Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Mencari Kehendak Allah bagi Hidup Saudara

Kita belajar dari kitab Kisah Para Rasul bahwa ketika anggota gereja mula-mula dulu berusaha untuk mengetahui kehendak Allah, mereka mencari kesepakatan sebelum mereka bertindak. Seperti yang dituliskan para rasul dan tua-tua kepada orang-orang percaya bukan bangsa Yahudi, "Sebab itu dengan bulat hati kami memutuskan ..." (Kis. 15:25). Gereja yang mula-mula itu membuat keputusan bukan atas dasar suara terbanyak, tetapi bila setiap orang sepakat terhadap suatu perkara.

Saya memunyai kelompok penyokong terdiri dari tiga orang yang bertemu dengan saya secara rutin. Mereka mengenal saya, mereka mengetahui bakat-bakat saya, mereka mengetahui kelemahan saya. Bilamana saya harus mengambil keputusan dan saya mencari kehendak Allah, saya tidak merenungkannya sendiri. Saya membawanya kepada kelompok penyokong saya. Oleh karena mereka mengenal saya dengan baik, saya bisa membeberkan persoalan saya di hadapan mereka, dan mereka akan ikut serta menyelesaikan persoalan ini bersama saya. Kami mendoakan keputusan itu; mendiskusikannya. Saya tahu bahwa saya telah menemukan kehendak Allah jika kami berempat benar-benar mencapai suatu kesepakatan.

Saya memerlukan kelompok penyokong ini sebab saat membuat keputusan, sangat sulit untuk mengetahui dengan pasti apakah seseorang sedang mencari kehendak Tuhan atau kehendaknya sendiri. Sering kita begitu kuat menginginkan sesuatu sehingga kita merasa bahwa yang kita inginkan itu adalah kehendak Allah. Misalnya, saya berbicara kepada seorang pria yang akan meninggalkan istrinya dan menikah dengan wanita lain. Istrinya bukan orang Kristen, sedangkan wanita lain ini Kristen. Pria tersebut telah meyakinkan dirinya bahwa perceraian dan kawin lagi ini adalah kehendak Allah. Saya tidak dapat mengubah keyakinannya. Saya tanyakan apakah dia sudah membicarakan hal ini dengan orang lain, dan ia menjawab tidak. Mengapa tidak? Ia menerangkan, "Sebab saya mengetahui apa yang akan dikatakan orang lain, dan mereka tidak mengetahui kehendak Allah seperti yang saya ketahui." Pikiran egosentris seperti itu bisa menyebabkan orang mengira bahwa kehendaknya sendiri adalah kehendak Allah.

Kadang-kadang orang berkata, "Roh sedang menuntun aku." Bagaimana mereka tahu bahwa itu Roh Allah dan bukan roh jahat atau ego mereka sendiri? Sahabat-sahabat Kristen yang baik bisa menolong Saudara membedakan hal itu. Mereka mengoreksi dan menyadarkan bahwa mungkin Saudara sedang mengikuti kehendak hati sendiri dan bukan Roh Allah. Jika mereka mengasihi Saudara, mereka akan jujur kepada Saudara. Jika mereka mengasihi Saudara, mereka akan menolong Saudara menghindari kekeliruan yang besar.

Pada waktu saya mengajar di sebuah seminari, saya sangat tertekan oleh sejumlah besar siswa yang ternyata seharusnya tidak masuk seminari ini. Saya bertanya pada diri sendiri, bagaimana anak-anak yang tidak memunyai karunia untuk memberikan khotbah ini bisa menyelesaikan pendidikan seminari dan nantinya memimpin gereja. Saya tahu mereka akan mematikan gereja-gereja, jadi saya bertanya tentang keputusan mereka untuk masuk seminari. Saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama, "Hal apakah yang meyakinkan kalian bahwa perasaan terpanggil ini benar-benar berasal dari Allah?" Dalam setiap kasus ternyata tidak terdapat hal yang dapat menguatkan keyakinan mereka. Saya kira kelompok penyokong akan dapat menolong mengarahkan anak-anak ini ke jurusan yang benar-benar sesuai dengan karunia dan bakat mereka.

