -- ini adalah hidup yang melayani.

Inilah intinya: Anda harus menjadi lebih mampu membantu orang. Ini mengandung paradoks ilahi. Semua transformasi hidup yang sejati adalah pekerjaan langsung dari Pemberi kehidupan, Gembala dari domba-domba-Nya, Bapa dari anak-anaknya. Pada saat yang sama, Allah yang hidup ini rela menggunakan kita untuk saling memberi hidup, saling menggembalakan, memelihara, melindungi, dan mendorong satu sama lain. Keterampilan membutuhkan waktu dan pengalaman. Keterampilan memanggil Anda untuk memiliki kerendahan hati dari seorang pria atau wanita yang selalu belajar. Keterampilan membuahkan hasil. Hal ini mempermanis dan mencerahkan kehidupan orang lain. Saya harap Anda mengejar tujuan untuk menjadi ahli dalam konseling.

Tahap Keenam: Kita perlu mengembangkan para pemimpin.

Kebijaksanaan konseling adalah keterampilan yang dapat dikomunikasikan. Itu harus dikomunikasikan kepada orang lain, disebarkan, diturunkan dari generasi ke generasi, dan dikembangkan lebih lanjut. Dari sana, tiga jenis pemimpin akan dibangkitkan.

Semua transformasi hidup yang sejati adalah pekerjaan langsung dari Pemberi kehidupan, Gembala dari domba-domba-Nya, Bapa dari anak-anaknya.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Beberapa orang akan menjadi pemimpin karena keahlian mereka dalam mengajar orang lain. Mereka mampu memecah proses yang kompleks menjadi bagian-bagian sederhana. Mereka memiliki kepekaan terhadap tangga nada dan arpeggio (nada-nada dari sebuah akord tertentu yang dimainkan satu persatu - Red.) yang diperlukan untuk belajar memainkan musik yang indah. Mereka memiliki beberapa hal dari banyak sub-keterampilan: menilai orang lain secara akurat, memilih kandidat yang baik, menangani pelatihan langsung, pendampingan tatap muka, pengawasan berwawasan luas, serta pembinaan yang cermat. Kepemimpinan tidak hanya berarti kemampuan untuk memberikan konseling kepada mereka yang tengah bergumul, tetapi juga kemampuan untuk membantu orang lain belajar memberikan konseling kepada mereka yang sedang bergumul. Itu berarti melipatgandakan keterampilan. Bukan berarti bahwa praktik yang terampil (tahap kelima) mengarah pada pengajaran yang terampil (tahap keenam). Pikirkan seorang pemain basket yang secara rutin berhasil melakukan tembakan jarak jauh dari jarak 24 kaki. Bagaimana jika Anda memintanya untuk mengajari Anda cara untuk dapat melakukan tembakan jarak jauh dari luar wilayah 3-point? Kemudian, ia memberi tahu Anda, "Saya cuma melempar bola, dan masuk." Ia mungkin berhasil menjadi pemain yang terkenal, tetapi ia tidak akan pernah mampu menjadi pelatih. Akankah Allah memanggil Anda untuk melatih orang lain?

Orang lain akan menjadi pemimpin dengan kemampuan mereka untuk berkontribusi pada kemajuan intelektual. Hikmat alkitabiah harus selalu diasah dan dikembangkan. Itu dibentuk dengan melibatkan masalah baru, menghadapi ancaman baru, berinteraksi dengan pesaing baru, dan mengidentifikasi kebutuhan baru agar kita bertumbuh dengan kebijaksanaan yang lebih besar. Itu membantu kita semua ketika seseorang dapat memasukkan kebenaran yang sudah dikenal ke dalam kata-kata yang tidak dikenal dan menunjukkan implikasi yang tidak terduga. Itu membantu kita semua ketika seseorang undur dan merenungkan hal yang kita semua lakukan, kemudian menunjukkan baik kekuatan maupun kelemahan kita. Sangat mudah bagi kita untuk menjadi mandek atau terjebak. Kita perlu disegarkan untuk memperluas jangkauan dan kedalaman pemahaman kita sebagai kebenaran. Akankah Allah memanggil Anda untuk berkontribusi pada pekerjaan R&D (Research and Development -- Penelitian dan Pengembangan - Red.) yang menyegarkan pelayanan? Akankah Ia memanggil Anda untuk melampaui batasan agar kita semua menjadi lebih setia kepada Allah yang berbicara dan bertindak?

Yang lainnya akan menjadi pemimpin dengan bakat mereka sebagai pengusaha dan manajer. Konseling membutuhkan rumah. Perawatan dan penyembuhan jiwa membutuhkan struktur organisasi, pengembangan kelembagaan, sistem pengutusan, staf pendukung, dan dukungan keuangan. Semua pelayanan membutuhkan waktu dan uang, serta terjadi dalam suatu konteks. Para pemimpin dengan bakat memulai dan melakukan administrasi mampu menciptakan, memelihara, dan menciptakan kembali struktur dan sistem pendukung yang sesuai sehingga keterampilan konseling dapat digunakan dengan baik. Akankah Allah memanggil Anda untuk membantu membangun gereja atau pelayanan "parachurch" yang sehat sehingga tubuh Kristus dapat memberikan manfaat dari konseling yang baik kepada orang-orang yang membutuhkan?

Yang paling penting, kiranya kita masing-masing menjalani hidup kita dalam realitas Allah, menjadi pandai dalam menerima kasih yang bijak (tahap ketiga). Dan, kiranya kita masing-masing bertumbuh menuju kasih yang bijak dalam membantu orang lain (tahap kelima). (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
Alamat situs : https://www.thegospelcoalition.org/article/the-future-of-biblical-counseling/
Judul asli artikel : The Future of Biblical Counseling
Penulis artikel : David Powlison

Komentar