Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Mengapa Mengampuni?

Ketika seseorang memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu, atau memaksakan suatu kewajiban, wajar bagi kita untuk mengajukan dua pertanyaan. Pertanyaan pertama adalah, "Mengapa saya harus melakukannya?" dan yang kedua adalah, "Siapa yang mengatakannya?" Mengapa dan otoritas di balik mandat sangat penting untuk pertanyaan tentang pengampunan.

Untuk menjawab pertanyaan mengapa kita harus mengampuni orang, mari kita lihat secara singkat ajaran Yesus dalam Perjanjian Baru. Dalam Injil Matius, pasal 18, ayat 21 dan selanjutnya, kita membaca kisah ini:

Kemudian, Petrus datang kepada Yesus dan bertanya, "Tuhan, seberapa sering seharusnya aku mengampuni saudaraku yang berdosa terhadapku? Sampai 7 kali?"

Yesus berkata kepadanya, "Aku tidak mengatakan kepadamu sampai 7 kali tetapi sampai 70 kali 7 kali. Karena itulah, Kerajaan Surga diumpamakan seperti seorang raja yang mengadakan perhitungan dengan para hambanya. Ketika ia mulai mengadakan perhitungan, orang yang berutang sebesar 10.000 talenta dibawa kepadanya. Karena ia itu tidak mampu membayar, tuannya memerintahkan supaya ia dijual, beserta istri dan anak-anaknya, juga semua yang ia miliki, dan dengan itu pembayaran dilakukan. Maka, hamba itu tersungkur dan menyembah tuannya, katanya, 'Bersabarlah kepadaku dan aku akan membayar semuanya kepadamu.' Kemudian, tuan dari hamba itu berbelas kasihan, dan membebaskannya, dan memberi ampunan atas utangnya itu.

Akan tetapi, ketika hamba itu keluar dan bertemu dengan hamba lain yang berutang 100 dinar kepadanya, ia menangkap serta mencekik hamba itu, dan berkata, 'Bayar kembali uang yang kamu pinjam dariku!' Maka, hamba yang berutang itu bersujud dan memohon kepadanya, katanya, 'Bersabarlah kepadaku dan aku akan membayar semuanya kepadamu.' Akan tetapi, ia menolak dan menjebloskan temannya itu ke penjara sampai ia bisa melunasi semua utangnya. Ketika hamba-hamba yang lain melihat kejadian itu, mereka menjadi sangat sedih lalu datang dan melaporkan kepada tuannya tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Kemudian, tuannya memanggil hamba yang pertama itu dan berkata kepadanya, 'Kamu hamba yang jahat. Aku mengampuni semua utangmu karena kamu memohon kepadaku. Bukankah kamu seharusnya memiliki belas kasihan kepada hamba sesamamu, seperti aku juga telah menunjukkan belas kasihan kepadamu?' Dan, tuannya, dengan penuh kemarahan, menyerahkannya kepada para penyiksa sampai ia dapat membayar kembali semua yang dipinjamkan kepadanya.

Bapa-Ku di surga juga akan melakukan hal yang sama kepadamu, jika kamu tidak mengampuni saudaramu dari dalam hatimu."

Dalam perumpamaan ini, inti ajaran Yesus jelas, bahwa alasan untuk mengampuni orang lain berakar pada kenyataan bahwa kita telah menerima kemurahan dan belas kasih yang luar biasa. Kita semua adalah orang berutang yang tidak dapat membayar utang kepada Allah. Namun, Allah telah cukup bermurah hati untuk memberi kita pengampunan di dalam Yesus Kristus. Tidaklah mengherankan bahwa dalam Doa Bapa Kami, Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk berkata, "Ampunilah kami atas kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami." Ada kesejajaran, kegerakan belas kasih gabungan, yang pertama-tama diterima dari Allah dan kemudian pada gilirannya kita memberlakukan belas kasih yang sama kepada orang lain. Allah menjelaskan bahwa jika kita tidak memiliki belas kasih itu dan menyimpan dendam di dalam hati kita, bukannya selalu siap untuk mengampuni terus menerus, kita akan kehilangan pengampunan apa pun yang telah diberikan kepada kita.

Gambar: gambar

Dengan demikian, dasar untuk roh pengampunan adalah pengalaman anugerah ilahi. Oleh karena anugerah, kita diselamatkan. Karena anugerah, kita hidup. Karena anugerah, kita telah diampuni. Oleh karena itu, alasan mengampuni adalah untuk menyatakan rasa syukur kita sendiri atas anugerah yang telah kita terima. Sekali lagi, perumpamaan Yesus menunjuk pada seseorang yang menerima anugerah cuma-cuma dan menolak untuk bertindak dengan cara sama yang mencerminkan dan merefleksikan kebaikan Allah. Mengapa kita harus memaafkan? Sederhananya, karena Allah mengampuni kita. Merupakan hal penting untuk menambahkan alasan bahwa kita juga diperintahkan oleh Allah yang penuh anugerah itu untuk mengaplikasikan anugerah yang sama pada orang lain.