Saya mengalami pertolongan ini dalam hidup saya sendiri. Satu kali saya mendapatkan kesempatan untuk memeroleh pekerjaan yang akan menjadi kemajuan penting bagi saya, satu pekerjaan bergengsi tinggi dan banyak dikenal masyarakat. Pada waktu saya mendiskusikan hal ini dengan kelompok saya, mereka berkata, "Tony, kami tahu pekerjaan ini sangat memuaskan hati, tetapi kami mengenal kepribadianmu, kami mengenal watakmu, kami mengetahui karuniamu. Jikalau engkau menjadi pemimpin perguruan tinggi itu, dua hal akan terjadi: kau akan menghancurkan perguruan tinggi itu atau perguruan tinggi itu akan menghancurkanmu." Lalu kami berdoa dan membicarakannya. Jika keputusan itu diserahkan kepada saya, saya tentu akan menerima pekerjaan tersebut, tetapi saya mematuhi saudara seiman saya sehingga dapat menghindari bencana yang besar.

Untuk menemukan kehendak Allah, kita memerlukan suatu kelompok penyokong. Kita harus bersedia mematuhi pendapat anggota-anggota kelompok itu dan tidak menolak bila mereka mengatakan kepada kita bahwa apa yang akan kita lakukan berlawanan dengan kehendak Allah. Allah sering berbicara melalui saudara-saudara seiman dalam Kristus secara jauh lebih efektif daripada Ia berbicara kepada kita secara langsung, sebab kadang-kadang ego kita merintangi komunikasi langsung itu.

Kelompok penyokong hendaknya terdiri dari orang-orang berjenis kelamin sama. Hubungan akrab dalam kelompok seperti itu dapat menuju pada hubungan seksual bila kelompok itu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Sering saya menemukan orang Kristen yang hidupnya hancur karena hubungan seks di luar pernikahan. Hampir dalam setiap kejadian, hubungan itu diawali dengan kegiatan rohani -- orang berdoa dan mencari kehendak Tuhan bersama-sama. Nasihat Paulus kepada Timotius sangat benar -- "Orang perempuan tua hendaknya melayani perempuan yang lebih muda dan lelaki yang lebih tua melayani laki-laki yang lebih muda." Cara ini lebih aman (lihat 1 Tim. 5:1,2).

Pilihlah orang-orang seperti Saudara agar mereka mengerti Saudara; pilihlah orang-orang yang memunyai kesamaan pribadi dengan Saudara. Yesus berkata bahwa Saudara harus mengasihi setiap orang, tetapi Saudara tidak perlu akrab dengan setiap orang. Beberapa orang lebih mudah Saudara kasihi daripada yang lain. Dari orang-orang itu, Saudara bisa membentuk sebuah kelompok penyokong kecil untuk berdoa satu sama lain dan saling menolong mencari kehendak Tuhan.

Mereka yang ada dalam kelompok penyokong ini sebaiknya memunyai latar belakang sosial dan pendidikan yang seimbang agar mereka bisa saling mengerti dengan baik. Mereka juga harus cukup berani untuk saling menasihati secara benar dan jangan sedikit pun saling merasa takut. Misalnya, saya tidak akan pernah mengajak salah satu murid saya masuk dalam kelompok penyokong saya karena ia akan merasa takut pada saya. Demikian pula, seorang karyawan mungkin akan merasa takut pada pimpinannya. Anggota keluarga, khususnya keluarga dekat, mungkin tidak memunyai objektivitas untuk dapat diikutkan dalam kelompok penyokong ini. Keseimbangan kepribadian juga harus dipertimbangkan. Orang yang sangat pendiam dan pasif akan terdesak oleh mereka yang memunyai kepribadian kuat dan tegas. Sebaliknya, seorang pemimpin yang blak-blakan dapat mengambil alih dan menguasai teman-teman sekelompok yang lebih pendiam dan penurut. Jadi, harus ada perasaan persamaan hak -- disertai kejujuran dan keterbukaan.