Namun, ketika kita melihat pertanyaan tentang pengampunan, kita juga harus menanyakan pertanyaan kedua, "Siapa yang mengatakannya, dan dalam kondisi apa kita harus memenuhi persyaratan ini?" Jika kita mengalihkan perhatian kita ke Injil yang lain, kita melihat dalam Lukas 17 sebagai berikut (ay. 1-4):

Kemudian, Yesus berkata kepada para murid-Nya, "Batu sandungan pasti akan ada, tetapi celakalah orang yang menyebabkannya. Lebih baik sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya dan ia dilemparkan ke dalam laut daripada ia menjadi sandungan bagi anak-anak kecil ini. Waspadalah! Jika saudaramu berbuat dosa terhadap kamu, tegurlah dia; jika ia menyesali dosanya, ampunilah dia. Bahkan, jika ia berdosa terhadap kamu sebanyak tujuh kali dalam satu hari, dan kembali kepadamu tujuh kali sambil berkata, 'Aku menyesal,' ampunilah dia."

Penting bagi kita untuk melihat secara dekat arahan dari Yesus tentang hal pengampunan ini. Sering kali diajarkan dalam komunitas Kristen bahwa orang Kristen dipanggil untuk mengampuni mereka yang berdosa terhadap mereka secara sepihak dan universal. Kita melihat contoh Yesus di kayu salib, meminta Allah untuk mengampuni mereka yang mengeksekusi Dia, meskipun mereka tidak memberikan indikasi pertobatan yang terlihat. Dari contoh Yesus itu, telah disimpulkan bahwa orang Kristen harus selalu mengampuni semua pelanggaran terhadap mereka, bahkan ketika pertobatan tidak dijanjikan. Namun, hal yang paling bisa kita teladani dari tindakan Yesus pada saat itu adalah bahwa kita memiliki hak untuk mengampuni orang secara sepihak. Meskipun itu mungkin memang hal yang luar biasa, tapi itu tidak diperintahkan. Jika kita melihat perintah yang Yesus berikan dalam Lukas 17:3, Dia berkata, "Jika saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia." Perhatikan bahwa tanggapan pertama terhadap pelanggaran bukanlah pengampunan melainkan teguran. Orang Kristen berhak menegur mereka yang berbuat salah terhadap dirinya. Itulah dasar dari seluruh prosedur disiplin gereja dalam Perjanjian Baru. Jika kita diperintahkan untuk memberikan pengampunan sepihak kepada semua orang, dalam segala situasi, maka seluruh tindakan disiplin gereja untuk memperbaiki kesalahan, dengan sendirinya adalah salah. Akan tetapi, Yesus berkata, "Jika saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jika dia bertobat ...." -- di sinilah perintah menjadi wajib -- jika pelakunya bertobat, maka wajib bagi orang Kristen untuk mengampuni orang yang menyakitinya. Jika kita menolak untuk memberikan pengampunan ketika pertobatan telah terjadi, maka kita menghadapkan diri kita pada nasib yang sama dengan hamba yang tidak mau mengampuni. Kita membuka diri terhadap murka Allah. Jika, memang, saya menyinggung seseorang dan kemudian bertobat dan menyatakan permintaan maaf saya kepada mereka, tetapi dia menolak untuk memaafkan saya, maka bara api ada di kepalanya. Demikian juga, jika kita gagal untuk memberikan pengampunan, ketika orang yang telah menyinggung kita bertobat dari pelanggaran tersebut, kita menghadapkan diri kita pada bara api, dan kita berada dalam kondisi yang lebih buruk daripada orang yang telah melakukan pelanggaran tersebut. Dengan kata lain, adalah pelanggaran terhadap Allah ketika kita menolak untuk mengampuni mereka yang telah bertobat atas pelanggaran mereka kepada kita. Inilah ajaran Yesus. Itulah amanat Yesus. Saat kita dipersatukan di dalam Kristus, kita harus menunjukkan penyatuan itu dengan meneruskan anugerah yang sama kepada orang lain seperti yang Dia berikan kepada kita. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Ligonier
Alamat situs : https://ligonier.org/learn/articles/why-forgive
Judul asli artikel : Why Forgive?
Penulis artikel : R.C. Sproul

Komentar