Akhirnya, kelompok penyokong harus bersandar pada Alkitab, sepenuhnya berserah kepada Tuhan. Ini bukan sekadar kelompok orang Kristen, melainkan sekelompok orang Kristen yang berkumpul dengan tujuan untuk bertumbuh dalam Roh.

Mencari kehendak Allah merupakan proses yang berlangsung terus-menerus setiap hari. Dalam proses ini, sangat perlu adanya sekelompok kecil orang Kristen terpercaya yang mau mendengarkan pilihan-pilihan Saudara, menolong Saudara memikirkan berbagai alternatif dipandang dari sudut keberadaan Saudara dan dari sudut firman Allah, dan berdoa bersama Saudara tentang hal itu. Sesudah semua itu dilakukan, dan bila kesepakatan dicapai, Saudara akan menemukan kehendak Tuhan. Kemudian keputusan Saudara berikutnya adalah menyerah pada kehendak Tuhan itu (Anthony Campolo).

MENENTUKAN KEHENDAK ALLAH

Apakah Saudara menghadapi satu keputusan sulit yang secara khusus tidak disebutkan di dalam Alkitab -- seperti harus kuliah di mana, bagaimana menggunakan uang Saudara, atau apakah harus menitipkan kakek/nenek di rumah jompo atau tidak? Ikutilah langkah-langkah di bawah ini untuk memastikan bahwa Saudara melakukan kehendak Allah.

  1. Jadikanlah Allah sebagai fokus (Mat. 6:33-34). Apakah Saudara bersedia melakukan kehendak Allah, apa pun wujudnya? Ajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada diri sendiri: Apa yang merupakan kehendak Allah bagi dunia ini? Apakah saya hidup sesuai dengan kehendak-Nya bagi dunia ini?

  2. Taatilah apa yang telah Allah katakan kepada Saudara (Rm. 13:8). Adakah sesuatu yang Saudara tahu Allah ingin Saudara lakukan (meninggalkan kebiasaan buruk, mengampuni saudaramu)? Taatilah hal-hal yang sudah diketahui ini sebelum Saudara melanjutkan pada perkara yang belum diketahui.

  3. Berdoalah (Fil. 4:6). Minta Tuhan menunjukkan kepada Saudara kehendak-Nya, yaitu dengan bekerja melalui firman-Nya melalui orang lain dan melalui pikiran Saudara.

  4. Pelajarilah Alkitab (2 Tim. 2:15; 3:16,17). Allah berbicara kepada kita melalui firman-Nya; kita harus membacanya untuk mengetahui apa yang Dia katakan. Waktu membaca Alkitab, carilah prinsip-prinsip dan bukan kata-kata khusus atau ayat-ayat bukti.

  5. Carilah nasihat (Ams. 20:5,18). Ceritakan kesulitan Saudara kepada orang lain yang mengenal Saudara dan mengerti Alkitab. Mintalah nasihatnya. Orang-orang non-Kristen yang mengenal saudara dengan baik bisa juga memberikan wawasan berharga.

  6. Berpikirlah (Rm. 12:2; Yak. 1:5). Pertimbangkan semua fakta yang ada. Tuliskan prioritas Saudara. Telitilah pengalaman masa lalu dan tujuan masa sekarang. Pakailah otak Saudara, bukan hati Saudara, pikirkan baik dan buruknya keputusan itu.

  7. Bertindaklah dengan penuh keyakinan (Yak. 1:6-8). Jikalau Saudara telah mengikuti enam langkah di atas, saudara bisa mengambil keputusan dan yakin akan bimbingan Allah. Sudah tentu ini merupakan langkah iman, tetapi demikianlah yang dimaksud dengan kehidupan Kristen -- hidup oleh iman. Ingat, "tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah" (Ibr. 11:6).

Sumber
Halaman: 
855 -- 859
Judul Artikel: 
Pola Hidup Kristen
Penerbit: 
Yayasan Penerbit Gandum Mas Malang, Yayasan Kalam Hidup Bandung, Lembaga Literatur Baptis Bandung, dan YAKIN Surabaya, 2002

Komentar